The Last Chance

The Last Chance
Bagian Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Hari sudah mendung, bertepatan dengan sepeda motor Damar yang mulai memasuki pekarangan rumah. Dengan wajah yang terlihat lebih ceria, dia turun dari atas motor besar miliknya, yang sudah dia parkir kan di garasi. Bersiul sambil memainkan kuncinya dengan jari, dan berjalan memasuki pintu utama kediaman keluarganya. 


"Damar!"


Saat melewati Ranti –yang tidak disadari oleh Damar sejak tadi sudah duduk di kursi beranda rumah–, siulan Damar berhenti. Dia tampak lumayan kaget, dengan tatapan mata ibunya yang sore ini terlihat cukup tajam. 


"Ma,"


Sedikit kikuk, Damar mengulum bibirnya yang tadi mengerucut mengeluarkan siulan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, dengan tubuh tegap seiring dengan Ranti yang berdiri dari kursi beranda tempat duduknya. 


"Mama perhatikan, akhir-akhir ini kamu cepat banget pulang dari kampus. Kenapa? Apa kamu ada masalah sama teman-teman kuliah kamu?" tanya Ranti, mendekapkan tangannya di dada, menatap intens wajah Damar. 


"Hah? Enggak kok, Ma. Emang…. kalo Damar pulang cepat, berarti Damar ada masalah, ya?" sahut Damar santai, ingin meninggalkan Ranti begitu saja. 


"Eh, mau kemana? Mama belum selesai bicara!" sergah Ranti, menahan lengan Damar yang dia tahu akan pergi dari hadapannya. 


"Ada apa lagi sih, Ma…." 


Damar menoleh dengan gaya yang sedikit malas, namun berusaha tersenyum pada ibunya. Membuat Sang Ibu merasa curiga, dengan mengernyitkan dahinya cukup dalam. 


"Kalo nggak ada masalah sama teman-teman kuliah kamu, berarti…." Ranti menoleh sekilas ke arah pintu rumah mereka yang terbuka. 


"Apa perempuan sialan itu yang maksa kamu?" tanya wanita itu kemudian agak berbisik, membuat Damar kaget hingga kedua kedua matanya melebar. 


" Pe–perempuan sialan?" ulang Damar tidak menyangka, yang mana Ranti justru terlihat begitu santai dengan menghelakan napas berat. 


"Apa si Anggi itu bikin ulah lagi sama kamu, hah? Apa katanya? Apa dia ngancam kamu biar kamu bisa pulang cepat setiap hari?"


"Ma,"


"Kalo memang iya, bilang sama Mama, biar Mama kasi pelajaran anak satu itu! Berani-beraninya dia ganggu kamu, setelah dia ngikat kamu dalam pernikahan nggak berguna semacam ini. Apalagi alasannya? Bayi yang ada di dalam kandungannya itu? Dia jadikan bayi itu sebagai alat buat mengikat kamu untuk lebih dekat lagi sama dia? iya?!"


"Ma,"


Ranti kembali menarik napas panjang dan membuangnya, kemudian memegang kedua bahu Damar lumayan keras. 


"Dengerin Mama ya, Damar! Apapun yang dia lakuin sama kamu, kamu nggak usah takut. Kamu bilang aja sama Mama. Perempuan brengsek itu memang harus dikerasin! Karena kalau enggak, dia bisa ngelunjak! Kamu ingat, gimana reaksi Papa kamu dulu waktu maksa kamu nikahin Anggi? Itu pasti karena perempuan sialan itu udah menghasut Papa kamu, Damar! Jangan percaya sama semua yang dia bilang sama kamu! Kamu harus bisa memilahnya! Ingat, gimana sekarang kehidupan kamu dan pandangan Papa kamu akibat perbuatan dia."


Damar melihat satu per satu mata Ranti yang menatapnya. Dari sini, Damar bisa melihat ada kebencian yang teramat besar tergambar dari kilat mata ibunya itu terhadap Anggi. Dan tentu alasannya, karena Ranti merasa kalau kehidupan Damar jadi berantakan karena kehadiran Anggi dan bayi yang ada di rahim perempuan itu.


Berusaha untuk tidak memancing emosi Ranti lebih dalam, Damar mencoba untuk tersenyum. Dia tidak ingin mengakui pada Ranti, kalau alasan dia pulang lebih cepat akhir-akhir ini memang karena Anggi dan anak mereka. Bisa-bisa, ibunya akan semakin berang dan semakin mengomelinya.

