The Last Chance

The Last Chance
Bagian tiga puluh delapan


__ADS_3

Anggi yang marah dan tersinggung berat dengan ucapan Damar segera pergi ke rooftop perusahaan tempat dia bekerja. Di sana, dia mengeluarkan sebungkus rokok yang memang selalu dia bawa di saku blazer yang dia kenakan. Dia mengambil satu batang rokok dari bungkusnya, dan menyelipkannya di antara kedua bibir. 


Saat akan menyalakan korek, tiba-tiba batang rokok tersebut melayang karena ditarik oleh seseorang. 


Refleks, Anggi menoleh dengan wajahnya yang begitu garang. 


"Lo…!"


Matanya tampak merah menyala menatap Damar, yang dengan santainya melemparkan benda kecil tersebut ke udara hingga terjatuh dari bangunan. 


Lalu, dengan ekspresi tidak bersalah juga, dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan memandang enteng kepada Anggi. 


"Merokok itu nggak bagus buat kesehatan," pesannya sok bijak, menatap datar wajah Anggi yang terlihat seperti banteng mengamuk. 


Dan benar saja, bukannya memberikan respons baik atas nasihat Damar, perempuan itu justru mengangkat tangannya ke udara dan memukul sebelah pipi Damar dengan kekuatan yang dia punya. 


Plak! 


"Brengsek lo!" maki Anggi dengan napas memburu, menatap wajah Damar yang terdiam akibat pukulan darinya. 


Plak! 


Pukulan kedua pun langsung dia layangkan lagi, saat pria itu hendak menoleh. 


Dan saat akan memberikan tamparan ketiga, lengan Anggi sontak ditahan oleh Damar dengan wajah mengeras menahan marah. 


"Cukup!" desis pria itu, melihat Anggi yang justru tertawa menatapnya. 


"Belum…. Itu belum cukup,"


Plak! 


Sebelum sempat Damar sadar dengan tangan Anggi yang satunya lagi, wajahnya sudah kembali ditampar oleh Anggi menggunakan tangan kiri. Tidak begitu keras memang, tapi lumayan sakit, untuk ukuran tangan kiri seseorang yang bukan kidal. 


"Puas? Atau masih mau nampar lagi?" sindir Damar geram, melihat Anggi yang hanya menatap datar ke arahnya. 

__ADS_1


"Belum, sampai gue lihat lo terjun dari atas ini," ujar Anggi dingin, kontan membuat Damar mengerutkan dahinya beberapa saat. 


Tunggu, perempuan di depannya ini tidak bermaksud untuk membunuhnya kan? 


"Nggak, gue nggak ada niat buat bunuh lo. Cuma, kalo lo mati, mungkin gue bakal senang," ucap perempuan itu, seolah tahu apa yang baru saja Damar pikirkan. 


Damar hanya terdiam. Dia menatap Anggi tidak percaya, sebelum membuang napas berat dan membuangnya.  


Wow…. Sepertinya dia baru sadar kalau wanita itu sungguh sangat membencinya sekarang. 


"Kalo nggak mau dibilang murahan, seharusnya kamu bersikap selayaknya wanita terhormat," ujar Damar pelan, namun bisa ditangkap oleh telinga Anggi. 


"Apa?"


Sedikit tertawa pelan, Damar kemudian melemparkan senyuman sekilas, seolah dia baik-baik saja, meskipun sudah dipukul. 


"Lo marah karena gue ngomong gini ke lo, atau lo marah, karena yang ngomongin ini tuh, gue?" tanya Damar jelas, menggunakan cara bicara yang kasar terhadap Anggi. 


Tentu wanita itu langsung merasa terprovokasi mendengarnya. 


"Lo nampar gue, cuma karena gue ngomong hal nyata tentang pandangan orang terhadap lo. Sementara di sekitar lo yang lain, mereka bahkan ngomongin lo lebih kejam daripada gue. Terus, cuma gue doang nih, yang ditampar?" kekeh Damar pelan, lalu mengusap pipinya sekali lagi. "Mana sakit, lagi…." Ledeknya kemudian, sukses membuat Anggi merasa berang. 


"Lo…!"


Tangan Anggi sudah terangkat kembali, seperti akan memukul Damar, saat pria itu sigap menangkap lengan Anggi dan menariknya cukup keras. 


Dalam hitungan detik, wanita itu sudah berada dalam pelukan Damar dengan posisi sebelah tangan ditahan di udara dan wajah yang saling bertentangan penuh emosi.


