
Malam itu, Anggi keluar dari rumahnya demi mencari Damar. Setelah kejadian siang tadi, dirinya memutuskan untuk keluar secara diam-diam menemui kekasih hati yang katanya sedang pergi ke sebuah kafe bersama teman-teman kampusnya.
Di tengah cuaca yang kian terlihat gelap karena awan mendung yang menggantung, Anggi menahan desau angin yang menghantar dingin ke tubuhnya. Karena terburu-buru, Anggi tidak sempat membawa jaket dari rumahnya untuk menutupi tubuh kurusnya yang saat ini hanya memakai sebuah skinny jeans lusuh dan sebuah kaus tipis.
Berulang kali Anggi mencoba menghubungi ponselnya Damar, namun tidak diangkat oleh sang empunya. Ingin masuk, namun segan karena takut akan bertemu dengan teman-teman Damar yang mungkin akan membuatnya merasa canggung.
Alhasil, mau tidak mau Anggi terpaksa menunggu Damar di luar kafe tersebut, sampai akhirnya Damar keluar dengan napas yang sedikit tersengal.
"Sayang," panggil Damar terengah, seketika tersenyum tatkala melihat Anggi memutar tubuhnya yang semula menatap jalan.
"Kak Damar,"
Sama halnya seperti sang kekasih, Anggi yang melihat wajah Damar pun seketika ikut merasa senang dan memeluk pinggang pria yang lebih tua satu tahun darinya tersebut.
"Kamu kenapa nyariin aku? Sampai harus keluar malam-malam gini…. Kangen, apa gimana?" goda Damar menjawil hidung Anggi sekilas yang tampak hanya memasang tampang cemberut.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Desah Anggi kemudian, berganti ekspresi menjadi sedih.
"Aku…."
Suara petir yang tiba-tiba menyambar, hingga derai hujan yang mendadak turun membuat ucapan Anggi terputus. Damar yang merasa kaget, refleks menarik lengan perempuan itu menjauh, menuju ke sebuah mobil yang terparkir di halaman kafe.
"Duh, ujan lagi…." Keluhan Damar merutuk, menatap nanar ke arah langit malam yang kian terasa begitu gelap.
Sepertinya, hujan akan mengguyur kota sepanjang malam hari ini.
"Sayang, kamu nggak bawa jaket tadi? Kamu kedinginan, ya?" tanya Damar terkesan khawatir, pada Anggi yang hanya menatap sedih ke arahnya sambil memeluk tubuhnya sendiri yang sedikit basah.
Tidak menjawab, Damar seperti tahu kalau perempuan itu hanya mengenakan pakaian yang menempel di tubuhnya. Membuatnya sedikit sadar, melepaskan jaket yang diapakai untuk membalut tubuh Anggi.
"Kamu baik banget," puji Anggi pelan, terdengar seperti bisikan ketika Damar mulai memakaikan jaket kulit itu kepadanya.
Hanya tersenyum, Damar kembali membenahi jaket pemberiannya agar terasa hangat di tubuh Anggi.
"Jadi… kamu mau bilang apa?" tanya Damar kembali pada posisi semula, menatap Anggi intens yang juga menatap wajahnya dalam tanpa berkedip.
"Aku…"
"Tunggu!"
Cup!
Anggi mengerjapkan kedua matanya bodoh, ketika tanpa aba-aba Damar mendekat dan mengecup bibirnya sekilas.
"Kamu manis banget, sih…. Jadi pengen cium," kata Damar tertawa, menyentuh sebelah pipi Anggi dan mengusapnya.
Sejenak, keduanya saling tatap, sampai akhirnya Anggi ikut tersenyum dan meraih tangan Damar dari pipinya untuk digenggam.
Iya…. Kak Damar pasti bakal tanggung jawab. Batin Anggi menguatkan, memejamkan kedua matanya yakin, setelah beberapa saat lalu sempat merasa ragu dengan keputusannya menemui lelaki itu.
"Kak," panggil Anggi membuka mata, melihat Damar yang masih menatapnya dengan kedua alis yang terangkat.
__ADS_1
"Aku hamil."
❄
Shit!
