The Last Chance

The Last Chance
4. ORANG GILA YANG TIDAK TAU MALU


__ADS_3

 “Tidak mau, tidak sudi dan pergi dari sini!!.”


Setelah itu terdengar suara bantingan pintu yang membangunkan Dafa yang tadinya sedang tidur.



Anak kecil itu menangis dan Delta langsung merasa bersalah.


Ia baru saja kedatangan tamu gila yang bilang ingin numpang makan sekaligus melamarnya. Delta tak tau jika pria itu masih berdiri diluar rumahnya sambil memikirkan sandi pintu rumah Delta. Dan benar saja, tak sampai semenit pria itu berhasil masuk rumah dengan tampang puas.


“01-01-17, siapa sangka sandinya benar-benar mudah”.


“……” Delta baru berpikir ingin menelpon polisi ketika mendengar pria sombong itu kembali bicara.


“Kalau mau telpon polisi percuma saja. Aku orang paling berkuasa di komplek ini, kalau-kalau kamu ingin tau. Investor terbesar dalam pembuatan komplek ini adalah aku. Mereka akan jauh lebih percaya padaku dari pada pada wanita yang kabur dari rumah dan….mungkin kau perlu tau sekarang, kau di izinkan tinggal disini dengan hanya membayar setengah harga.....itu berkat aku.”


“…..” Delta tak bisa berkata apapun dan hanya meletakkan ponselnya dengan kesal. Namun detik berikutnya wanita itu menyadari kalau anaknya sudah berada di pelukan pria itu.


“Kamu…….bagaimana…….


Alfa mengabaikan Delta dan malah sibuk mengajak Dafa bermain slime. Anak kecil yang tadi menangis sesenggukan itu sekarang terlihat sangat senang. Bahkan lesung pipi yang jarang terlihat di pipinya sekarang sering muncul saking seringnya anak itu tersenyum.


Sejak kapan mereka akrab??


Delta akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya tadi yang tertunda didapur, membiarkan pria itu dan anaknya bermain.


Setengah jam kemudian, suasana hangat bak keluarga di ruang makan pun tercipta. Ada Delta yang sibuk menyuapkan bubur sayuran ke mulut Dafa dan Alfa yang sibuk menjelaskan betapa pentingnya sayur-sayuran itu untuk kulit Dafa. Anehnya, kali ini anak kecil itu menghabiskan makanannya yang hanya semangkuk kecil itu dalam waktu 5 menit, tanpa mengeluh atau menangis.


“Pintar sekali. Nah sekarang minum susunya, biar cepet tinggi kayak papa.” Alfa memberikan cangkir susu itu sambil tersenyum senang karena Dafa balik tersenyum padanya. Sementara Delta terdiam canggung.


“Jangan lalukan itu lagi!.” Pinta Delta setelah mereka selesai makan.


Mereka sekarang berada diruang tamu. Alfa melanjutkan bermain slime bersama Dafa setelah mereka makan malam. Sementara Delta berada di depan laptopnya membuat bahan ajar. Ia biasanya baru bisa melakukan hal itu ketika Dafa sudah tidur. Namun kali ini, berkat kehadiran pria itu, Delta bahkan hampir menyelesaikan pekerjaannya.


“Maksudmu apa??.” Tanya pria itu bingung.


“Oke, kamu boleh bermain dengan anakku, kamu juga diizinkan membawanya ketika aku sedang bekerja. Tapi tolong, jangan membiasakan dirinya memanggilmu dengan sebutan papa, aku tidak mau dia salah paham. Padahal dia masih tidak mengerti sama sekali.” Jelas wanita itu. Ia tidak mau orang lain salah paham.


“Jadi bukan papa. Kamu pengen dia manggil aku dengan sebutan lain gitu. Mm.... Ayah, Daddy atau…..


“Jangan pura-pura nggak ngerti.” Delta menyela penjelasan Alfa. Pria itu lantas tersenyum.


“Jadi maksud kamu, kamu boleh manfaatin aku buat jadi babysitter, sedangkan aku nggak boleh memanfaatkan situasinya gitu.”


“…….”


Delta mendengus kesal. “Aku nggak pernah merasa bikin salah sama kamu di masa lalu. Aku cuma menganggap kamu teman satu kelas. Anak orang yang sangat kaya, juga orang yang benci diganggu. Jadi kenapa sekarang kamu malah tiba-tiba muncul dan mengusik kehidupan ku??."


