The Last Chance

The Last Chance
Bagian Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Langit terlihat sangat gelap malam ini. Petir juga terlihat menyambar-nyambar di luar jendela, disusul oleh hujan lebat yang tiba-tiba saja turun mengguyur kota. Tangan yang sejak tadi terbentang menyentuh jendela kaca, perlahan mengerut seolah menggenggam air yang tengah menempel di sana. 


Sejenak Anggi meletakkan telapak tangannya di kaca jendela apartemen tersebut. Karena merasa dingin, perempuan itu menarik kembali jari lentiknya dari sana. Sementara itu, tangan kanannya terangkat, mengayunkan sebatang rokok yang sejak tadi menyala, dan menyelipkannya di tengah bibir. Menghisap dalam-dalam aroma tembakau yang terasa panas tersebut dan membuangnya lewat desah napas yang panjang. 


Sambil menikmati malam, pandangan Anggi turun menyusuri jalanan kota yang kian terlihat gelap. Basah dan dingin, terasa begitu menggigit meski Anggi tidak merasakan itu di kulitnya langsung. 


Pandangannya terlihat datar, memindai satu per satu pengguna jalan yang berarak menepi menghindari hujan. Sedikit memiringkan kepalanya, ketika tanpa sengaja dia melihat sosok muda-mudi berseragam SMA tengah berteduh di sebuah emperan toko yang masih buka. 


Manis sekali, pikir Anggi, tatkala samar-samar dia melihat sang lelaki mengusap rambut gadis di sebelahnya dan melepaskan jaket yang dikenakan untuk dia sampirkan ke bahu perempuan itu. Tidak usah dijelaskan juga, Anggi bisa menebak, kalau dua orang muda-mudi itu adalah sepasang kekasih.


Anggi terus menatap pasangan itu dari lantai apartemennya yang berada di lantai dua. Dari jarak yang terbilang cukup dekat ini, Anggi bisa menonton semua tingkah dua anak remaja itu dengan jelas. Sesekali tersenyum sinis, sebelum akhirnya mematikan rokok yang kini hanya tinggal sepertiganya saja. 


Pip! Pip! Pip! Pip!


Asyik dengan kegiatannya, Anggi mendengar suara tombol kunci apartemennya seperti tengah diakses oleh seseorang. Dia menoleh, dan mendengar kalau tombol pintunya ditekan lagi. 


Sebenarnya, tanpa dijelaskan pun, dia juga sudah bisa menebak, siapa orang yang sedang mencoba masuk ke dalam tempat tinggalnya. 


Mencoba bersikap tak acuh, Anggi kembali menoleh ke arah jalanan tempat dimana dia melihat pasangan muda-mudi yang tengah bermesraan tadi. Sedikit kebingungan, saat dia tidak mendapati siapapun lagi di sana, selain orang lain yang baru akan mulai berteduh di tempat itu. 


"Kemana? Kok udah hilang?" gumam Anggi pelan. Mungkin, dua orang anak remaja tadi sudah pergi saat Anggi menolehkan kepalanya ke arah pintu. 


"Is…. Dasar," batin wanita itu mendesah. 


Baru juga ingin bersantai dengan memandangi hujan, ponselnya yang tadi diletakkan di atas meja kecil samping jendela, tiba-tiba saja berdering keras. Membuat dia menoleh sekilas, dan mengangkat panggilan ponsel tersebut tanpa melihat nama yang tertera pada layarnya. 


"Halo?"


"Lo di rumah 'kan? Nggak usah pura-pura bego' dan buka pintu apartemen lo sekarang!"


Tlut! 


Belum juga Anggi sempat Anggi menyahut ucapan orang yang meneleponnya, panggilan tersebut sudah terputus. 


Dengan perasaan malas luar biasa, Anggi pun mau tidak mau berjalan menuju pintu apartemennya. Dia tahu, kalaupun dia ingin keras kepala, orang yang tengah menunggunya di depan pintu itu bisa jauh lebih keras kepala. 


Cklek! 


"Mau apa lo--"


"Ya ampun, di luar hujannya lebat banget. Mana macet lagi…. Lo kok nggak bilang ganti pin apartemen, sih?!"


Tidak menggubris raut wajah Anggi saat membukakan pintu kepadanya, pria yang tadi mencoba masuk ke apartemen wanita itu --namun gagal--, tampak menyelonong begitu saja masuk dalam unit, tanpa dipersilakan. 


Di tangannya, sudah terdapat sebuah plastik kresek berwarna putih bertuliskan nama salah satu minimarket yang sedang menjamur di tengah kota. Meletakkannya ke atas meja bar yang berada di dekat dapur, dan membongkar isinya di sana. 


Tidak bisa berkata-kata lagi, Anggi pun hanya bisa menghelakan napas pasrah, sebelum kembali menutup pintu apartemennya dari dalam. 

__ADS_1


"Mau ngapain lagi lo datang ke mari?" tanya Anggi, mendekati pria sibuk itu sambil melipat kedua tangannya di sana. 


