The Last Chance

The Last Chance
13. Recovery


__ADS_3

Delta menutup toko rotinya di kantin kampus. Sekarang wanita itu sibuk mengurusi Alfa di Rumah Sakit. Menemani pria melakukan terapi, makan dan kadang ia pulang larut bersama Dafa hanya untuk menemani Alfa sampai pria itu tertidur.


Alfa sedikit-sedikit keadaannya mulai membaik. Meski pria itu tetap tidak mau tersenyum dan kadang hanya menurut saja apa yang di perintahkan Lily. Setidaknya ia sudah mau melakukan kegiatan lain, selain mengurung diri di ruang rawat.


Sayangnya pria itu belum mau menjenguk ayah dan ibunya yang berada di ruang ICU.


Delta mengelus rambut Alfa. "Kita mungkin nggak tau kapan mereka sadar. Tapi setidaknya kita tau mereka masih hidup. Aku tau kamu bukan pria lemah seperti ini, aku tau kamu marah, takut dan frustasi. Tapi kediamanmu ini nggak akan menyelesaikan masalah."


Delta meletakkan Dafa di pelukan Alfa. "Aku bertemu dengan adik mu pagi tadi." Delta tersenyum. "Aku bahkan sempat berpikir kalau kamu itu anak tunggal😊. Adikmu….mirip denganmu, terutama matanya. Dia anak yang benar-benar tampan dan baik. Dia udah nggak sekolah 3 bulan demi mengurusi perusahaan kamu. Ah…aku baru tau kalau perusahaan ayahmu itu perusahaan Media yang memiliki banyak saluran stasiun tv asing, kamu dulu cuma bilang kalau perusahan kamu adalah perusaan periklanan. Adikmu pasti sangat sibuk sekarang. Dia bilang padaku dia kesulitan mengelola perusahaan karena dia tidak tertarik di bidang ini."


"……"


"Dia juga sangat menyukai Dafa." Delta menunjukkan foto-foto mereka di ponselnya. "Bukankah wajah adik mu terlalu pucat, dia juga terlalu kurus. Dia sudah seperti ini sejak awal??."


Alfa menatap foto adiknya. Pria itu menyadari kalau adiknya itu memang lebih kurus dari sebelumnya.


"Nafta…..


"Dia bilang, di kangen dan ingin melihatmu tersenyum lagi. Juga mengelus kepalanya dengan penuh sayang, juga memarahinya ketika dia melakukan kesalahan. Juga memeluknya ketika dia bersedih."


Delta membiarkan Alfa menatap foto adiknya. "Dia sekarang….juga sangat merindukanmu, sedih atas….kepergian orang yang dia sayangi dan marah atas peristiwa yang membuatnya kehilangan. Tapi dia tidak bisa terpuruk. Nafta takut kalau kau akan memarahinya karena tidak bisa bersikap dewasa. Ia juga takut dia akan kehilangan kalian juga."


Delta kembali mengelus kepala Alfa."Tidak kah kamu kasihan??, Tidak kah kamu mau membantunya??. Nafta sudah berusaha keras lepas dari depresinya, bisakah….setidaknya kamu meringankan beban yang di tanggungnya."


Alfa menitikkan air mata. Ia sadar, bukan hanya dia yang menderita kesedihan. Ia tau, adiknya itu bahkan tidak bisa menunjukkan kesedihannya di depan banyak orang, demi melindungi keluarganya.


"Aku….akan ke perusahaan besok."


"……."😲


"Aku…..akan memperbaiki semuanya."


 


🌺🌺


 


Masih dengan kursi roda, Alfa keluar dari rumah Sakit dan langsung menuju perusahaan. Nafta baru saja rapat saat itu dan kehilangan salah satu investor asing yang memutuskan kerja sama dengan perusahaan media mereka.


Anak laki-laki 16 tahun itu, langsung menangis dan memeluk Alfa begitu melihat pria itu di dalam kantor Direktur utama.


"Ma'af karena kakak terlambat datang."


Nafta menggeleng. Ia menghapus air matanya. "Nafta senang kakak sudhaj kembali. Kakak bisa bantu Nafta, kita belum kehilangan apapun. Meski kakek dan nenek sudah tiada. Nafta masih punya kakak, ayah dan bunda."


Alfa mengangguk. Ia menarik nafas dalam. Berjanji untuk tidak membuat adiknya itu makin terpuruk. Sedangkan Delta juga berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan membantu pria itu dan juga adiknya.


Mereka pulang lebih awal. Sementara Alfa dan Nafta menjaga Dafa, Delta yang dibantu Zeno memasak di dapur.


"Terimakasih, sudah membuat Alfa kembali bangkit." Ucap pria itu sembari memotong bawang.

__ADS_1


Delta hanya tersenyum. Ia tidak tau harus mengatakan apa. Pria bercelemek pink itu dengan cekatan melakukan tugas dapur yang mungkin jauh lebih mahir dari Delta.


"Dulu aku biasa masak waktu kuliah." Pria itu menjelaskan tatapan takjub Delta. Dan wanita itu kembali tersenyum.


"Ma'af aku nggak bisa bantu banyak dan ma'af juga….karena….


Delta mendadak sedih. Ia belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya itu. "Mungkin harusnya waktu itu aku nggak bilang kalau….


"Soal kamu yang setuju pacaran selama 3 bulan." Zeno memotong penjelasan Delta. "Aku tau, Dia cerita hal itu dengan semangat yang membuatku ingin memukul wajahnya, hahahaha."


"Aku belum pernah melihatnya sebahagia itu. Kalau perlu aku jelaskan. Kamu itu…orang pertama yang ia kejar, yang membuatnya khawatir dan yang berhasil merebut hatinya sampai membuatku berpikir kalau dia sudah gila."


Zeno bercerita sembari menggoreng bawang dan membuat nasi goreng. "Keluarganya sudah lama berharap dia menikah dan…bukan ketika aku cerita kalau Alfa menjemput keluarganya ke Dubai. Itu….sebenarnya permintaan dari Nafta. Ia punya motif tersembunyi dan bersekongkol dengan Alfa bahwa begitu kalian resmi menikah. Nafta bisa mengganti kewarganegaraan nya menjadi Indonesia. Dia sudah bosan hidup di Dubai."


"Nafta…jauh lebih merasa bersalah dari kamu. Dia berpikir kalau dialah penyebab kematian nenek dan kakek, dia bilang padaku…..kalau dia menceritakan kepindahannya ke Indonesia pada salah satu kerabat ayahnya. Dan kami pikir….kecelakaan itu, pasti di sengaja."


Delta mengerutkan dahi, ia terkejut mendengar fakta ini.


"Kamu tau kan. Orang kaya itu selalu punya musuh. Nggak hanya dari rekan kerja, tetangga atau orang asing yang lewat. Kadang mereka di benci karena iri oleh keluarga mereka sendiri. Dan hal itu terjadi pada keluarga Alfa."


"Kerabat ayahnya itu adalah anak cucu dari saudara kakek Alfa. Ayahnya dan ayah kerabat jauh itu…tidak akur belakangan ini, apalagi mengingat perusahaan media itu diwariskan ke Alfa. Biasa, konflik perebutan kekuasaan. Alfa berjanji, kalau ia bisa meningkatkan perusahaan dalam 3 tahun, maka orang itu harus mundur. Tapi orang jahat selalu punya ide mengerikan di kepala mereka. Kau tau!. Sampai saat ini, kasus kecelakaan ini belum bisa di tebak penyebabnya selain pesawat pribadi yang mesinnya rusak."


"Itu sebabnya aku dan Zeno semakin frustasi. Itu sebabnya…aku akhirnya memutuskan meminta bantuan mu. Kamu….orang yang paling dipercayai Alfa selain keluarganya dan aku. Kami yakin, kamu bisa memulihkan hatinya dan itu berhasil."


Zeno menyudahi ceritanya sambil menyerahkan semangkuk besar nasi goreng.


"Tugas ku sebagai asisten pribadi dan juga teman baiknya adalah membantu adiknya dan perusahaan agar kekuasaannya tidak jatuh ke tangan orang lain. Tugas mu, membuat Alfa kembali ceria. Aku merindukan senyum devil, sifat jutek dan keras kepala serta ketekunannya dalam membangun bisnis. Kami punya mimpi sukses hingga akhir hayat. Dan…tolong bantu kami mewujudkan mimpi itu."😊


"……." Delta tersenyum canggung. Perasaan bersalahnya yang berusaha ia tutupi, sudah lama di ketahui Zeno dan pria itu seperti akan menyalahkannya jika ia berani meninggalkan Alfa. Ia menunggu di ruang makan sementara Zeno memanggil yang lain.


"………"Wanita itu mendadak ingat sesuatu yang penting. "Ah!!!!. Perjanjian 3 bulan itu……


Alfa, Nafta dan Zeno ke ruang makan dan heran menatap Delta yang tampak terkejut.


Delta duduk di kursi dan menatap kesal Alfa. Yang ditatap hanya menatap balik, bingung. "Kamu kenapa??."


Nafta meletakkan Dafa di kursi kecil yang entah sejak kapan ada di rumah kakaknya. Ia sebelumnya tidak pernah memperhatikan kursi itu. Apa mereka sudah tinggal bersama selama ini???🤨


Zeno mengabaikan Delta yang tampak frustasi. Pria yang masih dengan celemek pink itu sibuk berperan sebagai ibu rumah tangga. Menyendokkan nasi ke piring Alfa dan Nafta, dengan telaten mengaduk salad buah dan memasukkannya kedalam mangkuk kecil, lalu memerintahkan mereka makan.


"Kamu kenapa sih??." Alfa masih menatap Delta yang sekarang cemberut.


"Proposal penelitian ku belum jadi."


"Apa??."


"Proposal penelitian tentang kita. Waktunya penelitiannya berakhir hari ini."😞


"……."Alfa mendadak ingat tentang perjanjian 3 bulan pacaran dan proposal penelitian yang di buat Delta.


Delta mengambil tasnya di ruang tamu, lalu kembali ke ruang makan membawa buku catatan.

__ADS_1


"Nilai plusnya nggak ada sekali. Kamu nggak gentle, nggak romantis, nggak optimis, nggak….


"Hei….tunggu dulu!." Alfa merebut buku catatan itu. Ia membacanya sekilas, banyak sekali hal negatif tentangnya di buku catatan itu.


"Jadi bagaimana dengan hubungan kita??. Nggak ada perkembangan berati, 3 bulan berlalu sia-sia. Yah... meski itu karena musibah yang menimpamu. Tapi mengingat kamu yang hanya suka mojok di didepan jendela ruang rawat tanpa melakukan apapun. Aku akan berpikir ulang dan menarik kesimpulan kalau kamu bukan pria kompeten seperti yang aku bayangkan."


"………"Alfa menelan ludah. Emosi yang selama 3 bulan ini menghilang sekarang mendadak muncul. "Aku….sakit loh. Aku juga baru sadar dari koma. Bagaimana kalau….kamu lakukan penelitian ulang, waktu penelitian tidak terbatas. Aku…akan melakukan hal terbaik untuk membuatmu terpesona."


😒"Aku pernah mendengar kalimat ini sebelumnya."


Alfa menggenggam tangan Delta dan tersenyum memohon.🥺 "Perpanjangan waktu." Pinta pria itu.


Delta menatapnya dan akhirnya mengangguk setuju. "Jangan lupa untuk membuatku benar benar-benar terpesona."


😊."Oke!!!."


"Makan pudingnya!, aku sengaja membuatnya untuk mu. Kamu juga boleh makan cake coklat dan ice cream coklat setelah ini. Berat badanmu harus kembali ke semula. Aku nggak suka melihat mu kurus."


Alfa meraih tangan Delta dan menciumnya.😊"Baik!!. Asal kamu yang memasaknya untuk ku, aku akan makan semuanya."


"Kamu....juga harus kembali bekerja dan membiarkan Nafta istirahat."


Alfa mengangguk setuju. "Beri aku asupan energi. Aku akan banyak dan....


Cup.


sebuah kecupan manis mendarat di pipi kanan Alfa. Pria itu hanya terkejut sekilas, lalu menunjuk pipi kirinya dengan semangat. "Sebelah sini juga😊."


"…….."😳 Delta yang tanpa sadar melakukan hal itu hanya tertunduk malu ,lalu mlepaskan tangannya dan memerintahkan Alfa untuk segera makan.


Alfa terlalu senang dan tak tau malu memintanya untuk menyuapinya. "Aku masih sakit. Jadi tolong rawat aku dengan baik."😄


Delta akhirnya menyuapi Alfa.


"Enak!!, Nanti buatkan lagi😆."


"Mm." Delta mengangguk setuju.


"…….." 😧Nafta menoleh tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan yang di dengarnya. Adegan romantis macam apa itu ???. Kakak yang sangat dikaguminya itu sekarang sedang merayu seorang wanita dengan senyum kekanak-kanakan. Dia bukan Alfa yang tegas, dingin, kejam namun cool dan keren yang Nafta kenal.


Tatapan macam apa itu???. Apa yang duduk di situ benar benar kakaknya??.


"Perlukah kita memeriksa ulang otak kakak ku??, Dia….kenapa dia jadi seperti itu??."


Zeno menepuk bahu Nafta. "Sepertinya dia sudah mulai kembali jadi dirinya sendiri." Pria itu berbisik. "Kamu akan lihat kekonyolan kakakmu yang akan membuat kekaguman mu padanya runtuh. Siapkan hati anak muda."😏


"…….."😐 Ini….tidak mungkin!!.😟


 


🌸🌸🌸

__ADS_1


 


__ADS_2