
Wajah Arkan terlihat berseri, ketika turun dari mobilnya. Bibirnya mengerucut, mengeluarkan suara siulan bernada riang seolah menggambarkan perasaannya saat ini.
Tadi sore, dia bertemu dengan dokter yang tempo lalu merawat Anggi. Dia yang terpesona, mencoba mencari cara untuk bisa bertemu dan berhubungan dengan dokter cantik tersebut. Ya, meskipun awalnya mereka sempat berselisih paham karena bekas lipstik yang sengaja ditinggalkan Anggi di kemeja Arkan, pria itu bersyukur karena sekarang hubungannya dengan Prissa --nama dokter perempuan itu-- sudah mulai terlihat dekat.
"Kan,"
Arkan baru saja akan masuk ke ruang lift yang ada di sudut basement apartemennya, ketika dia mendengar suara yang tidak dia suka menyapa telinganya.
Saat berbalik, seketika wajah berseri Arkan berubah menjadi masam.
Seakan ingin mengabaikan, Arkan berjalan hendak meninggalkan Damar --tamu tidak diundangnya-- untuk masuk ke dalam gedung. Namun, baru beberapa langkah pergi, pria itu malah lebih dulu maju dan menghalangi gerakan Arkan.
"Bentar! Gue mau ngomong sama lo!" cegat pria itu merentangkan tangan, yang malah membuat Arkan membuang napas panjang seperti bosan.
"Gue nggak mau ngomong sama lo. Minggir!"
"Kan!"
Arkan berdecak saat sebelah tangan Damar mendarat di bahunya. Emosinya langsung meningkat, seiring dengan kenangan masa lalu di antara mereka kembali terlintas.
"Jauhin tangan lo dari bahu gue," peringatkan Arkan datar, namun dengan sarat tatapan membunuh ke arah Damar.
Paham kalau dia tidak boleh memprovokasi mantan sahabatnya itu, Damar segera sadar diri dan menarik tangannya menjauh.
"Gue mau bicara soal Anggi," terang Damar langsung, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memandang wajah Arkan lama.
Sedikit membiarkan waktu, Arkan lantas mendengus dengan nada remeh terhadap ucapan Damar.
"Gue rasa, nggak ada cerita apa pun yang terjadi antara lo berdua. Jadi, apa lagi yang mau lo bicarin soal dia?"
Sambil melemparkan senyum penuh ejekan, Arkan menggeleng melihat wajah Damar yang begitu tegang. Dia tahu, kalau orang di depannya itu sangat mudah untuk dipantik emosinya. Dan tentu, itu akan langsung dimanfaatkan oleh Arkan untuk mencari keributan dengan Damar. Kebetulan, dia masih sangat dendam dengan apa yang telah diperbuat pria itu terhadap Anggi di masa lalu.
"Gue tau, lo sengaja. Tapi gue, nggak akan marah cuma karena hal sepele kayak gini," ujar Damar tiba-tiba, tampak menarik napasnya dalam-dalam dan membuat Arkan sedikit merasa terkejut.
Oh, benarkah? Dia tidak marah dengan pancingan Arkan yang bertele-tele itu?
__ADS_1
"Gue butuh bantuan lo untuk dapatin Anggi lagi," sambung Damar lagi, kali ini tak ayal langsung membuat kedua mata Arkan membola.
"Apa?" pekiknya, tentu saja menunjukkan ekspresi kaget dengan alis yang mengerut dalam.
"Gue bilang, gue butuh bantuan lo buat dapatin Anggi lagi," ulang Damar yakin, terlihat begitu santai, berhadapan dengan Arkan yang mendengus.
Oh, benar…. Tentu Arkan belum tuli dan mendengar hal itu dengan jelas..
"Butuh bantuan…." Beo Arkan tertawa remeh, lebih pada dirinya sendiri seolah dia hampir gila mendengar kalimat tersebut.
Emosinya yang bergulung bak ombak di tengah badai, membuatnya bingung harus melakukan apa pada orang di depannya.
Haruskah dia membunuh Damar sekarang?
"Lo denger omongan gue dengan jelas. Dan gue rasa, gue nggak perlu ngulang itu sekali lagi," pertegas Damar kemudian, dengan wajahnya yang datar melihat Damar yang lagi-lagi tertawa geram dengan ulahnya.
"Gue dengar. Tapi gue nggak mau."
