The Last Chance

The Last Chance
Bagian tiga puluh dua


__ADS_3

Malam ini, merasa lelah bekerja, Damar pulang ke apartemennya dan tidur setelah mandi. Rasa kesal yang menderanya satu harian ini mampu menyeret Damar dalam tidur yang begitu pulas, sampai akhirnya suara petir langsung menggelegar, mengagetkannya hingga terjaga tepat pada pukul setengah dua dini hari. 


Keringat langsung mengucur dari dahi Damar, begitu dia menolehkan kepalanya ke arah samping. Tepat ke arah gorden kamarnya yang terbuka, menampakkan jendela kamarnya yang basah diterpa angin hujan. 


Tidak terasa, beberapa saat menatap langit kota yang terlihat begitu gelap dengan sesekali menampakkan cahaya kilat, membuat Damar sesak hingga seperti akan tercekik. Dia menyentuh lehernya dengan napas memburu, mencoba menelan liurnya yang terasa beku di ujung tenggorokan. 


"Kak Damar, sumpah! Aku bisa jelasin ini semua! Kak Damar!"


Mendadak, suara teriakan-teriakan dari masa lalu memenuhi kepala Damar dan membuatnya merasa pusing. 


"Kak! Ini nggak seperti yang Kakak pikirkan! Aku nggak bermaksud buat bohongin Kakak! Aku…!"


Tersedak oleh napasnya sendiri, Damar pun terbatuk hingga wajahnya memerah. 


"Kak Damar!"


Tidak tahan, Damar pun langsung lompat dari atas tempat tidurnya dan menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas kamarnya. Dia berjalan cepat, dengan sesekali sempoyongan seperti orang pesakitan yang sedang sekarat. 


Dengan langkah mulai tergopoh, Damar masuk ke dalam mobilnya yang sejak sore terparkir di basement. Menarik napas panjang, sebelum akhirnya keluar dan menempuh hujan badai yang tampak sedang berpesta malam ini. 


Beberapa menit, atau lebih tepatnya lima belas menit kemudian, dia sudah tiba di sebuah basement apartemen yang sudah cukup familiar dengannya. Dia keluar, dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 12.


Begitu sampai, keraguan langsung hinggap di relung hatinya paling dalam. Haruskah dia datang saat ini? Apa dia akan diterima jika mengunjungi perempuan itu malam ini? Saat biasa saja, dia sering ditolak. Apalagi tengah malam seperti ini. 


Beberapa pikiran waras pun mulai menghampiri Damar yang sepertinya siap untuk kembali dan mengurungkan niatnya untuk pergi. 


Tapi, haruskah dia benar-benar pergi saat ini? Sanggupkah dia untuk menghadapi malam ini sendirian di apartemen? Haruskah dia mengkonsumsi obat dari dokternya untuk melewati malam ini? 


"Kayaknya, kamu udah bisa belajar buat nggak minum obat-obatan itu lagi, Damar. Itu semua cuma menenangkan kamu untuk sementara. Memangnya kamu mau, bergantung sama obat-obatan itu selamanya?"


Langkah kaki Damar seperti menggantung. Dia ragu, apakah harus masuk lagi ke dalam lift, atau mendengarkan nasihat Eren --sepupunya, yang juga merupakan seorang psikiater -- kemarin. 


"Ini salah kamu. Udah seharusnya kamu siap untuk nerima semua itu. Justru semakin parah, kalau kamu nggak mulai memperbaikinya sama sekali."


Ah…. Eren sialan! Entah kenapa sih, ucapannya itu harus selalu benar? Damar kan jadi bingung, ingin mencari pembelaan apa lagi? Setiap mengeluh soal penolakan Anggi terhadapnya, Eren pasti akan selalu membalasnya dengan telak. 


"Kamu lebih pengen hidup sama ego kamu, atau sama Anggi, sih?"


Dan itu berhasil menampar Damar pada kenyataan yang selama ini sudah terjadi. 


