
Keesokan paginya, Anggi keluar dari kamar tidurnya dan mendapati ruang tamunya dalam keadaan kosong. Sejenak, dia melihat ke arah pintu apartemennya yang tadi malam terbuka lebar, kini sudah tertutup dengan rapat. Dia menduga, Damar sudah pergi dari unitnya tersebut beberapa jam yang lalu.
Berpikir sejenak, Anggi pun hanya bisa menghelakan napas panjang dan berjalan menuju pantry. Dia mengambil satu buah gelas panjang dan mengambil air dingin yang selalu ia sediakan di dalam kulkas.
"Kalau pagi itu, usahakan minum air hangat dulu. Nggak boleh dingin!"
Saat Anggi mendekatkan mulutnya pada bibir gelas, suara Damar yang mengingatkannya pada masa lalu menghentikan pergerakan tangan wanita itu. Dia termenung sejenak, sebelum akhirnya meletakkan gelas panjang itu kembali di atas bar.
Kenapa? Perasaan selama beberapa tahun ini dia selalu mengkonsumsi air es di pagi hari dan tidak pernah mengingat pesan pria itu sebelumnya. Tapi, kenapa hari ini suara pria itu terasa begitu mengganggu dan mencegahnya untuk minum air dingin?
"Biarpun itu keinginan si baby, tapi bukan berarti kamu boleh nuruti kemauannya yang satu itu. Nggak baik buat kesehatan kalian! Jadi, dengerin omongan aku, dan minum air hangat!"
Ah…. Menyebalkan sekali, sih…. Kenapa pagi-pagi dia harus mengingat semua kejadian saat Anggi masih mengandung dulu? Setelah sekian lama dia mengkonsumsi air dingin di pagi hari, kenapa baru hari itu Damar datang dengan kepeduliannya yang ditinggi dan melarang Anggi untuk minum air dingin saat baru bangun tidur?
Bikin emosinya semakin naik saja….
Menggelengkan kepala, Anggi kemudian membuang air dingin tersebut ke wastafel. Lalu, dari mesin dispenser, dia mengambil sedikit air panas untuk dia campurkan dengan air bersuhu normal. Setelah itu, dia duduk dan meminum air tersebut dalam satu tarikan napas.
Merasa lebih baik, Anggi pun segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Tadi malam, dia tidur terlalu larut, hingga bangun cukup telat pagi ini. Dia harus segera berbenah, kalau tidak ingin terlambat tiba di kantor.
Sekitar satu jam kemudian, Anggi sudah tiba di depan perusahaan tempat dia bekerja. Dia memarkirkan mobilnya di sana, dan keluar bersamaan dengan Damar yang ternyata baru sampai juga.
"Hai, Nggi," sapa pria itu riang, mengangkat sebelah tangannya kepada Anggi yang dibalas raut wajah datar oleh wanita itu.
Sekilas, Anggi menolehkan kepalanya ke samping, melihat mobil Damar parkir tidak jauh dari mobilnya.
Lalu, tanpa menjawab, Anggi langsung pergi meninggalkan Damar yang masih setia memasang senyum konyolnya. Mungkin, dia berharap wanita itu mau membalas sapaannya, meski hanya dengan sebuah decakan malas.
Mengerti kalau Anggi tidak menggubris, Damar lagi-lagi menghelakan napas berat. Dia menunduk sekilas, sebelum mengikuti wanita itu dengan berjalan di belakangnya.
Damar yang hampir berdiri di sebelah Anggi depan lift, menghentikan langkah kakinya saat melihat Roni --entah datang dari mana-- langsung menarik lengan Anggi untuk menjauh darinya.
"Eh? Apaan sih, Ron?! Kok tiba-tiba…."
Damar bisa mendengar dengan samar suara kaget Anggi yang ditarik secara mendadak. Alih-alih mengikuti beberapa karyawan lain masuk ke dalam lift yang sudah mereka tunggu, Damar justru berjalan pelan ke arah tempat dimana Roni menyeret Anggi barusan.
Saat hendak sampai, tiba-tiba Damar dihentikan oleh Ditha yang muncul dari arah belakangnya.
"Heh!" tegur wanita itu keras, sambil menepuk sebelah bahu Damar dan membuat pria itu terkejut.
"Lo ngapain? Kok nggak masuk ke dalam lift?" tanya Ditha heran, yang memang sempat melihat Damar seperti mengabaikan pintu lift tertutup tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Eh, itu…"
"Eh, itu pintu liftnya udah kebuka! Yuk, naik! Ntar keburu ketutup lagi!"
Belum sempat Damar bicara, Ditha sudah lebih dulu menarik lengannya menuju pintu lift yang kedua. Masuk ke dalam, dan segera menekan tombol divisi mereka berada sebelum sempat melakukan apa-apa.
"Ah…, untung kita cepat naik. Kalo nggak, bisa ketinggalan lift lagi, kan…. Lo sih, melamun aja pasti tadi."
Di balik ocehan Ditha yang merasa seperti super hero karena telah menolong Damar --yang katanya sedang melamun hingga ketinggalan lift--, ada Damar yang sibuk melihat ke bawah dari dinding lift yang terbuat dari bahan transparan.
Di sana, tidak berapa jauh dari tempat Ditha menarik Damar tadi, terlihat Anggi dan Roni sedang berbicara dengan serius. Tidak seperti raut wajah Anggi biasanya, terlihat Roni seperti memberikan sesuatu kepada Anggi dan memeluk wanita itu.
