The Last Chance

The Last Chance
Bagian Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Masa sekarang


Kepala Anggi masih terasa berat. Beberapa kali dia mencoba memijat kepalanya yang pening sambil menarik napas panjang beberapa kali. Rencananya, hari ini dia tidak ingin masuk kantor. Tapi, karena berhubung katanya Mario akan melakukan rapat divisi pemasaran hari ini, mau tidak mau akhirnya Anggi pun memutuskan untuk datang walaupun  sedikit terlambat. 


Anggi sudah berdiri di depan pintu lift masih dengan tangan yang memijat keningnya pelan. Dia menunggu kotak besi itu terbuka, untuk membawanya ke lantai atas tempat dia bekerja. Dia sudah hampir tidak bertenaga karena semalam dia menangis habis-habisan. Mengenang soal anaknya yang sudah tiada, membuat air mata Anggi kembali mengenang, hingga dia harus cepat-cepat mengusap matanya agar tidak ada yang melihat. 


Saat pintu lift terbuka, Anggi masuk ke dalam dan langsung menekan tombol 12 tempat dia divisinya berada. 


Tepat saat pintu besi itu akan tertutup, sebuah tangan tiba-tiba menahannya untuk kembali terbuka. Membuat Anggi sedikit kaget, karena seseorang yang sudah sangat dikenal muncul dari balik pintu dan menatapnya dengan sorot mata lumayan tajam. 


Seketika, mood Anggi semakin parah. Dia membuang pandangan, ketika Damar masuk ke dalam lift yang sama dengannya dan menekan tombol pintu tertutup di lift tersebut. 


Jika biasanya Damar akan selalu merecokinya dengan pertanyaan ataupun pernyataan-pernyataan yang sangat mengganggu telinga, entah kenapa kali ini pria itu terlihat begitu tenang. Kedua tangan masuk ke dalam saku, dengan tubuh yang begitu kaku bak sebuah patung yang sengaja diletakkan di dalam lift tersebut. 


Tidak ada yang berbicara di antara mereka, sampai saat lift itu berhenti dan pintu pun terbuka karena ada seseorang atau beberapa orang di lantai delapan. Sepertinya ada seseorang yang akan masuk ke dalam lift tersebut. 


Sial, karena ternyata orang yang sudah menunggu lift itu untuk berhenti adalah orang yang sama halnya membuat Anggi merasa sangat dongkol saat ini. Siapa lagi, kalau bukan Marcel? 


 Dengan ekspresi wajah yang tadinya tersenyum lebar, Marcel yang langsung bertentang mata dengan Anggi pun terlihat sedikit kaget. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, ketika dia juga mendapati Damar di kotak besi tersebut.  


"Ouh…. Kalian datang barengan?" 


Dengan seutas senyum penuh sindiran, Marcel melirik ke arah Anggi dan Damar secara bergantian, sebelum akhirnya berbicara dengan orang di sebelahnya. 


"Saya akan pergi ke ruangan Pak Sandi sendirian. Kamu bisa menunggu saya di sini,"


Setelah mengatakan hal itu, Marcell pun masuk ke dalam lift. Berdiri tepat di antara Anggi dan juga Damar, setelah dia menekan tombol 20 pada dinding lift tersebut. 


Saat mulai bergerak, Marcel yang sepertinya tidak tahan untuk berdiam diri pun, segera menolehkan kepalanya ke arah Anggi. 


"Hai, Anggi. Apa kabar? Udah lama kita nggak ketemu, ya? Kayaknya kemarin mood kamu lagi buruk, makanya sempat buat bertukar kabar sama aku, ya? Gimana? Apa hari ini mood kamu baik-baik aja?" tanya Marcel pada Anggi, yang jelas sekali terlihat seperti basa-basi. Karena pada kenyataannya, di bagian akhir kalimat, dia justru menoleh ke arah Damar dengan senyumannya yang sungguh menjengkelkan. 


