The Last Chance

The Last Chance
5. PETAK UMPET


__ADS_3

Bak main petak umpet, itulah Alfa dan Delta sekarang.


Begitu mendapatkan gaji pertama dan uang tabungannya sudah mencukupi, Delta langsung pindah rumah tanpa memberi tau Alfa, dan yang pastinya ia memang tak punya niat memberi tau pria yang selama hampir sebulan ini selalu numpang makan dirumahnya.


Kontrakan itu memang jauh lebih kecil daripada rumah yang ia tempati di komplek tempat tinggalnya kemarin, tapi rasanya jauh lebih nyaman dan aman, karena tak akan ada lagi pria yang tiba-tiba sudah ada dalam rumahnya. Dan juga kontrakan itu khusus wanita.


Delta izin libur bekerja di toko roti untuk merapikan isi kontrakan. Setelah ia menidurkan Dafa, wanita itu memutuskan untuk kembali membuat bahan ajar yang akan dia ajarkan untuk para mahasiswanya besok.


Sementara itu, Alfa hanya menarik nafas dalam ketika mendapati rumah yang Delta tempati kosong, dan Delta juga tidak masuk kerja, bahkan Dafa hari itu tidak dititipkan di tempat penitipan anak.


“Nona Sena bilang kalau, Delta memutuskan untuk tidak menitipkan anaknya lagi ditempat itu. Dan pemilik toko roti bilang, kalau Delta akan mengundurkan diri bulan depan. Ia ingin fokus menjaga anaknya dan membuka usaha sendiri.” Zeno memberikan informasi pada bosnya yang masih berdiri didepan rumah Delta dengan tampang kesal.


“Tempat tinggalnya sekarang dekat dengan kampus. Ia membeli nama toko roti tempatnya berjualan sekarang, dan berniat membuka toko roti dikantin kampus. Izin berjualan mulai bulan depan, jadi, sepetinya Delta benar-benar tidak akan kembali ke sini.”


Alfa hanya mengangguk, lalu mengajak asistennya itu segera ke kantor. Ia bahkan tak peduli perutnya kelaparan karena belum sarapan pagi.


Di kantor, karena suasana hatinya buruk, beberapa pegawai kena imbasnya, ia memarahi dan bahkan mengancam akan memecat pegawai itu karena kinerja mereka yang kurang bagus. Zeno hanya mampu menghela nafas dalam. Ia sudah hapal dengan sikap arogan Alfa.


“Kontrakannya hanya berjarak 10 menit dari sini. Delta tidak kabur, dia mungkin hanya lupa memberi tau anda. Dan dia juga tidak punya kontak anda dan….sepertinya ponselnya rusak, karena Dafa mencelupkannya kedalam susu 2 hari yang lalu.”


“.……” Alfa menatap datar kearah Zeno. Ia sudah berusaha menenangkan pikirannya, dan meminta pria itu tidak menyebut nama Delta selama bekerja, tapi sepertinya Zeno sudah tidak tahan dengan perilaku kekanak-kanakan bosnya itu.


“Anda bisa langsung datang kekontrakannya setelah bekerja, dia tidak kemana-mana dan hanya beres-beres rumah. Dan…Dafa sepertinya demam.”


Tentu saja mendengar hal terakhir itu, Alfa langsung menutup map dihadapannya dan menyuruh Zeno membatalkan semua pekerjaannya hari ini.


“Jangan ikuti aku!!.” Ancam Alfa sebelum pergi. Dan Zeno hanya tersenyum melihat bosnya itu bergegas ketempat Delta.

__ADS_1


Namanya juga petak umpet. Ketemu nggak akan segampang itu, dan kesal tentu saja menjadi puncaknya. Itulah yang dirasakan Alfa.


Ia tiba didepan kontrakan Delta, mengetuk pintu dan memanggil wanita itu hampir setengah jam tapi tak ada yang keluar dari kontrakan itu. Akhirnya itu memutuskan menelpon Zeno. Alfa seolah bisa merasakan asistennya itu tersenyum sambil menjelaskan kalau sekarang Delta sedang pergi ke Rumah Sakit.


Meski kesal, Alfa akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana dan memastikan kalau ia akan bertemu Delta dan Dafa.


Benar saja. Delta sedang menunggu di depan poli anak sambil memeluk Dafa, raut wajah cemas terlihat jelas di wajahnya. Dan karena itu jugalah, kemarahan Alfa sedikit berkurang.


Entah kenapa Delta tidak kaget mendapati Alfa datang dan duduk disampingnya. Ia melihat tampang kesal pria itu tapi, Alfa hanya diam dan malah mengusap kepala Dafa.


