The Last Chance

The Last Chance
Bagian Lima Puluh Satu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Anggi hanya diam. Dengan Arkan yang duduk di sebelahnya, dia tampak suntuk hingga menyandarkan kepalanya ada jendela, ketika mobil yang dia kendarai harus berhenti di lampu merah. 


"Sekeras apapun gue berusaha berpikir kalau memang nggak ada hal buruk yang terjadi antara lo sama dia, tetap aja. Pengalaman mengajarkan gue kalo lo berdua memang nggak pernah baik-baik aja."


Arkan bergumam, menatap lurus ke depan, yang mana Anggi hanya bisa mendesahkan napas panjang. 


"Kalo gitu ya nggak usah usaha. Kenapa repot, sih," sahut Anggi pelan, menatap jalanan di sampingnya, yang mana Arkan sudah langsung menatapnya begitu tajam. 


Tentu, Anggi belum melihat hal itu karena pandangannya yang berlawanan arah dengan Arkan. 


"Berarti benar, sesuatu yang buruk udah terjadi tadi malam!" kata Arkan, kemudian secepat kilat menarik kedua bahu Anggi dan membuat wanita itu terkejut. 


"Bilang sama gue, apa yang udah terjadi tadi malam! Si brengsek itu ada ngelakuin apa sama lo?! Apa dia ngelecehin lo lagi? Bilang! Bilang sama gue, biar gue kasih pelajaran cowok nggak berotak itu! Cepat! Bilang!"


Tidak nyaman dengan posisi bahunya yang diguncang-guncang oleh Arkan, membuat Anggi sebal dan merentakkan tangannya secara kasar. 


"Apaan sih, lo?! Nyebelin!" ujar Anggi memperbaiki blazzer yang dia pakai, sebelum Arkan kembali ingin menyerangnya


"Nggi!"


"Apaan sih, Kan!? Itu udah lampu hijau!" tunjuk Anggi pada lampu lalu lintas yang tidak jauh di depan mobil mereka. 


Dengan tampang kesal, Anggi pun menjalankan mobilnya dan mengabaikan wajah kusut Arkan di sebelahnya. 


"Nggi! Gue serius. Gue nggak bakal tenang, sebelum tau apa yang dilakuin cowok brengsek itu di apartemen lo. Tadi malam dia nginap, kan? Jangan bilang enggak, karena gue liat pagi-pagi gini dia udah ada di tempat lo!"


Seperti tidak bisa tenang, Arkan terus mencecar Anggi dengan pertanyaan serupa. Dia menoleh, dan menuntut Anggi untuk menjawab pertanyaannya. 


"Maksud lo yang sebenarnya itu apa, sih? Bukannya lo emang udah tau hal ini bakal terjadi? Kan elo sendiri yang ngasih kode apartemen gue sama dia. Terus, kenapa sekarang lo malah sewot?"


"Ya, karena gue nggak nyangka kalo dia bakal nekat tidur di tempat lo!"


"Kenapa nggak nyangka? Lo polos, apa gimana?!"


"Maksud lo?"

__ADS_1


"Ya, lo tau sendiri dia itu gimana orangnya. Dari dulu malah, dia itu kan sahabat lo! Bego' kali lo sampe nggak tau kalau dia bisa aja tidur di apartemen gue. Lo tau dia itu brengseknya kayak apa, kan?" 


Anggi mengomeli Arkan, dengan tatapan yang lurus ke depan. 


"Makanya, waktu mau ambil keputusan itu, dipikir-pikir dulu! Apalagi ini menyangkut orang lain. Sekarang, lo sendiri kan, yang kehebohan nggak jelas?" tambah Anggi lagi, membuat Arkan sepertinya kena pikiran dan terdiam sejenak. 


Tampak pria itu membuang pandangannya ke arah lain, kemudian mendecak. 


"Kalo aja gue nggak dengar kabar ini dari Prissa kalo sepupunya itu nggak pulang satu malaman, gue pasti nggak akan tau apa yang dilakuin sama si brengsek itu," gumam Arkan, namun cukup terdengar jelas di telinga Anggi. "Damar sialan! Dari dulu emang kerjanya bikin susah gue mulu," gerutu Arkan lagi, menipiskan bibir geram. 


Sesaat, dia berpikir dan kembali menoleh ke arah Anggi. 


"Tolong jawab dengan jujur, kalo ini kali pertama dia nginap di tempat lo," tekan Arkan tiba-tiba, menatap Anggi cukup tajam. 


Anggi melirik, kemudian bergumam. 


"Beneran?"


"Kalo nggak percaya, mending nggak usah nanya!" semprot Anggi langsung, kontan membuat Arkan kembali mendesahkan napas kasar. 


