
Setengah jam berlalu, dan Anggi baru keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh yang menggigil. Bibirnya terlihat biru, dan tubuhnya bergetar di balik handuk putih yang saat ini tengah melilit di tubuhnya.
"Kenapa lama banget?"
Anggi yang tidak sadar dengan isi kamar, terkejut mendapati Damar tengah menatapnya dalam dari atas tempat tidur.
Berusaha bersikap biasa, Anggi tersenyum pada pria itu dan berjalan mendekati lemari pakaian.
Jika biasanya dia akan beramah tamah dengan menanyai kegiatan pria itu hari ini bak seorang wartawan, kali ini dia hanya diam saja dan mencari sepasang pakaian tidur yang biasa di kanakan di rumah.
"Gimana keadaan Papa kamu?" tanya Damar tiba-tiba, menghentikan kegiatan Anggi yang sudah memegang sebuah pakaian tidur berwarna merah muda dari dalam lemari.
"Apa Papa kamu udah baik-baik aja? Kemarin… kamu bilang beliau sakit," tanya Damar terdengar sedikit canggung, yang mana Anggi justru tertawa kecil mendengarnya.
Tawa yang cenderung terdengar sinis, andai Damar bisa mendengarnya lebih jelas.
"Papa kamu…." Ulang gadis itu membesarkan kedua matanya karena sepertinya akan berair kembali.
Tentu, bahkan Damar saja tidak menganggap Rian, ayahnya Anggi, sebagai ayahnya juga. Dia selalu mengatakan "Papa kamu", yang artinya itu hanyalah orang tua Anggi sendirian.
Yah, apa lagi yang bisa Anggi harapkan dari pria itu?
Lagi-lagi, mencoba untuk tersenyum, Anggi memutar tubuhnya ke arah Damar.
"Aku nggak tau gimana keadaan Papa aku sekarang. Nggak ada yang mau jawab pertanyaan aku soal Papa. Yang jelas, setelah menikah dan keluar dari rumah, Papa sering sakit-sakitan." Kata Anggi tanpa menatap Damar, yang terlihat sekali kalau dia merasa sedih.
"Kamu… nggak ada niat buat jenguk?" tanya pria itu lagi lebih hati-hati, yang mana Anggi tidak langsung menjawabnya, tapi justru menatapnya sedikit lama.
"Nggi,"
Terlihat agak kaget, Anggi mengerjap. Lalu, dia membuang pandangannya ke arah lain kemudian berkata, "Nggak."
"Kenapa?"
"Percuma, karena aku datang pun, nggak akan ada yang menerima aku di sana. Bukannya sembuh, mungkin keadaan Papa bisa jauh lebih buruk kalau ngelihat aku,"
Setelah itu, setelah Anggi mengucapkan kalimat itu, dia pun segera pergi meninggalkan Damar yang terdiam. Dia seperti tidak ingin mencari perhatian lagi, setelah sekian lama berusaha menunjukkan berbagai macam tingkah di depan laki-laki itu.
Mungkin, dia merasa sedih?
Ah, tidak! Selama ini Anggi memang bersedih. Bahkan sejak menikah dengannya, kehidupan Anggi memang menyedihkan. Cuma, biasanya dia terlihat tegar dan seolah tidak punya otak ataupun harga diri dengan terus mencari perhatian dari Damar. Tapi, kenapa sekarang dia malah diam? Apa dia sedang ada masalah lain?
"Oke, Damar… cukup! Lo udah bertindak diluar kebiasaan hari ini. Peduli amat dia mau gimana? Kenapa lo mesti pusing, sih?" ujar Damar pada dirinya sendiri, lantas mengusap rambutnya kasar seperti orang yang tertekan.
__ADS_1
Sebelum beranjak ke luar kamar, Damar sempat melihat ke arah kamar mandi lagi, dimana Ada Anggi di dalamnya.
Seperti berat meninggalkan, tapi…, "Ah, bodo, ah!"
❄
Damar tidak tahu kenapa, pertahanannya untuk bersikap masa bodoh dengan Anggi berlangsung tidak lama. Sejak dia menyentuh perut wanita itu kemari malam, entah kenapa perasaannya seperti tergoyahkan oleh semua sikap perempuan itu terhadapnya. Padahal, Anggi tidak bersikap manis. Dia hanya bertingkah baik, layaknya seorang istri yang berusaha melayani suaminya. Tidak ada nada manja seperti biasa, dan tidak ada sikap sok kuat seperti yang lalu Damar lihat.
Semua terlihat biasa. Seperti formalitas, meski terkadang Anggi kedapatan tengah menatapnya lekat seperti siang ini.
"Kenapa?" tanya Damar jengah, melihat Anggi yang terus menatapnya saat makan.
Mengerjap kaget, Anggi menundukkan sedikit kepalanya ke arah ujung kaki.
"Eng… enggak kok, Kak. Nggak papa," sahut Anggi kikuk, yang malah membuat Damar sewot melihatnya.