"Gue bakal minta maaf, kalau emang gue salah. Tapi, dari yang gue lihat tadi, lo emang nggak ada bedanya sama perempuan murahan yang siap buat dibayar. Lo pikir, cuma gue doang yang beranggapan kayak gitu sama lo?" tekan Damar pada wanita itu, sambil menatap wajah Anggi yang mengeras. 


"Jangan bikin gue berpikir, kalau gue ini lebih istimewa di pandangan lo, makanya lo marah kalau gue ngomong kasar," kata Damar lagi, kali ini membuat Anggi benar-benar mendengus tidak percaya. 


Gila, laki-laki di depannya ini benar-benar berbakat membuat emosi Anggi semakin menjadi. 


"Sumpah, selain bajingan, ternyata kepedean lo itu udah over, ya?," ejek wanita itu tertawa remeh, lantas hendak menarik tangannya dari Damar. 

__ADS_1


"Lepas! Lo mau apa, sih?! Nggak ada capek-capeknya, ya, lo gangguin hidup gue?!" bentak Anggi kesal, karena Damar tidak bergeming melepaskan cengkramannya. 


Sekeras apapun Anggi berusaha, Damar seperti tidak terpengaruh dan terus menahan sebelah lengan Anggi dan menatapnya dengan sorot mata tidak terbaca. 


"Gue benar-benar nggak tau lagi, harus dapatin lo dengan cara apa. Apa benar, di hati lo sekarang nggak ada perasaan apa pun lagi terhadap gue? Sebesar debu sekalipun? Serius?" tanya Damar bersungguh-sungguh, lekat menatap bola mata Anggi dengan tatapan memohon. 


Berulang kali sudah dia berusaha bertanya. Namun, sepertinya sangat sulit untuk berbicara dengan Anggi dalam posisi saat ini. Sepertinya delapan tahun bukan waktu yang cukup untuk membuat rasa marah perempuan itu mereda. Malah mungkin, semakin menjadi dengan seiring bertambahnya waktu di antara mereka. 


"Cinta, lo bilang?" dengus Anggi kekeh, menunjukkan seringai sinisnya di kedua sudut bibir. "Gue tanya sama lo, apa pernah, lo mencintai anak yang ada di dalam kandungan gue, dulu?" tanya Anggi tajam, dengan pandangan mata menyala seperti api. 


"Asal lo tau aja, sekalipun gue nggak pernah berharap lo membalas perasaan gue waktu itu. Karena gue sadar, gue ini emang nggak lebih dari orang bodoh yang jatuh cinta sama tembok. Jadi, buat apa lagi lo ngomongin cinta di depan gue?" sambungnya lagi mendengus, lalu menarik napasnya beberapa kali. 


Sesaat, Anggi tampak terdiam mengingat sesuatu hal. 


"Keterlaluan," gumamnya begitu pelan, sampai-sampai Damar ragu telah mendengar sesuatu dari mulut perempuan itu.


"Apa?" tanyanya refleks, yang bukannya mendapat jawaban, malah melihat Anggi tersenyum sinis lagi sambil mengangkat kepalanya angkuh. 


"Ngomong-ngomong, gue emang nggak peduli tuh, sama tanggapan orang mengenai gue. Justru gue senang gangguin cowok-cowok mata keranjang itu dan mempermainkan perasaan mereka. Gue marah, bukan karena gue merasa lo udah mempermalukan gue di depan banyak orang. Tapi gue marah, karena lo bersikap sok suci di depan mereka dan menganggap kalau gue ini cuma sampah. Lo nggak sadar, kalau lo itu sebenarnya lebih rendahan daripada gue?" tanya Anggi santai, malah kelewat santai, yang mampu membuat Damar terpelongo untuk beberapa saat. 


"Maksud lo?" tanya pria itu bodoh, melihat Anggi yang begitu intens menatapnya seolah tengah menilai Damar dari ujung kepala hingga ujung kaki. 


"Gue saranin, sebelum menghina orang, lo kacaan lebih dulu. Nggak usah sok kuat dalam menghadapi gue. Karena di mata gue, lo itu cuma orang lemah yang berusaha sok kuat. Dasar goblok!"


"Apa?!"


Belum selesai Damar mencerna semua kalimat Anggi, wanita itu sudah lebih dulu melengos meninggalkan Damar seorang diri. 


Dia turun dari lantai rooftop menuju lift yang ada di sudut ruangan, bahkan tidak peduli ketika Damar mulai terdasar dari ketepakuannya. 


"Anggi!"


Bersambung. … 


**maaf baru bisa update sekarang.... Untuk tiga bab kedepan udah ada di dalam imajinasi. Cuma belum nemu waktu yang pas buat menuangkannya... T_T. Mohon pengertiannya....**

__ADS_1


__ADS_2