__ADS_1


"Enggak kok, Ma. Semua aman. Nggak ada yang ngancam Damar sama sekali, termasuk Anggi. Damar pulang lebih cepat dari biasanya juga, ya karena sekarang kan emang lagi musim ujan aja. Malas kalo harus neduh di tempat tongkrongan tiap hari. Mama tau sendiri kan, kalo uang saku Damar itu udah dikurangin sama Papa. Jadi, nggak bisa keluar tiap hari juga," kilah Damar, sambil menurunkan tangan Ranti dari bahunya. 


"Mama yang akan nambahi uang saku buat kamu! Kamu harus lebih sering bergaul sama teman-teman kamu di kampus. Mama takut, kalo kamu keseringan pulang cepat gini dan kelamaan di dalam kamar, istri kamu itu bakal cari kesempatan buat gangguin kamu," ujar Ranti tegas, kembali melipat kedua tangannya di dada. 


Mendengar hal itu, sontak saja kedua mata Damar melebar. Bagaimanapun juga tambahan uang saku masih menjadi godaan paling besar bagi Damar. 


"Beneran?" tanya pemuda itu refleks, dengan senyuman lebar khas anak kecil yang sedang dijanjikan mainan keren oleh ibunya. 


"Hm…. Karena itu, mulai besok, kamu nikmati aja masa muda kamu bareng teman-teman kampus kamu. Nggak usah khawatir soal uang, karena ada Mama yang bakal ngurus semuanya," kata Ranti mengangguk, lantas membuat wajah Damar kian gembira. 


"Mama emang paling oke! Makasih, Ma!" ujar Damar senang, memeluk tubuh Ranti sebentar. 


"Iya, sama-sama," balas Ranti, melihat Damar yang sudah melepaskan pelukannya. 


"Sekarang kita masuk. Kayaknya ujan udah mulai turun."


 


...***...


 


Di dalam kamar, Anggi menatap resah ke arah luar jendela. Jarinya saling meremas satu sama lain, sambil sesekali melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. Wajahnya terlihat resah, ketika dia menghembuskan napas berat beberapa kali. 


Sebenarnya, Anggi juga merasa sedikit bingung. Pasalnya, beberapa waktu belakangan ini Damar terlihat berbeda. Maksudnya bukan dari segi penampilan, melainkan sikapnya seperti berubah sekitar seratus delapan puluh derajat. Meskipun tidak bertolak belakang sekali seperti sebelumnya, tapi sikap Damar terhadap Anggi sekarang bisa dikatakan jauh lebih baik. 


Dimulai dari cara bicaranya yang selalu memperhatikan Anggi, pulang kuliah selalu tepat waktu alias tidak keluyuran dulu bersama teman-temannya, sampai melakukan banyak interaksi dengan Anggi seperti ; selalu menanyakan Anggi apakan sudah makan atau belum, juga bertanya kabar Anggi selama Damar pergi ke kampus. 


Semua terlihat seperti Damar itu adalah sosok suami yang sangat peduli terhadap Anggi. Meskipun kadang kala Damar terlihat sedikit ketus, tapi Anggi bisa memakluminya sebagai sikap manja Damar terhadapnya. Ya, walaupun mungkin itu tidak benar, tapi demi kenyamanan hati Anggi sendiri, dia akan menganggapnya seperti itu. 


Suara pintu kamar yang terbuka, memancing perhatian Anggi untuk menoleh ke belakang. Ketika dia melihat yang masuk itu adalah Damar, dia langsung berlari menghampiri pemuda itu dan memeluk perutnya dengan erat. 


"Kak Damar, udah pulang," ucap Anggi setengah berseru, di dada Damar yang tampak bingung melihatnya. 


"Iyalah, udah pulang. Kalau belum, gimana kamu bisa meluk aku sekarang?" sahut Damar agak menahan tawa, melihat wajah Anggi yang setengah cemberut menatapnya. 


"Biasanya Kakak pulangnya cepat. Tapi, kok sekarang agak lama, sih? Kakak… main sama temen-temen Kakak dulu, ya?" tanya Anggi hati-hati, di bagian akhir kalimatnya sambil menatap Damar sedikit sungkan. 


"Enggak," geleng Damar. 


"Terus, kenapa Kakak lama? Kakak nggak keujanan, kan? Baju Kakak nggak basah, kan?"

