
Masih seperti mimpi, Anggi akhirnya menjadi seorang menantu di keluarga Damar. Setelah menjalani akad pernikahan yang penuh dengan drama, Anggi pun dibawa oleh keluarga Damar untuk tinggal bersama mereka. Tidak ada resepsi, dan tidak ada acara makan-makan yang istimewa. Semua terjadi begitu saja, seolah itu adalah hal yang sangat biasa seperti membeli sesuatu di pusat pasar. Begitu selesai, semua kembali pada rumahnya masih-masing, kecuali Anggi yang telah dibeli oleh keluarga Damar dengan sejumlah mahar yang tidak begitu mahal.
Yah, setidaknya perempuan itu sekarang sudah menjadi seorang istri, dan bukannya wanita yang mengandung di luar nikah. Pikir mereka satu sama lain, di balik wajah mereka yang terlihat begitu datar.
"Nah, Anggi, sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Papa minta sekarang, kamu jangan segan untuk melakukan apa pun di rumah ini. Anggap ini sebagai rumah orang tua kamu juga dan buat diri kamu merasa nyaman. Oke?"
Dengan seutas senyum yang terlihat begitu tulus, Panji menyentuh sebelah bahu Anggi.
"I--iya, P--Pa…. Ma--makasih," ucap perempuan itu gagap, melirik takut pada Panji yang ada di hadapannya.
Sembari mengangguk, Panji lalu menunjuk sebuah kamar yang ada di lantai satu rumahnya.
"Itu kamar kamu dan juga Damar. Sekarang, kamu istirahat. Nanti, kamu akan dipanggil waktu makan siang."
Setelah mendapat anggukan kepala dari Anggi, Panji pun segera berlalu dari hadapan perempuan itu. Dia pergi, dengan menunjukkan wajah sedikit lesu, yang tidak sengaja dilihat Anggi saat hendak berbalik meninggalkannya.
Yah…. Itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Karena pada dasarnya, tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat bahagia dengan pernikahan yang dilakukan oleh Anggi. Bahkan Damar sendiripun, tampak sangat tidak bersemangat saat mengucapkan ijab qabul atas dirinya. Ditambah lagi, dia tidak melihat laki-laki itu setelah turun dari mobil di depan rumah mereka.
Kemana? Kenapa rasanya dia seperti hantu, yang tidak terlihat sama sekali? Padahal kan, seharusnya dia itu menjadi teman bagi Anggi di hari pertamanya memasuki rumah mertua. Ibarat kata, bukankah seharusnya Damar itu bisa menjadi seorang tour guide bagi Anggi untuk berkeliling di rumah besar keluarga laki-laki itu? Tapi, kenapa sekarang dia malah ditinggal sendiri? Memangnya tidak lancang namanya, jika Anggi terlihat berkeliling rumah seorang diri?
Oh, tidak…. Jangan kira Anggi berkeliling rumah itu karena semangat menjadi menantu di rumah Damar. Dia melakukan hal itu, karena mulai besok, dia akan berusaha menjadi seorang istri yang baik yang bisa membantu melakukan pekerjaan rumah apa saja, yang biasa dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga. Dan tidak mungkin dia akan bisa melakukan itu semua, andai dia sendiripun tidak tahu apa-apa tentang rumah yang dia tinggali.
Menghelakan napas pasrah, Anggi menyeret koper besar yang berisi pakaiannya. Dia menarik benda berat tersebut seorang diri, ke sebuah kamar yang katanya akan menjadi kamarnya dan juga Damar.
Heran, katanya sudah menikah dan punya suami, tapi kenapa dia merasa seperti seorang wanita asing yang menyewa sebuah kamar kos? Sendirian, dan tanpa seorangpun yang menemaninya.
