
Wajah Anggi terlihat begitu pucat dengan apa yang dia lihat saat ini di ruang tamu rumahnya. Setelah kemarin mendapat penolakan keras dari ibunya Damar, kini pria itu justru membawa serta ayahnya untuk kembali ke rumah keluarga Anggi.
Apa maksudnya? Mereka ingin memberikan makian tambahan untuk orang tua Anggi kah?
"Mau apa lagi kalian ke mari?"
Terlihat menahan sakit, Rian tampak masih begitu marah menatap ibunya Damar yang kini duduk diapit antara suami dan anaknya.
"Kami datang ke sini, terkait permasalahan yang terjadi antara kedua anak kita. Damar dan juga Anggi." Jawab Panji tenang, tidak merasa tersinggung dengan nada bicara Rian yang terdengar tidak begitu bersahabat.
"Memangnya apa lagi yang ingin kalian sampaikan? Bukannya kami udah bilang, kalau kalian cuma mau menceraikannya setelah menikahi Anggi, lebih baik tidak usah. Kami tidak perlu belas kasih dari orang yang tidak bermoral seperti kalian."
"Apa?!"
Tidak terima, Ranti membelalakkan matanya ke arah Rian. Berniat ingin membalas, namun suaminya sudah memberikan interupsi melalui lirikan mata yang begitu tajam.
"Saya sudah mendengar apa yang terjadi kemarin di rumah ini. Untuk itu, saya mohon maaf. Dan izinkan kami untuk menguraikan kembali niat baik kami datang ke sini." Ucap Panji masih terlihat tenang, tidak terpancing dengan emosi yang sepertinya sengaja diluapkan oleh ayahnya Anggi.
"Salah saya tidak mendidik anak dengan baik. Untuk itu, izinkan kami untuk bertanggung jawab pada apa yang sudah diperbuat oleh anaknya." Ujar Panji, menarik napas panjang, lalu menatap wajah Rian dengan serius.
"Kami ingin melamar Anggi untuk menjadi istri Damar."
"Apa?"
"Papa!"
Masih terlihat tidak terima, Ranti menoleh dan menatap protes pada suaminya. Dia mengernyit dan menyenggol lengan pria itu, yang mana hanya dibalas lirikan singkat saja oleh Panji.
Sesaat, tidak ada yang bicara di antara mereka. Semua hanya diam seperti larut dengan pikiran masing-masing. Paling hanya Panji dan Rian saja yang saling memandang dengan urat leher mereka yang terlihat tegang.
"Baiklah…. Kami terima lamaran kalian."
"Hah?"
"Om!"
"Pa,"
Sekilas, Rian melirik ke arah Mira dan juga Arkan yang menegurnya secara serentak. Sepertinya, mereka tidak setuju dengan keputusan Rian yang langsung setuju dengan tawaran dari Panji. Mungkin mereka pikir, Rian sudah gila mau menerima permintaan dari keluarga Panji yang sudah menghina mereka.
__ADS_1
Sedang daripada itu, raut wajah tidak percaya dilemparkan oleh Ranti kepada Rian. Sesuai perkiraan, wanita itu memang langsung menganggap keluarga Rian itu sudah gila. Menerima tawaran pernikahan begitu saja, padahal sebelumnya berkeras untuk tidak akan menikahkan anak mereka dengan Damar yang dianggap brengsek.
Menghelakan napas lega, Panji pun tersenyum dan mengangguk. "Syukurlah…." Desahnya kemudian, sebelum akhirnya menggeser pandangan ke arah Anggi yang masih terpaku berdiri tidak jauh dari mereka.
"Jadi… kamu yang namanya Anggi?"
❄
Anggi duduk di atas ranjang tidurnya dengan tatapan mata yang kosong. Rasanya seperti mimpi, saat ayah dan ibunya tadi menyuruh Anggi masuk ke dalam kamar, sementara mereka membahas rencana pernikahan Anggi yang katanya akan dilaksanakan secepat mungkin.
Benarkah? Apa Anggi bisa percaya dengan itu semua? Kok, rasanya dia mulai ragu, ya?
"Kenapa lagi? Muka lo kelihatan kusut. Apa masih ada lagi yang mengganggu pikiran lo?"
Arkan, yang tadinya mengikuti Anggi ke dalam kamar dan menutup pintu, duduk di sebelah Anggi yang tampak melamun di atas tempat tidur. Wajah pucat sepupunya itu terlihat seperti orang mati, dengan mata yang terbuka. Terlihat cukup menyeramkan dengan kondisi mereka saat ini.
Sedikit mengerjap, Anggi menunjukkan tanda-tanda kalau dia masih bernyawa. Dia menoleh dan menatap singkat pada Arkan yang duduk di sampingnya.
"Enggak papa, kok. Gue… nggak papa." Sahut Anggi serak, menurunkan pandangannya ke arah lantai. Diam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali buka suara.
"Gue cuma agak ragu aja. Entah kenapa… gue…."
"Gue agak takut. Gue…"
Anggi semakin menundukkan kepalanya dalam hingga Arkan kesulitan untuk melihat wajahnya.
"Apa? Takut?" degus pria itu, tanpa tahu kalau Anggi sudah mengulum bibir merasa cemas.
