The Last Chance

The Last Chance
Bagian Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Kilas masa lalu


Saat itu, matahari begitu cerah bersinar. Sinarnya yang gemilang menembus tirai tipis jendela kamar Anggi dan membelai wajahnya dengan cahaya kemilau. Mengganggu tidur lelapnya yang sangat sulit dia dapatkan tadi malam akibat perut buncitnya yang kian membesar. 


"Engh…." 


Sedikit melenguh risih, Anggi memutar posisi tidurnya yang tadi mengharap kanan, menjadi arah sebaliknya. Membuka perlahan kedua kelopak matanya yang terasa berat, begitu indra penciumannya menangkap bau harum yang begitu sangat dia kenal. 


"Kak Damar," panggil Anggi serah, samar melihat siluet tubuh Damar yang saat ini tengah berdiri di depan lemari pakaian mereka untuk bercermin. 


Dari tempatnya berbaring, Anggi bisa melihat Damar melirik sekilas bayangan dirinya dari arah cermin sebelum akhirnya kembali mematut dirinya sendiri yang tengah memakai sebuah jaket. 


"Mau kemana, Kak?" tanya Anggi berat, berusaha bangkit dari posisi tidurnya untuk bersandar ke kepala ranjang. 


Meskipun Damar melihat Anggi sedang kesulitan bergerak, tampak dia begitu masa bodoh dengan perempuan itu. 


"Mau ke kampus," jawab Damar datar, sontak membuat Anggi menoleh ke arah jam dinding di kamar tersebut. 


Setengah delapan pagi. 


"Astaga…, aku kesiangan!" pekik Anggi tertahan, dengan raut wajah kaget bercampur sedikit panik. 


Tampak dia berusaha bergerak turun dari atas ranjang dan bergegas ingin keluar kamar. 


"Sebentar ya, Kak. Aku siapin sarapan dulu buat Kakak."


"Nggak usah. Aku udah sarapan."


Baru saja Anggi mencapai pintu kamar, kalimat Damar yang keluar begitu datar, sontak menghentikan gerak kakinya. 


"Mama udah masak. Jadi kamu nggak perlu repot, bikinin aku sarapan," imbuh cowok itu lagi santai, mengambil ranselnya yang terletak di atas meja belajar dan mencangklongkannya ke bahu sebelah kanan. 


"Aku pergi," ucapnya kemudian, seolah tidak peduli dengan raut wajah sedih nan kecewa Anggi yang tidak bisa melayaninya pagi ini. 


Sungguh, demi apapun, Anggi tidak berniat untuk bangun kesiangan hari ini. Tadi malam dia benar-benar sangat kelelahan karena berusaha membersihkan sebagian besar rumah mertuanya. Karena sindiran ibu mertuanya yang selalu mengatakan kalau Anggi itu hanya menumpang makan dan tidur di rumah mereka, maka dia berinisiatif untuk menjadi sosok ibu rumah tangga yang sebenarnya. Meskipun ayah mertuanya melarang Anggi untuk melakukan pekerjaan rumah yang berat karena kehamilannya yang sudah cukup besar, membuat Anggi tidak patah semangat untuk menarik simpati dari ibu mertuanya. 


Pikirnya, biarlah capek sedikit, yang penting ibu mertuanya bisa bersikap lebih baik terhadapnya daripada selalu melemparkan kata-kata yang pedas kepadanya. 


Menepis rasa kecewa yang baru saja dia terima, Anggi bergegas pergi ke kamar mandi. Dia berniat untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar kamar untuk sarapan. 


"Eh, Tuan Putri sudah bangun?"


Demikianlah sambutan ibu mertuanya, Ranti terhadap Anggi yang baru saja tiba di depan meja makan. 


Bukannya berniat untuk bercanda, raut wajah Ranti menunjukkan ekspresi sinis kepada Anggi seolah dia ingin menyindir perempuan itu yang bangun terlalu siang hari ini. Padahal, di hari-hari sebelumnya Anggi selalu bangun paling cepat untuk membantu memasak di dapur. 


"Maaf, Ma…. Anggi bangun kesiangan," ucap Anggi sedikit menundukkan kepalanya tidak enak, mendengar suara decakan mulut Ranti yang terdengar tidak suka. 


"Harusnya kamu nggak usah bangun-bangun lagi. Kayaknya itu lebih baik untuk semua orang,"


Refleks kepala Anggi terangkat, menatap nanar wajah Ranti yang terlihat tidak bersalah setelah mengeluarkan kalimat demikian. Secara tidak langsung, wanita awal lima puluhan itu menyuruh Anggi untuk mati saja daripada merepotkan semua orang. 


"Kenapa kamu berdiri aja di situ? Kalau nggak ada urusan, sana pergi! Jangan merusak pandangan mata saya!" usir Ranti kemudian, lagi-lagi tidak memikirkan perasaan Anggi yang mendengarnya. 


Bukannya menawarkan untuk sarapan bersama, perempuan itu justru mengusir Anggi dari hadapannya. Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan lagi dari apa yang Anggi terima pagi ini selain penolakan dari orang-orang yang dia anggap sebagai keluarga. 


