The Last Chance

The Last Chance
Bagian Lima Puluh Dua


__ADS_3

Di sisi lain, pria yang tengah diperhatikan oleh Arkan dari dalam mobil itu adalah Marcel. Dia yang tadinya melihat Anggi keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung, buru-buru mengejar perempuan itu yang sudah berdiri menunggu lift ke lantai dasar. 


"Morning… Anggi," sapanya sok manis, tersenyum seperti orang bodoh memperhatikan wajah ketat Anggi yang masam. 


Tidak mendapat jawaban, Marcel mencoba mencari bahan pembicaraan lain. 


"Tadi, diantar sama siapa? Tumben kamu nggak bawa mobil," tanya Marcel ramah, namun masih juga tidak mendapatkan respons dari Anggi. 


Wanita itu terus menatap tegak ke depan, tanpa menoleh sama sekali. 


"Hari ini, aku ada rencana buat ngajak kamu makan siang. Kira-kira, kamu—"


Ting! 


Belum selesai Marcel bicara, pintu lift yang sejak tadi mereka tunggu sudah terbuka. Membuat Anggi yang tampaknya tidak peduli dengan apa yang ingin dia katakan, langsung masuk ke dalam kotak besi itu, bersama dengan beberapa orang lainnya yang juga menunggu di sana. 


Marcel yang melihat itu, buru-buru masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di samping Anggi. 


"Kemarin, kita belum sempat ngobrol bareng. Udah lama nggak ketemu, kamu apa kabar?" tanya Marcel kali ini, ditengah keheningan orang-orang di dalam lift, hingga terdengar sedikit menggema. Membuat beberapa orang di sana menoleh, sedikit curi pandang pada Anggi dengan sorot mata yang sedikit aneh. 


Mungkin pikir mereka, Anggi yang gila sudah kembali menggoda pria di kantor itu. Terlebih yang ada sekarang adalah seorang ketua tim baru di bagian produksi. 


"Nggi, kok kamu diam aja, sih? Aku benar-benar nggak keliatan, ya?"


Marcel seperti tidak punya malu, dengan terus mengajak Anggi bicara padahal jelas-jelas wanita itu mengabaikannya begitu saja. Membuat beberapa perempuan di lift itu semakin sengit menatap Anggi, dengan sorot mata mereka yang seolah merendahkan Anggi. 


Ting! 


Pintu lift yang terbuka lambat laun mengurangi isi penumpang. Sampai akhirnya tersisa Anggi dan Marcel, yang kebetulan berada di lantai yang saling berdekatan. 


"Aku dengar, katanya kamu punya banyak cowok di perusahaan ini. Aku juga baru tau, kalau ternyata kamu dan Damar udah nggak bersama lagi sekarang. Dan lebih hebatnya lagi, aku baru tau kalau orang-orang di kantor ini ternyata nggak ada yang tau kalau dia itu mantan suami kamu,"


Anggi berusaha mengabaikan Marcel yang tertawa di sebelahnya. 


"Andi? Dia bahkan pake nama belakang dia? Benar-benar gila!"


Bagi Anggi, tidak ada yang lucu. Damar memang terlihat konyol, tapi entah kenapa dia merasa kalau Marcel yang lebih bodoh. 


"Apa dia berusaha buat deketin kamu lagi?" Marcel menoleh, mencoba melihat Anggi bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. 


Anggi tetap diam di tempatnya. Tidak menggubris sama sekali Marcel yang terus melihat seolah menanti jawaban dari Anggi. 


Satu detik, dua detik, Anggi tetap diam. Sampai akhirnya pintu lift itu akan tertutup, dia terpaksa bergerak untuk menahan tombol buka pada dinding lift tersebut. 


"Bukannya ruangan Bapak ada di lantai ini?" tanya Anggi dingin, masih dengan posisi menatap lurus ke depan. Membuat Marcel tersenyum, dengan gaya orang paling sok sedunia —di mata Anggi tentunya. 


"Kukira cuek, ternyata, kamu perhatian juga, ya? Kamu bahkan tau dimana letak ruangan aku,"


Marcel tersenyum lebar seakan mengejek Anggi yang perhatian padanya. 