Damar membanting jaket kulit yang tadi dia bawa ke atas lantai dengan perasaan yang sangat marah. Kedua tangannya saling bertolak pinggang, dengan napas yang memburu tidak karuan.
Pikirannya sedang kalut. Rasa panik lebih mendominasi hati Damar saat ini ketika dia mulai berjalan mondar-mandir di lantai kamar rumahnya.
Sambil mengepalkan tangan, Damar berusaha mencari cara untuk lewat dari masalah yang tiba-tiba datang menghadangnya.
"Aku hamil."
Hah? Kenapa bisa, coba? Pikir Damar mengerang, mengingat ucapan Anggi beberapa waktu lalu saat mereka berdua masih berada di dalam mobil milik Damar.
Oke, sebenarnya, Damar tahu kalau penyebab seorang wanita itu bisa hamil karena adanya pembuahan dari seorang laki-laki. Hanya saja, masalahnya, kenapa Anggi bisa hamil? Bukankah biasanya setelah melakukan hal itu, dia selalu memberikan Anggi obat pencegah kehamilan? Jadi, kenapa dia bisa hamil, sih?!
Mendadak, kepala Damar terasa begitu penuh. Rasanya ingin meledak, hingga membuat pria itu duduk di atas ranjang dan meremas rambutnya frustasi.
Apa mungkin itu bukan anaknya, ya?
"Ah! Enggak! Enggak! Itu pasti anak gue. Dia bukan tipe cewek yang mudah dekat sama cowok lain." Interupsi Damar pada dirinya sendiri, saat otaknya mulai berpikir melenceng tentang Anggi yang mungkin tengah mengandung anak dari pria lain.
Atas pikiran tersebut, Damar kembali menjambak rambutnya sendiri seperti orang tertekan, dengan mulut yang terus berkomat-kamit.
"Gimana? Gimana? Apa yang harus gue lakuin? Apa yang harus gue lakuin…."
Iya… Damar sangat tidak ingin bertanggung jawab.
Tadi, di depan Anggi, dia berusaha terlihat senang dan bersyukur karena kabar kehamilan tersebut. Meski dalam hati rasanya telah terjadi badai, Damar tetap berusaha sekuat tenaga terlihat tenang, layaknya seorang pria yang siap bertanggung jawab atas wanita yang dia cintai.
Dan haruskah Damar membuat pengakuan tentang perasaan sebenarnya terhadap Anggi?
Damar tidak pernah mencintai Anggi.
Yah, itu memang kejam. Hanya saja, itulah kenyataannya. Anggi bukanlah wanita pertama yang pernah menikmati surga dunia dengan Damar. Ada banyak perempuan lainnya di luar sana, yang pasti pernah Damar bawa ke atas tempat tidurnya. Hanya saja, tidak ada satupun dari mereka yang datang menuntut Damar, karena kecerdasan Damar saat bergaul dengan mereka. Entah memang Damar yang beruntung, atau perempuan-perempuan itu yang juga hanya mencari kenikmatan seperti halnya yang selalu Damar lakukan.
Tapi sekarang…, Anggi?
Ya Tuhan…. Kenapa harus perempuan itu, sih? Meskipun Anggi itu terlihat cantik dan juga manis, dia itu cuma anak manja yang tentunya hanya akan membuat Damar merasa pusing dengan rengekannya setiap saat. Terlebih, Damar juga masih kuliah, yang artinya masih terlalu muda untuk yang namanya ikatan sebuah pernikahan.
Mau jadi apa, pernikahannya nanti dengan perempuan itu? Sebelum bahagia, ayahnya tentu akan mencoret nama Damar dari daftar kartu keluarga, sampai ketahuan dia sudah menghamili anak orang di luar sana.
Gawat.
Ini benar-benar gawat! Batin Damar semakin terlihat tertekan, bahkan sampai tidak sadar kalau pintu kamarnya terbuka dan menampilkan seseorang.
"Damar!" panggil orang tersebut sedikit keras, yang tampak begitu heran dengan tinggah laku Damar menjambak rambut sendiri.
Tersadar dari lamunannya, Damar tersentak mendongakkan kepalanya menatap wajah orang itu dengan menampilkan ekspresi wajah terkejut yang tidak bisa dia tutupi.
