
Dua minggu sudah berlalu. Dan rasanya Damar sudah semakin pusing memikirkan cara untuk mendekati Anggi lagi. Semakin lama, bukannya semakin baik, hubungan keduanya tampak semakin panas dengan Anggi yang terus menerus memberikan perlakuan buruk terhadap Damar. Seperti sekarang, setelah kedatangan karyawan baru pengganti Roni, Anggi jadi semakin terlihat tidak terkendali. Pasalnya, pria yang menggantikan posisi Roni itu selain tampan, juga berusia lebih muda. Ditambah dengan karakter dan kenyataan kalau dia itu sudah menikah, semakin membuat mantan istri dari Damar itu kian blingsatan ingin mencari perhatian.
"Baby Gavin, kamu lagi apa? Ada yang bisa aku bantuin, nggak?"
Sedikit geram bercampur malas, Damar menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Di sebelah kanan, dia melihat Anggi berjalan sambil melenggak-lenggokkan tubuh berisinya itu ke salah satu meja pria yang merupakan pengganti Roni, Gavin.
"Eh, Mbak, nggak usah. Gue bisa kerjain sendiri," tolak pria itu halus, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Anggi yang sudah berdiri di depan mejanya.
Dan dengan ekspresi super malas, Damar mulai menebak kalau Anggi tidak akan pergi dari tempat itu meskipun sudah ditolak.
"Oh, yaudah, kalau gitu, gue bantuin doa aja, ya…. Semoga, kita cepat dipertemukan di pelaminan," kikik Anggi menyebalkan, membuat Damar begitu kesal dan seakan ingin meremas wajah perempuan itu.
Genit!
Mendapat gombalan yang tidak berbobot seperti biasa, reaksi Gavin juga seperti sudah bisa ditebak akan seperti apa. Dia mendongakkan wajahnya ke arah perempuan itu dan memandangnya tanpa ekspresi.
"Kenapa? Lo nggak mau ketemu sama gue di pelaminan? Oh! Atau, lo sebenarnya pengen ketemu sama gue itu di atas ranjang langsung?" tanya Anggi jelas menggoda, tak ayal membuat Damar semakin berang hingga tak sadar mengepalkan kedua tangannya erat.
"Apaan sih, Mbak? Nggak lucu!" ujar Gavin datar, hendak memfokuskan dirinya lagi, sampai suara Anggi kembali terdengar mendayu.
"Halah, nggak usah jual mahal deh, Vin…. Gue tau kok, sebenarnya lo itu mau. Iya kan? Oh… atau, jangan-jangan, lo malu ya, gue tawarin terang-terangan gini? Lo maunya gue tawarin secara berduaan aja? Boleh…. Boleh…. Ntar, lo gue chat deh, biar--"
"Iiiih, Mbak Anggi tuh apa-apaan, sih?! Jangan nodain kuping gue kayak gitu kenapa! Gue jadi panas nih, dengarnya!"
Belum selesai Anggi bicara kepada Gavin, Aulia --karyawati baru juga seperti Gavin-- sudah lebih dulu menyerobot kalimat perempuan itu dengan ekspresi yang begitu kesal. Sepertinya, anak itu sejak tadi memperhatikan gaya Anggi saat menggoda Gavin. Karena kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa bergidik ngeri begitu saat menatap wajah Anggi. Apalagi, dia mengaku kalau telinganya seperti ternodai dengan tutur kata Anggi yang memang terdengar begitu nakal.
Kasihan.
__ADS_1
"Eh, bocil! Emang gue ada ngapain kuping lo, sih?! Ngapa lo jadi merasa ternodai begitu?! Perasaan banget lo, kayaknya!" sembur Anggi kemudian, menatap jengkel pada Aulia yang masih mengusap telinganya beberapa kali.
"Ih, Mbak tuh ya, aneh! Ngapain coba ngomongin hal nggak penting kayak gitu sama suami orang! