The Last Chance

The Last Chance
17. Pertama Kali Gugup, Pertama Kali Takut


__ADS_3

Kamu yakin nggak apa-apa nambah cutinya??. Kasihan Zeno kan!. Di menelpon ku pagi tadi." Delta bertanya pada Alfa karena pria itu mendadak memperpanjang cutinya jadi seminggu.


"Biar dia tau rasa!!😡. Seenaknya aja ngancurin image orang. Padahal aku udah susun strategi sempurna agar jadi anak baik."


Delta menggelengkan kepala. Ia tidak tau alasan apa yang membuat Alfa sampai bertingkah kekanak-kanakan pada Zeno. Yang pasti pria itu membatalkan 3 tiket pesawat yang mereka pesan.


"Kamu…beneran mau bantu ayah manen duku??."


Alfa mengangguk. "Tentu saja!!. Sekalian ngasih pelajaran ke Nafta kalau dia jatuh dari pohon duku dan salah satu tulangnya ada yang patah, dia pasti nggak akan mau naik-naik pohon lagi."


"……."😐Jenis pengajaran macam apa itu?!.


Delta hanya bisa bilang hati-hati sebelum membiarkan Alfa, Nafta dan ayahnya pergi ke kebun duku ayahnya.


Di rumah, Delta membantu ibunya memasak. Karena ibunya bilang kalau kakak dan adik- adiknya yang lain akan mampir untuk makan malam.


Makan malam yang di maksud adalah pesta bakar sate satu ekor domba. Delta bahkan tak tau kapan ibunyabitu membeli domba dan menyembelinya. Begitu Delta memasuki dapur, daging itu sudah di potong-potong dan sebagian sudah di tusuk dan siap tinggal di panggang saja.


Ibunya menjelaskan kalau kakak dan adik-adik Delta penasaran ingin tau calon kakak ipar mereka seperti apa, makanya mereka berniat menginap juga di rumah.


"Delta beneran…udah siap nikah??." Ibunya tiba-tiba bertanya di sela-sela mengaduk bumbu sate.


"Bunda…dia ngajak tunangan, bukan nikah." Sanggah Delta.


"Emang tunangan endingnya nggak bakal nikah??."


"….."


"Kenapa nggak langsung nikah aja. Bunda setuju kok. Anaknya kelihatan baik😊."


Delta cemberut. "Mama dari dulu, tiap ada cowok yang datang ke rumah semuanya di bilang baik."


Ibunda Delta tersenyum. "Tapi sebelum-sebelumnya nggak ada yang kamu akui sebagai pacar, kamu juga yang duluan bilang kalau mau datang minta restu. Mustahil kalau anak bunda ini nggak suka sama dia terus mau aja di ajak tunangan."


Delta mencibir. "Bunda nggak tau aja kalau sifatnya itu nggak se dewasa yang ia perlihatkan. Dia itu kekanak-kanakan, suka maksain kehendak, suka seenaknya kadang juga keras kepala dan nggak mau dengerin omongan orang lain."


"Benarkah??."


"Iya!!. Dulu waktu pertama ketemu, dia udah ngeselin banget, tiba-tiba udah ngajak ribut aja. Terus ngakuin Dafa itu anaknya dia di depan umum, terus tiba-tiba nongol di depan kontrakan buat numpang makan, emang sih dia bayar makanannya tapi….


"Tapi kamu suka kan?!!😄."

__ADS_1


"……."😐


"Yang bunda tau, anak perempuan bunda yang ini susah banget di deketin cowok, dulu mesti di jodoh-jodohin dulu baru bisa nikah. Nah kamu sekarang ini…terima aja waktu dia datang ke kehidupan mu dan setau bunda, dia orang pertama yang kamu jadikan pacar dan yang kamu izinkan datang ke rumah."


"……."😐 Delta bungkam, tak bisa menyanggah penjelasan ibunya.


"Setelah melihat album-album foto semalam. Bunda jadi ingat tentang anak laki-laki yang pernah kamu ceritakan, yang selalu satu kelas dengan mu sejak TK. Anak laki-laki itu ternyata Alfa."


"Mama dulu sering bilang ke papa mu kalau kamu dan Alfa berjodoh karena selalu barengan terus. Mama juga ada nomor teleponnya ibunya Alfa dan dulu sering banget ngobrol di Telepon. Tapi kemudian miss komunikasi karena mereka mendadak pindah."


Ibu Lily mengenang masa lalunya. "Dulu rasanya sayang banget, padahal bunda pikir kalian itu cocok banget, tapi akhirnya malah berpisah. Eh, emang ya, jodoh nggak akan lari kemana😌. Kaliam malah di pertemukan di Jakarta dan akhirnya beneran saling jatih cinta. Dan…..Alfa....ternyata anak itu udah besar, tampan dan mapan mirip dengan aktor Korea yang sing bunda lihat di TV. Suka deh😄😄"


😑Oke!!, Kita lupakan saja pembahasan ini.


