
Wajah Anggi terlihat sedikit panik saat keluar dari lift. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, sebelum berjalan memutari ruang lift menuju tempat dimana tadi pagi dia berbicara berdua dengan Roni.
Bukannya apa-apa, hanya saja, Anggi baru ingat kalau tadi dia menjatuhkan cincin yang sempat diberikan oleh Roni. Karena terkejut dengan Roni yang memeluknya secara tiba-tiba, cincin itu terlepas dan menggelinding entah kemana. Bisa gawat, kalau sampai Roni tahu Anggi menghilangkan cincin berharganya. Bisa-bisa, cowok itu akan mengganggap Anggi tidak bisa dipercaya dan menjaga apa yang dititipkan Roni kepadanya. Ya, meski Anggi sendiri pun juga bingung, kenapa cowok itu bisa menitipkan cincin kepadanya.
Mungkinkah Roni akan melamarnya?
"Hohoho…, itu tidak mungkin sekali…. Dia itu kan--"
Plak!
"Apaan sih lo, Nggi?! Ini bukan waktunya mengkhayal yang enggak-enggak, tau! Buruan cari cincinnya!"
Sadar kalau pikirannya sudah mulai tidak fokus dan melenceng, Anggi segera menampar kedua pipinya pelan. Dia menggerutu, sambil mencari cincin itu kembali di sepanjang lantai yang terbuat dari marmer tersebut. Dia berusaha menajamkan matanya, karena siapa tahu, cincin yang berwarna hampir sama dengan warna lantai memang ada di depannya.
Sementara itu, sibuk mencari seorang diri, Anggi tidak sadar kalau ternyata sepasang kaki sudah berdiri tepat di atas cincin itu berada.
Dia adalah Damar. Entah bagaimana beruntungnya dia, saat ini cincin itu sudah berada di tangannya. Memperhatikannya sejenak dengan seksama dan dalam ekspresi wajah yang tidak terbaca. Lalu, merasa cukup dia melihat cincin itu dan memiliki prediksi mahal terhadap benda tersebut, dia pun mengalihkan pandangannya pada Anggi yang saat ini tengah memunggunginya.
Haruskah dia memberikan cincin itu kepada Anggi?
Hah! Yang benar saja! Jangan pura-pura bodoh dengan maksud pria itu terhadap Anggi! Diam saja, dan jangan cari masalah! Bisik setan jahat dalam diri Damar, memperhatikan cincin itu ulang dan Anggi secara bergantian.
"Eh, Nggi! Di sini lo, rupanya…!"
Sedang berperang batin, Damar mendengar suara yang berbicara kepada Anggi.
"Eh, iya…."
Dari tempatnya berdiri yang sebenarnya tidak jauh dari Anggi itu, Damar bisa melihat Anggi seperti tersenyum kepada Ditha. Teman dekat perempuan itu, selama Damar kenal dan bekerja sama dengan mereka.
"Elah, kita udah nyariin lo dari tadi, tau! Si Roni katanya mau ngajakin kita buat makan-makan bareng. Ya… sebenarnya cuma kita bertiga doang, sih…. Lo tau sendiri kan…."
Damar tidak mendengar ucapan Ditha selanjutnya. Aneh, karena dia kembali melihat cincin putih pemberian Roni yang tadi dijatuhkan oleh Anggi. Pikirnya, benar-benar mustahil orang tidak tahu kalau pria itu menyukai Anggi. Meskipun Damar dengar Roni itu terlalu galak dan juga sinis terhadap wanita lain, dia bisa menduga dengan yakin kalau pria itu pasti menaruh hati kepada Anggi. Karena kalau tidak, mana mungkin dia mau repot-repot bersabar di sisi Anggi selama ini.
Seperti dirinya….
"Eh, Ndi!"
Terkejut karena tiba-tiba dirinya dipanggil, Damar segera memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya. Dia melihat gugup, ke arah Ditha dan Anggi, yang sepertinya baru sadar kalau sejak tadi Damar berdiri di belakangnya.
"Hm?"
"Lo ngapain di sini? Pak Mario nyariin lo, tau! Dia bilang, ada yang mau dibicarain sama lo!" ujar Ditha sedikit keras, karena posisi mereka yang cukup jauh.