***


Malam harinya, Anggi masih merasa begitu sedih dengan apa yang terjadi pagi tadi. Hampir satu harian ini dia terus berada di dalam kamar tanpa keluar sedikit pun dari sana. Dia berniat untuk merajuk pada semua orang yang ada di rumah itu. Namun, seperti melakukan hal konyol, tidak ada yang peduli dengannya sama sekali. Paling hanya salah seorang pembantu suruhan ayah mertuanya yang selalu mengantarkan makanan ke kamar Anggi. Demi alasan kesehatan kandungannya, Anggi pun mau tidak mau makan di dalam kamar tidurnya secara diam-diam. 


Jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Dan rasanya, perasaan Anggi kian terasa sepi, terlebih Damar juga belum pulang dari kampusnya hingga sekarang. 

__ADS_1


Mungkin, pria itu sudah pulang dari kampus. Hanya saja, tidak pulang ke rumah, mengingat kampus tempat Damar kuliah itu bukanlah jenis kampus terbuka yang masih beroperasi di atas pukul sembilan malam. 


Kemana sebenarnya laki-laki itu? Kenapa dia belum pulang juga, atau bahkan memberi kabar? Apakah dia tidak tahu, kalau Anggi sedang merasa kesepian sekarang dan butuh sandaran? Kenapa rasanya Anggi merasa lelah seperti ini? 


Bergelut dalam pikirannya yang kusut, Anggi yang tadinya menunduk dalam, mendongakkan kepalanya melihat pintu kamar yang tiba-tiba saja terbuka. 


Dari arah luar, tampak Damar masuk ke dalam kamar tidur mereka dengan raut wajah yang sedikit terkejut. 


"Kak Damar," panggil Anggi serak, dengan mimik wajah memelas terhadap pria itu. 


"Kamu belum tidur?" tanya Damar mengerutkan dahinya samar, mendekati Anggi yang duduk di atas ranjang. 


Sepertinya, dia terkejut mendapati Anggi yang belum tidur malam ini. 


"Kak,"


Damar yang baru saja berdiri di depan Anggi, tiba-tiba merasa terkejut ketika wanita itu memeluk perut Damar begitu erat. Dia menangis tanpa Damar tahu sebabnya apa, dan membuat perut Damar yang hanya ditutupi oleh sebuah kemeja yang dia pakai, terasa basah oleh air mata. 


"Kamu kenapa lagi?" tanya Damar agak heran. 


Biasanya, dia hanya melihat Anggi dengan wajah mendungnya. Tapi kali ini, wanita itu tengah menangis. Pasti ada sesuatu yang membuatnya merasa begitu sedih. 


Ah, Damar jadi malas kalau sudah begini. 


"Kak, aku kangen sama Mama dan Papa," kata Anggi pelan, tanpa melepas pelukannya dari perut Damar. 


"Kalau kangen, ya datangin, dong…. Kan ada sopir, suruh aja besok anterin kamu ke rumah keluarga kamu," sahut Damar terdengar sedikit masa bodoh, tanpa tahu kalau hati Anggi terasa semakin sakit. 


"Tapi, mereka nggak mau nerima aku,"


"Kenapa?"


"Nggi,"


Merasa kalau bahu wanita itu semakin terguncang yang menandakan tangisnya kian deras, Damar pun jadi terdiam. Pikirnya, kenapa wanita itu bilang kalau dia tidak diterima di keluarganya? Setahu Damar, mana ada keluarga yang tidak mau menerima anaknya. 


Ada-ada saja. 


"Kamu,"


"Kak,"


Saat Damar menyentuh kedua bahu Anggi untuk dia dorong pelan, seketika itu pula Anggi memanggil namanya dengan suara yang bergetar. 


"Peluk aku sebentar…," pinta wanita itu lemah, yang sejak tadi begitu peka kalau Damar tidak balas menyentuhnya sedikit pun meskipun dia melihat Anggi sedang menangis saat ini. 


"Apa?"


"Peluk aku…." Anggi tersedak oleh liurnya sendiri, sebelum melanjutkan kalimatnya, "Sebentar, aja…."


Dan malam itu pun Anggi lalui dengan harapan kosongnya, ketika Damar tak kunjung memeluknya bahkan sampai dia tertidur dalam posisi duduk dan memeluk perut Damar. 


***


Sementara itu, dalam sudut pandang yang berbeda, Damar yang sedang kesal dengan tekanan ayahnya yang beberapa hari ini terus saja merongrong Damar perihal Anggi, membuat Damar memutuskan untuk pergi bersama teman-temannya sepulang kuliah. Dia ingin menghabiskan waktunya bersenang-senang di luar, daripada harus mendapati omelan panjang lagi dari ayahnya soal Anggi. 


Seperti kemarin, saat Damar baru saja pulang dari kampusnya dan merasa lelah bukan main, ayahnya sudah langsung mencecarnya dengan berbagai macam tuduhan terkait Anggi. 