"Kamu jadi keliatan beda banget sekarang ya, Nggi. Maksudnya, dari dulu kamu emang udah keliatan cantik. Cuma… sekarang jadi lebih…."


Bisa Damar lihat dari pantulan pintu lift yang ada di depannya kalau Marcel itu tengah menatap Anggi dengan tatapan kurang ajar dari atas hingga bawah. Membuatnya merasa sangat kesal, dan hampir aja memukul laki-laki itu, andai pintu lift yang membawa mereka tidak segera terbuka. 


Anggi, yang sejak tadi diam seolah tidak mendengar ada orang yang berbicara di sampingnya ataupun kepadanya, hanya melengos pergi begitu saja. Membuat Marcel sedikit kaget, dan refleks memanggil wanita yang sudah keluar dari lift tersebut. 


"Nggi!" 


Marcell seperti ingin mengejar Anggi, namun tangan Damar sudah lebih dulu menahan lengan pria tersebut. 


Tanpa mengeluarkan suara sama sekali dan dengan raut wajah yang masih begitu tenang, Damar mendorong pelan tubuh Marcell kembali masuk ke dalam lift. Lalu, dibawah tatapan heran pria itu, Damar kembali menekan tombol pintu tertutup pada pintu lift dari arah luar. Menunggu di sana beberapa saat, seakan ingin memastikan kalau Marcell benar-benar menghilang menuju lantai dimana atasan mereka berada. 


Lalu, setelah memastikan kalau pintu lift itu tidak akan terbuka dan menampilkan Marcell lagi, Damar pun segera berbalik menuju ruangan tempat dia dan Anggi bekerja. 


 



 


"Jadi, demikianlah hasil diskusi kita pada pagi hari ini, saya harap kerjasama kita kedepannya menjadi lebih baik lagi, mengingat persaingan pasar juga sudah semakin terlihat ketat."


Mario meletakkan spidol berwarna hitam yang sejak tadi dia pegang ke atas meja yang ada di hadapannya, kemudian menopang kedua lengan kekarnya di atas meja tersebut.


"Jika masih ada yang ingin disampaikan di luar rapat ini, saya persilakan. Tapi, alangkah baiknya jika semua pertanyaan bisa terjawab sekarang juga, mumpung kita semua masih berkumpul seperti ini,"

__ADS_1


Mario memperhatikan satu per satu wajah anggota divisinya, yang mana mereka hanya membalas Mario dengan senyum ataupun anggukan kepala ringan. Kecuali satu orang, yang tampak begitu muram dengan wajah menanggung beban. 


"Kalau kamu Anggi? Apa ada yang ingin kamu tanyakan sekarang?"


Anggi yang tidak dengar pertanyaan itu pun, menjadi tidak sadar kalau dia sudah menjadu bahan perhatian. Dia hanya termenung seorang diri, sampai akhirnya Dhita menepuk pahanya yang ada di bawah meja. 


Saat menoleh, Ditha pun segera memberikan kode pada Anggi untuk segera melihat ke arah Mario. 


"Ya?" tanyanya bodoh, membuat Mario mengulang pertanyaannya lagi. 


"Apa kamu ada pertanyaan? Kamu kelihatannya lagi memikirkan sesuatu dari tadi," tanya Mario pada Anggi, dimana Anggi tampak sedikit kebingungan dengan melihat sekitar. 


Sadar kalau ternyata dia sudah menjadi bahan tontonan, Anggi pun menjadi sedikit salah tingkah. Kelihatan sekali kalau sejak tadi dia memang tidak menyimak sepanjang perjalanan rapat. 


"Gimana? Ada pertanyaan?" tanya Mario lagi, kali ini membuat Anggi kembali fokus kepadanya. 


Sedikit kaku, Anggi pun menganggukkan kepalanya pelan. 


"Apa?"


"Kapan Mas mau jalan sama aku?"


"Hah?"


"Heh, pe'ak!"


"Ya ampun, Mbak!"


"Apaan sih, Nggi…!"


"Hadeuh…."


