The Last Chance

The Last Chance
Bagian tiga puluh sembilan


__ADS_3

Anggi yang masih merasa kesal, akhirnya tiba di lantai dasar gedung tempat dia bekerja. Dengan emosi yang masih membara, dia berjalan menuju pintu keluar bangunan tersebut, demi mencari sedikit udara segar. 


Saat dia akan melewati pintu, bahunya tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang akan masuk. 


Bugh! 


"Oops, sory," ucap Anggi refleks, hendak langsung pergi meninggalkan orang yang bersinggungan dengannya barusan. 


Namun, bukannya membiarkan Anggi pergi, lengan wanita itu justru ditahan oleh orang di belakangnya. 


"Tunggu!" seru orang tersebut, membuat Anggi berpaling.


Untuk beberapa saat, Anggi dan orang itu --yang ternyata adalah seorang pria-- saling menatap satu sama lain. Sampai akhirnya pria tersebut tersadar, setelah sebelumnya mengernyitkan dahinya sedikit samar melihat Anggi. 


"Kamu… Anggi, kan?" tunjuk orang itu ke Anggi, yang sontak saja membuat Anggi menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. 


Siapa orang ini? Pikir Anggi, yang terlihat jelas di wajahnya kalau dia seperti tidak kenal dengan orang di hadapannya. 


"Hei, aku Marcell! Kamu lupa? Aku temen kuliah kakak kamu dulu. Si Arkan! Ingat?" ujar pria itu semangat, masih menahan sebelah lengan Anggi seolah dia lupa untuk menjauhkan tangannya dari sana. 


Tampak sedikit berpikir keras, Anggi berusaha mengingat wajah cerita orang di depannya itu, sebelum akhirnya dia mengingat akan satu nama. 


Ah, ya… Marcell. Pikirnya, sontak memasang wajah datar menatap laki-laki itu. 


Bukannya merasa senang karena bertemu dengan kawan lama, Anggi malah terlihat begitu malas hingga tidak sadar memutar kedua bola matanya dan berdecak. 


Demi Tuhan, belum juga selesai urusannya dengan Damar, sekarang dia justru dihadapkan dengan pria yang selalu menjadi duri dalam hubungan pernikahannya bersama Damar dulu. Bukannya menghilang bagaikan sebuah gelembung, kenapa pria itu malah muncul di hadapannya seperti ini, sih? 


Benar-benar sial sekali rasanya hidup Anggi. 


"Lama nggak ketemu. Kamu sedang apa di sini?" tanya pria itu semangat, entah kenapa beralih memegang sebelah telapak tangan Anggi yang tadi dia tahan. 


Bersamaan dengan itu, Damar yang memang belum puas berbicara dengan Anggi tiba di belakang pria bernama Marcell itu dan melihat apa yang membuatnya semakin kesal. 


Oh, God! Siapa lagi cowok ini? Pikir Damar keki, mendengus ke arah lain sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. 

__ADS_1


Sementara itu, Anggi yang merasa tidak begitu dekat dengan Marcell --terlebih apa yang terjadi di masa lalu karena pria itu-- hanya memandang wajah keturunan eropa itu sengit. 


"Lepasin tangan gue!" perintah Anggi datar, namun penuh aura permusuhan dan membuat pria bernama Marcell itu mengedip beberapa kali. 


Tunggu, seingatnya Anggi itu adalah perempuan yang sangat manis dulu. Bukannya ketus seperti ini dan membuatnya merasa sedikit canggung dengan arti tatapan Anggi terhadapnya. 


"Oops, sory," ucap Marcell tertawa kecil, sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. 


"Aku benar-benar kaget ketemu sama kamu lagi di sini. Setelah kejadian di pesta waktu itu, aku penasaran banget sama apa yang terjadi dengan kamu dan anakmu. Aku pengen nemuin kamu lagi, tapi malah nggak bisa karena besoknya aku harus langsung terbang ke Australia," ungkap pria itu sedikit panjang, jelas dengan raut wajahnya yang serius. 


"Kamu masih sama suami kamu itu? Siapa namanya? Aku lupa,"


"Ehm!"


