
Kalau hanya seminggu atau dua minggu, itu sudah biasa. Sebulan pun masih bisa dianggap lumrah. Tapi kalau sudah hampir 3 bulan dan tanpa kabar. Ini hal yang perlu di pertanyakan.
Terakhir kali Alfa mengiriminya pesan mengatakan kalau ia akan ke Dubai menemui keluarganya. Dan setelah itu tidak ada kabar lagi.
Kemana pria itu menghilang??.
Delta bukan wanita yang aktif, ia tak pernah menelpon atau mengirim pesan lebih dulu pada Alfa seberapa inginnya Delta, ia tetap memilih Alfa yang melakukannya lebih dulu.
Tapi wanita itu sudah mencoba menelponnya setidaknya sehari sekali dalam 1 bulan ini, tapi telepon nya tidak diangkat. Ia juga mengirim pesan namun tak juga di balas.
Aneh!!.
Meski akhir-akhir ini, Delta sering mampir ke rumah Alfa, tapi ia belum pernah pergi ke perusahaan pria itu. Dan selain nomor telepon pria itu. Ia tak punya nomor telepon lain yang bisa ia hubungi.
Apa….aku pergi ke perusahaannya saja??. Tapi….
Delta menoleh ke arah Dafa yang terlihat serius menonton kartun.
Bawa anak bisa mengundang kesalahpahaman. Bagaimana ini??.
Meski bingung. Akhirnya Delta memutuskan pergi ke kantor Alfa dengan niat mengantarkan makan siang. Berharap bisa bertemu pria itu disana.
"Ma'af tapi Pak Direktur sedang ke luar negeri."
"…….."Okee
Delta berpikir sebentar untuk menitip pesan sebelum pergi. "Nanti kalau beliau sudah kembali…tolong sampaikan kalau Dafa ingin bertemu dengannya. Terimakasih."
Setelahnya Delta pergi duduk di cafetaria sebrang kantor Alfa. Merasa kecewa karena pria itu pergi dan sama sekali tidak memberi kabar padanya.
Delta kembali mengirim pesan ke Alfa. Ini pesan ke 61 yang tidak di balas oleh pria itu.
'Kamu....nggak usah ketemu Dafa lagi.'😡
Pesan itu dihapus sebelum di kirim. Delta menggantinya dengan pertanyaan singkat namun datang dari lubuk hatinya.
'Apa....kami sudah dilupakan??'
Oke nilai minusnya….orang sibuk itu menghilang tanpa kabar.
Karena sudah berada diluar, Delta memutuskan untuk mengajak Dafa jalan-jalan seharian. Ia juga tidak punya jadwal kuliah hari ini dan toko rotinya di kantin kampus ia tutup.
__ADS_1
Begitu selesai jalan-jalan, hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ibu anak itu pulang dan mendapati seseorang menunggu di depan pintu kosan.
"……."Siapa???
"Permisi….saya Zeno, asisten pribadinya Pak Direktur Utama Alfa Alfandi."
Oh.."Ada apa ya??."
Zeno tersenyum. "Saya membutuhkan bantuan anda karena seseorang selama 1 minggu ini menolak untuk kembali bekerja."
"…….."
Begitu saja. Delta di bawa ke Rumah Sakit.
Di dalam perjalan Zeno menceritakan tentang apa yang terjadi pada Alfa.
Pria itu baru saja mengalami musibah. Pesawat pribadi yang membawanya dan keluarganya dari Dubai menuju Indonesia mengalami kecelakaan. Seseorang dengan sengaja merusak mesin pesawat dan menyebabkan pesawat itu tidak bisa mendarat.
2 Pilot, kakek, dan nenek Alfa meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Ayah dan Ibunya sekarang koma, sedangkan Alfa sendiri baru sadar dari koma 1 minggu yang lalu, ia mengalami patah kaki sebelah kanan. Hanya adik bungsunya yang tidak mengalami cedera. Setelah dinyatakan sehat, anak laki-laki berusia 16 tahun itu, langsung mengurusi masalah di Perusahaan.
"Alfa sangat menyayangi keluarganya jadi saat ini dia sangat depresi. Jadi….