Sedikit menoleh, pria itu tersenyum kepada Anggi, lalu menjawab, "Pas terakhir kali gue ke sini, gue lihat kulkas lo kosong. Jadi, gue berinisiatif buat isi kulkas lo lagi biar rame,"


"Kosong? Kosong apanya?" dengus Anggi, lantas membuat laki-laki itu terdiam sejenak. 


Seperti berpikir, lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang, menuju pintu kulkas Anggi yang memang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri saat ini, dan membukanya. 


"Kosong." Pertegasnya pada si pemilik apartemen, sebelum akhirnya tersenyum geli pada Anggi yang tampaknya tidak bisa berkata-kata lagi. 


Untuk sesaat, wanita itu hanya diam memandangi gerak laki-laki di depannya. Sangat cekatan dalam mengurus urusan dapur, seolah dia sudah sangat berpengalaman dalam hal rumah tangga. Padahal dulu, seingat Anggi, pria itu sangat payah dalam urusan rumah tangga. Jangankan untuk menyusun barang-barang seperti ini, melihat apa yang diperlukan untuk dapur mereka saja, dia tidak bisa. Selalu Anggi yang direpotkan dalam mengurus segala sesuatunya. Sementara dia, hanya bersantai dan bermain, sedang dia tahu kalau Anggi tengah hamil saat itu. 


"Eumh…." Tanpa sadar, Anggi melenguh. Dia menunduk, saat sadar mengingat apa yang seharusnya tidak boleh dia ingat. 


"Buat apa sih, lo ngelakuin hal ini?" tanya Anggi malas, menaikkan pandangannya pada Damar --tamu tidak diundangnya--, yang kini tengah memasukkan beraneka macam sayur dan buah ke dalam kulkas. 


"Ngelakuin apa?"


"Isi kulkas gue. Itu 'kan bukan kewajiban lo,"


"Belum kewajiban. Tapi, ntar juga jadi kewajiban gue," timpal Damar, menghentikan kegiatannya sebentar, hanya untuk tersenyum kepada Anggi. "...lagi,"


"Lagi?" dengus Anggi bosan, membuang pandangannya ke arah lain, seiring dengan Damar yang kembali melanjutkan kegiatannya. 


"Oke…. Berapa?"


"Semua belanjaan ini. Berapa? Gue bakal bayar."


Lagi, Damar menghentikan kegiatannya yang sedang menyusun buah ke dalam lemari pendingin. Pandangannya beralih, pada Anggi yang berjalan menuju sebuah kamar, dan menghilang beberapa saat. 


Lalu, selang berapa detik, Anggi keluar lagi dari ruangan yang merupakan kamar tidurnya itu dengan membawa sebuah dompet kulit berbentuk persegi panjang. 


"Berapa yang harus gue bayar untuk semua belanjaan ini. Sekalian uang parkir juga, lo sebutin aja. Gue nggak mau ada hitungan utang sama lo," kata Anggi serius, menghitung beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, yang akan dia berikan kepada Damar. 


Namun, bukannya menyebutkan nominal yang sudah dia keluarkan untuk mengisi kebutuhan dapur Anggi, Damar malah diam sambil terus menatap wajah wanita itu dalam-dalam. 


"Gue nggak minta bayaran."


"Nggak minta bayaran? Terus, maksud lo apa, belanja segitu banyak, dan naruh di dalam kulkas gue? Lo mau numpang mesin pendingin gue?" tuduh Anggi sarkastik, kembali menutup dompetnya dan bersidekap menatap angkuh kepada Damar. 


"Gue nggak semiskin itu cuma untuk numpang kulkas sama lo,"


"Dan gue juga nggak semiskin itu untuk terima semua pemberian makanan dari lo!" balas Anggi cepat, lantas meninggalkan Damar yang terdiam lagi di tempatnya. 


Anggi berjalan dan berdiri di depan jendela apartemennya lagi dengan kesal. Hujan tampak semakin deras, seakan tahu isi hati wanita itu yang tengah bergejolak tidak menentu. Anggi merasa, dia mulai jenuh dan juga bosan dengan situasi yang saat ini dia hadapi. Beberapa hari dalam satu bulan, pria itu pasti akan datang mengganggu kesendirian Anggi di dalam apartemen. Entah bagaimana caranya, dia selalu bisa menembus pertahanan apartemen Anggi dengan caranya. Meskipun wanita itu sudah sering mengajukan protes kepada pihak apartemen, tetap saja, Damar selalu punya cara untuk lolos menemuinya. Lapor polisi, juga percuma, karena dia tahu, orang seperti Damar juga akan punya seribu cara untuk menghindar dan datang mengganggunya. 


Menyebalkan. Benar-benar seorang pria yang sangat menyebalkan. 

