The Last Chance

The Last Chance
18. Interogasi


__ADS_3

"Apa yang bisa kakak kami berikan pada mu??."


"……"😐Alfa menelan ludah. Di depannya, duduk 4 pasang suami istri dan 1 laki-laki single. Delta sudah lebih dulu di tarik bunda ke dapur, menghindarkannya dari menolong Alfa yang kembali lagi kena interogasi.


"Delta…..baik, penyayang, pintar masak, nggak gampang menyerah, bisa menyemangati orang lain, dia…..punya Dafa dan aku menginginkan mereka."


"Bagaimana kalau kau tiba-tiba bosan??."


"….."Alfa menoleh ke arah adik laki-laki Delta.


"Bagaimana kalau ada yang jauh lebih baik, lebih penyayang, lebih pintar masak, dan….


"Saat ini, detik ini perasaan saya padanya adalah tentang betapa saya mencintainya dan menginginkannya. Saya nggak tau ke depannya akan seperti apa. Saya hanya baru bisa memberikan janji lisan dan tulisan. Bukti akan berjalan seiring waktu. Saya berharap saya nggak akan pernah bosan, akan selalu menyayangi dan mencintainya dan saya ingin tua dan mati bersama. Ini jawaban umum yang pasti selalu memiliki sanggahan karena belum bisa di buktikan."


Alfa menarik nafas dalam, berusaha menenangkan hatinya. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah pernah di bahas oleh keluarga Alfa sebelum ia mengalami kecelakaan.


"Saya juga berharap kalau pertunangan ini lanjut ke pernikahan, jadi saya bisa ngasih perjanjian dalam bentuk tulisannya dan mengizinkan kalian membacanya lebih dulu. Tapi….


Alfa melirik ke arah Delta yang membawa minuman. "Agak sulit."


Kakaknya Delta mengerutkan dahi bingung. "Sulit dimananya??."


"Lamaran saya….udah di tolak hampir 100 kali. Dia niat temenan, niat pacaran, niat tunangan tapi nggak niat nikah."


"……"😕Ngomong apa sih??. Delta terkejut mendadak menerima tatapan datar dari saudara dan saudarinya. "Ke…kenapa??, Nikah kan nggak segampang itu."


Kedua adik perempuan Lily menarik nafas dalam. "Kalau calonnya nggak jelas sih emang. Ini bibit, bebet, bobot calon kakak jelas banget loh kualitasnya. Kenapa masih nolak??."


"……"😐


"Ganteng iya. Meski gantengan aku dikit😅. Kaya???, Kayaknya sih emang beneran banyak duit. Pekerja keras???, Kulit putih mulus gitu, pasti mainnya di dalam ruangan ber ac aja. Body juga kekar . Tapi….tipe kayak gini emang bahaya sih."


"……"😐😑Alfa berusaha bersabar.

__ADS_1


"Apa anda sering berpacaran sebelumnya??, Berapa banyak mantan-mantan anda??, Di daerah mana aja??, Apa jua ada yang rekan kerja dan masih menjalin hubungan baik??, Apa alasan kalian putus?." Kakak Delta kembali bertanya.


Delta menarik nafas dalam dan akhirnya duduk di samping Alfa. "Dia jomblo akut." Jawab Delta. "Dia nggak pernah pacaran karena sebelumnya dia nggak suka cewek."


"APA??!!!. 😧😲DIA HOM….


"Bukan woi!!!." Delta memukul lengan adik laki-lakinya. "Dia cuma tertarik sama kerjaannya."


"Wow, berarti saingan kakak uang dong!😅."


😑😑


Kakak Delta kembali bertanya. "Apa dia tau masa lalu kamu??."


"Stalker abadi??." Jawaban yang lebih ke bertanya pada Alfa. Alfa akhirnya tersenyum.


"Kalau soal itu….calon ipar sekalian bisa tanya saya dari A sampai Z, saya bisa beri jawaban dengan sangat akurat. Termasuk kejadian memalukannya dia. " Soal ini Alfa jauh lebih percaya diri.


😡Aku akan berpikir ulang untuk menerima pertunangan ini.


🌺🌺


Selesai acara pesta sate domba malam itu, pembicaraan serius kembali di mulai. Ayah Delta lah yang memulainya.


"Nafta bilang kalau kamu belum pernah membesuk orang tua kami di Rumah Sakit dan kamu juga belum pernah ziarah ke makam kakek dan nenek mu. Apa kamu berencana melupakan mereka dan hidup bahagia??. Saya paling benci dengan anak yang tidak berbakti pada orang tua."


