
Pagi itu, Anggi terbangun dengan perasaan mual luar biasa. Kepalanya pusing, dan tubuhnya hampir saja terbanting andai tidak segera berpegangan pada dinding wastafel yang ada di kamar mandinya.
Anggi memijit kepalanya dan duduk di atas kloset sambil memejamkan kedua matanya. Otaknya berpikir, apa kiranya hal yang bisa membuatnya merasa sangat tidak nyaman seperti ini. Perasaan, dia tidur masih menggunakan selimut dan pakaian yang panjang seperti biasanya. Jadi, tidak mungkin kan, kalau dia masuk angin? Ditambah lagi dengan udara dari mesin pendingin yang tidak kurang dari delapan belas derajat, pasti tidak akan membuat Anggi merasa sangat kembung seperti ini. Jadi, apa kira-kira hal yang bisa membuatnya seperti orang penyakitan begini? Mana dia harus segera bersiap untuk berangkat sekolah lagi…. Apa dia harus memberitahukan ibunya kalau dia sedang sakit, ya?
"Anggi, kamu dimana? Udah siap belum?"
Nah, baru saja dipikirkan, suara ibunya sudah terdengar di dalam kamar.
"Iya, Ma…. Anggi masih di kamar mandi!" teriak Anggi, berusaha bergerak, dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
Namun, belum sempat membuka pintu, dia perutnya sudah lebih dulu bergejolak hebat dan membuatnya muntah dengan menimbulkan suara yang cukup keras.
"HOEK! HOEK…!"
Brak!
"Hoek….!"
Suara muntahan serta kegaduhan yang Anggi timbulkan akibat berlari menuju wastafel, membuat Mira yang mendengarnya dari kamar langsung menuju kamar mandi dan membuka pintunya tanpa berpikir. Dia kira, anaknya terjatuh, dan membutuhkan pertolongan di dalam sana.
"Anggi!"
Mira yang melihat Anggi muntah-muntah dengan tubuh yang langsung jatuh ke atas lantai, berteriak dengan kencang dan mendekati putrinya tersebut.
"Anggi! Anggi! Kamu kenapa? Kamu sakit?! Nggi…!" panggil Mira panik, menepuk pipi Anggi yang terasa dingin, dengan tatapan mata yang kian sayup hampir tertutup.
"Anggi!"
Merasa kalau sesuatu memang sudah terjadi pada anaknya, membuat Mira langsung berlari dari dalam kamar mandi Anggi dan memanggil suaminya --Rian-- untuk meminta pertolongan.
Tidak berapa lama, Rian beserta dua orang asisten rumah tangga mereka datang mengerumuni Anggi yang tergeletak lemas di lantai. Dengan sigap, ayah Anggi langsung menggendong anak gadisnya tersebut keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di atas ranjang. Sambil terus memasang wajah panik, ayah Anggi tersebut pun lantas meneriaki siapa saja yang ada di sana untuk segera menghubungi dokter. Memintanya untuk datang ke rumah mereka, dan memeriksa keadaan si sulung yang pagi ini terlihat begitu pucat tidak berdaya.
Sekitar empat puluh menit menahan kecemasan, akhirnya dokter yang dipanggil oleh Mamanya Anggi datang juga dan memeriksa keadaan gadis berusia sekitar tujuh belas tahun tersebut.
"Menurut hasil pemeriksaan, anak Anda saat ini sedang mengandung." Simpul dokter tersebut, setelah menghembuskan napas beratnya memeriksa keadaan Anggi.
__ADS_1
Tentu, hal tersebut seketika membuat aura kecemasan di keluarga Anggi berubah menjadi aura kemurkaan.
"Apa?"
Dengan wajah yang sarat akan emosi, Rian segera mendekati dokter laki-laki tersebut, yang kini tengah memperbaiki posisi letak kacamatanya. Sepertinya, dia tengah terintimidasi oleh tatapan ayah Anggi terhadapnya.
"Putri Anda hamil. Dia--"
"Tidak! Tidak mungkin anak saya hamil! Dia itu masih kecil! Dan juga, dia belum menikah! Dokter jangan sembarangan ngomong!" seru Rian marah, menyela ucapan dokter tersebut, hingga sedikit merasa canggung.
Ya, mana dia tahu kalau anak itu masih kecil ataupun belum menikah. Dia kan hanya bertugas memeriksa keadaan Anggi dan menyimpulkan apa yang dia dapat. Lantas, kenapa dia dibilang hanya sembarangan bicara?
"Maaf, Pak. Kalau Bapak ingin hasil yang lebih jelas, silahkan bawa putri Bapak dan Ibu ke rumah sakit."
"Kamu…."
Greb!