"Kamu kayaknya perlu kopi, deh. Muka kamu keliatan agak kacau. Nggak kayak biasanya,"


Senyum manis yang tadi bertengger di bibir Anggi, perlahan mulai kendur. Seiring dengan ucapan Mario yang meninggalkannya di meja rapat, senyumnya berubah kecut. Sepertinya, dari sekian orang, hanya Mario yang sadar dengan apa yang ada di balik make up tebal Anggi hari ini. 


Saat berdiri, Anggi tidak sengaja melihat ke arah belakang. Ternyata, yang tersisa di meja rapat tadi bukan hanya Anggi dan juga Mario. Melainkan ada Damar, yang entah kenapa terus saja menatapnya dengan sorot mata yang begitu layu. Seperti orang sedih, namun sayangnya Anggi tidak tertarik untuk bertanya kabar dengan pria itu.


Seakan tidak peduli, Anggi pun akhirnya berlalu meninggalkan Damar seorang diri. 


 



 


Jam makan siang, Anggi lebih memilih untuk menyendiri di rooftop. Mengambil rokok yang hanya tersisa sebatang di kotak dalam saku blazzernya, Anggi mulai menyelipkan benda tersebut di antara kedua bibirnya. 


Saat akan menyalakan korek yang baru dia ambil dari saku blazzernya, Anggi dikagetkan dengan suara gebrakan pintu rooftop yang tiba-tiba saja terbuka. Menghentikan sejenak gerakan Anggi yang sudah siap menghisap rokoknya untuk dinyalakan. 


"Nggi,"


Melihat Damar, Anggi pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Seolah tidak melihat siapa pun, dia yang tadinya berdiri menyandarkan punggung di pembatas lantai atap, berbalik dan mulai menikmati asap yang mengepul keluar dari sela bibirnya. 


Sementara itu, Damar yang tidak suka dengan apa yang dia lihat, langsung mendekat dan merampas batang rokok yang terselip di bibir Anggi. Menyentil nya ke udara, hingga dalam hitungan detik, benda yang mengandung tembakau itupun langsung terjun bebas tidak terselamatkan. 


"Anj–!"

__ADS_1


Kesal, Anggi menoleh ke arah Damar. Dia sepertinya sangat marah, hingga mendorong dada Damar begitu kuat. 


"Apaan sih, lo?! Maksud lo apa ganggu-ganggu gue?! Lo cari masalah sama gue, hah?!" bentak Anggi emosi, sudah terlihat seperti seekor banteng betina. 


"Aku nggak bermaksud buat ganggu kamu. Aku cuma berusaha buat nyelamatin kamu aja, kok. Merokok itu nggak baik buat kesehatan. Nanti kamu bisa sakit!" 


"Halah! Bacot! Peduli apa lo, kalo gue sakit? Emangnya gue bakal ngubungin lo, kalo gue sakit? Enggak, kan?! Terus kenapa lo yang mesti repot?!" sentak Anggi langsung, menuding dada Damar menggunakan jari telunjuknya. 


Damar yang diperlakukan seperti itu, hanya diam saja mendengar ucapan Anggi. Jujur, tujuan dia datang menyusul perempuan itu ke rooftop bukanlah untuk mencari permasalahan baru. Dia hanya ingin berada di sisi perempuan itu, demi menenangkan hatinya yang sejak kemarin begitu kacau. 


Setelah berdiam diri sejenak, Damar menundukkan kepalanya dalam dan berkata, "Maaf, " dengan suara yang begitu lembut hingga membuat Anggi terkejut mendengarnya. 


Maaf, ini Anggi tidak salah dengar kan?


Tidak menyangka kalau Damar akan mengucapkan kata itu alih-alih membalas ucapan kerasnya seperti biasa, membuat Anggi terdiam dan terbodoh. 


