The Last Chance

The Last Chance
Bagian Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Ditha tidak lagi melanjutkan curhatan hatinya pada Anggi, begitu dua teman satu divisi mereka ikut nimbrung duduk satu meja. Dia yang tahu kalau Anggi tidak suka dengan keberadaan Andi, langsung melirik wanita itu yang —benar saja— sudah memasang tampang masam. 


"Eh, kalo nggak salah, tadi pagi gue ngeliat lo jalan berdua sama ketua barunya tim produksi, ya?" 


Demi mencairkan suasana yang mendadak terasa panas, Ditha berusaha memancing Anggi buang dia tahu suka membahas laki-laki. 


"Ketua baru tim produksi? Siapa?" tanya Anggi bingung, tampak menyeruput sisa es lemon yang tadi dia pesan. 


"Itu… kalo nggak salah, namanya Marcel, deh. Iya, Marcel!"


Alih-alih melihat wajah Anggi yang girang, Ditha malah melihat muka perempuan itu semakin masam hingga matanya menyipit tidak suka. 


"Ngapain bahas dia, sih?" keluh Anggi, lantas kembali bergumam, "kayak gak ada pembahasan yang lain aja," dan membuat dua orang di sana —Ditha dan Gavin— saling menatap sesaat. 


Sementara Andi, dia hanya terdiam di tempatnya sambil menatap Anggi datar dengan pikiran yang tidak terbaca. 


"Loh, kenapa? Bukannya itu emang selera lo, ya? Biasanya kan, lo selalu yang paling heboh kalo ada karyawan cowok yang baru. Apalagi ini gantengnya poll! Ya masa sih, lo bilang lo nggak mau bahas?"


Ini manusiawi. Maksudnya, Ditha merasa heran itu sangat wajar, mengingat Anggi —yang centilnya itu sudah mencapai taraf mengkhawatirkan— menolak pembahasan mengenai cowok blasteran yang baru bergabung dengan perusahaan tempat mereka bekerja? 


"Lo nggak salah makan kan, Mbak?"


Nah, baru saja Ditha ingin menanyakan hal itu. Tapi Gavin, sudah lebih dulu menanyakannya yang hanya bisa diberikan dukungan oleh perempuan itu. 


"Emang harus salah makan dulu, biar bisa keliatan waras?" ujar Anggi kurang jelas, lagi-lagi membuat dua orang tadi —Ditha dan Gavin— saling melirik. 


"Kalo emang itu perlu, lo harusnya salah makan tiap hari aja," celetuk Gavin, sontak membuatnya mendapatkan pelototan tajam dari Anggi. 


Mencari aman, Gavin pura-pura tidak melihatnya. 


"Eh, Mas! Lo mau makan apa? Gue mau mesan nih," 


Sadar belum memesan menu makanan, Gavin berdiri hendak pergi ke counter pemesanan. 


Damar yang sejak tadi sibuk melihat Anggi, hanya menoleh sekilas sambil berkata, "samain aja sama lo," dan membuat Gavin mengenyit setengah heran.

__ADS_1


Dua orang ini kenapa, ya? Perasaan, agak aneh. Pikir Gavin, kali ini menoleh lagi pada Ditha yang hanya dibalas gidikan bahu pasrah dari seniornya itu. 


Yah, setidaknya bukan hanya Gavin yang merasa kalau sikap Anggi dan Damar itu sedikit aneh hari ini. 


"Eh, Ndi! Gue baru ingat, kemarin ada cewek dari divisi perencanaan titip salam buat lo! Katanya, kalo boleh dia pengen minta nomor handphone lo," ujar Ditha tiba-tiba, di tengah keheningan meja yang mereka tempati. 


Damar yang sejak tadi memperhatikan Anggi dalam diam, menoleh sekilas dan mengerutkan dahinya. 


"Minta nomor handphone gue? Buat apa?" tanyanya terdengar tidak suka. 


"Ya, kali aja pengen pedekatean sama lo! Secara kan, nama lo itu juga cukup terkenal, di divisi lain. Ngalah-ngalahin Gavin Si Tukang Pamer yang selalu bilang, kalo dia itu udah nikah!" kata Ditha menjelaskan, kali ini dibalas Damar dengan cebikan sebal. 


"Bodo amat!" jawabnya enteng, sontak membuat kedua mata Ditha pun lebar. Hanya sesaat, karena dia tahu kalau Damar pasti akan mengatakan hal tersebut. 


Bukan hal mengejutkan bagi seorang 'Andi' yang mereka kenal menolak ajakan kenalan dari perempuan lagi. Karena perempuan yang tadi disebutkan oleh Ditha, adalah perempuan kesekian yang menitip salam untuk pria itu dan berakhir ditolak. 