"Kemarin lo kemana aja? Kok takutnya baru sekarang? Lo baru bangun, apa gimana?" sindir Arkan tajam, melirik Anggi yang semakin menundukkan kepalanya dalam. Andai kepalanya tidak menempel di leher, mungkin kepala wanita itu sudah terjatuh dan menggelinding di atas lantai.
"Waktu ngelakuin hal itu, lo nggak mikir akibatnya bakal kayak gini? Apa lagi yang lo khawatirkan sekarang, hah?! Cowok brengsek lo udah ada di depan! Bareng orang tuanya, yang pengen lo jadi menantu mereka."
Setengah tertawa menyindir, Arkan pun menyeringai sinis pada Anggi seolah mengejek apa yang saat ini tengah menimpa wanita tersebut.
"Selamat, ya…. Sebentar lagi, lo bakal dapat mertua yang sombongnya minta ampun. Semoga lo bisa bahagia tinggal sama dia."
Dan, yah…. Tentu sana itu bukanlah sebuah doa yang baik. Arkan tahu, dan Anggi juga sudah melihatnya secara langsung, tentang mertua mana yang disebutkan oleh Arkan barusan. Karena mengingat apa yang terjadi padanya kemarin, Anggi bisa menilai seratus persen kalau Arkan sedang mengoloknya saat ini. Dilihat dari manapun juga, ibunya Damar memang terlihat seperti wanita sombong, yang hobinya merendahkan orang lain.
"Kan…."
__ADS_1
Tidak tahan, Anggi akhirnya meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Melihat bagaimana keadaan Anggi saat ini, rasanya dia punya banyak sekali alasan untuk menangis. Entah itu soal karakter ibunya Damar, kekecewaan orang tuanya, sakit yang tengah menimpa ayahnya karena kejadian ini, sampai sikap Damar yang seperti tidak semangat untuk menikah dengannya. Dan untuk itu semua, pikiran Anggi pun kian terasa kacau jika memikirkan nasib yang sudah menunggunya di depan mata. Apakah bahagia, atau malah sebaliknya.
"Arkan, gue takut…."
Tidak menunggu beberapa detik, Anggi yang tidak peduli dengan Arkan yang sedang marah padanya pun, melemparkan tubuhnya ke arah cowok tersebut. Dia memeluk, dan menempelkan wajahnya di dada Arkan cukup erat. Seolah dengan begitu, dia menemukan sandaran yang bisa membuat pikirannya goyah, bisa bersandar sejenak.
"Gue takut, Kan…. Gue takut…. Gue…."
Seakan-akan tidak tahu harus menjabarkan apa, Anggi tiba-tiba terbayang dengan wajah Damar di benaknya. Memikirkan reaksi pria itu saat ibunya menolak Anggi, membuat hati Anggi terasa kian gemetar dan khawatir. Akankah dia akan bahagia dengan pria itu atau tidak? Haruskah dia melanjutkan pernikahan itu atau tidak? Dan apakah pria itu memang mencintainya, atau tidak? Semua terasa berputar di kepala Anggi dan membuatnya ingin muntah saat itu juga.
"Apa yang lo takutin? Bukannya harusnya lo senang ya, sama--"
"Arkan, please!" sela Anggi tiba-tiba, menghentikan ucapan Arkan. "Gue salah, dan gue lagi menyesali perbuatan gue sekarang. Bisa nggak, lo jangan menghakimi gue dulu? Gue juga butuh napas, Kan! Gue… gue perlu berpikir. Gue--"
Seketika, Arkan melepaskan pelukan Anggi darinya. Dengan wajah marah, Arkan mencengkram kedua bahu perempuan itu sedikit kuat.
"Lo perlu berpikir, lo bilang?" tekan pria itu menatap kedua mata Anggi satu per satu dengan lekat. "Apa? Apa yang lo pikirin sekarang? Lo lagi mikir ini semua bukan kesalahan lo, gitu? Apa--"
"Kan…!"
Untuk kedua kali, Anggi menyela perkataan Arkan.
"Sumpah, gue nggak lagi mikirin itu, karena gue tau, ini memang salah gue. Gue cuma…. Gue…."
Merasa bosan mendengar kalimat Anggi yang selalu menggantung, Arkan pun menghelakan napas panjang dengan raut wajah yang malas.
"Jujur, gue tau apa yang ada di pikiran lo saat ini." Ujar laki-laki itu, sontak membuat Anggi menatap wajahnya lekat.
"Lo… nggak mau nikah sama Damar kan?"
"Enggak! Engh, maksud gue… gue…."
Sedikit memutar bola mata tanda malas, Arkan menggelengkan kepalanya geram melihat tingkah Anggi.
"Apa pun itu, lo harus ingat satu hal, Nggi." Bisik Arkan pada Anggi, sambil memajukan sedikit tubuhnya ke depan.
"Keputusan yang diambil sama Om Rian, itu bukan soal lo mau atau enggak." Melirik sekilas ke arah perut Anggi, Arkan pun melanjutkan kalimatnya. "Tapi anak lo, memang membutuhkan seorang ayah."
Bersambung
__ADS_1