"Gue itu khawatir, Nggi! Maksud gue ngasih kode itu sama dia, ya karena gue pikir dengan begitu kalian bisa lebih dekat untuk menyelesaikan masalah kalian sebelumnya. Ditambah, dia juga bisa memperhatikan lo, secara lo itu kadang suka nggak terduga udah tergeletak aja dengan tubuh hampir nggak bernyawa!"


"Sering!"


Anggi pun memberengutkan wajah dongkol, sambil terus melihat ke depan. Sepertinya, dia tidak suka dengan ucapan Arkan tentangnya. 


"Dengar ya, Nggi. Kayaknya, gue emang udah salah ngasih kode apartemen lo sama dia. Tapi, bukan berarti lo bisa diam aja pas dia mutusin buat nginap di tempat lo, kan?! Lo bisa usir dia, atau paling enggak, lo telepon gue, kek! Emang itu susah banget, ya?" 


Arkan kembali menatap Anggi dengan serius. Kali ini, wajahnya tidak terlihat tegang. Melainkan cenderung lebih tidak menyangka dengan sikap Anggi yang dianggap tidak tegas dengan keputusan Damar untuk menginap. 


Di sisi lain, Anggi yang terdiam pun hanya bisa membuang napas dan pandangannya sekilas. Bagaimana tidak, dia sudah terlalu malas untuk menjelaskan pada Arkan, kalau dia memang tidak tahu kalau ternyata Damar memutuskan untuk menginap di tempatnya dan tidak pulang di saat Anggi mengabaikannya begitu saja. 


"Atau, sebenarnya… lo emang udah ada niat buat baikan sama dia?" tanya Arkan tiba-tiba, kali ini membuat Anggi menoleh ke arahnya. 


"Ya elah, Nggi! Kalo emang lo udah pengen baikan sama dia, ya nggak gitu juga kali konsepnya! Nggak pake acara nginap-nginapan segala! Tadi malam ujan deras, lo! Kalo terjadi hal-hal yang dia inginkan, gimana?! Lo mau rugi dua kali?! Lo masih waras kan, Anggi Sayang?! Haah?!" 

__ADS_1


Tidak tahu atas dasar apa, Anggi sedikit terkejut mendengar Arkan mencecarnya dengan perkataan-perkataan yang tidak masuk akal. 


Hah? Bicara apa? 


"Apaan…?"


"Kalo lo sama dia itu udah pengen baikan, ya udah! Bicarain itu baik-baik dengan keluarga besar. Atau paling enggak, selesaikan berdua dengan cara yang bener. Nggak usah ada adegan nginap-nginapan segala! Terlebih, lo berdua itu udah pernah terjerumus sekali. Atau mungkin berkali-kali, dan sial ketauannya cuma sekali, itupun karena udah hamil duluan. Jadi–"


Ciiiiit! 


Duk! 


"Aaaaw!"


Arkan yang masih sibuk mengoceh, tiba-tiba saja berjengit kaget ketika Anggi –tanpa peringatan– membelokkan kemudian mobilnya begitu tajam ke arah kiri, dan membuat Arkan tanpa sadar menginjak rem, hingga kepalanya membentur kaca jendela mobil yang tertutup. 


Suara nyaring ketukan kepala Arkan dengan jendela membuat pria itu ikut terpekik dan sontak memegang kepalanya. Ternyata, mereka sudah berada di dekat loby kantor tempat Anggi bekerja. 


"EH, UBI! LO–"


Cklek! 


Belum selesai juga Arkan mengumpat, Anggi dengan wajahnya yang masam segera membuka sabuk pengamannya dengan kasar dan menatap Arkan begitu tajam. 


"Masih syukur kepala lo gue pentokin ke jendela. Kalo ke aspal, gimana?!" bentak Anggi tampak begitu kesal, lantas mengambil tas tangannya yang ada di jok belakang. Dia keluar dari dalam mobil, meninggalkan Arkan yang hanya bisa tersenyum masam dan mengusap dahinya nelangsa.


Sepertinya dia sadar, kalau dia baru saja menyakiti hati Anggi dengan mengungkit masa lalu. 


Dengan perasaan bersalah, Arkan hanya bisa memandang Anggi yang masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja hingga berakhir di dalam lift yang cukup jauh dari pandangan Arkan. 


Saat dia sudah mengambil kemudi, tidak sengaja Arkan melihat seorang pria asing, tapi tidak dengan wajah yang cukup dia kenal itu– juga masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut. 


Dengan sedikit mengernyit, Arkan tampak berpikir keras memandang laki-laki bertubuh tinggi itu. 


"Marcel bukan, sih?" gumam Arkan begitu pelan, kemudian mengerjap dan kembali menatap pria asing itu, yang kini sudah berdiri di depan lift yang tadi sempat Anggi gunakan. 

__ADS_1


"Kalau emang dia…. Kenapa dia bisa ada di sini?"


......TBC......


__ADS_2