🌺🌺


Alfa dulunya suka kegiatan outdoor, beda dengan Nafta yang lebih banyak terkurung di rumah lantaran waktu kecil sering sakit-sakitan. Itu sebabnya Nafta iri, Alfa bisa tinggal sendirian di Indonesia, menikmati kebebasan masa mudanya dengan banyak kegiatan dan sama sekali tidak di batasi.


Alfa tau dan lebih berpengalaman tentang semua yang berkaitan dengan alam. Sementara Nafta Nol besar.


Seperti saat ini. Alfa dengan mudahnya naik pohon duku dan panen serta makan di atas sana, setelah melihat salah satu pekerja Ayah Delta memperagakan aksi panjat duku nya.


Nafta yang tadinya beneran jatuh dan untungnya tidak mengalami cedera karena di tangkap oleh Alfa, hanya bisa cemberut di bawah pohon, mengabaikan kakaknya yang seenaknya melemparkan kulit duku ke kepalanya.


"Benar!!. Ayo kalahkan dia!!. Nafta pengen mancing di sungai Musi, boleh kan?😊."


Ayah Delta mengangguk setuju.


Bagus!, Setidaknya calon mertua kakaknya ada di pihaknya.


"......"


Tidak seperti ayah Nafta yang kebanyakan menuruti kemauan Alfa untuk mengekang Nafta (meski itu untuk kebaikan dirinya). Ayah Delta jauh lebih perhatian padanya, dan tampak sangat menyukai sifat Nafta. Ia menuruti apapun yang di inginkan anak laki-laki itu, membuat yang masih ada di atas pohon kebingungan sendiri.


3 jam mereka habiskan waktu untuk memanen 5 pohon duku. Sebagian dibagikan ayah Delta ke tetangga dekat rumah dan sebagian lagi di simpan untuk di bawah kakak dan adik-adik Delta.


Nafta mengatakan kalau dia ingin memanen duku yang ada di depan rumah dan ayah Delta berjanji kalau satu batang pohon duku itu, khusus untuk Nafta dan tentu saja anak itu senang bukan main.


Mereka berdua lantas menunggu di mobil sambil minum kelapa muda, sementara Alfa membantu mengangkat karung-karung duku ke dalam mobil.


"Kak🤭, baru juga 15 karung. Kok udah lemes."

__ADS_1


"……"😐


"Benar!!😌. Ayah dulu waktu seusia kakak kamu, bisa ngangkat 30 karung dan masih belum berkeringat."


"……."😔 Alfa hanya bisa menghela nafas. Berusaha bersabar. Ia kembali sibuk mengangkat karung duku sementara kedua orang itu bercengkrama di dalam mobil sambil sesekali menertawakan Alfa.


😐Sabar...sabar...ini ujian. sabar...sabar...😔


Begitu tiba di tepi sungai Musi dan mereka mulai memancing. Ayah Delta sangat telaten mengajari Nafta cara memancing yang benar. Alfa hanya bisa diam saja dan memancing sendirian tak jauh dari sana.


Entah itu keberuntungan atau nasib sialnya. Ada dua orang yang menatapnya kesal lantaran Alfa sudah memperoleh 10 ekor ikan patin Musi dan 15 ikan gabus ukuran setengah kg dalam waktu kurang dari 30 menit. Bahkan para warga yang sedang memancing di dekat mereka takjub melihat betapa mudahnya Alfa menangkap ikan, dan berpindah duduk di dekat Alfa, berharap mendapat ikan juga.


"Aku….pulang duluan." Alfa akhirnya memutuskan untuk pulang membawa ikan tangkapannya. Ayah Delta dan Nafta masih gigih memancing lantaran baru saja mendapat ikan besar.


"Kamu kenapa??." Tanya Delta heran. Pria itu tampak jauh lebih lesu daripada pulang dari kerja di kantornya.


"Aku…gagal perang."


"Ha'???."😕


"Aku nggak tau kalau cari perhatian ke ayah kamu jauh lebih sulit dari ngadepin para investor. Aku....merasa benar-benar gagal.😟."


"....."😐


"Halo kakak ipar😄."


"....."Alfa menoleh ada satu orang pria yang Alfa kenali sebagai adik bungsu Delta. Lalu di sebelahnya ada kedua adik perempuan Delta.


"Masuk dulu, kita ngobrol."


"....." Ucapan itu datang dari kakak laki-laki Delta.


😐


Delta menepuk lengan Alfa dan berbisik. "Mereka juga ingin menguji kelayakan mu.🤭Santai saja. Oke!!."😄


"......."😐Alfa menatap mereka. Mereka tersenyum ramah tapi juga menakutkan. Membuat Alfa tiba-tiba merinding.


Percayalah. Alfa bukan orang yang penakut dan dia tidak pernah takut atau gugup bernegosiasi dengan siapapun. Alfa biasanya selalu berhasil menyenangkan hati orang lain atau menghancurkan hati mereka. Hanya ada dua pilihan.


Mungkin cari perhatian pada keluarga Delta adalah sebuah pengecualian dari keberhasilan mutlak Alfa.

__ADS_1


🌸🌸🌸


__ADS_2