Belum mendapat jawaban apapun dari Anggi, Marcell menolehkan kepalanya ke arah belakang. Tepat di sana, berjarak kurang dari tiga meter, seorang pria dengan raut wajah yang dia kenal tampak memandangnya dengan sorot mata tidak suka. 


"Ah…, gue kenal muka itu," gumam Marcell, langsung memasang raut wajah yang masam. 


"Kamu masih sama dia?" tanya Marcell ke Anggi, yang hanya menghelakan napasnya panjang seolah tidak peduli. 


"Gimana dengan keadaan anak kamu? Apa dia baik-baik aja? Terakhir yang aku lihat, dia…"


"Udah nggak ada."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Marcell terkejut mendengar jawaban yang Anggi berikan. 


"Udah nggak ada?" beo pria itu kaku, lantas mengernyit. "Maksudnya?"


Tidak tahan atau lebih tepatnya takut kalau mood Anggi akan berubah semakin buruk, Damar lantas mendekati perempuan itu dan berbicara kepada Marcell.


"Kelamaan di luar negeri, bikin lo nggak paham sama Bahasa Indonesia lagi, ya? Kalau udah nggak ada itu, ya nggak ada! Kenapa lo harus nanya-nanya mulu, sih?!" cecar Damar tidak suka, dengan suaranya yang lantang dan membuat mereka menjadi pusat perhatian. 


Dalam hitungan satu sampai lima, Marcell dan Damar hanya diam saling menatap satu sama lain. Namun pada detik berikutnya, Marcell justru melemparkan seutas lebar --terlihat sinis-- kepada Damar. 


"Gue paham sama maksud Anggi yang bilang nggak ada, karena gue ada di sana waktu kejadian lo ninggalin dia. Gue cuma penasaran, sama reaksi lo kalau gue ungkit masalah ini lagi,"

__ADS_1


"Apa?!"


Tidak menyangka kalau Marcell akan berani memprovokasinya, membuat Damar begitu berang dan hampir memberikan pukulan di wajah Damar, seandainya saja Anggi tidak mencuri perhatiannya. 


"Gue harus pergi, karena ada urusan yang lebih penting. Jadi…."


Anggi menganggukkan sedikit kepalanya ke arah Marcell, kemudian meninggalkan dia pria itu di belakang dengan ekspresi wajah yang terbengong beberapa saat. 


"Nggi!"


Saat Damar ingin mengejar Anggi, gantian tangannya yang ditahan oleh Marcell. 


"Dari gelagatnya, sih… dia masih benci sama lo, ya?" terka Marcell sinis, tertawa mengejek kepada Damar. 


"Diam lo!"


"Dari apa yang lo lakuin sama dia dulu, bakal keliatan aneh banget kalau dia mau nerima lo lagi jadi suaminya. Dan biar gue tebak, dia pasti udah menceraikan lo setelah kejadian pesta ulang tahun itu. Benar, kan?" kata Marcell lagi dengan sebelah alis yang terangkat, hingga membuat Damar semakin merasa terbakar dan berniat sekali memukul wajah pria di depannya. 


"Lo--"


"Mas!"


Belum sempat Damar memberikan pukulannya kepada Marcell, tiba-tiba juniornya di divisi pemasaran datang dan mencegahnya melakukan tindak kekerasan di tempat mereka bekerja. 


Sedikit memasang wajah heran, Gavin mendekat dan menepuk sebelah bahu Damar sedikit pelan. 


"Lo kenapa? Ada masalah?" tanya Gavin, yang ternyata sudah memperhatikan Damar sejak dia berteriak kepada Marcell tadi. Hanya saja, dia tidak mau ikut campur, sampai akhirnya dia tahu kalau Damar mungkin akan membuat kekacauan di tempat mereka kalau tidak segera dicegah. 


Menghempaskan napas panjang, Damar yang tampaknya sedang kacau, hanya memandang sengit Marcell sekali, sebelum akhirnya berjalan melewati Gavin menuju ruangan lift tanpa berbicara sama sekali. 


"Hmph! Tempramennya banget, sih…." Dengus Marcell pelan, terdengar jelas oleh Gavin, sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan Gavin seorang diri. 


Bersambung….


Next Part, insya Allah ntar siang, ya.... 😅😅

__ADS_1


__ADS_2