Seketika, kedua tangan Damar terkepal. Demi apa, dua orang itu berani berpelukan di kantor? Mereka tidak takut menjadi bahan omongan, atau bagaimana? Sedang bersamanya, Anggi sangat tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan mereka di masa lalu. Jadi, kenapa sekarang dia membiarkan pria lain memeluknya di depan umum? Ingin mengakui sesuatu, atau apa?
"Hmph! Sialan…."
❄
Sementara itu, di tempat Anggi berdiri saat ini, rasa kaget yang dia rasa membuatnya tidak sadar dengan Roni yang langsung memeluknya.
"Eh, Ron, lo apa-apaan, sih?! Lepas!"
Sadar dengan keadaan, Anggi buru-buru mendorong bahu pria itu untuk menjauh darinya, hingga tanpa sadar menjatuhkan cincin yang tadi diberikan oleh Roni.
"Gue bakal pergi, Nggi." Ucap Roni tiba-tiba, menghentikan omelan Anggi yang membara terhadapnya.
"Dan cincin yang tadi gue kasih… gue harap lo simpan dengan baik sampai gue balik lagi." Sambung Roni lirih, tidak sadar juga kalau cincin yang dia berikan pada Anggi sudah menggelinding jatuh entah kemana.
"Lo… pergi. Maksudnya?"
Dengan seutas senyum tipis, Roni memandang Anggi. "Gue resign. Tapi--"
"Lo resign."
Belum selesai bicara, Anggi menyela ucapan Roni dengan kedua matanya yang membola. "Kenapa?"
Dan lagi-lagi, hanya dengan seutas senyum tipis nanti lembut, Roni mendekati Anggi satu langkah. "Lo sedih, dengar gue resign?"
"Enggak. Cuma kaget aja." Sambar Anggi langsung, dengan mimik wajahnya yang angkuh itu dan membuat Roni mendengus tidak percaya.
Oh, come on…. Roni itu sudah mengenal Anggi dengan cukup baik, hingga tahu arti di balik tatapannya yang lebar itu. Meski berat mengakui, Anggi pasti merasa sedih dengan ucapan Roni saat ini. Mungkin, dia berpikir kalau Roni sedang main-main saat ini.
__ADS_1
"Oh, gitu…." Kata Roni pura-pura percaya dengan ucapan Anggi, dan melirik wanita itu sedikit jenaka.
"Lo resign… kenapa? Lo becanda sama gue? Lo…."
"Ada alasan di setiap tindakan. Dan gua nggak bisa bilang itu sama lo sekarang, Nggi. Gue cuma berharap, lo baik-baik aja sebelum nanti gue nemuin lo lagi," ucap Roni serius, menundukkan kepalanya sebentar.
"Apa ini karena masalah kemarin?" terka Anggi, membuat Roni menaikkan pandangannya yang sempat turun.
"Masalah kemarin?" ulangnya tampak sedikit bingung.
"Iya…. Pas acara makan-makan waktu itu, lo keliatan sibuk banget, sampai pergi duluan ninggalin gue sama Ditha. Lo juga kelihatan agak aneh beberapa hari ini. Sibuk-sibuk nggak menentu, dan jarang ada waktu buat gue dan juga Ditha. Lo… sibuk mengelamar kerja di tempat lain, ya? Kenapa, sih? Apa gajinya di tempat ini tuh, kurang gede? Atau, lo emang sengaja mau--"
"Bukan." Sela Roni tenang, menghentikan ocehan Anggi.
"Bukan?"
"Hm,"
Sejenak, Anggi dan Roni pun saling berdiam diri, sambil menatap satu sama lain, hingga akhirnya kedua mata Anggi membola dan jari telunjuknya terangkat ke udara.
"Lo mau kawin, ya?!" tuding wanita itu segera, ke arah Roni yang sontak tertawa mendengarnya.
"Apa? Gue…"
"Iya, kan? Lo mau kawin, kan?! Iya, kan! Dasar curang!" hardik Anggi keras, pada cowok itu yang malah semakin tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Kenapa bisa kawin? Memang apa yang bisa dijadikan petunjuk, sampai Anggi harus menebaknya ke sana?
Merasa tidak sepenuhnya salah, Roni pun menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tertawa. Melihat tampang masam Anggi yang jengkel terhadapnya, membuat Roni berani menggenggam kedua tangan wanita itu lembut.
"Iya, do'ain semuanya lancar, ya…." Pintar Roni tersenyum, yang bukannya merespons baik, Anggi justru menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.
"Males," katanya, tak ayal membuat Roni tersenyum.
"Orang licik kayak lo ini mah, nggak usah dido'ain juga, pasti bakal bahagia sendiri. Jadi, ngapain gue buang-buang tenaga…? Bikin capek aja!" rutuk Anggi merengut, benar-benar membuat Roni ingin tertawa melihatnya.
"Gue do'ainnya, pas gue datang diundangan lo! Nggak lo undang, nggak ada do'a! Paham lo?!" ujar Anggi judes, melirik sewot pada Roni yang tertawa.
Sungguh, rasanya Roni benar-benar sulit untuk meninggalkan Anggi saat ini. Meskipun hanya sebentar, dia merasa akan rindu berat dengan wajah songong wanita itu.
"Iya, lo tenang aja. Lo… pasti gue undang."
__ADS_1
Bersambung….