
Anggi meletakkan ponselnya di atas nakas dan melompat kegirangan, ketika Damar memberikannya kabar kalau sebentar lagi dirinya dan sang calon ibu mertua --ibunya Damar-- akan berkunjung ke Anggi.
Rasa takut dan juga pesimis yang sempat diarasakan atas sikap Damar kemarin, ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa. Buktinya, Damar bilang akan datang bersama ibunya, setelah sesaat lalu Anggi menelepon karena mulai cemas dengan kabar dari laki-laki tersebut. Padahal, baru satu hari. Tapi, rasa berdebarnya sudah seperti berhari-hari.
"Gimana soal si brengsek itu? Udah ada kabar?"
Anggi yang tadinya sedang berlonjak bahagia, sontak berhenti dan menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar yang terbuka.
Di sana, Rian sudah berdiri dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Sedikit takut, Anggi menundukkan kepalanya mendekati sang ayah, kemudian berkata. "Udah."
Lalu, tampak Rian diam tidak berkata, seolah menanti kelanjutan ucapan Anggi.
Sadar dengan hal tersebut, wanita itu pun segera mengangkat wajahnya dan mulai menjelaskan. "Kata Kak Damar, dia mau bertanggung jawab, Pa. Dan rencananya, nanti malam dia mau ngajak Mamanya buat datang ke rumah kita."
Rian hanya diam saja menanggapi ucapan tersebut. Wajahnya terlihat sangat ketat, sarat akan pikiran yang sangat berat.
"Bener 'kan yang Anggi bilang? Kak Damar itu pasti bakal tanggung jawab. Dia bukan laki-laki brengsek yang main pergi gitu aja, waktu tau Anggi hamil. Dia pasti bakal tanggung jawab, kayak apa yang udah pernah dia bilang. Dia itu--"
"Anggi!"
Anggi menghentikan ocehannya kepada Sang Ayah, begitu mendengar Mira menegur dirinya dengan keras. Sekilas, dia melihat ke arah ibunya yang tengah menatap nanar padanya.
"Biarpun dia mau bertanggung jawab, itu nggak akan merubah pandangan Papa sama dia. Sekalinya brengsek, akan selamanya seperti itu."
"Papa!"
"Diam kamu!"
Grep!
Anggi tersentak kaget, saat ayahnya maju, dan mencengkram dagunya kuat hingga nyaris terasa retak.
"Kamu udah mencoreng nama baik keluarga kita. Dan sekarang, kamu membela laki-laki yang bahkan menganggap rendah kamu dengan cara meniduri kamu lebih dulu sebelum menikah. Apa otak kamu itu udah benar-benar kosong?"
Anggi menelan ludahnya susah payah, ketika Rian menghempaskan cengkramannya kasar dan membuat Anggi terasa oleng.
"Kalau memang dia mencintai kamu dengan tulus, dia akan datang ke rumah ini dan meminta izin untuk menjalin hubungan dengan kamu. Setidaknya, dia datang sebagai teman kamu, sebelum akhirnya menyatakan status kalau dia adalah pacar kamu."
"Memangnya, kalau Kak Damar datang sebagai temen Anggi, Papa bakal percaya? Papa nggak akan marah sama Anggi dan ngelarang Anggi buat dekat-dekat sama dia? Bukannya Papa yang udah dengan keras ngelarang Anggi buat berteman sama orang lain, terlebih laki-laki?!" bentak Anggi marah, menantang ayahnya, hingga membuat wajah Sang Ayah terlihat merah.
"Kamu…."
"Anggi!"
Plak!
Setelah Rian, kali ini Mira yang tega menampar wajah Anggi dengan tangannya.
"Jaga ucapan kamu, Anggi! Yang salah itu kamu! Kenapa kamu malah bicara nggak sopan sama Papa kamu?!" bentak Mira emosi, dengan tangis yang sudah tidak bisa dia tahan.
Ya, Tuhan…. Kenapa harus seperti ini nasib keluarga mereka sekarang? Kemana perginya anak manis yang selalu menurut pada ucapan orang tua itu? Kenapa sekarang Anggi menjadi sangat pembangkang, dan justru tidak mau mengakui kesalahannya sama sekali? Sadarkah dia kalau keluarganya ini sedang kecewa berat terhadap apa yang tengah menimpa dirinya?
"Iya, Anggi memang salah. Anggi yang salah…." Gumam Anggi tertawa kering, juga menatap kesal pada ibunya.
"Seperti yang Mama bilang, Anggi memang salah! Iya, Anggi yang salah, sedangkan Papa dan Mama selalu benar. Gitu, kan?"
"Anggi…!"