__ADS_1


Terdengar sangat cerewet, Anggi mulai fokus dengan wajah dan pakaian Damar. Melihat apakah suaminya itu sempat terkena hujan saat pulang ke rumah tadi, atau tidak. Secara, sudah turun sekitar beberapa menit sebelum dia mendapati suaminya itu masuk kamar. 


"Aku udah pulang dari tadi kok, Nggi. Cuma, tadi diajak ngobrol dulu sama Mama di teras," jelas Damar, kali ini membuat Anggi seolah mengerti. 


"Oh, begitu…." Angguk Anggi lantas berbicara begitu pelan. "Kirain," katanya lagi. 


Sesaat, keduanya terdiam. Damar hanya memandang Anggi yang entah sedang memikirkan apa. Lalu, saat melihat hujan yang mengalir di kaca jendela kamar, tiba-tiba Damar terpikirkan akan sesuatu. 


"Kamu jangan terlalu dekat sama perempuan itu. Bahaya…! "


Damar mengerjapkan kedua matanya. Hujan-hujan begini, bukankah lebih enak kalau bermesraan dengan pasangan, ya? Apalagi mereka sudah sah sebagai suami istri. Tapi, Kata-kata Ranti, ibunya Damar, sesaat lalu, entah kenapa membuat Damar menjadi sedikit bingung. Satu sisi, dia ingin tetap menjadi seorang anak yang penurut bagi ibunya. Tapi, satu sisi lagi, dia merasa senang di sisi Anggi. Seperti ada kebahagiaan tersendiri, yang selama beberapa waktu ini sudah coba dia abaikan. 


"Nggi," panggil Damar tiba-tiba, membuat Anggi yang tadi menunduk, mengangkatkan kepala. 


"Hm?"


"Gimana, kalo mulai besok kita jalan-jalan ke luar? Selama pindah ke rumah ini, kita belum pernah jalan-jalan keluar sekalipun, kan?" tawar Damar berbinar. 


"Jalan-jalan?" ulang perempuan itu terlihat sedikit bingung. 


"Hm, jalan-jalan!"


"Ke mana?"


"Ya, ke mana aja! Ke taman, kek, mall, kek, atau… taman hiburan. Ke mana aja!"


"Tapi, kuliah Kakak gimana? Masa iya, Kakak mau bolos," tanya Anggi heran, yang mana Damar yang tadinya tersenyum berdecak sedikit sebal. 


"Ya abis pulang kuliah dong, Anggi…. Ya kali aku mau bolos? Yang ada, kalau Papa sampai tau, aku bakal digantung! Emang kamu mau, jadi janda di usia dini?!" sembur Damar sekonyong-konyong, sontak membuat Anggi lebih kaget lagi sampai menggelengkan kepalanya panik beberapa kali. 


"Enggaklah, Kak! Enak aja! Gimana, sih! Jangan ngomong sembarangan, ah…! Omongan itu doa, tau!" tegur Anggi muram, namun sarat akan raut jengkel di wajahnya. 


"Ya abisnya, pertanyaan kamu juga yang aneh-aneh aja. Mana mungkin sih, aku berani buat bolos kuliah, sementara aku tau, Papa itu sering tiba-tiba ngecek sama pihak kampus. Gila kali, ah…." Ujar Damar bergidik. 


Mendengar hal itu, Anggi hanya diam. Menggembungkan pipinya yang terlihat berisi sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


Sebenarnya, dia penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Damar dan ibu mertua Anggi sebelum pria itu masuk ke kamar sesaat lalu. Hanya saja, dia tidak berani bertanya. Pikirnya, mungkin Damar akan merasa tidak nyaman, dengan menganggap Anggi terlalu ingin tahu urusan Damar dan ibunya. 


"Ya udah, pokoknya, besok pulang kuliah aku bakal ajak kamu jalan-jalan ke luar. Hm, ke mana dulu ya, enaknya? Taman? Mall?"


Sedang larut dalam pikirannya, Anggi sedikit terkejut ketika Damar memeluk perut Anggi dengan kedua tangannya. Memutar sedikit tubuh perempuan itu menghadap jendela, dengan posisi Damar yang kini sudah memeluknya dari arah belakang. 

__ADS_1


"Ujan-ujan gini…. Enaknya kita ngapain, ya?"


......TBC......


__ADS_2