Diam-diam, Anggi mendengus. Membuang muka ke arah samping dan berlagak seperti akan muntah. Demi apapun, dia tidak ingin mengetahui tentang Marcel sama sekaliwasjah sial, karena tahu hal itu dari teman-temannya di kantor tersebut. Anggi yang bisanya selalu mengincar pria-pria baru di perusahaan itu —mau tampan ataupun tidak— secara kilat mendapat berita mengenai Marcel. Apalagi, di mata orang-orang yang tidak kenal pria itu, Marcel adalah sosok pria tampan dengan tipe wajah campuran. 

__ADS_1


Benar-benar sangat menarik. 


"Gimana? Kamu mau nggak makan siang sama aku?"


Idih! Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa tiba-tiba dia mengajak makan siang bareng? Memangnya Anggi akan mau?


Dongkol dengan sikap Marcel yang sok dekat dengannya, Anggi pun sudah tidak peduli lagi dengan pria itu. Dia menekan tombol lift tertutup dengan harapan lift itu berjalan naik menuju lantai divisinya yang tepat berada satu lantai lagi. 


Melihat itu, Marcel salah paham. Dia pikir, Anggi ingin berlama-lama bicara dengannya, atau mungkin ingin pendekatan berdua dengannya di lift. Membuatnya semakin tersenyum lebar dan menatap wanita itu penuh minat. 


Ting! 


Namun sayang, kurang dari satu menit pintu lift tadi tertutup, kini mereka sudah berada di lantai tempat divisi Anggi berada. 


"Nggi? Aku kira kamu mau—"


Anggi yang merasa muak walau masih sebentar berada di sebelah Marcel, segera keluar dari kotak besi tersebut. Meninggalkan Marcel yang terpelongo, dengan tangan yang terangkat seakan ingin menggapai Anggi yang keluar. 


"Buset…." Keluh Marcel menatap Anggi, terputus dengan pintu lift yang kembali tertutup rapat. 


"Kayaknya… dulu dia nggak sedingin ini, deh,"


 


***


Siang ini, Anggi makan bersama Ditha. Teman satu divisinya yang sedang ingin curhat mengenai tunangannya yang overprotective. 


"Lo bayangin aja, Nggi! Gue baru menyat bentar aja, udah ditanyai sama dia! Gue telat balas chat dia lima menit aja, dia pasti udah ribut! Nelponin gue berulang kali sampai gue ngangkat itu telepon. Padahal kan, gue lagi kerja! Lo tau sendiri kadang kalo kita ada rapat suka lama banget baru kelar,"


"Kadang gue suka capek sendiri ngeliat kelakuan dia yang kayak gitu. Stress, gue!" keluh Ditha lagi, menyeruput jus terong belanda miliknya yang tersisa setengah. 


"Dia kayak gitu baru-baru ini, atau emang udah dari sononya?" tanya Anggi, segera dijawab oleh Ditha tanpa berpikir. 


"Dari sononya,"


"Lah, itu namanya sih, lo yang bego'!"


"Hah?"


Anggi menjatuhkan sedotan jus yang habis dia pakai ke dalam gelas, kemudian menatap Anggi dengan tangan yang terlipat di dada. 


"Lo ngeluh dan ngerasa capek sekarang sama sikap dia yang kayak gitu, sementara lo tau karakter dia yang seperti itu tuh, udah dari awal. Harusnya, kalo emang lo nggak siap sa sikap dia yang terlalu over, ya lo putusin dari jauh-jauh hari, dong! Bukannya malah lo jadiin tunangan! Gimana sih, lo?" hardik Anggi kesal, membuat Ditha sedikit terpelongo menatapnya. 


"Jadi, maksud lo… ini salah gue?" tanya gadis itu mengernyit, masih menatap heran pada Anggi. 


"Ya, iyalah! Masa salah gue!? Yang milih cowok itu buat jadi tunangan kan lo!" tuding Anggi lagi santai, tak ayal membuat Ditha merasa kesal hingga mendengus tidak percaya. 


Sejenak, gadis itu menggoyangkan kaca matanya sambil membuang pandangan ke arah lain. 


"Payah emang, curhat sama orang yang bahkan nggak pernah tau apa itu arti cinta yang sebenarnya," keluh Ditha seperti bergumam, namun sayangnya justru masih terdengar oleh Anggi. 

