
Arkan hampir saja terpeleset saat memarkirkan motor besarnya di depan pintu rumah keluarga Anggi. Tadi, saat baru akan pulang dari kampus, Arkan mendapat telepon dari tantenya yang merupakan ibunya Anggi. Beliau bilang, ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan oleh tantenya kepada Arkan. Bilangnya sih, penting. Hanya saja, suara serak serta isakan halus yang Arkan dengar saat Mira meneleponnya, membuat Arkan merasa cemas dan ingin cepat-cepat sampai ke rumah mereka.
"Tante,"
Arkan masuk ke dalam rumah, dan mendapati suasana hening yang menyambutnya di dalam.
Rumah itu tidak kosong. Di ruang tamunya sudah ada Om dan Tantenya Arkan --Mira--, juga Anggi yang terlihat sangat ketakutan duduk di atas sofa.
Aura dingin dan mencekam langsung Arkan tangkap, begitu dia melihat raut wajah Rian menatap Anggi saat ini. Dari ciri-cirinya sepertinya Rian sedang marah pada sepupu dari Arkan tersebut.
"Tante, ada apa? Kenapa…."
Arkan yang mendekati Mira dan duduk di sebelah perempuan itu, menghentikan kalimatnya, tatkala tatapan mata Rian langsung tertuju ke arahnya.
Di bawah tatapan tajam Rian yang menyala, Arkan mendengar isak tangis Mira di sebelahnya.
"Arkan…, Anggi…. Dia… hamil."
"Apa?"
Bagai disambar petir, Arkan sontak menoleh ke arah Mira dan mengabaikan tatapan mata Rian terhadapnya. Dia terkejut, dengan bola mata nyaris keluar dari sarangnya.
"Tante…. Apa yang…."
Melihat Mira menangis tersedu-sedu, Arkan menolehkan lagi kepalanya ke arah Anggi yang duduk tidak jauh dari mereka. Terlihat, wajah pucat perempuan itu yang menundukkan kepalanya dalam.
Demi apa pun, kepala Arkan terasa sangat berat bagaikan ditimpa beban ratusan kilo.
Ayolah…, belum juga sampai satu menit Arkan tiba di kediaman tantenya tersebut, kabar tidak mengenakkan sudah langsung menyerang batinnya hingga hampir tertawa seperti ini.
Mereka lagi bercanda, ya?
"Nggi,"
Alih-alih melihat Anggi menyembunyikan senyum, Arkan justru melihat sepupunya itu hanya diam di atas sofa sambil memeluk tubuhnya sendiri yang terlihat gemetaran. Dia benar-benar seperti orang yang sedang ketakutan, seolah akan ada yang menyakitinya sebentar lagi.
"Nggi!"
"Arkan!"
Arkan menolehkan kepalanya pada Rian yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Tolong bantu Om buat cari tau siapa laki-laki yang udah berani menyentuh dia. Bagaimanapun juga, dia harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi sama anak ini!" ujar Rian berapi-api, dengan napasnya yang tersengal, di bawah tatapan Arkan yang benar-benar masih mencerna keadaan yang sedang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Jadi… Anggi benar-benar hamil?
"Gila…. Ini benar-benar gila." Desah Arkan tanpa sadar, menggelengkan kepalanya konyol, karena merasa belum siap dengan kabar yang dia terima siang ini.
Jadi, maksud Arkan itu begini…. Dia tahu, kalau Anggi itu adalah sosok gadis manis yang polos. Dia lugu, dan juga tidak mudah bergaul dengan banyak orang, terutama laki-laki. Seumur-umur yang Arkan tahu, teman laki-laki Anggi itu hanya Arkan dan juga Bagas --adik satu-satunya Anggi-- yang kini masih duduk di bangku SMP. Lalu, apa kabar sekarang, sampai dia tahu kalau Anggi itu tiba-tiba hamil?
Anak siapa?
Dan bagaimana ceritanya?
"Laki-laki brengsek!"
"Papa!"
Seiring dengan makian yang keluar dari mulut Rian, seketika itu pula Anggi mengangkat wajahnya dan menatap marah pada sang ayah.
"Jangan sebut dia brengsek! Dia bukan laki-laki brengsek!" seru Anggi berani, sontak membuat Rian mendelik ke arahnya.
"Apa kamu bilang?! Bukan brengsek? Terus apa?! Bajingan?!"