"Wajar, kalau Mama belain Papa kayak gini. Karena Mama juga nggak jauh beda sama Papa. Kapan Mama pernah peduli sama Anggi? Mama cuma sibuk sendiri sama semua urusan Mama. Butik Mama jauh lebih penting, ketimbang Anggi kan? Biarpun Mama ada di rumah, tapi hati dan pikiran Mama tetap ada di butik Mama. Jadi, apa bedanya Papa sama Mama? Kalian bisanya cuma nyalahin Anggi! Kalian bisanya cuma ngatur Anggi ini itu dan membuat Anggi merasa nggak nyaman! Dan sekarang, saat ada satu orang yang bisa membuat Anggi merasa nyaman, kalian malah nyebut dia brengsek dan nggak punya sopan santun. Kalian itu--"
"ANGGI!"
Tangan Mira sudah terangkat seperti ingin menampar wajah Anggi lagi, saat Rian menahannya dan menatap tajam kepadanya.
"Tahan emosi kamu." Ujar Rian pada wajah penuh emosi Mira, sebelum akhirnya menoleh ke arah Anggi yang tengah menahan napas sedikit kaget.
"Sekarang kamu bebas berkomentar apa aja tentang sikap Papa dan Mama. Dan berdoa aja, kalau semua ucapan kamu tentang laki-laki itu memang benar. Karena kalau tidak…."
__ADS_1
Rian melihat Anggi menelan ludahnya susah payah, dan menatap was-was kepada dirinya.
"Kamu yang akan menyesal seumur hidup."
❄
Anggi terlihat mengendap-endap keluar dari kamar tidurnya. Beberapa menit yang lalu, ayahnya sudah mengultimatum untuk tidak keluar dari dalam kamar, apa pun yang terjadi. Kata ayahnya, biar ayahnya saja yang berhadapan dengan Damar dan ibunya.
Sesuai janji, malam ini Damar datang membawa serta ibunya untuk menemui orang tua Anggi. Dia bilang, ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara dirinya dan juga anak sulung dari keluarga Rian tersebut. Hanya saja, mereka tidak tahu, apakah maksud dari ucapan Damar kepada Anggi itu akan berakhir pada sebuah pernikahan, atau justru sebaliknya.
"Seperti yang sudah disampaikan oleh Damar sebelumnya, tujuan kami datang ke sini adalah untuk menyelesaikan permasalahan yang saat ini menimpanya."
Dari balik tembok yang membatasi antara dirinya dan ruang tamu, Anggi melihat siluet wajah ibunya Damar yang terlihat tegas. Dari gestur tubuhnya duduk saat ini, bisa terbaca kalau wanita paruh baya itu bukanlah tipe orang yang mudah untuk diajak berdebat. Mungkin, bisa dikatakan sebagai orang yang keras kepala. Yah, semua itu memang terlihat dari raut wajahnya yang begitu datar.
"Masalah yang menimpanya?" ulang ayah Anggi, terdengar seperti mendengus dan membuang pandangannya sekilas.
"Anda berbicara seolah-olah ini bukanlah suatu musibah untuk anak saya. Karena ulah anak Anda, anak saya jadi kena getahnya saat ini." Kata ayah Anggi geram, memandang tajam pada Damar yang sejak tadi menundukkan pandangannya.
"Musibah? Hah!" balas ibunya Damar sinis, lalu mendecih menatap rendah orang tua Anggi.
"Dengar ya, Pak…. Anak kalian itu hamil, ya karena dia bisa dihamilin gitu aja sama orang lain! Kenapa kalian bicara seolah-olah anak saya ini membawa musibah untuk anak kalian?! Memangnya, kalian pikir, kalian itu siapa?!" bentak ibunya Damar kasar, menuding ke arah wajah Rian dan membuat Mira yang sejak tadi diam menyaksikan merasa kaget bukan kepalang.
Wanita itu terkejut bukan karena suara teriakan ibunya Damar yang memang terdengar begitu keras. Tapi dia terkejut, karena sikap kurang ajarnya ibu Damar kepada Rian. Seumur-umur, belum ada satu orang pun yang berani bersikap tidak sopan seperti itu terhadap suaminya. Selain dihormati, suaminya itu merupakan orang yang cukup disegani oleh banyak kalangan. Tapi wanita yang ada di depannya ini, tampak begitu arogan dengan menudingkan jarinya ke wajah Sang Suami.
"Hei! Anda ini--"
"Mira," panggil Rian menahan, dengan mengangkat sebelah tangannya ke arah Mira sebagai tanda kalau wanita itu harus diam.
Mengerti, Mira yang tadinya bersiap akan berdiri, kembali duduk di tempatnya sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Orang lain, Anda bilang?" ulang ayah Anggi pada satu kalimat, yang mana itu membuat ego ayahnya Anggi merasa sangat terganggu.