“Hidupku sudah cukup sulit” Delta menatap Alfa berusaha membuat pria itu mengerti. “Hidupku sudah cukup berantakan. Tolong jangan tambah membuatnya berantakan. Aku sudah cukup merasa sakit hati.”


Delta ingin meraih anaknya di pelukan Alfa. Tampaknya Dafa sudah mengantuk. Tapi pria itu malah menggendong anak kecil itu dan membiarkannya tertidur dipelukannya.

__ADS_1


Mereka terdiam beberapa saat. Delta membiarkan Alfa meletakkan Dafa di tempat tidur. Lalu mereka kembali bicara diruang tamu.


“Aku ingin anakmu….


“Aku nggak bisa!”


“Kalau begitu ayo menikah!”


“Aku nggak mau!”


“…...."


Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mengerti kenapa wanita itu menolaknya. “Kamu tau nggak, begitu banyak wanita yang tergila-gila padaku, bahkan mengantri untuk menjadi pasanganku. Kamu udah aku beri kesempatan langkah dan malah menolak. Oke, aku tau kamu bukan wanita yang tergila-gila akan uang, juga nggak butuh status. Tapi kamu nggak akan bisa besarin Dafa sendirian dengan kondisi kamu sekarang.”


Delta tersenyum sinis. “Jadi menurut kamu, kamu ngasih solusi kayak gitu nggak nambahin kesulitan ku gitu??. Kalau kita menikah, kehidupanmu yang biasa sempurna itu akan terusik. Hidupmu yang biasanya tenang, akan dipenuhi dengan gossip gila. Dan yang dicemooh itu adalah aku. Pria mana yang mau menikah dengan janda beranak satu yang biasa-biasa saja. Mereka pasti mengira aku menjual tubuhku padamu, atau aku menjebak mu. Aku tidak mau mengalami nasib mengerikan seperti itu.”


“Kalau masalah seperti itu kamu bisa tenang. Aku akan mempolisikan siapapun yang menjelek-jelekkan istri dan anak ku.”


Delta menggeleng tidak percaya. “Lalu orang tuamu???, keluarga besar mu??, apa mereka setuju kamu nikah sama janda??.”


Alfa mengangguk “Mereka yang mengharapkan aku cepat menikah dan mendapatkan keturunan, mereka tidak peduli bagaimana status pasanganku. Mereka sudah tidak tahan dengan gossip yang mengatakan bahwa aku gay.”


“Kamu gay??. Delta terbelalak kaget. Tapi Alfa langsung menepisnya.


“Nggak lah!!.”


“Oh.”


"......"


“Itu masalahnya.”


“Ha’??”


Delta menghela nafas dalam. “Kenapa kamu nggak coba deketin seseorang, biar kamu tau rasanya jatuh cinta, ajak gadis itu pacaran, lalu nikah. Kamu nggak bisa ngajakin orang nikah secara random kayak gini. Kalau kamu butuh anak, cari aja janda lain yang sederajat sama kamu, jadi kalaupun ada gossip…..


“Aku udah melakukan kencan buta hampir 100 kali.”


“What!!!!”


Kali ini Alfa yang menghela nafas dalam. Ia tidak tau kenapa ia menjelaskan kisah hidupnya pada wanita disampingnya itu.


“Aku sudah berusaha untuk jatuh cinta dengan para gadis-gadis itu, ah..bukan hanya gadis, ada juga yang sudah menikah dan punya anak sepertimu. Tapi aku merasa biasa saja, dan bahkan bosan. Lalu mendadak kakek ku sakit dan bermimpi melihat seorang anak kecil yang sangat mirip denganku. Lalu makin gencar lah ibuku mencarikan aku pasangan seorang janda beranak satu. Mereka berharap aku membawa anak itu kehadapan kakek dan beliau sehat kembali. Aku tidak tau apa itu solusi yang tepat, tapi nenek ku ikut-ikutan bermimpi seperti itu juga sebulan yang lalu. Lalu….aku melihat anakmu mirip denganku, lalu…..


“Tunggu-tungu….anak ku…..mirip denganmu???. Delta mengerutkan dahi bingung. “Mirip dari mananya???”


“Dia sangat lucu dan menggemaskan, mirip denganku waktu kecil.”


“….....”


Alfa tersenyum dan mengeluarkan selembar foto dari dompetnya.

__ADS_1



Delta sedikit terkejut ketika melihat foto anak kecil yang memang terlihat mirip dengan anaknya.