"Papa!"
"Diam kamu!"
"Papa!"
Bersamaan lagi dengan suara tamparan yang begitu keras memenuhi ruangan, Arkan mengerjap dengan apa yang baru saja dilihatnya. Anggi, putri kesayangan di rumah itu yang selalu dimanja dan dijaga, kini ditampar dengan amarah besar, hingga meninggalkan jejak kemerahan di pipi putihnya?
Wow! Sepertinya kabar kehamilan itu bukan sebuah candaan dari keluarga mereka.
"Kalau dia bukan laki-laki brengsek, suruh dia datang ke rumah ini dan bertemu sama Papa! Bukannya malah sembunyi di belakang kamu dan kamu bela habis-habisan kayak orang goblok kayak gitu!" maki Rian keras, mencengkram dagu Anggi kuat, hingga terlihat urat tangannya yang tegang.
"Bodoh kamu!"
"Ch…."
Terlihat Anggi mendecih, saat Rian menghempaskan cengkramannya kasar dan membuat pipinya terasa perih.
Sementara itu, Mira, meskipun terlihat begitu kecewa, tetap tidak bisa membiarkan jika anaknya terluka. Melihat Rian memperlakukan anak mereka dengan kasar, sontak membuat wanita paruh baya itu bergerak dan mencoba memeluk anaknya itu dengan erat.
"Dia bukan laki-laki brengsek! Anggi belain dia juga bukan karena dia pengecut! Anggi cuma mau kasih waktu sebentar untuk ngomong sama dia! Anggi--"
"Ngomong sama dia?" sela Rian lagi sinis, lalu berdecih penuh frustasi.
__ADS_1
"Kamu ini tolol apa bagaimana, hah?!" bentak pria itu, kemudian hendak memukul Anggi, namun urung dia lakukan.
"Buat apa kamu butuh waktu bicara sama dia?! Kamu pikir, dia bakal tanggung jawab sama anak kamu dan anak kamu ini?! Yang ada, dia dia malah kabur! Dasar anak bodoh!"
"Papa!"
Mira yang tidak tahan dengan Rian yang terus memaki dan memukul Anggi sejak pulang dari rumah sakit tadi, sontak berteriak dengan marah. Ya, walaupun apa yang dikatakan oleh Rian itu benar dan masuk akal, tetap saja hati nuraninya sebagai ibu tidak terima dengan anaknya yang dihina. Walaupun oleh ayah kandungnya sendiri.
Namun, seolah tidak tahu dibela, Anggi justru semakin menentang ayahnya dengan berani.
"Iya! Dia bakal tanggung jawab, kok! Anggi yakin, karena Anggi tau betul siapa laki-laki itu."
"Kamu…!"
Seolah kehabisan kata-kata, Rian mengepalkan kedua tangannya erat seolah ingin memukul sesuatu. Ditatapnya murka wajah sang anak yang kini sedang mengandung. Sebuah fakta buruk, dimana rasanya Rian ingin menangis dan berteriak, andai rasa marah tidak begitu mendominasi dalam hatinya.
"Kamu sama dia sama aja! Sama-sama bajingan!"
"Jangan sebut Kak Damar bajingan! Dia--"
"Damar?"
Tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkan, Anggi lantas terdiam dan melirik kaku pada Arkan ternyata berdiri di dekatnya.
Di sisi lain, Arkan yang sejak tadi masih syok mendengar pertengkaran ayah dan anak di depannya, sontak semakin terkejut tatkala nama seseorang yang mungkin dia kenal.
Damar?
Damar yang mana?
"Damar…?" ulang Arkan gamang, seolah tidak yakin, lantas melirik wajah Anggi yang terlihat begitu tegang.
Mungkinkah?
"Arkan, kamu…."
Seperti tahu dengan apa yang ingin dikatakan oleh pamannya, Arkan menoleh dan menggelengkan kepalanya kecil.
"Aku memang punya teman yang namanya Damar. Cuma…."
Sadar dengan arti tatapan Anggi kepadanya, membuat emosi Arkan yang sejak tadi bak telaga yang sangat tenang, menjadi tergulung seperti ombang yang siap menyerang.
"Aku nggak tau, apa Damar yang aku kenal ini…. Adalah Damar yang dia maksud."
__ADS_1
Bersambung