Oke, dia sudah menyiapkan segala jenis makian untuk pria itu demi melampiaskan emosinya sejak kemarin. Hanya saja, kalau Damar bersikap lembek seperti ini, bagaimana bisa Anggi mengeluarkan segala unek-uneknya? Yang ada, dia bisa terlihat seperti orang gila karena marah-marah sendiri. Atau, lebih tepatnya dia bisa terlihat seperti siluman yang tengah menakut-nakuti seorang anak kecil. 


Atau, haruskah dia melakukan itu? Toh, selama ini dia juga tidak peduli dengan ucapan orang lain terhadapnya. 


"Ah, udahlah,"


Mendadak merasa malas, Anggi pun akhirnya mengibaskan tangannya ke udara. Kali ini, dia akan mengabaikan Damar. Berhubung moodnya sungguh jelek dan orang di depannya seperti malas juga untuk berdebat, dia jadi tidak punya alasan untuk marah-marah. 


Anggi terlihat akan meninggalkan pria itu. Dia berbalik dan berjalan menjauhi Damar menuju pintu rooftop di dekatnya. 


Namun, belum juga sampai dia langkah dia pergi, Damar sudah lebih dulu menangkapnya dan memeluk tubuhnya dari belakang. 


"Eh, apaan, sih? Lepasin!"


Anggi yang kaget, berusaha untuk menyentak tangan Damar agar terlepas darinya. Tapi, bukannya membiarkan Anggi, Damar justru melingkarkan kedua tangannya di tubuh Anggi menjadi lebih erat. 


"Damar! Lo apa-apaan, sih?! Lepasin, nggak?! Jangan kurang ajar lo, ya!" ujar Anggi marah, terus berusaha menggeliatkan tubuhnya agar dilepaskan oleh Damar. Tapi pria itu, sepertinya tidak berniat, dengan menyandarkan dagunya di sebelah punggung Anggi. 


"Damar!"


Saat sudah terbalut emosi, samar-samar Anggi mendengar suara Damar yang mendesah lirih. Diikuti dengan isakan tangis yang halus, dan membuat Anggi terdiam untuk sejenak. 


"Lo… nangis?" tanya Anggi setengah tidak sadar, lantas mengerjap ketika Damar semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Anggi. 


Perempuan itu tampak berpikir. Dia bingung, karena sebelumnya Damar tidak pernah seperti ini. Atau, apakah pria itu sudah salah mengkonsumsi obat sebelum bertemu dengannya? 


"Harusnya waktu itu aku nemenin kamu nangis di rumah sakit,"


Secara perlahan, raut wajah Anggi yang tadinya bingung, perlahan mulai mengendur. Bisa dia rasakan usapan tangan Damar di kulit lengannya yang tidak tertutup kain. Begitu lembut dan juga hangat. 


"Harusnya aku sadar, kalau yang butuh menenangkan hati waktu itu adalah kamu. Tapi, bukannya nemenin kamu, aku malah membuat luka kamu semakin besar."


Anggi diam mendengar Damar yang sudah bercerita di balik rambutnya yang cukup lebat. 


"Aku terlalu syok waktu itu. Aku bahkan nggak bisa untuk sekedar menggerakkan badan aku. Jangankan untuk jalanin motor nemuin kamu di rumah sakit. Untuk berdiri aja, rasanya aku nggak bisa, Nggi. Aku terlalu takut, dan cuma bisa diam di tempat itu sampai waktu yang cukup lama."


Anggi menarik napas panjang. Dia tidak tahu, kenapa tiba-tiba air matanya menyeruak mengaburkan pandangannya. Damar memang tidak menjelaskan secara rinci 'waktu' yang sedang dibicarakannya saat ini. Hanya saja, entah kenapa Anggi merasa kalau ini ada kaitannya dengan kondisi Anggi delapan tahun yang lalu. 


Merasa lelah dengan apa yang sudah dia rasakan sejak kemarin, membuat Anggi melepaskan tangan Damar secara paksa. 


Tanpa berbicara, tanpa menoleh sekalipun, Anggi berjalan meninggalkan Damar yang terdiam di rooftop. 

__ADS_1


... TBC...


__ADS_2