“Ini bukan foto yang aku baru ambil atau edit. Jangan salah duga. Lihat!!. Ada tulisan ibuku di belakang foto ini. Ini aku ketika usia 1 tahun dan baju yang aku kenakan sangat mirip dengan baju yang dikenakan Dafa sekarang."


Aku awalnya bingung kenapa anakmu begitu mirip denganku. Lalu kalau dipikir-pikir itu... masuk akal. Kita sudah saling mengenal sejak TK, aku juga sering muncul di TV dan majalah, bahkan di situs-situs online. Mungkin dulunya kau pernah jadi salah satu pengagum rahasiaku, lalu mendambakan punya anak mirip denganku dan…..


“…..”Hei...hei...hei...😑narsisnya kelewatan pak!!!


Kali ini ucapan Alfa terhenti lantaran Delta menempeleng kepala pria itu dengan bantal kursi. “Kalau ngarep jangan ekstrim gitu dong!, gue eneg nih dengernya.” Delta mengembalikan foto itu pada Alfa.


Pria itu kembali tersenyum. “Tapi benar kan!. Teman akrab mu bilang padaku, kalau kamu diam-diam jatuh cinta padaku waktu SMA.”


“……”Gossip murahan macam apa ini??😒


“Temanmu itu sekarang jadi pegawai ku. Jadi dia cukup rajin memberiku infomasi tentangmu.”


Delta hanya diam. Ia malas mengakui kepolosannya hingga pernah jatuh cinta pada seorang Alfa. Bukan cinta, ia pernah kagum, dan hanya sebatas itu saja. Itu adalah kisah lama.


“Jadi….gimana??, aku jamin hidup kamu bakal baik-baik aja kalau kamu nerima aku…..


“Nggak, makasih!." Delta kembali menolak dengan tegas. Ia bahkan segera menjelaskan alasannya menolak pria itu, sebelum Alfa kembali mencelanya.


“Menikah nggak segampang itu bro. Mungkin menurut kamu, nikah yah tinggal nikah aja, soal cinta bisa dibangun setelah menikah. Tapi untuk orang yang pernah mengalami gagalnya pernikahan, semua nggak akan semudah itu lagi.” Delta menarik nafas dalam sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.


“Ketika kamu menikah, banyak hal yang kamu takutkan. Untuk ku, karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, aku paling takut ditinggalkan. Dan nyatanya, aku ditinggalkan begitu saja. Kepercayaan ku dihancurkan begitu saja, dengan alasan yang sampai sekarang aku masih tidak mengerti. Dia bilang, orang tuaku terlalu menekannya. Aku tidak bisa melayani suami dengan baik, dan yang paling menyakitkan adalah, dia mengakui terang-terangan bahwa aku bahkan tidak mendekati tipe idealnya. Lalu kenapa dia mau menikah denganku???.”


"....."


Delta menghapus air matanya yang hampir tumpah di pelupuk matanya. Lalu memandang Alfa sambil tersenyum. “Sekarang, aku jauh dari kata sempurna. Aku….aku benar-benar menyadari hal itu. Jadi, sejak aku memutuskan bercerai, aku ingin memulai semuanya dari awal dengan usahaku sendiri. Aku tidak menolak pertemanan, juga nggak menolak bantuan, tapi….hanya sebatas itu saja.”


Setelah penjelasan itu, keduanya terdiam beberapa saat. Delta berusaha menenangkan pikirannya. Sementara Alfa membolak-balik buku milik Delta sembari memikirkan sesuatu.


Delta melirik jam yang sudah hampir pukul 10 malam. Ia baru mau menyuruh pria disampingnya itu untuk pulang ketika Varo tiba-tiba berkata. “Aku…..tidak peduli!.”


“.…..”


Alfa menatap Delta yang juga balik menatapnya. “Karena kamu sudah pernah jatuh cinta, tau bagaimana mencintai dan sudah merasakan sakitnya terluka. Kamu pasti bisa mengajariku yang tidak tau apa-apa ini tentang semua itu.”


"......"


“Tadinya aku hanya menginginkan anak mu. Tadinya aku tidak begitu perduli padamu. Tapi setelah mendengarkan ungkapan hatimu....aku pikir tak ada salahnya membenahi hatimu yang rusak itu."


Alfa tersenyum sebelum beranjak pergi. "Kalau-kalau kamu lupa, dari dulu....aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Nah...selamat malam calon istriku.”


“.…...”


 


🌸🌸🌸

__ADS_1


 


__ADS_2