Yang beliau bilang kalau Damar tidak peduli dengan Anggi lah, Damar tidak bertanggung jawab pada perempuan itulah, yang beginilah, yang begitulah, semua membuat kepala Damar terasa pusing bukan main. 


Terus terang, Damar memang tidak peduli terhadap Anggi. Lalu, apa? Apa yang harus dia lakukan jika hatinya sama sekali tidak ingin berurusan dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu? Memangnya, salah Damar kalau Anggi itu sedang mengandung sekarang? 

__ADS_1


Dasar bodoh! 


Kalau saja Damar ingat kenapa perempuan itu bisa hamil, rasanya Damar ingin mengguncang isi otak wanita tersebut. Kenapa dia bisa sampai sebodoh itu, sih? Bukankah setiap melakukan hal tersebut, Damar selalu memberikannya obat agar tidak hamil? Terus kenapa dia bisa sampai kebobolan? Dia pasti sengaja, ingin terus menerus berada di samping Damar mengacaukan semua masa depan Damar. 


Benar-benar menyebalkan. 


Biasanya, selain mengajak teman laki-lakinya, Damar juga sering mengajak teman perempuannya untuk pergi bermain. Tapi entah kenapa, malam ini teman perempuan yang sedang dekat dengannya itu di kampus, sedang tidak bisa diajak pergi ke klub malam. Alasannya cukup menyebalkan juga, dimana perempuan itu tidak boleh pergi oleh orang tuanya karena kemarin sudah pulang larut malam bersama Damar dan teman-teman mereka yang lain. 


Hah! Sungguh hari yang buruk hanya untuk melepaskan penat yang menumpuk. 


Mau tidak mau, Damar pun pulang ke rumah karena sudah merasa jenuh di klub malam. Teman-temannya yang lain sudah pada mabuk. Dan dia, bahkan untuk bermabuk-mabukan saja rasanya sangat berat. Ditambah lagi dia ingin cepat pulang, akan sangat berbahaya jika orang tuanya --terlebih ayahnya-- mendapati bau alkohol yang menyeruak dari tubuh Damar. Bagaimana pun juga dia tetap harus berantisipasi, mengingat ayahnya itu sering mencari masalah dengannya beberapa hari ini. 


"Kak Damar,"


Sedang merasa lelah, Damar terkejut mendapati Anggi yang belum tidur, malah terlihat seperti hantu dengan duduk di atas ranjang dan kepala yang menunduk dalam. 


"Kamu belum tidur?" tanya Damar sedikit enggan, mendekat ke arah Anggi saat ini. 


Jujur, sebenarnya dia ingin langsung merebahkan tubuhnya saja di atas tempat tidur. Dia malas untuk meladeni wanita itu yang mungkin akan mengatakan hal-hal bodoh lagi untuk didengar. 


"Kak,"


Baru saja tiba di depan perempuan itu, Damar kembali terkejut dengan Anggi yang langsung memeluk perut Damar tanpa aba-aba. 


Samar, Damar bisa merasakan perutnya mulai basah sejak Anggi meletakkan wajahnya di sana. 


"Kamu kenapa lagi?" tanya Damar sedikit heran, bercampur kaget sih, karena dia menduga Anggi sedang menangis saat ini. 


Meskipun sering diabaikan, Damar lumayan jarang menemukan Anggi yang menangis seperti ini. Paling dia hanya memasang wajah memelas dengan sorot mata kucing yang penuh dengan air. Tapi untuk menangis, sepertinya wanita itu cukup kuat menanggung sikap Damar yang Damar sendiri sadar kalau itu bisa saja melukai hati perempuan seperti Anggi. 


Tapi, alih-alih membujuk, Damar sedang tidak mood untuk membahas kesedihan wanita itu malam ini. 


"Kak, aku kangen sama Mama dan Papa," 


Pelan, Damar mendengar Anggi berbicara di bawah sana. 


"Kalau kangen, ya datangin, dong…. Kan ada sopir, suruh aja besok anterin kamu ke rumah keluarga kamu," sahut Damar terdengar sedikit masa bodoh, merasa lelah dan ingin segera tidur. 


"Tapi, mereka nggak mau nerima aku,"


"Kenapa?"


Damar menunggu Anggi menjawab pertanyaannya dan menyelesaikan adegan malam ini. Hanya saja, beberapa waktu menunggu, perempuan itu hanya diam, dengan guncangan bahu yang kian terasa kencang. 


"Nggi, kamu…."


"Kak,"


Tangan Damar sudah siap mendorong kedua bahu Anggi untuk melihat wajahnya, ketika perempuan itu mempererat pelukannya di perut Damar dan memanggilnya dengan suara yang bergetar.


"Peluk aku sebentar…," pinta perempuan itu pelan, berhasil membuat tubuh Damar terasa membeku untuk beberapa saat. 


"Apa?"


"Peluk aku…, sebentar, aja…."


Dan entah kenapa, Damar merasa tubuhnya seperti disiram oleh air yang begitu dingin, tatkala mendengar permintaan wanita itu kepadanya. 


Kenapa? Kenapa Damar harus memeluknya? Apa dia bisa diam, kalau Damar memberikan pelukan singkat kepadanya? 


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2