Ah, tidak! Anggi lupa. Saat ini, dia tidak sendiri. Ada janin yang ada di dalam kandungannya yang akan selalu menemani Anggi. Untuk beberapa waktu ke depan, Anggi harus bertahan dengan hanya mengandalkan anaknya saja. Dia berharap, sebelum anaknya lahir, semua orang akan kembali menyayangi dirinya. Terlebih, menerima anak yang ada di kandungan Anggi sebagai keluarga. Yah, dia hanya bisa berharap seperti itu, demi hatinya yang saat ini terasa mulai rapuh.
Sampai di dalam kamar, Anggi langsung meletakkan kopernya di sisi ranjang. Dia duduk di atas tempat tidur berukuran besar itu, dan menghelakan napas berat untuk kesekian kalinya.
Astaga…. Kenapa rasanya begitu sesak? Pikir Anggi tiba-tiba menahan air mata yang menyentak ingin keluar.
Setelah pulang dari kantor KUA tadi, tidak ada satu orang pun dari keluarga Damar ataupun Anggi yang mau berbicara padanya. Semua hanya diam memasang tampang dingin, seolah Anggi adalah makhluk transparan yang tak pantas untuk dipandang. Apalagi Damar. Dia beberapa kali kedapatan menghela napas bosan dan mendecak sambil membuang pandangan ke arah lain. Paling hanya Panji saja yang mau berbicara. Itupun, setelah mereka tiba di rumah, dengan keadaan Ranti yang melengos pergi begitu saja meninggalkan dirinya di teras.
"Semoga kamu selalu sehat, Anggi. Mama sayang kamu. Jaga cucu Mama baik-baik. Apapun yang udah terjadi, Mama cuma bisa berdoa, semoga Allah memberikan kebahagiaan untuk kalian."
__ADS_1
Saat akan menangis, Anggi tiba-tiba teringat dengan ucapan ibunya tempo hari. Meski hari ini beliau terlihat sangat dingin, Anggi ingat kalau beberapa hari lalu ibunya sampai menginap satu malam di kamar Anggi hanya untuk menangis dan memeluknya dengan erat.
"Semangat, Anggi! Ada doa Mama yang akan selalu melindungi kamu! Semangat!" ucap Anggi seorang diri, tersenyum pahit, menahan tangis yang sudah hampir keluar dan membuat tenggorokannya tersedak.
Tangan kurus Anggi yang harusnya terlihat gemuk karena sedang hamil, terangkat mengelus perutnya yang masih rata. Dengan linangan air mata yang sulit untuk dia hentikan, dia tersenyum lembut ke arah perutnya.
"Ayo kita saling menguatkan, Sayang. Apa pun itu, Mama akan selalu menjaga kamu sekuat tenaga. Kamu jangan takut, oke? Semua pasti akan sayang sama kita." Bisik Anggi serak, berulang kali menarik napas panjang demi menguapkan rasa sakit yang ada di dadanya.
"Papa kamu juga…. Pasti akan sayang sama kamu."
❄
"Dari mana aja? Kok Kakak baru kelihatan sekarang?"
Jam dua dini hari, Anggi terbangun karena mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Sedang kesulitan untuk tidur, Anggi malah dikejutkan dengan kehadiran Damar yang baru pulang ke rumah setelah sebelumnya menghilang siang tadi.
"Oh? Kamu kok belum tidur?" tanya Damar agak kaget, tersenyum kikuk pada Anggi yang sudah duduk di atas ranjang.
"Kakak dari mana aja hari ini? Kok baru pulang?" tanya Anggi ulang, menatap sendu wajah Damar yang tampak sedikit tergagap.
Seperti orang kebingungan, Damar mengusap rambut belakangnya dan melemparkan pandangan ke segala arah.
"Ada tugas kuliah. Iya! Tugas kuliah! Aku tadi ketemu sama temen-temen aku, buat ngerjain tugas kuliah bareng." Jawab Damar menyengir lebar, melihat Anggi yang justru mengerutkan dahinya bingung.
"Tugas kuliah? Malam-malam begini?" tanya wanita itu lagi tidak percaya, kali ini dibalas anggukan semangat dari Damar.
