The Last Chance

The Last Chance
Bagian dua puluh lima


__ADS_3

Sekembalinya dari rumah Anggi, tangan Damar langsung diseret oleh ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan penuh emosi, ibunya itu membawa si anak ke ruang tamu dan mulai mencecarnya habis-habisan. 


"Kamu ini ya, Damar, benar-benar keterlaluan! Apa maksudnya kamu datang dan mengakui perbuatan kamu sama anak mereka?! Kamu mau bikin malu Mama atau gimana?!" seru ibunya marah, menghempaskan tangan Damar sedikit kasar. 


"Apaan sih, Ma…. Ngaku gimana, maksud Mama? Damar nggak ngerti!" kilah Damar menekukkan wajahnya, sambil membuang pandangan ke arah lain. 


"Nggak ngerti?! Halah! Nggak usah pura-pura bego' kamu! Atau, kamu emang udah jadi bodoh karena kebanyakan bergaul sama anak mereka itu?! Iya?!" bentak ibunya marah, kali ini bertolak pinggang di depan Damar yang terdiam. 


"Sekarang kamu jujur, kenapa kamu nggak bilang sama Mama soal ancaman yang dikasih sama ayah perempuan itu? Kamu takut, sama mereka? Atau, kamu pikir, Mama nggak bisa menangani orang bar-bar kayak mereka itu? Iya?! Kamu pikir, Mama selemah itu?!" cecar ibu Damar keras, tampak mulai menghakimi anaknya. 


"Aduh, apaan sih, Ma…. Bukan gitu, maksud Damar. Siapa sih, yang bilang kalo Damar ini takut? Enggak! Damar nggak takut! Damar cuma merasa pusing aja waktu itu, sampe lupa sama ancaman ayahnya si Anggi."  


"Eleh, alasan aja kamu! Kamu pikir, Mama nggak tau, kamu gimana?"


Mencebikkan bibirnya sedikit, Damar memasang tampang sebal mendengar ucapan ibunya.


"Mama kok nggak percaya gitu sih, sama Damar? Kalo emang Damar takut dan nggak percaya Mama bisa ngalahin mereka, ya nggak mungkinlah, Damar minta tolong sama Mama buat nyelesaikan masalah Damar yang satu ini. Pasti Damar udah lebih dulu nyari orang buat bantuin Damar."


"Lah, terus, apa maksud omongan ayahnya Anggi sama kamu tadi? Secara nggak langsung, kamu itu ngaku kalo kamu yang udah menghamili anaknya! Kamu ini mikir nggak sih, Damar?! Bisa jadi kan, sebenarnya yang dia kandung itu bukan anak kamu?! Bisa aja, waktu tidur sama kamu itu dia masih perawan, tapi abis itu, dia langsung pergi sama cowok lain? Bisa jadi kan?! Semua itu nggak menutup kemungkinan!" ujar ibunya Damar lagi, kali ini terlihat lebih frustrasi dengan mengusap dahinya kesal. 


"Rasanya Mama lebih suka ngurus masalah kamu yang berantem sama orang lain. Ketimbang ngurusin masalah kamu yang menghamili anak orang, bisa-bisa Mama stres duluan kalo begini."


"Apa? Damar menghamili anak orang?!"


Secara tidak sadar, pembicaraan Damar dan ibunya ternyata didengar oleh seseorang. Iyalah ayah Damar, yang ternyata sudah ada di sekitar mereka sejak beberapa saat yang lalu. Hanya saja, keduanya tidak sadar, karena sedang sibuk berdebat satu sama lain. 


"Pa--Papa?!" 


Ranti, ibunya Damar sontak terkejut dan mendelik, melihat Panji --ayah Damar-- mendekat, dan menyorot tajam ke arah dirinya juga Damar. 


Panik, ibunya Damar langsung berusaha mencari celah untuk menarik perhatian Panji kepadanya. 


"Papa? Papa udah pulang? Mama telepon dari tadi, Papa kok nggak angkat? Mama--"

__ADS_1


Ranti menghentikan kalimatnya, ketika Panji mengangkat sebelah tangannya tepat di depan wajah Ranti. Dengan tatapan mata yang tegas, dia menatap Damar yang kini mulai gelisah di tempatnya.


"Kamu menghamili anak orang?" 


Glek! 


Rasanya, air liur yang ada di tenggorokan Damar seperti berubah menjadi batu. Tersangkut di ujung kerongkongan, dan membuatnya kesulitan untuk bernapas. 


"Pa… itu… maksud Mama tadi…."


Untuk kedua kalinya, Ranti menutup mulut diam. Tatapan mata Panji yang begitu tajam, sukses membuat nyalinya menciut dan mengelak dari pandangan pria tersebut. 


"Damar!"


Suara bentakan Panji yang terdengar tiba-tiba, mengagetkan Damar yang sedang mencari akal. Tanpa bisa bicara, dia menganggukkan kepalanya secara refleks, sebelum akhirnya sadar dan menggelengkan kepalanya kemudian. 


"Benar… kamu sudah menghamili anak orang?"