"Jangan macam-macam kamu, ya! Saya bisa tuntut kamu karena sembarangan kasih hasil pemeriksaan!" ancam Rian marah, tak ayal membuat dokter muda tersebut merasa kesal dan melepaskan pegangan Rian di kerahnya sedikit keras.
"Terserah Bapak ingin mengancam saya seperti apa. Tapi, yang jelas, saya tidak pernah memberikan hasil pemeriksaan secara asal-asalan. Lebih baik, segera bawa putri Bapak dan Ibu ke rumah sakit terdekat. Saya permisi."
Mungkinkah putrinya saat ini sedang hamil?
Sementara itu, Mira --ibunya Anggi-- sudah terduduk lemas di ujung tempat tidur, begitu mendengar kalau putrinya saat ini tengah mengandung.
Demi apa? Demi apa anak yang selama ini dia kira selalu bertingkah normal dan tidak pernah macam-macam justru kedapatan sedang hamil? Dia itu belum menikah, dan sebentar lagi baru akan memasuki kelas tiga SMA. Tapi, kenapa dia sudah akan menjadi seorang ibu?
Ah, tidak! Semua ini membuat kepala Mira ingin pecah.
"Kita bawa dia ke rumah sakit."
Di antara keheningan yang tercipta sejak dokter muda yang memeriksa Anggi tadi pergi, semua perhatian orang --dua asisten rumah tangga yang sejak tadi di situ-- tertuju kepada Rian.
Dengan tatapan mata menyala serta tangan yang bertolak di pinggang, pria paruh baya itu menatap tajam sosok Anggi yang masih tergolek tidak berdaya di atas ranjang. Pikir mereka, Rianpasti berada di ambang rasa sedih, marah dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
❄
Seperti tenggelam di dalam kolam es, tubuh Anggi terasa membeku mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh orang tuanya tentang keadaannya. Tidak tahu sejak kapan, Anggi dinyatakan hamil oleh rumah sakit yang saat ini mereka datangi. Padahal sebelumnya, Anggi hanya ingat kalau dia pingsan di dalam kamar mandi ketika Mira membangunkannya untuk berangkat ke sekolah.
"Siapa laki-laki itu?"
Rasanya tubuh Anggi sudah tidak bisa digerakkan lagi, tatkala suara datar ayahnya terdengar di sudut ruangan. Demi Tuhan, saat ini mereka masih berada di ruang UGD rumah sakit dan mungkin akan menjadi bahan perhatian banyak orang.
"Anggi," panggil ayah Anggi rendah, namun terkesan menyimpan kemarahan, dan membuat tubuh Anggi terasa kian menggigil.
Sambil memeluk tubuhnya sendiri di atas bangkar, Anggi menghindari tatapan ayahnya yang semakin terasa panas, meski tidak mengeluarkan api sekalipun.
Bagaimana ini? Kenapa dia bisa hamil? Maksudnya, kenapa harus sekarang? Meskipun dia benar-benar ingin menjadi ibu dari anak-anak Damar, bukan berarti ini saat yang tepat baginya untuk mengandung. Dia masih SMA, dan baru akan tamat sekitar beberapa bulan lagi. Terlebih Damar, yang baru akan masuk ke sebuah perguruan tinggi. Pasti akan sangat sulit bagi mereka untuk mengurus seorang anak di usia yang masih sangat muda seperti ini. Apalagi, Anggi tidak yakin kalau orang tuanya akan setuju Anggi menikah, di saat sekolahnya saja belum selesai.
"Anggi!" teriakan Rian yang tiba-tiba saja menggema memenuhi ruang UGD mengagetkan Anggi yang melamun.
Sontak, anak remaja itu menoleh dan menatap ngeri pada ayahnya yang tampak seperti orang yang siap akan berkelahi.
Sepertinya amarah sudah membuat ayahnya lupa, kalau mereka masih ada di rumah sakit saat ini.
"Pa,"
Seolah sadar dengan posisi mereka sekarang, Mira --dengan wajah pucat dan derai air mata-- menyentuh lengan Rian yang berkacak pinggang di depan Anggi.
"Kita bicarakan ini di rumah." Mohon Mira lesu, menundukkan kepalanya dalam sambil mencengkram lengan Rian kuat.
Sedangkan Rian, yang tampak sangat marah itu, menarik napas panjang dan membuang pandangannya ke arah lain. Entah kenapa, dia merasa seluruh dunia terasa begitu gelap dan sempit, begitu tahu kalau putrinya sedang hamil.
"Baik…. Kita bicarakan ini di rumah."
Lalu, tanpa banyak kata, Rian keluar dari ruang UGD meninggalkan Mira beserta Anggi yang masih terbengong kaku di atas bangkar.
Sekilas menatap wajah lesu ibunya sebelum pergi, Anggi hanya bisa menundukkan kepalanya dalam.
__ADS_1
"Gimana ini?"
Bersambung