"Ngerjainnya udah dari siang, sih…. Cuma, karena tugasnya emang banyak dan deadline nya itu juga besok, jadi ya, mau nggak mau, harus diselesaikan dulu, baru bisa pulang. Kan beberapa hari ini, tugas kuliah aku lagi numpuk. Jadi, kamu maklum aja, kalo aku pulang larut kayak gini."
Keadaan lampu kamar yang sedikit redup, membuat Anggi terpaksa menyipitkan kedua matanya ke arah Damar. Melihat sesuatu yang menghitam di daerah bibir pria itu, sampai akhirnya dia sadar dengan perubahan wajah lelaki itu yang terlihat lebih membengkak di beberapa bagian.
"Kak! Muka Kakak kenapa? Kok--!"
Secara refleks, Anggi bangkit dari atas ranjang dan mengejar Damar yang berdiri di dekat pintu. Saat akan menyentuh, tangan pria itu malah menghentikan pergelangan tangan Anggi dan mencegahnya untuk menyentuh daerah wajah.
"Eh? Apa? Kamu…."
__ADS_1
Melihat Damar yang menahan kedua tangannya, membuat Anggi terpaku menatap protes ke arah laki-laki tersebut.
"Kak! Muka Kakak kenapa? Bibir Kakak berdarah. Kakak abis berantem?" tanya Anggi cemas, menatap sedih wajah Damar yang mulai terlihat sedikit memar di tulang pipinya.
"Ah, berantam? Enggak, kok! Aku nggak berantem. Ini… ini tadi… abis… abis jatuh."
"Jatuh?"
"Iya! Jatuh…."
"Kok bisa?"
"Ya, bisalah! Namanya juga kecelakaan, bisa terjadi kapan aja, kan?"
"Tapi…"
"Udah…! Nggak usah dipikirin! Cuma luka kecil gini…, besok juga sembuh. Kamu nggak perlu cemas,"
Damar menurunkan dan melepaskan pegangannya pada tangan Anggi. Mengelak dari pandangan wanita itu, yang jelas menunjukkan raut wajah kekhawatiran khas seorang istri yang sangat menyayangi suaminya.
Menyebalkan!
"Kak… Kakak--"
"Udahlah, Nggi…. Nggak usah dipikirin! Aku baik-baik aja, kok. Mending, sekarang kamu tidur. Besok kamu masih harus ujian sekolah, kan?" sela Damar terlihat malas, menghalau tangan Anggi yang kembali terangkat seperti ingin menyentuh wajahnya.
"Kalau kamu nggak tidur sekarang, bisa jadi besok kamu telat buat bangun ke sekolah. Emang kamu mau, nggak bisa ikut ujian karena terlambat bangun? Kamu nggak sayang, sama sekolah kamu yang bentar lagi bakal lulus? Hm?"
Rasanya, hati Anggi seperti berdenyut melihat penolakan Damar yang begitu dingin terhadapnya. Setelah pergi meninggalkan Anggi sendiri bersama orang tua Damar yang begitu asing, bukannya minta maaf atau memberikan penjelasan, Damar justru berlalu begitu saja ke dalam kamar mandi. Padahal kan, Anggi hanya ingin tahu, apa yang membuat wajah suaminya itu terlihat memar dan berdarah. Tapi, kenapa rasanya dia melihat Damar itu seperti terganggu dengan kehadirannya? Apakah Damar tidak merasakan kekhawatiran yang tulus dari sikap Anggi terhadapnya?
Dengan perasaan tercubit, Anggi duduk di atas ranjang tidurnya dan menatap bingung ruangan gelap yang saat ini menelan dirinya.
"Kenapa… rasanya jadi begini?" gumam Anggi, menyentuh dadanya yang terasa begitu sakit, seperti akan menangis.
"Nyebelin banget, sih...."
__ADS_1
Bersambung