
Damar terus memandang wajah Anggi yang tertidur di sebelahnya. Dua jam sudah berlalu sejak dia membaringkan wanita itu di atas ranjang dan mengatur posisi senyaman mungkin untuknya.
Teringat dengan permintaan Anggi sebelum tertidur tadi, Damar merasa berat untuk menutup matanya sama sekali. Rasa lelahnya masih terasa. Hanya saja, rasa kantuknya seperti terbang entah ke mana.
Tiba-tiba, dia merasa kalau mungkin selama ini dia sudah keterlaluan terhadap perempuan itu. Mengabaikan semua perlakuan manisnya, dan tidak peduli bahkan sama sekali dengan usaha yang Anggi buat hanya untuk menyenangkannya.
"Kamu itu bodoh, apa bagaimana?! Kamu menyalahkan Anggi dengan semua kekacauan yang terjadi saat ini! Tapi kamu pernah berpikir tidak sih, kalau Anggi itu adalah korban sebenarnya dari kelakuan binatang kamu?!"
Sontak Damar memejamkan kedua matanya mengingat apa yang ayahnya ucapkan berapa hari yang lalu kepadanya.
"Karena kamu, dia hampir putus sekolah! Karena kamu, dia jadi nggak bisa melanjutkan kuliah! Dan karena kamu, dia harus terbuang dari keluarga yang udah merawat dan membesarkan dia saat ini! Kamu pernah berpikir soal itu, nggak?"
Ah, kenapa Damar jadi merasa terpukul saat mendengar ucapan itu? Bukankah harusnya dia bersikap masa bodoh saja, ya? Seperti apa yang selama ini Mamanya ucapkan?
"Ini semua salah perempuan itu! Kalau aja dia nggak menggoda kamu, pasti sekarang kamu nggak terikat sama dia. Memangnya, kucing mana yang nggak tertarik dikasih ikan asin?"
Kalau dipikir-pikir, Damar jadi kurang setuju dengan hinaan Mamanya itu terhadap Anggi. Biar bagaimana pun, sepertinya ayah Damar benar, kalau semua itu tak luput dari kesalahan Damar sendiri yang berani berbuat demikian terhadap Anggi. Bukankah kalau dipikir-pikir, Anggi tidak pernah benar-benar menggodanya seperti apa yang Mamanya itu ucapkan? Damar hanya mencari pembelaan saja, dengan membenarkan apa yang Mamanya katakan kepada Anggi. Sikap kekanak-kanakan dan takut bertanggung jawab masih begitu besar dalam diri Damar yang harus membuatnya tetap berlindung di belakang punggung Mamanya.
"Coba kamu perhatikan Anggi sedikit aja…. Kamu nggak kasian, sama anak kamu yang ada di dalam kandungannya dia? Tega kamu bersikap seperti itu, sementara waktu kamu masih di dalam perut Mama kamu, kami memperlakukan kamu dengan sangat baik?"
Ah…. Lagi-lagi kepala Damar terasa pusing. Rasanya ingin pecah, jika kembali teringat dengan segala ucapan ayahnya perihal Anggi. Memang sih, kalau dipikir-pikir, kasihan juga ya, anak yang ada di dalam perut perempuan itu. Bukan tidak mungkin Anggi merasa tertekan setiap berhadapan dengan ibunya Damar. Jangan orang lain, Damar sendiri saja kadang merasa stress jika ibunya sudah mulai banyak tingkah dengan menyuruhnya melakukan ini dan itu yang Damar tidak suka.
Pelan, Damar melihat ke arah perut Anggi yang besar. Disentuhnya perut itu secara perlahan. Dirasakannya seperti ada yang bergerak di sana, begitu telapak tangan Damar menyentuhnya. Kerutan di dahi Anggi juga terlihat cukup dalam, yang menandakan perempuan itu merasa terganggu dengan pergerakan tersebut.
Tidak ingin perempuan itu bangun, Damar segera menjauhkan tangannya dari sana dan melihat wajah Anggi yang perlahan mulai kembali damai.
"Tidurlah…. Kayaknya hari ini hari yang berat buat kamu."
***
__ADS_1
Damar masih tidur saat mendengar suara keributan yang terjadi dari arah luar kamarnya. Meskipun masih mengantuk, Damar memaksa kedua matanya itu terbuka karena merasa terganggu dengan apa yang terjadi di luar sana.
Dengan langkah menyeret, dia keluar kamar dan melihat ke arah ruang makan yang menjadi sumber keributan pagi ini.
"Dasar perempuan sialan! Udah berapa kali saya bilang, untuk jangan mencari perhatian apapun di rumah ini! Kamu itu nggak dibutuhkan sama sekali, tahu! Nggak ngerti juga, sama bahasa manusia?!"
