The Last Chance

The Last Chance
Bagian empat puluh satu


__ADS_3

Malam harinya, Arkan yang sudah berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya di kantor, datang ke apartemen Anggi seperti biasa. Dia melangkah dengan derap yang lesu, sampai akhirnya dia tiba di depan pintu unit apartemen perempuan itu. 


Sesaat, Arkan hanya terdiam di tempatnya sambil memandang pintu kayu tersebut. Dalam hati, dia menduga kalau Anggi sudah berada di dalam sana. Ya, walaupun saat di parkiran tadi dia tidak ingat untuk memperhatikan mobil Anggi, tapi dia yakin kalau sepupunya itu sudah ada di dalam sana, mengingat ini sudah pukul sembilan malam. 


Sebagai orang yang selalu tahu nomor kombinasi untuk membuka pintu apartemen Anggi, Arkan lantas menekan empat tombol di sana dan menarik napas panjang. 


Setelah terbuka, dia pun langsung masuk dan mendapati Anggi tengah berdiri di dekat jendela ruang tamunya sambil memandang jalanan kota dalam suasana yang temaram. 


"Lo lagi hemat listrik, apa gimana? Gelap benar," sindir Arkan, sambil menekan saklar lampu yang ada di dekat pintu masuk. 


Saat lampu sudah menyala, Arkan bisa melihat kalau Anggi sedang memunggunginya dengan sebuah botol minuman yang mengandung alkohol di tangannya. 


Oh, my God! Jangan bilang wanita itu ingin merusak dirinya lagi. Benar-benar keterlaluan. 


"Kayaknya lo itu emang udah bosan hidup, ya? Bisanya ngerusak badan dengan minuman kayak gini. Kalau emang mau cepat mati, langsung minum racun aja! Jadi, nggak bakal nyusahin orang kalau sampai sakit,"


Arkan berjalan sambil mencecar Anggi dengan kalimatnya yang tajam. Saat mencapai perempuan itu, Arkan baru sadar, kalau ternyata Anggi sedang menangis sambil menatap ke arah luar jendela. 


"Nggi," panggilnya kaget, melihat air mata begitu deras keluar dari kedua mata Anggi. 


Ya, Tuhan…. Karena, apa lagi sekarang? Batin Arkan mendadak pusing, dan membuatnya merasa kalau pingsan itu jauh lebih baik. 


"Dulu, dokter bilang, kalau anak yang bakal gue lahirin nanti itu anak perempuan. Gue senang banget waktu tau, kalau gue bakal punya teman buat cerita waktu gue tua nanti. Tapi, ternyata…."


Anggi menarik isakan tangisnya sejenak dan mengusap jendela ruangannya dengan tangan yang bergetar. 


"Anak gue nggak lahir-lahir sampai sekarang. Dia malah pergi. Dia bahkan nggak ngizinin gue buat dengar suara tangisannya waktu pertama lahir. Padahal, gue udah pengen banget, dengerin suaranya waktu nangis. Pasti merdu banget, deh. Tapi…."


Lagi-lagi, Anggi menahan kalimatnya dan membuat Arkan semakin bertambah pusing.


Dengan sabar, Arkan merangkul sebelah bahu Anggi dan mengusapnya beberapa kali. 


"Gue tau lo sedih, Nggi…. Nggak ada orang tua yang nggak akan sedih kalau kehilangan anaknya. Tapi masalahnya adalah, lo nggak boleh meratapi kepergian anak lo. Dia udah tenang. Tuhan sayang sama dia, dan nggak membiarkan dia merasakan sakitnya hidup di dunia ini. Jadi, yang bisa lo lakuin sekarang sebagai seorang ibu, ya terus berdoa. Terutama untuk diri lo sendiri," kata Arkan menasihati Anggi, tak ayal membuat Anggi semakin menangis sedih mendengarnya. 

__ADS_1


Perlahan, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkan, dan menumpahkan segala kesedihan serta luka yang dia rasakan di sana.


"Seandainya dulu Kak Damar percaya…. Mungkin kami bakal mengingat tanggal hari ini bareng-bareng," ucap Anggi parau, tanpa sadar menghentikan tangan Arkan yang sedang mengusap sebelah lengan Anggi. 


Kak Damar? Pikir Arkan sejenak, menangkap nada kesedihan yang begitu mendalam dan juga pengharapan yang besar dari suara Anggi. 


"Kalau aja dulu dia nggak pergi ninggalin gue, mungkin sekarang gue bakal nangis dalam pelukan dia dan bilang, kalau ini adalah hari kepergian anak perempuan kami delapan tahun yang lalu,"


Seketika, tubuh Arkan ikut menegang dengan ucapan yang baru saja Anggi lontarkan. 


Dan dengan wajah yang masih basah dengan air mata, Anggi menegakkan tubuhnya menatap Arkan yang terdiam. 


"Kan," panggilnya bergetar, dengan bibir yang berkerut menahan tangis. 


"Hari ini…. Hari peringatan kepergian anak gue."


***


Berdasarkan alamat yang diberikan oleh Prissa, jam 11 malam Arkan tiba di apartemen tempat Damar tinggal saat ini. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi kecerewetan dokter cantik yang dibuatnya tersinggung siang tadi. Setelah menerima berbagai macam omelan khas seorang wanita yang tersinggung, akhirnya Prissa mau memberikan alamat tempat tinggal Damar untuknya. 


