The Last Chance

The Last Chance
Bagian empat puluh dua


__ADS_3

Sepanjang perjalanan tadi, Arkan terus memikirkan apa yang ingin dia sampaikan kepada Damar. Mulai dari mana, sampai batas mana dia akan memberikan  kesempatan bagi pria itu untuk memperbaiki semuanya. Kalau pun tidak bisa bersama, setidaknya mereka bisa saling memaafkan dan merelakan setiap kejadian yang ada di antara mereka. 


Seperti yang Prissa katakan kemarin, kalau kesempatan yang Arkan berikan untuk Damar dan Anggi mungkin tidak akan bisa membuat mereka bersama, namun mampu membuat mereka mengikhlaskan apa yang sudah terjadi kemarin. 


Kehidupan keduanya masih panjang. Mereka masih sangat muda saat menikah dan juga bercerai. Keduanya masih memiliki kesempatan menikmati hidup yang lebih bahagia, daripada harus meratap pada luka yang lama. Biarkan waktu menyembuhkan segalanya seperti sedia kala. Meskipun masih ada lubang di hati mereka, setidaknya mereka sudah keluar dari lubang itu dan melangkah maju untuk menemukan kebahagiaan mereka yang lain. Pasti ada, dan Arkan sangat yakin dengan hal tersebut. 


"Gue… mungkin bakal nggak fokus sama apa yang mau lo bilang. Hari ini gue emang lagi kacau. Tadinya gue pengen ziarah ke makam anak gue. Cuma, karena nggak pantas, gue malah pergi ke club dan baru balik sekarang."


Damar mendengus pada dirinya sendiri, dan mengusap rambut belakangnya frustrasi. 


"Kasih gue waktu lima menit, gue bakal dengerin semua omongan lo dengan baik,"


Damar kemudian masuk ke dalam lift yang terbuka. Diikuti dengan Arkan, yang seolah setuju pada permintaan pria itu yang ingin meluangkan waktunya lima menit lagi. 


Dalam diam, Arkan mengikuti langkah Damar yang berdiri di tengah lift tersebut. Lalu, keduanya tetap membisu sampai akhirnya mesin pengangkut itu tiba di lantai tempat dimana Damar tinggal selama ini. 


Dengan langkah kakinya yang menyeret, Damar mengajak Arkan untuk masuk ke dalam unit apartemennya. 


Lalu, tanpa bicara, keduanya duduk di atas sofa di ruang tamu Damar, yang mana Arkan langsung mengedarkan pandangannya sejenak ke seluruh penjuru arah. 


"Lo tinggal sendiri?" pancing Arkan pada Damar, yang mana mantan sahabatnya itu tengah menyandarkan kepalanya lesu di badan sofa. 


"Iya,"


"Kenapa nggak sama orang tua lo? Emang nyokap lo setuju lo tinggal--"


Belum selesai Arkan berbicara, Damar keburu berdiri dari tempatnya setelah menarik napas panjang untuk beberapa saat. 


"Gue ambil minum bentar," ucap pria itu datar, namun masih terlihat begitu lesu sambil berjalan ke arah dapur, meninggalkan Arkan seorang diri di ruang tamu. 


Tidak berapa lama, Damar kembali menemui Arkan sambil membawa dua kaleng minuman soda di tangannya. 

__ADS_1


"Gue cuma ada ini," katanya, sembari meletakkan sekaleng minuman itu dengan cara sedikit kasar di depan Arkan. 


Woah…. Dari sini saja, Arkan bisa membaca kalau Damar sedang kesal terhadapnya. 


Kenapa? Apa karena membahas soal ibunya Damar yang super cerewet dan kejam itu? Setahu Arkan dari Prissa, Damar itu sedang menjaga jarak dari ibunya sendiri karena sudah menjadi duri dalam hubungannya dan juga Anggi. Apa benar, sekarang Damar itu bisa menjauh dari Tante Ranti, yang notabennya adalah orang yang selalu menjadi andalan bagi kehidupan Damar dan kesalahan-kesalahan yang mengikutinya dari belakang? 


Benar-benar tidak bisa dipercaya. 


