
Siang ini, Arkan yang baru kembali usai pertemuannya dengan salah satu klien, memutuskan untuk kembali ke kantor, karena ada beberapa pekerjaan yang tadi belum selesai dikerjakan.
Baru saja Arkan ingin masuk ke dalam ruangannya, Intan --sekretarisnya-- langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyapa Arkan yang hendak masuk.
"Pak Arkan," panggil Intan berdiri, membuat Arkan berhenti sejenak dan menolehkan ke arahnya.
"Ada yang ingin bertemu dengan Bapak," beritahu Intan langsung, melihat gelagat Arkan yang bertanya melalui pandangannya.
"Siapa?" tanya pria itu sedikit mengerut, mengikuti arah pandang Intan ke sebuah sudut ruangan yang merupakan ruang tunggu bagi tamu Arkan di kantor tersebut.
Seketika, kedua matanya melebar mendapati kehadiran Prissa di sana.
"Pak Arkan," sapa Prissa ramah, dengan tatapan matanya yang teduh, dan membuat Arkan harus membuang pandangannya sekilas dari perempuan cantik tersebut.
"Dokter, ada perlu apa Anda ke mari?" tanya Arkan dingin, setelah menetralkan detak jantungnya yang mengulah untuk beberapa saat yang lalu.
Sesaat, Prissa terdiam, dia melirik ke arah Intan yang juga menatap dirinya dengan sorot mata seakan ikut bertanya. Karena saat ditanya oleh perempuan tadi, dirinya hanya diam dan mengatakan ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Arkan.
"Ehm, apa kita tidak bisa bicara di dalam aja? Maksudnya, ini…."
Mengerti dengan arti tatapan Prissa yang mungkin tidak nyaman dengan kehadiran Intan di antara mereka, membuat Arkan hanya menarik napas panjang dan membuangnya.
"Baiklah, kalau begitu, mari masuk," ucap Arkan membukakan pintu ruangannya untuk Prissa dan membiarkan wanita itu masuk lebih dulu.
Sebelum menutup pintu, dia sempat meminta Intan untuk membuatkan teh hangat untuk Prissa dan mengantarkannya ke dalam ruangan nanti.
"Jadi, ada perlu apa Dokter datang ke mari?" tanya Arkan lagi, to the point sudah menghilangkan sikap manisnya setelah pertemuan mereka yang terakhir.
Dalam diam, Prissa sempat meringis dengan perubahan sikap Arkan yang semula terlihat begitu imut dengan tatapan dan cara bicaranya yang cenderung terlihat salah tingkah jika berada di depan Prissa, menjadi sosok yang begitu datar dan juga dingin di hadapannya.
Entah kenapa, Prissa benar-benar merindukan sosok Arkan yang pertama dia temui di rumah pasiennya bernama Anggi.
"Saya datang ke sini karena ingin membahas tentang masalah kita yang tempo hari," kata Prissa, melihat Arkan hanya menatapnya datar dan langsung bertanya.
__ADS_1
"Masalah apa?"
"Damar dan Anggi," sahut Prissa cepat, sontak membuat Arkan lagi-lagi membuang napas berat ke arah lain.
Sungguh, rasanya hari ini Arkan benar-benar malas jika harus membahas hubungan masa lalu yang sudah kandas. Apalagi, jika hubungan itu berkaitan dengan Anggi dan Damar. Belum cukup rasa lelah yang dia rasakan pasca pertemuan dengan kliennya yang tadi super cerewet, kali ini apa dia juga dipaksa harus memikirkan soal hubungan yang sudah usai?
"Apa mengurusi hubungan orang lain juga termasuk dalam job desk seorang dokter?"
"Apa?"
Arkan tak tahan untuk tidak memijat keningnya beberapa saat.
"Nggak ada lagi yang bisa dibicarakan dari hubungan mereka berdua, dokter…. Mereka udah selesai! Dan saya harap, dokter fokus aja sama pekerjaan dokter untuk merawat orang sakit. Nggak usah sok ikut campur dalam percintaan. Karena itu, nggak cocok sama sekali sama dokter," ujar Arkan sarkastik, menatap Prissa yang juga memandang tajam ke arahnya.
"Siapa bilang, aku sok ikut campur? Aku ini juga lagi kerja tau!"
Brak!
Arkan yang kesal pun, tanpa sengaja langsung menggebrak meja yang ada di antaranya dan juga Prissa dengan kasar. Sebelum dia mencecar wanita itu, pintu ruangannya terbuka, dan menampilkan sosok Intan yang sedang membawakan dua cangkir teh hangat di atas nampan.
"Permisi, Pak…. Ini tehnya, silakan," ucap Intan, sekilas tersenyum sopan ke arah Prissa yang hanya mampu membalas senyumannya secara kaku.