"Jadi, maksud Anda, anak saya itu hamil karena perbuatan orang lain. Begitu?" tekan Rian datar, melihat ibunya Damar yang mendengus menjawabnya.
"Tanya aja sama anaknya sendiri. Kenapa harus tanya saya?!" ketus wanita itu sombong, melipat kedua tangannya di dada.
Tidak percaya, Mira pun membulatkan kedua matanya dan menatap geram ke arah ibunya Damar. Sumpah demi apa pun, dia sangat benci dengan wanita yang ada di depannya ini.
"Apa?!"
Gantian, kini ayahnya Anggi yang tersenyum sinis sambil memandang remeh ke arah Damar.
"Kamu pasti udah dengar dari Anggi sebelumnya kan, kalau saya akan mencari dan membuhuh siapapun yang udah menghamili dia. Karena itu kan, kamu datang ke mari?"
Merasa kaget, ibunya Damar sontak menolehkan kepalanya ke arah Damar dan ayah Anggi secara bergantian.
"Apa maksudnya?" tanya wanita itu entah memang tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti.
"Secara tidak langsung, anak Anda sudah mengakui perbuatannya terhadap putri saya. Apa itu kurang jelas?" serang ayah Anggi datar, menyeringai penuh kemarahan pada Damar beserta ibunya.
Seolah menuntut jawaban, ibunya Damar terus menatap lekat wajah anaknya yang memang sengaja menolak menoleh ke arahnya. Seperti tahu, kalau ibunya pasti akan mengamuk karena dia tidak menceritakan segala permasalahannya secara detil, mulai dari Anggi yang mendatanginya hingga ancaman yang dilontarkan oleh Rian melalui Anggi.
Kesal karena merasa terjebak, ibunya Damar pun hanya bisa menghembuskan napas geram, sebelum akhirnya menoleh pasrah ke arah Rian dan juga Mira.
"Jadi, kalian mau bagaimana?" tanyanya malas, masih memasang tampang enggan dan juga sombong.
"Apa lagi? Tentu kami menuntut pertanggung jawaban kalian terhadap anak kami." Tegas Rian mantap, menatap lekat wajah ibunya Damar yang justru tampak membuang napas tidak peduli.
"Oh, ya? Kalau begitu berapa? Berapa harga yang harus kami bayar, untuk menyelesaikan semua permasalahan ini?"
"Apa?"
Sambil mengeluarkan sebuah buku kecil berupa cek, ibu Damar juga mengeluarkan sebuah pena dari dalam tasnya sembari hendak menuliskan sesuatu di atas cek tersebut.
"Bilang aja berapa. Sepuluh juta? Dua puluh juga? Tinggal sebut aja. Kami akan bayar secara tunai sekarang juga." Katanya lagi, menatap sepele pada kedua orang tua Anggi yang sontak merasa begitu marah hingga wajahnya memerah.
"Kalian…."
Dengan napas tertahan seolah ingin mengamuk, Rian menatap berang wajah ibunya Damar yang masih juga menatap santai kepada mereka. Apa maksud dari wanita ini sebenarnya? Apa dia pikir semua masalah ini bisa diselesaikan hanya dengan uang?
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa yang membuat Anda terlihat begitu percaya diri. Tapi kalau bicara soal uang, saya kira harta Anda juga tidak ada apa-apanya dengan keluarga kami." Sindir Rian terang, seketika membuat ibunya Damar memperhatikan kediaman orang tua Anggi itu dengan seksama. Mulai dari bangunan serta interiornya, hingga barang-barang yang terdapat di ruangan tersebut terlihat cukup bernilai.
"Oke, sepertinya bukan dengan uang, ya…." Decih ibunya Damar pelan, kemudian kembali memasukkan cek serta penanya ke dalam tas.
"Lalu, pertanggung jawaban apa yang kalian minta? Tidak mungkin kan, kalau anak saya harus--"
"Nikahi Anggi secepatnya."
"Apa?!"
Kedua mata ibu Damar sontak mendelik tidak terima mendengar selaan Rian yang begitu tegas.
Menikahi Anggi? Gadis murahan itu?! Pikir ibunya Damar, seketika merinding di tempatnya.
"Anda jangan keterlaluan! Tidak mungkin anak saya menikahi perempuan itu! Bisa jadi itu bukan anaknya Damar! Tidak mungkin kan, hanya karena sekali tidur bisa langsung hamil? Yang iya, anak kalian itu sudah sering tidur dengan laki-laki lain. Dan sialnya saja Damar yang harus kena getahnya!"