Arkan yang sudah berganti ekspresi menjadi datar, segera berjalan hendak meninggalkan Damar di belakangnya. Namun, saat hendak melewatinya lagi, Damar kembali menahan lengan Arkan dan membuat pria itu menjadi kehilangan kesabaran.
"Kan!"
Dan satu pukulan mentah pun langsung mendarat di sebelah pipi Damar hingga terhuyung beberapa langkah.
Dengan napas yang diatur dalam-dalam, Arkan menatap murka pada Damar yang sedang memegang sudut bibirnya.
"Lo harusnya bersyukur waktu gue berusaha mengabaikan lo!" tudung Arkan marah, melihat Damar begitu santai melihatnya dengan seutas senyum singkat di bibirnya.
"Masih sakit juga pukulan lo," komentar pria itu enteng, meski terlihat sedikit darah sudah menempel di beberapa bagian giginya.
"Sinting!" maki Arkan kesal, lagi-lagi hendak meninggalkan Damar yang terdiam menahan sakit di pipinya.
Sebelum Arkan masuk ke dalam lift yang dia tunggu, Damar berteriak kencang kepadanya.
"Pukulan ini nggak bakal bikin gue berhenti, Kan! Lo tau, kalau gue emang udah gila! Dan semakin sinting lagi, waktu Anggi ninggalin gue!"
__ADS_1
Seolah tidak mendengar, Arkan masuk ke dalam kotak besi yang ada di depannya, dan meninggalkan Damar sendirian di basement tempat tinggalnya. Sialan! Pria itu benar-benar tahu bagaimana caranya membuat Arkan bertambah marah.
Sementara itu, Damar yang melihat kepergian Arkan tanpa berkata untuknya, hanya diam sambil meringis memegang pipinya yang terasa perih. Untuk beberapa saat, dia merasa sangat sulit mendapatkan kepercayaan Arkan lagi untuk membantunya mendapatkan Anggi. Namun, setelah melihat bagaimana kesalnya Arkan saat memukulnya, membuat Damar sadar kalau tidak ada yang bisa mengenal Arkan dengan baik selain dirinya.
Dan dia yakin, kalau Arkan pasti akan membantunya.
❄
Di sisi lain, Arkan yang sudah sampai di kediamannya pun langsung membuka jas kerja yang sejak tadi dia pakai. Membantingnya ke lantai dengan penuh emosi, dan melepaskan dasi yang di lehernya dengan cara begitu kasar.
Napas Arkan memburu, mengingat perkataan terakhir Damar mengenai usahanya untuk mendapatkan Anggi. Dia pikir, Arkan semudah itu akan berpaling untuk membantunya? Makan apa dia, sampai berani datang ke depan muka Arkan setelah beberapa tahun lalu melewati baku hantam dengannya? Dia cari mati, atau bagaimana?
"Gue semakin sinting, waktu Anggi ninggalin gue!"
Hah! Apa dia bilang? Dia semakin gila saat Anggi meninggalkannya? Bukankah keadaan itu justru terbalik? Arkan tahu, dan ingat betul bagaimana depresinya Anggi saat kehilangan bayi yang waktu itu dia kandung. Dan semua itu tentu ulah dari seorang manusia yang sangat tidak bertanggung jawab bernama Damar. Berani sekali dia, memutar fakta yang ada untuk menarik simpatinya kembali? Memangnya Arkan semurahan itu, apa?
Mengacak rambutnya kesal, Arkan baru sadar kalau di tangannya terdapat sebuah percikan darah. Ini pasti darah Damar saat Arkan memukul pipinya tadi, mengingat senyuman pria itu pun sudah dipenuhi oleh darah ketika Arkan meninggalkannya.
Ah, benar-benar keterlaluan sekali.
Mencoba menenangkan hati, Arkan berniat untuk mandi saja malam ini. Pikirnya, mungkin jika diguyur dengan air dingin, suasana hati dan pikirannya yang panas bisa sedikit reda. Bodoh sekali dia, jika harus emosi berlarut-larut karena manusia tidak berguna seperti Damar.
Ting!
Baru saja akan melangkah menuju kamar, ponsel yang ada di saku celana Arkan berdering, menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk.
Tidak mengenali nomor si pengirim, Arkan sedikit mengerutkan dahinya sebelum membaca isi pesan tersebut.
"Besok temui gue di klinik Permata. Kita bakal bahas masalah Anggi lagi di sana."
Seketika, Arkan tahu siapa pengirim pesan singkat tersebut, dan membuatnya semakin marah dan berteriak.
"ORANG GILA, EMANG LO!"
Bersambung
__ADS_1