"Kalau aku jadi Anggi, aku pasti nggak akan mau nerima kamu lagi dalam hidup aku. Emangnya, kamu pikir, kehilangan bayi yang kita harapkan karena keegoisan orang lain itu nggak sakit?! Untuk Anggi baik-baik aja dan nggak gila, karena kamu!"

__ADS_1


Yah… syukurnya seperti itu. Untung saja Anggi tidak gila seperti dirinya. Setiap malam dihantui oleh rasa takut yang berlebihan, hingga orang tuanya merasa khawatir dan mengirimkan Eren untuk membawanya ke tempat yang lebih aman. 


Namun, kemanapun Damar pergi setelah kejadian itu, bayangan Anggi yang berteriak di bawah terpaan air hujan tidak pernah hilang dalam pikiran Damar. Begitu jahat dirinya dulu meninggalkan wanita itu hanya karena rasa cemburu. Rasa yang seharusnya tidak perlu dia risaukan karena Anggi selalu ada untuknya dan mencintainya sepenuh hati. 


Cinta? 


Oh…, tidak. Kenapa pikiran konyol itu harus datang di saat seperti ini? Jelas sekarang Anggi sudah tidak mencintainya lagi. Jangankan ingin bersama, melihat wajah Damar saja rasanya Anggi sudah terlihat begitu marah dan muak. Jadi, mana mungkin masih ada rasa cinta di hati perempuan itu untuknya. 


Lah, terus mau bagaimana? Menyerah dan pergi dari kehidupan wanita itu, kah, atau berjuang untuk mendapatkan perasaannya lagi? Bisik hati Damar merasa ragu, menatap pintu apartemen Anggi yang terlihat begitu dingin. 


Jangan berharap lebih, karena dia pasti akan menolak kamu. Jadi, maju aja, karena mungkin kamu harus mengumpulkan seribu penolakan darinya untuk mendapat satu kata maaf dari Anggi. 


Suara petir yang tiba-tiba saja menyambar bagaikan merobek sebuah pohon besar, lantas mengagetkan Damar yang sedang berpikir dalam. Wajahnya kian memucat, dengan langkah geragapan menuju pintu apartemen Anggi. 


Tampak tangan Damar gemetaran saat menekan bel yang ada di sisi pintu. Beberapa saat, tidak ada jawaban dari dalam apartemen tersebut. Dengan ragu, dia kembali menekan tombol tersebut hingga beberapa kali, sampai akhirnya dia merasa sedikit frustrasi dan mulai mengetuk pintu. 


"Nggi," panggil Damar begitu pelan, nyaris tidak terdengar sekalipun ada orang di samping pria tersebut. 


"Buka pintunya," gumam pria itu lagi lesu, namun dengan tangan yang terkepal erat di sisi tubuhnya. 


"Nggi,"


"Lo?"


Dan seketika itu pula, tanpa sadar Damar langsung berhambur ke dalam pelukan Anggi, hingga membuat wanita itu terbengong memikirkan apa yang sebenarnya tengah terjadi. 



"Hah? Lo takut?!"


Anggi terpekik bodoh melihat tampang polos Damar yang mengangguk dan menundukkan kepalanya dalam. 


"Lo becanda? Badan gede kayak lo gini, punya rasa takut? Yakin, lo?" ledek Anggi remeh, menyunggingkan sebelah bibirnya sinis. 


"Takut sama apa? Hantu?" sambung wanita itu lagi mendengus aneh, lantas melirik Damar yang tidak mengangkat kepalanya. "Masa sih, setan takut sama hantu?"


"Nggi,"


Seiring dengan panggilan Damar yang pelan, petir kembali menyambar di luar apartemen. Seketika, tubuh Damar tersentak menatap ke arah jendela dan membuat Anggi merasa curiga terhadapnya. 


"Nggak mungkin sama petir, kan?" terkanya pelan, menatap wajah linglung Damar yang tidak memandangnya. 

__ADS_1


"Gue bukan takut sama petir. Cuma… itu buat gue ingat akan sesuatu yang nggak pengen gue ingat." Gumam Damar lagi melemparkan pandangan ke arah lantai, tidak melihat ekspresi wajah Anggi yang juga berubah detik itu juga. 