"Jadi itu sebabnya dia tidak memberi kabar." Delta bergumam sendiri.
Kamar rawat VVIP terlihat mewah namun suram. Seseorang di kursi roda dengan kaki di perban tampak merenung menatap langit dari jendela kaca. Terlihat sangat menyedihkan.
Delta meletakkan Dafa yang sudah tertidur di atas tempat tidur. Ia perlahan mendekati Alfa yang asyik dengan lamunannya.
"Alfa."
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Delta. Ia menggeser kursi roda agar menghadap ke arahnya. Mata yang biasa menatapnya tajam namun hangat itu kini kosong.
Delta memeluk pria itu. Menepuk pundaknya yang tampak lelah. Keheningan malam perlahan melepaskan beban di pundak Alfa. Pria itu meneteskan air mata yang telah ia tahan sejak tau kenyataan bahwa ia kehilangan orang-orang yang dicintainya.
🌺🌺
Malam itu Delta dan Dafa menginap di Rumah Sakit.
__ADS_1
Paginya Zeno mengantar Delta untuk sekedar mengambil beberapa pakaiannya dan pakaian Dafa. Ia berencana merawat pria yang masih depresi itu. Sementara Zeno membantu adik Alfa di Perusahaan.
Tidak ada seorangpun yang tau berita kecelakaan itu karena keluarga Alfa berhasil menutupinya. Tapi masalah perusahaan tetap membuat para kolega Alfa curiga karena pria itu sudah menghilang selama 3 bulan.
Untungnya adik Alfa yang berkepribadian tenang itu berhasil menghandle segala sesuatunya.
Alfa belum mau bicara. Ia hanya menatap Delta dan memeluk Dafa. Herannya, bahkan Dafa hanya diam saja di pelukan pria itu.
Delta menyuapi pria itu makan, menemaninya ke ruang rawat ayah dan ibunya. Juga membujuk pria itu untuk mau mengikuti terapi.
Dokter mengatakan pada Delta bahwa Alfa kemungkinan besar bisa berjalan normal selama ia mau mengikuti terapi. Tapi pria itu sejak sadar hanya mau duduk di kursi rodanya dan tak melakukan apapun.
Zeno menemani Dafa bermain di sore hari ketika pria itu selesai mengurusi perusahaan. Sementara Delta menemani Alfa berkeliling taman Rumah Sakit.
"Belum mau bicara denganku??." Delta bertanya ketika mereka berhenti di pinggir danau kecil yang ada di sana.
Alfa masih tetap diam.
"Apa...kau menyalahkan ku?."
"......."
"Aku dengar dari Zeno, kalau kamu buru-buru melakukan perjalan ke Dubai untuk menjemput keluargamu. Kamu....berencana mengajak mereka ke sini dan.... memperkenalkan mereka padaku."
"......"
Delta tersenyum sedih. "Aku....aku minta ma'af."
"Karena....
"Bukan salahmu." Alfa akhirnya bicara ketika melihat Delta meneteskan air mata. "Aku yang salah. Aku tidak memeriksa pesawat itu secara menyeluruh. Mereka terlalu bahagia ingin cepat-cepat melihat pacar ku, jadi mereka ingin aku menjemput mereka dari sana. Dan aku juga terlalu senang hingga jadi tidak memperhatikan keselamatan mereka. Aku biasanya orang yang teliti. Aku....aku yang menyebabkan kakek dan nenek meninggal. Aku yang menyebabkan orang tuaku koma. Aku.....
"Aku yang salah."
Delta memeluk Alfa yang kembali menangis. Pria itu benar-benar terlihat rapuh.
Delta tidak tau harus mengatakan kata penghiburan seperti apa. Hatinya sakit melihat pria itu menangis dan menyalahkan diri sendiri. Di sisi lain, Delta juga merasa bersalah. Karena kalau bukan Ia setuju berpacaran dengan Alfa, mungkin pria itu tidak akan memberikan kabar gembira itu pada keluarganya. Mungkin keluarganya tidak akan meminta pria itu menjemput mereka. Dan mungkin kecelakaan semacam ini tidak akan pernah terjadi.
🌸🌸🌸
__ADS_1