The Last Chance

The Last Chance
Bagian tiga puluh enam


__ADS_3

Keesokan harinya, Arkan datang ke tempat yang sudah dikatakan oleh Damar sebelumnya. Bukan ingin berdiskusi tentang bagaimana caranya mendapatkan Anggi, Arkan justru datang dengan keinginan besarnya untuk memukul pria itu. 


Dia emosi. Benar-benar sangat emosi sampai tidak sabar untuk menunggu siang sesuai dengan apa yang sudah dikatakan oleh Damar padanya. Dia ingin segera menuntaskan rasa emosinya dengan memukul wajah pria itu bertubi-tubi. Biar saja nanti dia akan diperkarakan ke polisi. Yang penting, rasa kesalnya segera terbayar dengan membuat wajah Damar babak belur dan tidak bisa berkata untung beberapa waktu kedepan. Syukur-syukur pria itu nanti trauma dan tidak mau menemuinya lagi ataupun Anggi. 


"Selamat siang, ada yang bisa--"


Arkan yang masuk ke dalam klinik seperti orang yang kesetanan langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Dia bahkan sampai mengabaikan sapaan ramah dari seorang perawat yang tampak berjaga di bagian depan klinik tersebut. Dan setelah melihat sosok yang dia cari, Arkan pun segera bergegas meninggalkan pintu masuk, menuju Damar yang saat ini tengah berbincang dengan seorang wanita di depannya. 


"Eh, Kan! Lo--"


Saat akan melabrak Damar --yang tersenyum menyapanya-- dengan pukulan keras ke atas meja, Arkan justru terdiam tatkala seorang wanita yang duduk di depan Damar tiba-tiba berbalik dan memandang terkejut ke arahnya. 


"Loh, Pak Arkan?" tegur wanita itu heran, dengan alis matanya yang indah saling bertautan. 


"Do--dokter?" balas Arkan tergagap, mengerjapkan matanya bingung melihat dokter cantik incarannya sedang berada di sana. 


Sesaat, Arkan tampak terpelongo. Diperhatikannya lagi tempat dia berdiri sekarang, persis tempat kemarin yang dia kunjungi. Karena memang, mungkin tempat itu adalah tempat yang sama, sejak beberapa waktu ini sedang dia datangi. 


Astaga. 


"Pak Arkan, ada perlu apa ke mari? Ada yang bisa saya bantu?"


Seperti biasa, dokter Prissa, wanita yang dulu pernah merawat Anggi ketika sakit, sontak tersenyum ramah dan berdiri dari posisi duduknya saat ini. Dia menyatukan kedua tangannya di depan perut, sambil tersenyum dengan lebar. Dia tampak begitu senang dengan kehadiran Arkan di sana. 


"Ah, itu…." 


Seperti bingung, emosi Arkan yang tadinya menggebu-gebu tampak surut seketika berganti dengan rasa linglung yang tergambar di wajahnya. Demi apa, dia lupa dengan tempat praktek dokter cantik itu sekarang? 

__ADS_1


"Prissa, kamu kenal sama dia?" tanya Damar tersenyum, seolah tengah menyembunyikan sesuatu saat dia melirik ke arah Arkan. 


"Sama Pak Arkan?" ulang gadis manis itu menoleh ke arah Damar sebentar, lalu memalingkan wajahnya lagi ke arah depan. 


"Hm… ya, lumayan…." Angguk gadis itu kemudian, tampak menahan perasaannya di depan Arkan. 


Sedang daripada itu, Arkan yang sudah kembali fokus dengan keberadaan Damar, segera memasang tampang keras dan lirikan mata tajam ke arahnya. 


"Apa maksud lo ngajak gue ketemuan di sini?" tanya pria itu langsung curiga, tak ayal senyum kelicikan yang dulu sering dia lihat dari wajah Damar, kembali terulang. 


"Gue udah bilang kemarin. Gue pengen bicarain soal Anggi sama lo," ungkap pria itu santai, tampak seolah berada di atas angin, sementara Arkan masih kebingungan dengan maksud tujuannya ada di sana. 


Seolah mengerti dengan lirikan mata Arkan yang berpaling ke samping, Damar segera merangkul bahu Prissa yang berkelang satu meja darinya. 


"Kenalin, ini sepupu gue. Sepupu jauh sih, sebenarnya. Cuma, waktu kecil, gue sama dia itu udah dekat. Dan baru ketemu lagi berapa tahun belakangan ini," ungkap Damar tersenyum simpul, melihat raut wajah keterkejutan di wajah Arkan. 


"Oh, terus?"


Pintar menyembunyikan perasaan, Damar hanya tersenyum kecil dengan tingkah Arkan yang berlagak begitu datar. Bagaimanapun juga, pengalaman telah mengajarkan Damar kalau pria itu hanya berpura-pura masa bodoh saat ini. 


"Nggak ada. Gue cuma mau ngenalin lo doang," ujar Damar, menahan kekehannya sambil menurunkan tangannya dari bahu Prissa. 


"Eh, iya, Priss! Kenalin, ini Arkan. Dia…."


Sadar dengan arti tatapan Arkan yang begitu tajam kepadanya, Damar menahan kalimatnya sejenak, sebelum kembali memperhatikan Prissa yang menatapnya. 


"Temen SMA aku." Lanjutnya kemudian, membuat Prissa membulatkan kedua matanya sejenak. 

__ADS_1


"Temen SMA kamu?" ulangnya seperti kaget, dibalas senyuman singkat oleh Damar. 


"Woah, dunia bener-bener sempit, ternyata…." Gumam gadis itu lagi kagum, kali ini menolehkan kepalanya ke arah Arkan sambil melemparkan senyum manis. 


Sementara itu, Arkan yang masih mencerna hubungan antara Damar dan Prissa hanya melirik gadis itu sedikit tajam, sambil menyayangkan apa yang terjadi di antara mereka. 


Beberapa saat, Arkan tampak seperti berpikir, sebelum akhirnya mendesahkan napas panjang, menenangkan perasaannya kembali. Sepertinya, semangat Arkan untuk memukul wajah Damar menguap begitu saja, meski kenyataannya alasan untuk menghajar pria itu semakin bertambah di benaknya. 


"Gue cuma mau bilang, berhenti muncul di depan gue ataupun Anggi. Apapun itu alasan lo, gue nggak akan pernah mau berurusan lagi sama orang kayak lo. Paham?"


Raut wajah Arkan tampak begitu malas, saat dia berpaling hendak meninggalkan dua orang yang mengaku sebagai saudara itu. Meskipun lirikan matanya sempat mengarah kepada Prissa, tidak mengurungkan niatnya untuk pergi. 


"Ah, ya! Satu hal lagi,"


Sebelum benar-benar meninggalkan keduanya, Arkan berbalik dan menatap Damar penuh permusuhan. 


"Tadinya gue sempat mikir alasan lo nyuruh gue datang ke tempat ini alih-alih kafe ataupun  diskotik seperti kebiasan lo di masa lalu. Tapi, setelah ngelihat kejadian hari ini…."


Arkan menggantung kalimatnya sejenak, saat dia melirik ke arah Prissa yang memandangnya begitu heran. 


"Gue jadi tau kelemahan lo yang lebih parah daripada pengecut."


"Apa?"


Tersenyum sinis, Arkan menolehkan kepalanya penuh ke arah Prissa yang seolah menunggu penjelasannya. 


"Kamu cantik. Tapi sayang…." Gantung Arkan lagi prihatin, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kamu punya sepupu yang bejat."

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2