__ADS_1
"Mama,"
Ternyata wanita paruh baya itu adalah ibunya Damar. Orang yang selalu memanjakannya, membelanya dan melindunginya jika sedang tertimpa sebuah masalah.
"Kamu kenapa? Kok kayak orang stres gitu?"
Perhatian seperti biasa, ibunya Damar mengernyit melihat wajah kusut anaknya yang memang seperti orang tertimpa masalah.
"Engh…. Nggak. Damar nggak papa." Sahut Damar menutupi, dengan menegakkan tubuhnya yang semula terlihat sedikit menunduk.
"Nggak papa? Masa'?" tanya ibunya curiga, menurunkan sebelah alisnya.
Tapi dasar, Damar yang memang selalu menceritakan segala permasalahannya kepada sang ibu, tidak kuasa menahan keresahan hatinya seorang diri. Meski dia tahu kali ini ibunya pasti akan marah besar, setidaknya wanita itu selalu berhasil membantu Damar lolos dari masalah. Mungkin saja, kali ini dia juga akan menemukan jalan keluar, terkait permasalahan Anggi yang saat ini tengah mengandung anaknya.
"Kamu mau cerita sama Mama?"
Seolah mengerti, ibunya Damar itu menyentuh sebelah bahu Damar dan semakin melihat kegundahan di wajah tampan anaknya.
"Eum… itu…."
"Bener 'kan, tebakan Mama. Kamu pasti udah bikin masalah lagi,"
Mendesahkan napas panjang, ibunya Damar itu langsung duduk di sebelah anaknya di atas ranjang, dan menepuk punggung anaknya itu sekilas.
"Waktu kamu pulang tadi, Mama udah perhatikan semua gelagat kamu. Dan Mama tebak, kamu pasti udah bikin ulah lagi di luar sana. Kayak biasa. Dan eh… ternyata bener kan! Damar…. Damar…." Keluh ibunya tersebut, menggelengkan kepala pusing dan mencebik.
"Kali ini apa lagi? Tabrakan? Berantem? Atau ngerusak tempat usaha orang?" terkait ibunya Damar, memperhatikan wajah anaknya itu lekat, yang semakin lama terlihat seperti orang yang ketakutan.
"Engh… i--itu…. Anu, Ma…. Damar… tadi…."
Damar yang gugup, berbicara dengan nada terpatah-patah. Dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, seperti tengah memikirkan kalimat yang tepat untuk menguraikan permasalahannya.
"Itu…. Damar tadi--eh! Enggak. Itu…, maksud Damar, Damar pernah…. Anu…. Itu…."
"Apaan sih, Damar! Ngomong tuh yang jelas, dong! Jangan terpotong-potong gitu! Mama jadi nggak ngerti kamu bicara apa!" sentak ibunya kesal, melihat Damar yang seperti orang bodoh di matanya.
Heran, biasanya anaknya itu sangat pintar dalam berkata-kata dan menggambarkan setiap kejadian yang baru dialaminya. Tapi kenapa kali ini dia terlihat sangat menyebalkan? Baru saja berkelahi hingga kepalanya bermasalah, atau bagaimana sih, anaknya ini? Bikin naik emosi saja.
"Kamu itu kenapa? Apa lagi masalah kamu kali ini? Cerita sama Mama, biar Mama bantu buat selesaiinnya. Apa? Apa? Kamu nabrak anak orang lagi? Atau mukul anak orang? Apa mereka nggak mau berdamai sama kamu? Emang uang yang kamu kasih nggak cukup, buat mereka diam dan nggak usah memperpanjang masalah ini lagi? Iya? Siapa, sih?! Perlu Mama datangi rumahnya, biar kelar?" oceh ibunya Damar kesal, yang sudah berapi-api melihat tampang Damar yang memucat.
Pikir anak itu, benarkah dia harus mengatakan permasalahan ini pada Mamanya? Mungkinkah Mamanya itu akan membantu? Kok, dia jadi takut, ya?
"Damar!"
"Ya?"
Terkejut, Damar yang mendengar pekikan sebal ibunya sontak menoleh dengan kedua matanya yang lebar. Dia panik, hingga keringat dingin mengucur dari dahinya yang sudah terasa berat.
"Apa? Bilang sama Mama."
Bersambung….
__ADS_1