
Wajah Anggi terlihat sangat pucat, ketika menginjakkan kaki di tempat kerjanya. Hari ini, dia datang terlambat. Bukan karena ingin, tapi karena kondisi fisiknya yang memang beberapa waktu ini kian menurun membuatnya jadi bergerak lambat hingga menyebabkannya terlambat.
"Selamat pagi, Pak…. Maaf saya terlambat,"
Setelah mengetuk pintu ruang divisi pemasaran, Anggi dengan santainya berjalan menuju meja tempat dia bekerja. Dia tidak sadar, kalau semua mata kini beralih kepadanya dengan ekspresi wajah yang serupa.
Kerutan dahi yang terlihat sedikit samar.
"Kayaknya, ini udah bukan pagi lagi deh, Nggi…. Kalo telat itu, lihat-lihat juga kali,"
Merasa disindir, Anggi menaikkan pandangannya sedikit malas. Dari suaranya sih, dia kenal itu perempuan dari bagian personalia. Siapa? Vivi kah?
"Eh, Mbak Vivi…." Cengir Anggi tidak berasa berdosa, melihat perempuan berpakaian ungu itu menaikkan sebelah alisnya.
"Bu Vivi, Anggi! Kapan saya jadi kakak kamu?!" sembur wanita itu tidak terima, tak ayal membuat Anggi mendengus dengan sepele.
"Halah… pas minum-minum kemarin aja, lo nyuruh gue manggil Mbak. Lo bilang kan, lo nggak mau dipanggil Bu Vivi, karena kesannya terlalu tua…."
"Anggi!" tegur Vivi dengan wajah merah, sambil memelototkan matanya pada Anggi yang tertawa. Dia tahu, dan dia sadar, kalau perempuan itu sedang menggodanya dan berniat untuk membuat malu dirinya di depan semua anggota pemasaran.
Dasar, perempuan jahat!
"Ehem! Siapa tuh, yang di samping Mbak? Ganteng juga…. Kayak pernah lihat…."
Mengalihkan pandangan dari tatapan tajam Vivi, Anggi menolehkan kepalanya pada sosok pria yang saat ini tengah berdiri di sebelah Vivi. Pria tampan dengan tubuh tegap serta tinggi badan yang sangat cocok untuk menjadi sandaran seorang wanita.
Ah… Anggi jadi ingin menggodanya.
__ADS_1
Menghelakan napas, Vivi mencebikkan bibirnya sekilas. "Ini Pak Mario. Mulai sekarang, dia yang bakal gantiin posisi Pak Edwin sebagai supervisor bagian marketing."
"Pengganti Pak Edwin?!" timpal Anggi kaget, mendelikkan matanya yang lebar itu penuh kekaguman.
"Hm…. Dan saya harap, kalian bisa bekerja sama dengan baik." Deham Vivi sekali, lantas menyisir pandangannya ke semua anggota divisi marketing yang ada di depannya.
Sontak, ucapannya tersebut mendapat tepukan tangan yang meriah dari semua orang. Terutama Anggi, yang seolah lupa dengan semua rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Melihat Mario yang tampan, membuat semangatnya untuk bekerja kembali menyala. Dia bahkan tidak sadar, kalau sejak masuk ke ruang kerjanya tadi, dua pasang mata terus saja memperhatikannya dengan sorot mata yang tajam.
"Baiklah, kalau begitu. Saya kira, saya tugas saya untuk memperkenalkan Pak Mario kepada kalian sudah selesai. Untuk itu, saya permisi dulu."
Setelah mengangguk sekilas ke arah anggota divisi marketing, Vivi melemparkan senyumnya singkat pada Mario, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Oke, kalau gitu… gimana kalau kita mulai pekerjaan kita dari… perkenalan?"
❄
Seperti biasanya, Anggi, Roni dan juga Ditha yang sedang beristirahat pun memutuskan untuk pergi ke kantin untuk mencari makan siang. Ketiganya sedang berjalan menuju kantin, saat tiba-tiba telinga Anggi terasa pengang mendengarkan pekikan Ditha yang begitu mengagumi sosok Mario si supervisor yang baru.
Ya ampun…. Anggi saja yang merasa Mario itu sangat tampan, juga, tidak sampai melakukan hal yang seperti itu. Tertarik sih, tertarik. Tapi hanya sebatas itu, karena Mario bukanlah tipe orang yang akan menyenangkan jika digoda seperti yang biasa Anggi lakukan.
Tapi, teringat kembali beberapa saat lalu, saat Anggi ingin mendekati pria itu dan mengoyangkan pinggulnya di sana, Damar sudah lebih dulu menahan dan menatap tajam ke arahnya. Mencengkram lengannya kuat, hingga perempuan itu tak kuasa menahan sakit dan meringis.
"Apaan sih, lo?! Gila apa?! Lepasin gue!" bentak Anggi tertahan, tidak ingin memancing perhatian orang-orang yang saat itu masih begitu fokus terhadap supervisor yang baru.
"Lo mau kemana? Mau cari perhatian sama dia?!" tuding Damar sinis, melirik Mario yang tengah tersenyum di depan ruangan.
Sialan! Sebagai seorang pria, Damar harus akui kalau Mario itu cukup tampan. Dia memiliki potensi untuk menarik perhatian wanita, tak terkecuali perempuan genit yang saat ini ditahannya.
__ADS_1
"Bukan urusan lo! Lepasin! Gue nggak suka dipegang sama lo!" hardik Anggi mulai ribut, tak ayal mereka langsung menjadi perhatian dan membuat Damar secara spontan melepaskan cengkramannya di tangan Anggi.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Mario polos, dari depan ruangan sambil menatap Damar dan Anggi --yang entah kenapa bisa duduk bersebelahan-- bergantian.
Detik itu, Damar bersikap tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa, dia menaikkan sebelah alisnya dan berkata,"Kenapa?" hingga membuat orang-orang di sana mengernyit heran beberapa saat.
Sementara itu, Anggi yang mood-nya sudah hancur hanya diam saja sambil membuang pandangan ke arah lain. Melihat hal itu, teman-teman yang lainnya pun tidak begitu menghiraukan, karena memang akhir-akhir ini Anggi terlihat suka marah-marah sendirian.
Oke, lupakan. Batin mereka, kembali melihat ke arah Mario.
Beberapa saat, suasana kini kembali seperti semula. Ada Mario yang mulai menceritakan pengalamannya bekerja, sembari memberikan motivasi bagi anggota barunya yang lain, dan ada juga Damar yang mendekati Anggi kembali sembari berbisik.
"Perlu lo catat, kalo gue nggak bakal biarin lo melenggang gitu aja di depan laki-laki lain."
Merasa geram, Anggi menoleh dengan wajahnya yang memerah.
"Lo nggak punya hak ngomong gitu sama gue." Balas Anggi tajam, persis matanya yang suka menyipit tidak senang.
"Oh, ya? Menurut lo gitu?" seringai Damar tiba-tiba, seketika membuat Anggi merasa takut dan gemetar, meski dia harus menahannya sekuat tenaga.
"Oke, gue bakal ambil posisi itu lagi buat lo."
"Apa?"
Seiring dengan instruksi Mario yang memberitahukan kalau itu sudah memasuki waktu makan siang, Damar pun kembali tersenyum sinis ke arah Anggi, sebelum lanjut berbisik lebih dekat lagi dengannya.
"Lihat aja nanti."
__ADS_1
Bersambung….