"Ranti!"
"Apa, sih?! Papa jangan suka membela perempuan binal ini, ya! Dia itu cuma pura-pura lemah di depan Papa, biar Papa simpati sama dia! Papa jangan konyol, dengan terus-terusan membela perempuan ini!"
"Tutup mulut kamu, atau aku akan--"
"Akan apa?! Apa yang bakal Papa lakukan, kalau Mama nggak mau diam? Apa?! Apa?!"
Damar yang tidak mengerti dengan asal mulanya keributan ini bisa terjadi, perlahan mendekat ke arah dapur dan melihat beberapa pecahan kaca telah berserakan di atas lantai.
"Ma, ada apa ini? Kok berantakan banget?"
"Oh, kamu udah bangun?" ujar Ranti terdengar sedikit tinggi, kemudian berjalan mendekat ke arah Damar.
"Ini semua ulah perempuan nggak tau malu itu! Bukannya diam aja kayak batu, malah sok-sokan masuk dapur dan merusak semuanya! Dasar nggak berguna!"
"Hah?"
"Anggi nggak berusaha buat merusak semuanya kok, Ma…. Anggi cuma mau--"
"Cuma mau apa? Cuma mau cari perhatian aja? Iya?! Kamu pikir, anak saya ini bakal tertarik sama perempuan banyak tingkah kayak kamu? Begitu?"
"Ma,"
__ADS_1
"Ranti!"
Kesal dengan ulah istrinya yang seperti makin menjadi, Panji pun akhirnya menyeret lengan wanita itu untuk pergi dari dapur. Tidak ada kelembutan, dia justru menarik lengan perempuan itu disertai makian Ranti yang kian menggema kepada Anggi.
"Dasar perempuan pembawa sial! Hancur sudah kehidupan keluarga saya gara-gara kamu! Kenapa kamu nggak mati aja, sih?! Mati sana, biar kehidupan kami jauh lebih tenang! Dasar pela*ur sialan!"
Hati Anggi rasanya kian terkoyak mendengar makian itu dari mertuanya. Sudahlah niat baiknya hancur karena Ranti yang tadi membanting makanan yang baru saja dia masak, kini dia harus menerima semua cacian perempuan itu di depan suaminya sendiri. Bagaimana dia tidak menangis? Kalau biasanya dia bisa tahan dengan semua sikap Ranti yang dia terima seorang diri, kini dia merasa tidak punya muka lagi jika harus berhadapan dengan Damar. Meskipun dia tahu Damar juga tidak akan peduli, tapi rasanya, sebagai seorang manusia, Anggi merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh mereka.
Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Damar, Anggi berjalan melewati pria itu dan kembali menuju kamar. Dia tidak tahu, kalau sejak tadi Damar terus saja menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.
Di dalam kamar, Anggi mengambil sebuah handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Diikuti oleh tatapan Damar yang juga langsung mengikutinta masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau ngapain?" tanya pria itu refleks, melihat Anggi yang hendak menutup pintu kamar mandi.
"Engh…. Aku… mau mandi," sahut Anggi menahan wajahnya untuk tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah menahan tangis.
Lalu, tanpa menunggu pertanyaan selanjutnya, Anggi langsung menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Di bawah shower, Anggi menangis. Bagaimana bisa, hidupnya yang dulu hampir sempurna jadi berantakan seperti ini? Dia yang dulu begitu dijaga bagaikan sebongkah berlian, malah diperlakukan seperti seonggok kotoran sekarang. Hidupnya yang selalu dipenuhi oleh kasih sayang, justru terlihat seperti pengemis yang butuh belas kasih saat ini.
Sungguh malang rasanya hidup Anggi. Hanya karena sebuah kata cinta yang benar-benar bodoh, dia bisa bertingkah konyol seperti ini dan membuang semua kehidupan berharganya yang dulu. Andai saja dia bisa jauh lebih pintar menilai sikap Damar yang sebenarnya, tentu dia pasti masih merasakan hangatnya kasih sayang di tengah keluarganya saat ini.
Benar-benar nasib yang buruk.
"Apa yang harus kulakuin sekarang? Aku takut…. Takut banget…," keluh Anggi begitu pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Yah, begitulah perasaan Anggi saat ini. Bukan sangkar emas. Tapi seperti terjebak dalam kandang harimau yang buas dan juga lapar. Bertahan pun rasanya akan sulit. Dia akan tetap mati. Entah itu dimakan oleh harimau, atau mati dalam ketakutan. Dia butuh pertolongan. Satu orang saja. Dia butuh seseorang untuk mengeluarkannya dan bayinya dari situasi yang mematikan seperti ini.
Dia benar-benar ingin menyerah.
__ADS_1
Bersambung