Ayolah…. Manusia mana yang bisa tersenyum ramah jika sedang dalam posisi seperti ini?
Sedang daripada itu, Arkan yang sempat terbawa emosi pun, berusaha menenangkan perasaannya. Dia menarik napas panjang, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Sebaiknya kamu pulang. Dan harap, kamu nggak usah datang lagi ke tempat ini," usir Arkan pelan, memutar kursi kerjanya mengharap jendela ruangannya yang lebar.
Pria itu membelakangi Prissa yang tampak sangat kesal dengan pengusiran yang Arkan lakukan terhadap dirinya.
"Aku juga nggak mau ketemu sama kamu, kalau sikap kamu ternyata kayak gini! Aku ke mari, cuma mau bilang, kalau bukan cuma Anggi aja yang sakit karena masalah mereka waktu itu! Damar juga! Dia bahkan sempat masuk rumah sakit jiwa karena gangguan yang dia alami!" seru Prissa marah, berdiri dari posisinya dan melihat kursi Arkan yang perlahan memutar kembali ke arah dirinya.
"Rumah sakit jiwa?" ulang Arkan pelan, melihat Prissa yang mengatur napasnya karena emosi.
__ADS_1
Sedikit berdeham, Prissa berusaha bersikap formal kembali dengan melipat kedua tangannya sopan.
"Banyak yang nggak tau masalah Damar yang masuk rumah sakit jiwa. Karena masalah privasi, Om Panji meminta kakak saya yang seorang psikiater untuk merawat Damar untuk beberapa bulan di rumah kami. Masalahnya, apa yang Damar alami itu tidak bisa hilang hanya dalam waktu singkat. Perlu berapa tahun untuk Damar kembali normal dan kembali ke rumahnya. Bahkan sampai sekarang, ada beberapa waktu Damar akan merasakan depresi luar biasa yang mengharuskan dia mengkonsumsi obat atapun datang ke tempat kakak saya. Jadi…."
Prissa memberi jeda pada kalimatnya dan menarik napas panjang.
"Bukan cuma Anggi aja yang sakit karena kehilangan anak mereka. Damar juga, rasa bersalah membuat Damar bisa terlihat seperti orang yang tidak waras. Dia bahkan sering menyalahkan Tante Ranti penyebab ini semua. Maka dari itu, dia memilih untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya, karena takut akan menyakiti Tante Ranti jika sedang sakit."
Penjelasan Prissa yang cukup panjang itu, mampu membuat Arkan terdiam untuk beberapa saat. Dia seperti berpikir, sampai akhirnya mengusap wajahnya kasar.
"Jadi, tujuan kamu datang ke sini dan menyampaikan ini semua?" tanya Damar memancing, dan menatap wajah Prissa masih tanpa ekspresi yang berarti.
"Kamu pasti tau, maksud tujuan aku datang ke mari itu untuk apa,"
"Nggak, aku nggak tau," sambar Arkan menyebalkan, menatap wajah Prissa yang kali ini mendengus tidak percaya.
Sumpah, demi apapun, rasanya Prissa ingin menyiram wajah tampan Arkan itu menggunakan teh. Bagaimana bisa, dia menyukai pria aneh seperti orang di depannya ini?
Prissa pasti sudah benar-benar gila!
"Aku datang ke sini, karena aku harap kamu nggak terlalu menyalahkan Damar atas apa yang terjadi sama sepupu kamu. Karena, Damar juga sama menderitanya dengan Anggi! Dan kalaupun boleh, aku juga berharap kamu mau membantu Damar untuk bicara sama Anggi. Biarpun nggak ada lagi kesempatan untuk mereka bersama, tapi setidaknya mereka bisa saling merelakan satu sama lain,"
Arkan terdiam mendengar ucapan penuh harap dari perempuan di depannya. Jujur, dia masih terkejut dengan apa dia dengar dari mulut Prissa sesaat lalu. Selama ini, dia hanya tahu kalau Damar menghilang bagaikan ditelan bumi. Entah dia yang tidak ingin mencari tahu, atau keluarga Damar yang terlalu pintar menyembunyikan anaknya, membuat Arkan seolah buta dengan apa yang terjadi pada mantan sahabatnya itu.
Di tengah rasa bingung yang mendadak menyerang, Arkan menaikkan pandangannya yang semula mengarah ke lantai, menuju wajah Prissa.
Tampak, wanita itu seperti menunggu keputusan Arkan atas apa yang dia sampaikan sebelumnya.
"Sebaiknya kamu pulang, aku masih ada pekerjaan lain."
Bersambung….
Maaf telat, ketiduran soalnya.... 😅
__ADS_1