Sedikit menyeringai, Arkan menggelengkan kepalanya dan membuka kaleng minuman di tangannya. Dia meneguk minuman dingin itu beberapa kali, sebelum akhirnya kembali pada Damar yang tampak sedang menikmati minuman soda yang ada di tangannya. 


"Jadi… lo mau ngomongin apa?" tanya Damar langsung, tanpa melihat ke arah Arkan sama sekali. 


"Gue dengar, lo sakit?"


Seketika, tangan Damar yang sedang memutar-mutar galeng sodanya terdiam seperti membatu. 


"Katanya, lo depresi?" 


"Lo senang?" 


"Ha?"


Damar yang tadinya tampak diam saja tidak bergerak, perlahan menaikkan pandangannya ke arah Arkan dan melihat alis pria itu sedikit terangkat. 


"Lo cuma mau memastikan hal itu doang?"


Agak menyeringai, Damar meneguk kembali minuman soda yang ada di tangannya setelah mendengus beberapa saat. 


"Nggak…. Lo kira, gue ini elo, apa?" bantah Arkan santai, membuang pandangannya ke arah lain. 


"Dasar sinting!"

__ADS_1


"Gue emang sinting," sambar Damar tiba-tiba, menarik perhatian Arkan lagi untuk meliriknya. 


"Gue nggak tau lo dapat berita ini dari mana. Entah karena kepedulian lo terhadap gue, atau memang secara kebetulan ada yang ngasi tau hal ini sama lo, tapi itu benar. Gue emang sakit," Damar menatap wajah datar Arkan dengan sorot matanya yang begitu terlihat lesu. Tidak ada gairah hidup, seolah kalau mati adalah hal yang lebih baik untuk jiwa dan raganya. 


"Tapi gue belum sanggup buat mati dan ketemu sama anak gue dengan keadaan yang kayak gini," lanjut Damar lagi, seperti akan menangis dengan menatap lurus lantai apartemennya yang terbuat dari marmer. 


"Emang, lo pikir, kalo lo mati, lo bakal ketemu sama anak lo, gitu? Hmph! Pede banget, lo!" sindir Arkan, membuat Damar melihat aneh ke arahnya. 


"Nggak ada ceritanya setan masuk surga! Lo itu nggak pantas untuk itu," tambah Arkan lagi menyakitkan, sontak membuat Damar terdiam sesaat dan tertawa menahan pedih. 


Iya, benar. Apa yang diucapkan oleh Arkan itu memang benar adanya. Banyak dosa yang harus Damar tebus terlebih dahulu di dunia. Rasanya, akan terlalu mudah baginya untuk mati begitu saja, sementara ada luka yang belum sembuh yang sudah dia torehkan ke dalam hati banyak orang. Terlebih, adalah seseorang yang dulu sangat mencintainya melebihi cintanya pada diri sendiri. 


Anggi. 


Ah, rasanya Damar ingin menangisi kembali waktu yang sudah dia sia-siakan bersama Anggi. Andai boleh terulang, dia ingin kembali pada masa dia belum bertemu dengan wanita itu. Dia berencana untuk tidak mengganggu perempuan itu sama sekali. Membuang pandangannya ke arah lain saat Anggi datang ke sekolahnya dulu, dan berusaha mengabaikan gadis itu saat berjalan di depannya ketika pulang sekolah. 


Tapi, bagaimana pun juga, rasanya itu sangat mustahil. Nasi sudah menjadi bubur. Anaknya juga sudah kembali ke pangkuan Tuhan. Jadi, apalagi yang bisa Damar lakukan selain merenungi nasibnya? 


"Gue tau apa yang ada di dalam otak sempit lo sekarang,"


Damar menolehkan kepalanya sedikit ke arah Arkan yang sedang menatapnya. 


"Gue yakin, apa yang ada di dalam otak lo itu nggak akan bisa merubah apapun yang sudah terjadi," sambung pria itu lagi datar, masih lekat menatap mata Damar yang sayu seperti orang bingung. 


"Terus, gue harus gimana?" tanya Damar tertawa sedikit --lebih tepatnya meringis-- sambil menegak minuman yang ada di tangannya. 


"Gue bakal bantuin lo," kata Arkan tiba-tiba, seolah tidak berpikir panjang sama sekali, hingga membuat tubuh Damar membeku seketika. 


"Gue… bakal coba bantuin lo untuk Anggi."


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2