__ADS_1


"Apa? Apa lo bilang?!" pekik wanita itu meyakinkan telinganya, dimana Ditha yang mencibir dengan gerakan bibir seolah mengejeknya. 


"Eh, kunyuk! Bukan karena gue keliatan kayak gini, terus lo bisa mikir kalo gue nggak tau apa-apa, ya! Gue bahkan pernah berada di posisi yang lebih parah dari lo, tau!"


Anggi yang tabiatnya sekarang sudah gampang emosi, menjadi terpancing hingga membuat Ditha tertarik. 


"Eh? Lo berada di posisi yang lebih parah?" ulang gadis itu menatap tidak percaya, seketika membuat Anggi tersadar. 


Oh, tidak! Apa yang baru saja dia katakan? 


Dengan rasa penasaran, Ditha memajukan tubuhnya. 


"Posisi yang lebih parah itu… yang bagian mana?" tanya Ditha pelan, seakan berbisik, namun cukup terdengar dari jarak beberapa senti. 


Anggi yang merasa konyol karena tidak sadar sudah membuka aibnya sendiri terlihat mulai salah tingkah. 


"Y—ya….posisi yang lebih parah itu…." Anggi terlihat bingung. Apa yang harus dia bilang? Ya kali, dia mengatakan bagaimana kehidupan Anggi sebelum ini.


"Gimana? Bagian yang punya cowok posesif… atau—"


"Mbak Ditha, Mbak Anggi, kalian makan siang di sini juga?"


Anggi yang tadinya terlihat sedikit kelabakan, sontak menoleh mendapati Gavin —junior manis yang beberapa waktu ini menjadi hiburannya— berdiri tidak jauh dari meja yang sedang ditempati oleh dirinya dan juga Ditha. 


"Hei, Gavin Sayang! Kamu di sini ju—"


Sapaan Anggi yang beraroma centil dan menggoda itu mendadak terputus seiring dengan hadirnya seorang pria lain yang muncul dari arah belakang Gavin. Siapa lagi, kalau bukan Damar. Sang Mantan suami sialan, yang sangat Anggi benci keberadaannya. 


"Eh, lo berdua di sini juga?"


Pertanyaan dari pria itu boleh saja dilayangkan untuk Anggi ataupun Ditha. Tapi masalahnya, kenapa dia harus melihat ke arah Anggi terus? Membuat Anggi merasa mual saja. 


"Iya, nih. Kebetulan lagi pengen cari suasana lain aja pas makan siang," kata Ditha memperbaiki posisi duduknya. 


"Cari udara segar?" tanya Gavin menaikkan kedua alisnya, hanya dibalas senyum serta anggukan ringan oleh Ditha. 


Yah, sejujurnya sih ya, kenapa Anggi dan Ditha itu bisa makan siang di kafe dekat kantor daripada di kantin  tadi kan, ingin mendengarkan segala keluhan Ditha agar tidak terlalu suntuk memikirkan hubungannya. Lah, kenapa sekarang jadi Anggi merasa kalau pikirannya yang jadi suntuk? 


Ini pasti karena keberadaan Damar di depannya. 


"Oh, yodah lanjut kalo gitu! Gue sama Mas Andi nggak bakal ganggu kok,"


Gavin yang sepertinya sadar dengan tatapan tajam Anggi ke arah Damar, segera berinisiatif untuk menyeret laki-laki itu menjauh. Bagaimanapun, Gavin takkan pernah lupa kalau tidak pernah ada kata damai di antara Damar dan juga Anggi. Ya, walaupun dia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi di antara dua orang itu hingga bisa bersikap demikian. 


"Mau kemana? Di sini juga kosong, kan?"


Kedua mata Gavin membola, tatkala Damar menepis halus rangkulan tangannya dan mendekat ke arah kursi kosong yang ada di sebelah Ditha. 


Sambil tersenyum penuh makna, Damar menoleh ke arah Gavin sejenak. "Duduk di sini aja," perintahnya, lantas menoleh ke arah Ditha dan Anggi dengan senyuman yang kian melebar. 


"Nggak papa, kan?"

__ADS_1


 


...TBC...


__ADS_2