"Apa?! Jaga ucapan Anda, ya! Anak kami itu perempuan yang sangat penurut dan juga baik, sampai akhirnya ketemu sama anak Anda. Anak Anda yang membawa pengaruh buruk pada anak kami! Jangan bicara sembarangan!" seru Mira marah, merentak berdiri dari posisinya, karena tidak tahan mendengar hinaan ibunya Damar terhadap Anggi. Meskipun bersalah, bukankah harusnya dua anak itu harus dihukum secara bersamaan? Lalu, kenapa harus Anggi yang terkesan sangat buruk di mata mereka?
"Hmph! Memang apa peduli saya? Toh, sekarang anak kalian juga nggak lebih dari sekedar sampah yang hamil di luar nikah! Apa buktinya kalau anak yang dia kandung itu anaknya Damar?" tantang ibu Damar berani, ikut berdiri dan bertolak pinggang di depan Mira.
Sementara itu, Anggi yang sejak tadi mengintip dari balik tembok, terus memperhatikan wajah Damar yang sejak tadi hanya diam di tempatnya. Menahan gejolak perasaan yang begitu kacau akibat hinaan yang terlontar dari mulut ibunya Damar, dengan harapan mendapat sebuah harapan kecil dari laki-laki itu.
Namun, sampai pertengkaran yang lebih keras itu terjadi, Damar tak kunjung membuka suaranya dan membuat Anggi semakin resah tidak berdaya.
"Tapi anak yang ada di dalam kandungan Anggi itu butuh status! Anak kami perlu status! Dan laki-laki ini harus bertanggung jawab untuk itu!" tuding Mira berapi-api, pada Damar yang tetap tidak mengangkat wajahnya sama sekali.
"Huh? Perlu status? Oke, kalau begitu! Kami bisa memberikan status untuk anak kalian sekarang juga. Carikan saja orang yang bisa menikahkan mereka malam ini. Lalu, Damar bisa langsung menceraikan anak kalian--"
Plak!
Sepertinya, kadar emosi yang berpacu dalam hati Mira sudah tidak bisa terbendung lagi. Berusaha mencari jalan keluar bersama, justru seolah menjerumuskan keluarganya dalam kubangan yang begitu hina.
Wanita ini dan anaknya, tidak pantas disebut sebagai manusia.
"Kamu…."
Balas menatap emosi, ibunya Damar yang tidak terima ditampar keras oleh Mira, membelalakan matanya lebar seolah bisa mengeluarkan api yang menyala. Dia marah, dan hendak memukul Mira, andai Rian tidak langsung bergerak melindungi istrinya.
"Hentikan!" interupsi Rian keras, menghentikan aksi ibunya Damar yang sudah melayangkan tangannya ke udara.
"Setelah saya berpikir, tidak ada gunanya bicara dengan orang gila seperti kalian."
"A--apa?! Anda…."
"Jadi, silakan keluar dari rumah ini, sebelum saya panggil ambulans untuk mengangkut kalian berdua."
Kehabisan kata-kata, ibunya Damar yang masih dirundung kemarahan berat langsung menarik lengan Damar untuk berdiri dari tempatnya. Dengan memasang tampang angkuh nan bengis, ibunya Damar membuang muka dari tatapan emosi Mira yang terus menyorotnya.
"Ayo, Damar. Kita pergi dari sini. Setidaknya, kamu udah nggak perlu berhadapan lagi dengan keluarga ini."
"Kak Damar!"
Damar dan ibunya sudah hampir keluar dari pintu utama kediaman keluarga Anggi, ketika tiba-tiba saja perempuan itu keluar dari tempat persembunyian dan menghentikan langkah kaki mereka.
"Anggi!"
Sambil memasang tatapan nanar, Anggi maju dua langkah ke arah Damar dan mengabaikan panggilan Mira yang kaget dengan kehadiran dirinya di sana.
Bukankah tadi ayahnya sudah menyuruh Anggi untuk tetap berada di kamar?
Tanpa bicara, dan tanpa memasang ekspresi kalau mereka itu saling mengenal, Damar pergi meninggalkan Anggi yang gemetar di tempatnya.
Tunggu…. Apakah tadi itu memang Damar? Orang yang berjanji akan bertanggung jawab terhadap dirinya? Lalu, kenapa dia justru berpaling dan tidak berbalik sama sekali?
"Kak… Damar…."
Tersedak atas kenyataan, tubuh Anggi terasa disulap menjadi batu, ketika ayahnya mendekat dan menatap berang ke arahnya.
"Kamu dengar apa yang mereka bilang?" tanya Rian sinis, menyeringai menatap emosi di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Selamat…. Itu adalah laki-laki yang kamu cintai."
Bersambung….