Bohong rasanya kalau Anggi tidak tahu dengan apa yang Damar maksud. Selain mungkin Damar memiliki kenangan lain tentang hujan yang begitu deras di malam hari, Anggi bisa menebak kalau apa yang tidak ingin diingat oleh laki-laki itu adalah sesuatu tentang masa lalu mereka berdua. 


"Terus… ngapain lo ke sini? Lo nggak punya tempat lain buat dituju?" tanya Anggi pelan, cenderung ke arah datar, dan menatap Damar tanpa ekspresi.


Namun, bukannya menjawab, Damar hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya dalam. Andai saja dulu dia tidak keras kepala dan menuruti emosi, tentu sekarang dia bisa memeluk wanita itu di balik selimut dan terlelap hingga waktu pagi datang. Mungkin anak mereka yang berusia 8 tahun --andai saja dia hidup-- akan datang mengetuk pintu kamar mereka dan meminta tidur bersama di atas ranjang. Tidak seperti sekarang, dimana untuk duduk berdekatan saja, rasanya sangat berat dan begitu sulit untuk dilakukan. 


"Lo nggak mau ingat…. Harusnya lo nggak datang ke sini."


Damar mengangkat pandangannya ke arah Anggi yang membuang pandangan ke arah lain. Dia yakin, kalau wanita itu baru saja berbicara dengan nada yang terdengar begitu pelan. Seperti bergumam, ataupun mengeluh dengan desahan napas yang begitu berat. 


"Gue nggak pengen ingat. Tapi… gue juga takut lupa." Ucap Damar seperti membalas, sama pelannya seperti suara Anggi, namun aneh, yang mana hal itu masih terdengar satu sama lain oleh mereka. 


Beberapa saat, tidak ada lagi yang saling berbicara di antara mereka. Suasana ini terasa begitu canggung, karena sebelumnya mereka tidak pernah bisa duduk bersama untuk membicarakan suatu masalah. Dan kali ini, rasanya begitu aneh, yang mana keduanya seperti tenggelam dalam rasa yang tidak jelas, karena ketakutan yang sama mereka rasakan. 


Takut kalau semua itu akan membuatnya merasa nyaman, Anggi buru-buru menggelengkan kepalanya keras dan bangkit dari tempat duduknya.


"Sebaiknya lo pulang. Ini udah tengah malam. Nggak pantas lo ada di sini sekarang." Usir Anggi jelas, tanpa melihat wajah Damar yang terangkat menatap nelangsa kepadanya. 


"Nggi,"


Sedikit mendecak, Anggi berjalan ke arah Damar dan menarik lengannya sekuat tenaga. 


"Keluar! Gue mau tidur!" seru wanita itu kesal, pada Damar yang bukannya berdiri, justru menatap wajah Anggi dalam-dalam seperti tidak terganggu dengan usaha wanita itu sama sekali. 


"Sebentar aja…. Biarin… gue di sini sama lo." Ucap Damar seperti memohon, masih menatap wajah Anggi yang enggan untuk melihat ke arahnya. 


"Gue nggak suka lo ada di sini. Gue--"


"Gue bakal pergi…. Kalau perasaan gue udah tenang." Ucap Damar menyela, menghentikan usaha Anggi yang terus menariknya. 


"Lo--!"


Seperti kehabisan kata untuk melawan keras kepalanya Damar, Anggi pun memutuskan untuk menyerah. Dia menghempaskan lengan pria itu kasar dan menarik napas dalam-dalam. 


"Terserah! Gue mau balik ke kamar gue. Dan gue harap, lo udah pergi waktu gue bangun nanti."


Dengan raut wajah yang merah karena marah, Anggi langsung berbalik meninggalkan Damar yang tersenyum kecil. Dia membanting pintunya kasar, dan menguncinya keras, hingga suaranya terdengar sampai tempat Damar duduk saat ini. 


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2