__ADS_1


Tangan Anggi sudah bergerak mengambil sebungkus rokok yang dia letakkan di atas meja. Sebatang tembakau gulung sudah ada di tangannya dan terselip di antara bibirnya, ketika dua jari seorang pria langsung menyambar rokok tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah. 


"Heh! Lo--"


Tidak menggubris bentakan kemarahan Anggi, Damar --dengan wajah datarnya-- kembali merebut bungkus rokok dari tangan Anggi dan ikut membuangnya ke tempat sampah, setelah merusak batang rokok tersebut terlebih dahulu. 


"Damar! Lo--"


"Lo mau nyumpel mulut lo yang lagi kesel itu? Oke, sini gue bantu."


"Eh--?!"


Belum sempat Anggi menyadari maksud ucapan Damar, pria itu sudah langsung menahan wajah Anggi dengan kedua tangannya dan menyatukan bibir mereka. 


Tidak butuh hitungan detik bagi Anggi untuk sadar dari keterkejutannya atas sikap Damar. Begitu menempel, dia pun langsung mencoba mendorong tubuh pria itu untuk menjauh darinya. Meski sedikit susah, terlihat Anggi berusaha keras menjauhkan pria itu darinya. Segala cara akan Anggi lakukan, mulai dari memukul, bahkan menggigit bibir Damar agar mau melepaskannya. 


Namun, sekalinya laki-laki sudah bertekad, mau diperlakukan seperti apapun, dia tidak akan mudah menyerah. Walaupun bagian bibirnya sudah terasa perih dan berdarah akibat gigitan Anggi, dia tetap berkeras mencium wanita itu dalam-dalam. Pikirnya, Anggi sudah melakukan suatu kesalahan. Itu artinya, dia harus menghukum wanita itu, agar tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari. 


Alhasil, bukannya menyelesaikan aksi ciuman itu secara cepat seperti yang Anggi harapkan, keduanya malah terlihat saling bergumul, layaknya orang yang tengah berkelahi dalam posisi yang lebih intim. Anggi yang mendorong, dan Damar yang menarik tubuh Anggi, membuat keduanya tanpa sadar jatuh ke atas sofa, dimana Anggi berada persis di bawah tubuh Damar yang menguasainya. 


Sadar dengan posisinya yang mungkin akan kalah lagi kali ini, membuat Anggi akhirnya pasrah dan terdiam menerima semua perlakuan Damar kepadanya. Entah pria itu akan puas hanya dengan menciumnya membabi buta seperti ini, atau bahkan dia ingin melakukan hal lain juga, Anggi sudah tidak peduli lagi. Yang jelas, dia berharap, apapun yang akan Damar lakukan terhadapnya, dia ingin pria itu menyelesaikannya secara cepat. Dia bosan, dan merasa muak, jika terus merasakan kembali semua sentuhan yang pria itu berikan kepadanya. Selembut apapun, bagi Anggi, Damar tetaplah sesuatu yang hanya akan membuat dirinya terluka. 


Anggi sudah bersiap menerima semuanya dari Damar, saat tiba-tiba dia merasa pria itu menjauh darinya. 


"Anggi," panggil Damar lembut, menatap wajah Anggi yang perlahan-lahan membuka matanya kembali. 


Dalam cahaya lampu yang sedikit redup, serta suara hujan yang mengisi kekosongan malam, serta kilat petir yang menyambar bak sebuah cahaya blitz sebuah kamera dari arah luar, dua insan itu pun saling menatap. Menyelami perasaan satu sama lain lewat pandar mata pasangannya dengan pikiran yang berbeda. 


Kemarahan, kesedihan, penyesalan, kebahagiaan, dan kekecewaan, seolah menjadi satu dalam satu kubangan kenangan yang menggenang. Belum pernah surut, atau memang tidak akan pernah surut, meski sudah delapan tahun lamanya kisah itu mereka tuang. 


Perlahan, tangan Damar mengusap sebelah pipi Anggi yang terlihat begitu merah. Membelainya secara perlahan, sebelum kembali mengecup bibir bengkak wanita itu lebih lembut dari sebelumnya. 


"Boleh nggak, aku jadi suami kamu lagi?"


Sejenak, keduanya saling memandang. Dengan sorot mata berbeda, Anggi tampak sangat jengkel dengan perlakuan Damar. 


"Ngapain sih, Si Arkan itu ngasi kode apartemen gue sama lo?! Kurang kerjaan banget!"


Anggi mendorong tubuh Damar yang lemas hingga terduduk. Lalu, dengan kasar, dia mengusap mulutnya menggunakan punggung tangan dan berdecih. Seperti jijik, dengan apa yang baru saja terjadi pada bibirnya. 


"Nggi,"


"Mending lo pulang sekarang! Dan gue minta lo jangan pernah datang lagi ke tempat gue! Gue muak ngeliat muka lo! Gue pengen istirahat! Bisa ngerti nggak, sih?!" 


Anggi yang mengamuk, lantas pergi meninggalkan Damar menuju kamar tidurnya. 


... TBC...

__ADS_1


__ADS_2