Begitu perawat memanggil nama Dafa, Alfa juga ikut masuk keruang poli, meminta dokter melakukan tes kesehatan secara menyeluruh terhadap Dafa dan menekankan pada Delta yang sempat menolak bahwa hal itu ia lakukan demi kebaikan Dafa kedepannya.


Untunglah anak kecil itu hanya demam biasa karena kemarin mereka kehujanan. Jadi setelah mendapat resep obat penurun panas yang tentunya Alfa mengambilnya dan menebusnya di apotek. Delta tak bisa menolak ajakan Alfa untuk pulang bersama karena hari itu hujan datang lagi dengan lebatnya.


Lagi. Alfa sekarang berada dalam rumah Delta, sambil memeluk Dafa yang masih tertidur. Lagi, Delta menyesali, ia mulai merasa terbiasa dengan kehadiran pria itu.


“Padahal aku sudah bilang, ingin makan bubur ayam, tapi tiba-tiba mendapati rumah kosong dan seseorang yang dengan teganya meninggalkanku kelaparan.” Keluh pria itu.


Delta segera beranjak kedapur. Ia tak sempat memasak apapun karena panik mendapati Dafa demam. Jadi wanita itu mengambil persediaan mie instannya di dalam lemari dan memasaknya untuk Alfa.


“Aku tidak suka makanan instan seperti ini, tidak baik untuk kesehatan.” Keluh pria itu lagi. Tapi meski mengeluh, mie itu juga langsung habis dalam hitungan detik dan pria itu dengan polosnya berkata bahwa ia masih lapar. “Porsinya terlalu sedikit.”


“.…..”


“Harga mienya Rp.3000,-, telurnya Rp.1500,-. anggap saja kali ini air dan gasnya gratis, tapi kamu tetap harus bayar biaya lainnya. Anak kosan butuh banyak duit. Terutama yang udah nggak dapat duit jajan dari orang tua dan janda beranak satu seperti ku.” Omel Delta.


Alfa langsung mencibir. “Ongkos mobil nggak gratis, juga biaya medical check up, obat dan………aku tadi nggak ngeluh.”

__ADS_1


“Kamu tetap harus bayar. Kamu kan banyak duit!.”


Alfa mengeluarkan dompetnya. “Aku cuma punya ATM dan kartu kredit, nggak punya duit receh, ah..atau berikan nomor rekening mu, biar aku bisa langsung transfer.”


Rp. 4500,- buat apa di transfer, biaya transfernya bahkan jauh lebih mahal, bodoh!!. Delta merengut kesal. “Kalau begitu lain kali bawa uang pas. Nggak ada yang gratis di dunia ini.”


“Oh, jadi aku boleh ke sini lagi dan numpang makan lagi. Oke, kamu yang bilang ya!. Jadi kamu nggak bisa diam-diam kabur lagi. Aku udah luangin waktu makan, cuma buat makan masakan buatan kamu.”


Entah kenapa Delta merasa ia terperangkap oleh kata-katanya sendiri. Wanita itu ingin menyela tapi Dafa terbangun dan menangis. Alhasil mereka berdua sibuk menenangkan anak kecil itu.


"Harusnya tadi Dafa dirawat di Rumah Sakit saja."


"Hua~~." Celetukan Alfa membuat Dafa menangis kencang. Si kecil itu tau apa itu Rumah Sakit karena tiap kali Delta membawanya ketempat itu, Dafa pasti di suntik.


"Kamu...., diem aja!!!!." Delta hanya bisa memaki Alfa dalam hati. Dafa yang tadinya hampir tenang, tapi gara-gara celetukan tidak berguna itu jadi kembali menangis.


"Kalau di rumah papa, pasti papa kasih permen, coklat, ice cream, cupcake, cake cok..AUU.." Alfa meringis ketika Delta mencubit lengannya.


"Pelmen...Mama Dafa mau pelmen." Anak kecil itu menatap Delta dengan pandangan mata polos yang sangat imut.


Delta yang tidak tahan ditatap seperti itu akhirnya mengangguk dan mengeluarkan permen lollipop coklat dari dalam tasnya.


"Untuk ku mana??." Pria tak tau malu itu juga menatap Delta dengan tatapan polos. "Aku...juga mau permen lollipop."


"......" Delta menyerah dan akhirnya memberikan permen lollipop untuk pria itu juga.


Kedua anak dan bapak itu saling pandang dan tersenyum. Delta juga ikutan tersenyum namun detik berikutnya segera menyadari sesuatu. Tidak!!!, mereka bukan anak dan Bapak. Pria ini...bukan siapa-siapa. Aduhh... bagaimana ini, mereka tidak boleh menjadi akrab. Aku harus memisahkan mereka.

__ADS_1


🌸🌸🌸


__ADS_2