Merasa sedikit tergeragap, Damar menatap Ditha, dan melihat Anggi menatap wajahnya datar.
"Oh, iya…." Sahur Damar singkat, lantas segera pergi dari hadapan dua perempuan itu.
__ADS_1
"Aneh," gumam Ditha pelan, sambil terus memperhatikan punggung Damar yang kian menjauh dari pandangannya.
Sementara itu, Damar yang sudah berpaling, memutuskan untuk diam saja dan tidak akan memberikan cincin itu kepada Anggi. Entah untuk sekarang, atau bahkan seterusnya.
***
Saat ini, ketiga teman akrab itu sudah duduk di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor mereka berada. Biasanya, ketiganya sering berkumpul di sana jika ingin menghabiskan waktu. Kali ini, ketiganya berkumpul bersama untuk acara perpisahan Roni yang katanya juga akan pindah keluar kota mulai besok lusa.
"Lo seriusan mau cabut, Ron? Lo nggak bisa gitu, mikirin hal ini lagi matang-matang?" bujuk Ditha untuk ke sekian kalinya, yang seperti berat ingin melepaskan Roni dari sisi mereka.
"Gue udah mikirin hal ini matang-matang. Udah kematangan banget malah! Jadi, nggak ada alasan buat gue nunda kepergian gue lagi sekarang," ujar Roni pasti, kemudian melirik ke arah Anggi yang sejak tadi diam di depannya.
"Nggi!" panggilnya pada perempuan itu, yang sontak membuat Anggi sedikit kaget menoleh ke arahnya.
"Lo kenapa, sih? Gue liat, dari tadi lo kayaknya melamun gitu? Lo ada masalah?" tanya Roni peduli, tak ayal membuat Anggi merasa semakin kaku dengan adanya perhatian Ditha yang juga tertuju ke arahnya.
"Eh? Masalah? Ngh… enggak, kok! Gue nggak ada masalah! Gue baik-baik aja," kilah Anggi sedikit tergagap, melihat Roni menaikkan sebelah alisnya.
"Yakin, lo?"
"Yakin…." Ujar Anggi meyakinkan, lalu menutupi kegelisahannya dengan menyeruput es jeruk yang ada di depannya.
Sesaat, Roni masih menatapnya dengan sorot mata tidak percaya. Sejak kenal dengan Anggi, dia cukup paham dengan reaksi yang saat ini diberikan oleh perempuan itu. Meskipun tidak tahu apa, tapi Roni yakin kalau Anggi sedang menutupi sesuatu darinya.
"Eh, bentar, ya…. Tunangan gue nelepon, nih!"
Di tengah perhatiannya kepada Anggi, Roni menoleh ke arah Ditha yang pergi meninggalkan dirinya dan Anggi di meja kafe. Dia sedikit menjauh, untuk menjawab panggilan telepon dari tunangannya yang mereka tahu sangat posesif.
"Ngomongin sesuatu? Apaan?" tanya Anggi tenang, tanpa menoleh ke arah Roni sedikit pun.
"Gue bakal pergi untuk beberapa waktu. Gue belum tahu kapan lagi bakal balik buat nemuin lo. Lo nggak mau bilang sesuatu sama gue?" tanya Roni lagi, setelah menjelaskan dengan nada suara yang lumayan lembut.
"Oh…, itu…." Respons Anggi, menelan es jeruknya sekali, kemudian berkata. "Hati-hati,"
"Hati-hati?" ulang Roni bingung, menaikkan sebelah alisnya. "Buat apa?"
"Lah, emang ucapan hati-hati itu buat apa? Ya, biar lo hati-hatilah! Kan lo bilang, lo mau pergi," ucap Anggi seolah tidak peduli, dengan perubahan raut wajah Roni yang seperti lelah dan mendesahkan napas panjang.
Sesaat, pria itu hanya diam sambil terus memandangi wajah Anggi. Lalu, seperti memperhatikan sesuatu, dia melihat ke arah tangan Anggi yang sedang memegang kelas es jeruk miliknya.