Tidak berapa lama, Arkan sudah berdiri di depan ruang lift yang ada di basement. Dia ingin naik ke lantai 16, tempat dimana unit Damar berada. Namun, belum sampai lift yang dia tunggu terbuka, seorang pria datang dan berdiri di sebelahnya seolah tengah menunggu lift yang sama. 


Refleks menoleh, Arkan melihat raut wajah kusut Damar yang seperti tidak sadar dengan keberadaan Arkan di sana.


Pakaiannya berantakan, dan tatapannya begitu kosong menatap apa yang ada di depannya. Rambutnya juga terlihat acak-acakan, dan tercium bau alkohol dari tubuh Damar yang berdiri tidak jauh darinya. 


"Damar itu mudah depresi. Apalagi kalau itu berhubungan sama Anggi. Dia jadi sering lepas kendali dan nggak sadar dengan apa yang baru aja dia lakuin."


Omelan Prissa saat Arkan menanyakan tempat tinggal Damar tadi, tiba-tiba terdengar memenuhi kepada Arkan. Dia jadi kepikiran, apa benar yang dikatakan oleh perempuan cerewet itu mengenai Damar? Ini bukannya akal-akalan dua saudara itu untuk meraih simpati Arkan membantu Damar kan? 


"Kebiasaan lo minum-minum kayaknya semakin menjadi, ya?" sindir Arkan pada Damar, yang mana pria itu langsung menoleh ke arahnya. 


Dengan dahi yang berkerut dalam, Damar memperhatikan sosok Arkan yang kini tengah menatap angkuh kepada dirinya. Seolah terkejut dan tidak percaya dengan mantan sahabat yang kini datang ke tempat tinggalnya. 

__ADS_1


"Arkan?" gumam Damar menggeleng sekali, sepertinya ingin menghalau rasa pening yang sejak tadi dia rasakan. 


"Hmph! Baru sadar lo, gue di sini?" sinis Arkan sebal, sambil mendengus. 


Tampak Damar menjadi sedikit salah tingkah. Dia menoleh ke kiri dan kanan, seolah tengah mencari sesuatu yang kiranya menjadi alasan Arkan datang ke tempat itu. Pikirnya, tidak mungkin kan, Arkan datang ke sana khusus untuk menemuinya? Tolong ingatkan Damar kalau Arkan terlihat sangat tidak suka dengan keberadaan Damar di hadapannya. 


"Gue ke mari karena pengen ketemu sama lo," seolah tahu dengan isi kepala Damar, Arkan mengungkapkan alasannya berdiri di tempat itu. 


"Hah? Pengen ketemu gue?" beo Damar bodoh, tampak seperti orang linglung dengan menunjuk dirinya sendiri. 


Semakin terlihat sebal, Arkan kembali mendenguskan napasnya kasar dan memijit pelipisnya geram.


Ya, Tuhan…. Kenapa tiba-tiba dia menyesal sudah datang ke tempat itu? Bukankah harusnya dia pulang ke rumah dan berendam dalam air hangat sebelum akhirnya berlabuh di atas ranjang yang empuk? Lantas, kenapa dia harus berdiri di sana dan berhadapan dengan pria mabuk seperti Damar ini? 


Haruskah dia pulang sekarang? 


"Gue datang ke mari karena pengen ngomongin sesuatu sama lo. Tapi, kayaknya lo lagi nggak siap dengan apa yang bakal gue bicarain sekarang. Jadi, sebaiknya gue pulang, karena--"


"Tunggu!" sergah Damar memotong, dengan mengangkat sebelah tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. 


"Gue siap. Kayaknya, gue cuma agak pusing aja sekarang. Bentar…."


Damar tampak melepaskan tangannya dari lengan Arkan yang tadi sempat dia pegang untuk mencegah pria itu berbicara. Dia tampak seperti orang yang tidak waras, dengan memukul-mukulkan kepalanya beberapa kali demi menghilangkan rasa pening yang sepertinya sangat tidak mungkin hilang dalam sekejap. 


"Bentar…. Gue siap buat bicara…. Bentar…. Tunggu…."


Terdengar meracau, Arkan terlihat sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sepertinya, Damar tahu kalau yang ingin dibicarakan Damar sekarang adalah soal Anggi. Dan dia terlihat berusaha keras untuk sadar dan fokus, karena tidak ingin kehilangan satu katapun yang menyangkut soal mantan istrinya. Dan hal itu, mampu membuat Arkan sedikit tersentuh, hingga menghelakan napas berat tanda menyerah. 


"Sebelumnya…. Lo tau nggak, ini hari apa?" tanya Arkan pelan, melihat Damar yang tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya yang memukul kepala. 


Sedikit tegang, pria itu tampak menoleh ke arah Arkan dan menatap sepupu dari Anggi itu dengan tatapan tidak terbaca. 


Beberapa saat tidak bersuara dan saling memandang dalam diam, Damar pun akhirnya membuka suara dengan sorot matanya yang terlihat semakin redup. 

__ADS_1


"Hari ini…. Hari kepergian anak kami."


Bersambung….


__ADS_2