"Nggak papa, tapi kamu ngeliatin aku terus dari tadi. Aku ini lagi makan, tau! Gimana, sih?" ujar pria itu merengut, melihat Anggi yang seketika menaikkan pandangannya.
"Kakak jijik, ngeliat aku pas lagi makan?"
"Hah?"
Tanpa bicara lagi, Anggi memutar tubuhnya dan berjalan pelan keluar dari ruang makan.
"Eh, kamu mau kemana?" teriak Damar kaget, melihat Anggi yang main pergi meninggalkannya begitu saja.
"Hei! Kalau aku manggil itu, didengar!" seru Damar kemudian, setelah menarik sebelah lengan Anggi dan melihat wajah perempuan itu yang lesu.
"Aku mau ke kamar. Kakak kan jijik, aku liatin pas lagi makan. Jadi, mending aku--"
"Aku jijik?" ulang Damar mengerutkan sebelah alisnya tak mengerti. "Kapan aku bilang gitu?"
"Tadi, satu menit lalu,"
"Kamu dengar aku bilang jijik? Kamu yakin, kata jijik keluar dari mulut aku, tadi?" tantang Damar tajam, melihat Anggi yang mengerjap seperti orang kebingungan.
"Ya, nggak bilang jijik secara langsung, sih…. Cuma…."
"Kamu itu nyebelin banget, tau! Sotoy, jadi cewek!" sembur Damar tiba-tiba, membuat Anggi hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah.
Wajah perempuan itu, yang tadi terlihat lesu, perlahan-lahan berubah menjadi datar. Dari sini, Damar menilai kalau perempuan itu mencoba untuk tidak memasukkan ucapannya ke dalam hati.
"Aku negur kamu yang liatin aku lagi makan itu, bukan karena jijik. Tapi karena aneh aja, ngeliat kamu yang natap aku kayak orang yang kelaparan," kata Damar tidak menurunkan nada bicaranya, meskipun cara memandangnya terhadap Anggi tidak seangkuh biasanya.
__ADS_1
"He? Aku ngeliatin Kakak makan, kayak orang kelaparan?" beo Anggi bodoh, dengan kedua bola matanya yang bulat.
"Iya…. Emang kamu nggak sadar, iler kamu hampir tumpah pas liatin aku makan, tadi?"
"Hah? Masa, sih?"
Refleks, Anggi menyentuh kedua sudut bibirnya dengan punggung tangan. Memeriksa, apakah memang benar, air liurnya sempat akan terjatuh saat di ruang makan tadi?
Saat sedang sibuk mengusap dagunya, tiba-tiba perempuan itu mendengar suara Damar yang tertawa.
Refleksi melihat ke atas, pria itu malah terlihat memasang wajah datar dan menaikkan dagunya angkuh seperti bertanya.
"Apa?"
Agak ragu, Anggi pun bertanya, "Kakak ketawa?"
"Kapan?"
"Barusan,"
Mengernyitkan dahi seolah tidak mengerti, Damar pun menambah aktingnya dengan menajamkan mata seolah tidak paham dengan ucapan Anggi barusan.
"Aku nggak ada ketawa," katanya jelas berbohong, padahal sebelumnya dia memang kelepasakan tertawa karena melihat tampang polos istrinya. Hanya saja, dia tidak ingin Anggi melihat, karena ini masih berhubungan dengan harga diri Damar yang setinggi langit.
"Masa, sih?"
Tidak ingin ketahuan, Damar menggelengkan kepalanya prihatin melihat wajah lugu sangat istri.
"Kamu itu kasihan banget, ya…. Kayaknya kamu kebanyakan makan minyak, makanya kuping kamu itu ketutupan lemak. Aku tadi manggil, kamu nggak dengar. Sekarang, aku nggak ada ketawa, kamu bilang ketawa. Nggak beres tuh, kuping kamu," ejek Damar serius, seketika membuat Anggi beralih menyentuh kedua telinganya.
"Tapi aku nggak budek, kok," gumam wanita itu begitu pelan, sampai Damar harus mendekatkan sedikit kepalanya ke arah wanita itu.
"Kamu kalau lagi mandi lama banget, itu nyuci apa aja, sih? Itu kuping nggak pernah dibersihin, ya?" ledek Damar lagi, kali ini membuat Anggi merasa sakit hati.
Perempuan itu memberengut, lantas pergi meninggalkan Damar yang masih memasang wajah Damar di tempatnya.
"Eh, kamu mau ke mana?" tanya Damar refleks, karena Anggi melewatinya tanpa kata.
"Mau bersihin kuping! Katanya kan, aku congekan!"
Memasang tampang sebal, Anggi berbalik sekilas dan mendengus dongkol kepada Damar.
Dan anehnya, Damar justru tertawa begitu perempuan itu berbalik lagi dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Gila…. Seru juga sih, ini"
Bersambung