
Semakin hari, kandungan Anggi mulai semakin besar. Ujian akhir sekolah pun, sudah selesai dilaksanakan. Tinggal menunggu hari kelulusan, dimana ia sudah tidak perlu lagi datang ke sekolah untuk kegiatan belajar.
Kini, fokusnya hanya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik untuk Damar juga calon anak mereka. Tentu, tugasnya sebagai seorang menantu yang tinggal bersama mertua tidak boleh dia lupakan. Meskipun sekarang dia sudah menjadi anggota keluarga Damar, bukan berarti keberadaannya sudah diterima dengan lapang dada oleh semua orang. Terutama oleh ibunya Damar. Wanita itu tampak masih sangat membenci Anggi, walaupun Anggi sudah berusaha bersikap sebaik mungkin.
"Selamat pagi, Bik…. Ada yang bisa Anggi bantu?"
Seperti biasa, pagi ini Anggi turun ke dapur dan menyapa dua orang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Damar. Tampak dua wanita beda usia itu sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk para majikan mereka.
"Eh, Nonya kecil…." Sapa salah satu asisten rumah tangga tersebut ramah, sambil tersenyum kepada Anggi.
"Nggak usah, Nyonya…. Nanti Nyonya malah kecapekan lagi…. Mending, Nyonya duduk aja di meja makan. Biar saya dan Lastri yang nyiapin sarapannya." Tolak wanita paruh baya tersebut halus, seperti halnya yang biasa dia lakukan untuk mencegah Anggi melakukan pekerjaan di dapur.
"Nggak papa kok, Bik…. Anggi juga udah kebanyakan istirahat. Takutnya, malah jadi nggak banyak gerak. Biar Anggi bantuin, ya?"
"Eh, Nyonya! Jangan…!"
Anggi baru maju satu langkah dari ambang pintu dapur, ketika Bik Suki --asisten rumah tangga tertua di rumah Damar itu-- menghalanginya dengan tegas.
"Nyonya itu nggak boleh capek! Nanti malah saya dan Lastri yang dimarahi sama Tuan besar kalau biarin Nyonya kecil masuk ke dapur. Memangnya, Nyonya kecil tega, lihat kami berdua dimarahin sama Tuan besar?"
Sedikit kaget, Anggi mengerjapkan kedua matanya canggung menatap Bik Suki. Selama ini, memang ayah mertuanya selalu memberikan ultimatum pada dua asisten rumah tangga mereka untuk ikut memperhatikan kegiatan Anggi di rumah. Tidak boleh lelah, adalah satu kalimat yang terus terngiang di rumah tersebut untuk Anggi yang saat ini sedang hamil muda.
__ADS_1
Ah…, ayah mertua Anggi itu memang sangat baik dan juga perhatian. Meskipun terlihat dingin dan juga datar, hanya dialah yang sebenarnya peduli dengan keadaan Anggi saat ini.
"Kalian itu kenapa, sih?! Kalau dia mau kerja, ya biarin aja! Ngapain dilarang-larang?!"
Tidak menyangka kalau ada yang memperhatikan mereka, tiba-tiba Bik Suki dan Anggi dikejutkan oleh kehadiran Ranti di belakang mereka. membuat tubuh keduanya merasa kaku, dengan menoleh secara perlahan ke arah wanita itu.
"Nyo--Nyonya besar…." Ucap Bik Suki, dengan bibirnya yang bergetar.
"Kalian itu, nggak usah sok mau menghalangi dia ngerjain apa pun di rumah ini. Karena itu udah menjadi tugas dia!"
Tampak, Ranti menatap sinis kepada Anggi yang kini sudah berdiri di sebelahnya. Mata tajamnya bertingkah, seolah Anggi itu adalah makhluk paling menjijikkan yang ada di muka bumi ini, yang mana ingin sekali dia musnahkan sampai tidak tersisa.
"Ta--tapi, Nya… Tuan besar bilang--"
"Suami saya itu nggak punya waktu untuk ngurus anak kayak dia! Jadi, kalau bukan kalian yang kasih tau suami saya soal anak ini, dia pasti nggak akan tau! Paham?!" ujar Ranti lagi, menyidekapkan kedua tangannya di dada dan memelototkan matanya ke arah Bik Suki, hingga wanita itu mengkerut ketakutan.
"Emh… pa--paham, Nyonya….Sa--saya dan Lastri nggak akan kasih tau Tuan besar kalau--"
"Kamu!"
Belum selesai Bik Suki berbicara, Ranti sudah beralih kembali kepada Anggi.
__ADS_1
"Jangan sok cari muka sama semua orang yang ada di rumah ini. Kalau kamu emang mau ngerjain apa-apa, nggak usah bilang! Kerjain aja sendiri! Nggak usah sok lemah dan sok rajin di muka semua orang! Ngerti!" tuding Ranti tajam, mendorong sebelah bahu Anggi menggunakan satu jarinya sedikit kuat.
"Nge--ngerti, Ma…." Angguk Anggi takut, menundukkan kepalanya dalam menghindari tatapan Ranti.
"Mulai sekarang, kerjakan apa yang menurut kamu perlu untuk dikerjakan! Jangan malas! Karena kamu nggak bisa cuma numpang hidup ada di keluarga kami. Paham!" sembur Ranti lagi lebih kuat, lagi-lagi hingga membuat punggung Anggi tersentak kaget mendengar suaranya.
"I--iya, Ma…. Paham," ucap Anggi bergetar, jelas sekali menahan takut saat berhadapan dengan ibu mertuanya itu.
Sedikit mendesis, Ranti hanya mendengus sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Anggi dan Bik Suki di pintu dapur. Melenggang bak seorang penguasa, yang baru saja menakut-nakuti bawahannya yang bermental lemah.
Sekilas, Anggi menguti arah pergi Ranti ke depan rumah. Tidak sengaja, dia bertemu mata dengan suaminya --Damar-- yang ternyata sudah berdiri di dekat tangga rumah mereka.
Dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Damar menatap Anggi beberapa saat. Membuat wanita itu merasa sedih, ketika tanpa bicara, Damar berbalik dan ikut meninggalkan dirinya di sana.
Ah… kenapa Damar harus berpaling? Padahal, kalau boleh jujur, Anggi ingin sekali mengadu pada laki-laki itu. Meskipun tidak harus diselamatkan dari tugas-tugas yang diberikan oleh ibunya Damar, setidaknya Damar mau mengusap punggungnya dengan lembut dan berkata, "Semangat!" kepadanya.
Saat sedang termenung memikirkan Damar, tiba-tiba Anggi merasa sebuah usapan lembut menjalar di bagian punggungnya. Membuat tubuhnya menegak kaku dan berpikir tentang apa yang baru saja terlintas dalam benaknya yang sempit.
Mungkinkah itu Damar? Pikirnya deg-degan, sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang.
"Sabar, ya…. Nyonya kecil."
__ADS_1
Bersambung