"Huh? Perlu status? Oke, kalau begitu! Kami bisa memberikan status untuk anak kalian sekarang juga. Carikan saja orang yang bisa menikahkan mereka malam ini. Lalu, Damar bisa langsung menceraikan anak kalian,"


Ya Tuhan…. Anggi benar-benar tidak menyangka, kalau kalimat itu akan dia dengar dari mulut orang yang dia harapkan menjadi mertuanya. Betapa kejam kalimat itu dia dengar, sampai Anggi tidak tahu lagi harus mengekspresikannya seperti apa. Menangis, tentu rasanya masih kurang untuk mendeskripsikan sakitnya ucapan ibunya Damar. Terlebih, melihat reaksi pria itu yang hanya diam sejak tiba di rumahnya, membuat Anggi bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah itu Damar yang sama dengan yang dia temui kemarin malam? 


Kenapa dia jadi berubah seperti ini? 


"Anggi,"


Di tengah lamunannya tentang sikap Damar kemarin terhadapnya, Anggi mendengar suara Arkan masuk ke dalam kamar. Namun, alih-alih merespons dan melihat ke arah pria itu, seluruh organ sel yang ada di dalam tubuh Anggi seperti masih mati dan membuatnya hanya diam seperti patung yang tidak bisa bergerak. 


"Gue udah dengar apa yang terjadi kemarin di rumah ini. Gimana keadaan lo? Apa lo masih waras?" tanya Arkan sekonyong-konyong, dengan nada yang sangat dingin serta tatapan yang begitu datar kepadanya. 


"Kan,"

__ADS_1


"Gue udah pernah bilang sebelumnya, jangan pernah mau berurusan sama temen-temen cowok gue. Dan lihat apa yang terjadi sekarang? Lo mau nyalahin siapa kalau udah begini?"


Belum bicara apa-apa, Arkan sudah kembali memarahi Anggi. Setelah kemarin tidak memiliki waktu banyak untuk meluapkan emosi, sekarang Arkan seperti mendapatkan peluang untuk mengungkapkan kekesalannya terhadap Anggi. Memaki? Mungkin Anggi akan mendengarnya sebentar lagi. 


"Gue juga nggak tau bakal gini…. Gue…. Kak Damar…. Dia bilang--"


"Semua cowok, pasti bakal bilang tanggung jawab, asal dapat apa yang mereka mau dari lo, Nggi! Please! Jangan bilang lo masih nggak paham sama apa yang gue maksud!" bentak Arkan frustrasi, lantas mengusap rambunya kasar menggunakan kedua tangan. 


"Lo udah gede, Nggi! Lo boleh polos! Tapi lo jangan bego! Udah berapa kali gue bilang, sih?!"


Seperti orang kesetanan, Arkan mulai merentakkan kaki dan tangannya penuh emosi. Sepertinya, dia sudah sangat geram dengan apa yang sudah terjadi pada Anggi saat ini. 


"Lihat apa yang terjadi sekarang, Nggi! Belum juga selesai sama masalah kehamilan lo, bokap lo udah hampir kena stroke gara-gara masalah ini. Kalau udah kayak gini, apa yang bakal lo lakuin selanjutnya, hah?! Apa?! Kalau sempat terjadi apa-apa sama Om Rian, apa yang bakal lo lakuin sama Tante Mira dan juga Bagas? Apa?! Apa?!" 


Anggi hanya bisa memejamkan kedua matanya menahan tangis, mendengar teriakan Arkan yang tepat di depan wajahnya. 


Kemarin, setelah kepulangan Damar dan ibunya, Rian memang sempat mengeluhkan soal tekanan darahnya yang melonjak naik. Dia bahkan sampai terjatuh di atas sofa sambil memegang bagian belakang lehernya yang terasa seperti menjepit. Kalut dengan apa yang terjadi, Anggi dengan bodohnya malah diam menyaksikan kehebohan ibunya yang berteriak meminta pertolongan dari para asisten rumah tangga mereka. 


Sial! Dalam sekejap, dia bisa menjadi seorang anak yang sangat tidak berguna. Untunglah, kondisi ayahnya sekarang sudah lumayan baik-baik saja. Karena kalau sampai terjadi hal yang buruk, mungkin Anggi akan lebih memilih bunuh diri daripada bertahan dengan posisi lebih rendah daripada sampah. 


Tok! Tok! Tok! 


"Non Anggi, Den Arkan, maaf mengganggu…."


Sibuk dengan emosi masing-masing, perhatian Arkan dan juga Anggi beralih pada salah satu asisten rumah tangga Anggi yang datang dan mengetuk pintu kamar Anggi hati-hati. 


"Ada apa, Bik?" tanya Arkan dengan wajah merah, tidak bisa menutupi perasaan yang sedang marah. 


"Itu, Den…. Tuan dan Nyonya nyuruh saya buat memanggilin Non Anggi. Soalnya, di depan ada tamu yang lagi nyariin." Kata asisten rumah tangga tersebut sopan, melihat Arkan dan Anggi saling melihat beberapa saat. 


"Tamu? Siapa?" tanya cowok itu sedikit heran, menolehkan kepalanya kembali ke arah asisten rumah tangga. 


"Engh… itu…" Sedikit gugup, tampak asisten rumah tangga tersebut meringis, sebelum menjawab. "Tamu yang kemarin malam datang ke sini." Ucapnya sedikit terbata. 

__ADS_1


"Den Damar, dan kedua orang tuanya."


Bersambung 


__ADS_2