Alfa terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia sampai detik ini masih takut dan merasa bersalah.


Sebuah tangan lembut menggenggam tangan Alfa dari bawah meja. Delta berusaha menguatkan pria itu.


"Bagaimana kalau Delta atau Dafa yang sakit?, Apa kamu juga akan membiarkan ketakutanmu menjadi besar, dan membiarkan mereka lambat Laun mati tanpa melihat kehadiranmu."


"Ayah tau. Ketika kamu melihat mereka, kamu takut kembali depresi. Tapi mungkin saja dengan kehadiran mu di sana, dengan mendengar suara mu, ayah dan ibumu bisa terbangun dari mimpi mereka. Mungkin saja dengan kehadiranmu di tempat peristirahatan mereka, kakek dan nenek mu akan datang melalui mimpi dan mengatakan bahwa kamu nggak bersalah."

__ADS_1


"Banyak cara untuk mu meminta ma'af, kamu sekarang sedang memenuhi keinginan mereka, mereka ingin sekali kamu mendapatkan istri dan anak. Mereka juga ingin kamu membuat usaha keluarga mu menjadi semakin berkembang. Tapi lebih baik kalau kamu mengungkapkan langsung permintaan ma'af pada mereka, dengan begitu beban dan tanggungjawab mu akan berkurang."


Alfa menggigit bibirnya kuat. Dia tidak ingin mempermalukan diri dengan terlihat lemah di depan keluarga Delta.


"Bunda dan ayah tidak melarang kalian bertunangan atau menikah." Sekarang giliran ibunda Delta yang bicara.


"Bunda sudah lama berharap bahwa anak perempuan bunda ini merasakan kebahagiaannya lagi. Merasa begitu di cintai dan melepaskan beban sakit hati dan malu yang di tanggung selama ini."


Delta menunduk. Selama ini, dia tidak pernah mau mendengar orang tuanya membahas hal ini. Dia hanya ingin melupakan masa lalunya dan memperbaiki hidupnya.


Ibunda Delta menarik nafas dalam. "Kesalahan ayah dan bunda adalah kami memberikan mu pilihan yang salah. Kami tidak mengajak mu mencari tau, kami membuat mu yang terlalu penurut pada kami, mengikuti saja alur yang telah kami buat tanpa memberimu kesempatan untuk berpikir. Kami….selalu merasa bersalah tentang itu."


"Sekarang….ayah dan bunda, juga kakak dan adik-adikmu, memberikan kesempatan untuk kamu memilih dan menentukan pilihan terbaik bagiku. Kami tidak akan menolak, kami hanya akan memberi nasehat dan berharap kalau kali ini….kebahagiaanmu benar-benar akan menyertaimu sampai tua nanti."


"Berikan cincinnya pada ayah." Pinta ayah Delta pada Nafta. Alfa bahkan melupakan soal cincin yang telah ia bawa.


Ayah Delta membuka kotak cincin itu lalu meminta Alfa dan Delta mendekat ke arahnya.


"Cincin ini adalah salah satu alat pengikat keseriusan hubungan kalian berdua. Tidak perlu berpikir lama untuk mengubahnya menjadi cincin pernikahan. Yakinlah pada hati masing-masing bahwa ini adalah awal dari tujuan kalian untuk hidup dan bahagia bersama selamanya."


Ayah Delta menyerahkan cincin pada Alfa memintanya memasangkan cincin itu ke jari Delta. Di sebelah ayah Delta, Ibunda Delta sudah menghapus air matanya, terharu pada momen itu.


Adik laki-laki Delta menyeletuk momen sakral itu. "Mengikat berarti kalau ada cewek atau cowok yang lebih sempurna, nggak boleh dilirik lagi, apalagi niat selingkuh. Coba aja kalau berani nyakitin perasaan kak Delta dengan cara macam itu, tinju ini yang akan bertindak."


Delta tersenyum mendengar hal itu.


Ayah Delta lalu memberikan satu cincin lagi pada Delta. "Berjanjilah dalam hati mu, bahwa pria di depan mu ini akan kamu bahagiakan seumur hidupnya."


Delta lalu memasangkan cincin itu di jari Alfa. Mereka benar-benar resmi tunangan.


Alfa menarik nafas lega. Setidaknya sekarang ia tinggal memupuk keberaniannya lalu membawa Delta ke orang tuanya dan kakek neneknya, memperkenalkannya sebagai wanita yang akan menjadi calon istri, dan ibu dari anak-anaknya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2