"Cincin yang gue kasih tadi pagi, mana?" tanyanya tiba-tiba, sontak membuat Anggi terdiam dengan kedua bola mata sedikit membola.
"Cincin?" gumamnya begitu pelan, lantas menurunkan kedua tangannya dari atas meja.
"Ada…. Gue simpan," jawabnya menyengir, menutupi perasaan kaku yang kembali hadir menghantuinya.
"Kok nggak dipakai? Cincin itu kan buat lo," tanya Roni lagi, kali ini membuat Anggi merasa bingung dan menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Oh…, iya…. Emang sengajak nggak gue pakai. Takut hilang. Kayaknya, itu cincin mahal, kan?" kilahnya lagi, menarik sebelah sudut sejenak.
"Pakai aja, kali. Tapi, ya, jangan sampai ilang. Itu kan dibeli emang buat lo pakai," kata Roni, seperti mulai terlihat santai dengan meminum jus mangga di depannya.
Tidak ingin menjawab kalau cincinnya memang sudah hilang, Anggi hanya tersenyum kikuk, dan meminum es jeruk miliknya. Sesaat tadi, dia lupa kalau cincin itu belum ditemukan sejak tadi siang. Dan saat dia sudah mulai santai, Roni malah kembali mengingatkannya perihal cincin yang tadi dia beri.
"Lo paham kan, sama maksud ucapan gue soal cincin itu?"
Sedang sibuk memikirkan kembali letak cincin yang hilang, Anggi menoleh ketika Roni seperti tengah berbicara kepadanya.
Eh, iya…. Anggi juga baru sadar dengan pertanyaan Roni terhadapnya. Mengenai cincin itu, kenapa dia harus memberikannya pada Anggi?
"Soal itu…, sebenarnya gue belum paham banget, kenapa lo harus nitipin cincin itu ke gue. Gue kan--"
"Itu buat lo. Kan udah gue bilang dari tadi," kata Roni menyela, dengan nada suara yang tegas, sehingga Anggi terdiam untuk beberapa saat.
"Cincin itu buat lo. Sebagai jaminan, kalo gue emang bakal kembali lagi buat lo," lanjut Roni serius, tak ayal membuat Anggi mengerutkan dahinya sedikit dalam.
"Lo ngelakuin ini juga sama Ditha?" tanyanya polos, yang segera saja mendapat bantahan dari Roni.
"Enggak. Dia udah punya tunangan gitu."
"Terus, kalo dia belum punya tunangan, lo juga bakal ngasih dia?" tuntut Anggi berikutnya, kali ini membuat Roni terdiam memandangnya.
"Nggak."
"Terus?"
"Lo nggak paham juga maksud gue?" tekan Roni, melihat Anggi seperti bingung dengan ucapannya.
Tolong yakinkan Roni kalau wanita itu tidak sepolos dari yang dia pikirkan saat ini. Anggi yang dia kenal, pasti akan mengerti dengan maksud ucapan Roni sekarang.
"Kalo lo jelasin, mungkin gue bakal ngerti," ujar Anggi setelah memandangnya lama, dan membuat Roni mau tak mau menarik napasnya sedikit panjang.
Benarkah dia harus menjelaskannya secara gamblang saat ini?
"Nggi…. Maksud gue itu--"
"Nggi! Nggi!"
Belum juga Roni sempat mengutarakan ucapannya, tiba-tiba saja Ditha datang menghampiri Anggi dan menabrak punggungnya dengan raut wajahnya yang begitu ketakutan.
"Eh, Dith! Apaan, sih?! Lo--"
"Nggi! Nggi! Lo harus tolongin gue! Lo harus antar gue ke rumah sakit sekarang! Pleaseee! Anterin gue!" pinta Ditha panik, menggoyang-goyangkan lengan Anggi dengan nada suara yang keras hingga memancing perhatian dari orang-orang sekitar mereka.
"Apaan, sih? Lo kenapa? Kenapa ke rumah sakit? Emang ada apa?" tanya Anggi ikut panik, dengan reaksi Ditha yang menangis hingga wajahnya memerah.
__ADS_1
"Tunangan gue…. Tunangan gue kecelakaan!"
Bersambung