"Gue penasaran, deh. Sebenarnya itu, lo normal apa kagak sih, Ndi?" tanya Ditha sekonyong-konyong, tidak takut apakah pertanyaan itu akan membuat Damar merasa kesal atau tidak. 


"Apa?!"


"Perasaan, gue nggak pernah ngeliat lo sama sekali dekat sama cewek. Apalagi lo bilang, lo itu nggak punya pacar. Mana lo dekatnya cuma Gavin lagi…. Itu kan agak mencurigakan gitu…. Untung aja Gavin itu udah married. Karena kalo nggak, —"


"Kalo nggak apa?!"


Ditha kontan menutup mulutnya rapat-rapat ketika sosok Gavin muncul dari arah belakang. Melihatnya dengan mata tajam, sambil duduk kembali di posisi tepat sebelah Anggi. 


"Lo mau ngatain gue sama Mas Andi itu gay?" terka Gavin sengit, membuat Damar menyeringai dan mengolok sikap Ditha. 


"Nah, mampus lo," bisiknya menahan tawa, yang mana hal itu langsung membuat Ditha merasa kesal sambil menyikut lengan pria itu. 


"Kalo gue, udah jelas dong, ya…. Nggak tau sih, kalo Mas Andi,"


Pft! 


Pft! 

__ADS_1


"Eh, lontong! Maksud lo apa?! Lo mau ngata-ngatain gue juga?!" sembur Damar jengkel, mendelik pada Gavin yang terlihat datar dan tidak terpengaruh sama sekali. 


Ingin Damar memaki anak itu lagi, saat matanya tidak sengaja beralih pada Anggi, yang terlihat berusaha menahan senyum di balik sedotan yang menempel di bibirnya. 


"Apa lo senyum-senyum? Lo mau ikut-ikutan juga? Mau, gue buktiin seberapa normalnya gue?!" sembur Damar ke arah Anggi, yang langsung membuat mereka menjadi pusat perhatian. 


"Eh, goblok! Lo apa-apaan sih?! Mulut itu dijaga… mulut!" geram Ditha memukul lengan Damar sedikit panik, karena merasa malu dengan pembahasan mereka saat ini.


"Lah, mangnya napa? Biasanya juga gitu kan?" tanya Damar bodoh, atau lebih tepatnya pura-pura bodoh. 


Mereka mungkin bisa berbicara seperti itu di lingkungan kantor, karena itu terdengar biasa. Tapi masalahnya, sekarang mereka itu ada lingkungan luar kantor. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal yang menjurus pribadi semacam itu. Orang dewasa manapun, atau orang baru beranjak dewasa sekalipun pasti paham dengan arah pembicaraan Damar sekarang ini. 


"Mas! Lo kalo mau sinting sih, boleh….. Tapi, lihat-lihat tempat dulu kali…. Masa lo ngomong sembarangan kayak gitu di tempat umum? Malu kali, dengarnya," tegur Gavin bijak, malah dibalas lagi dengan gaya santai dari pria itu. 


"Lah, emang gue ngomong apa, sih? Gue kan cuma bilang, dia mau lihat gue buktiin kalo gue ini normal apa enggak? Emang apa yang salah, sih?" ujarnya terdengar menyebalkan. 


Mungkin iya, Damar hanya ingin bercanda atau mungkin hanya memang asal bicara, tapi lagi-lagi, masalahnya adalah pria itu berbicara frontal di tempat umum! Itu masalahnya. 


"Lo itu ya—"


"Eh, gue duluan, ya! Masi ada kerjaan yang mesti gue selesaikan di kantor,"


"Eh? Lo udah mau balik? Kok tiba-tiba…."


Ditha yang melihat Anggi sudah pergi duluan meninggalkannya, sedikit panik sambil buru-buru membereskan ponsel serta dompetnya. 


"Gue duluan juga, ya! Bye!"


Tanpa menunggu balasan dari dua cowok teman mereka itu, Ditha segera berlari mengejar Anggi yang sudah mencapai pintu kafe. Membuat Gavin yang sadar dengan duduk masalahnya, hanya bisa mendesah panjang dan menatap Damar yang terdiam. 


"Lo bener, ngerasa itu nggak salah?"


... TBC...


Part ini emang agak pendek. Kemarin aku udah berusaha buat update. Tapi malah nggak bisa. Biasa mendekati akhir bulan, kerjaan aku emang lagi banyak-banyaknya dan susah punya waktu buat ngetik.

__ADS_1


tapi kedepannya, aku bakal usaha update secepat mungkin.... 🙏


__ADS_2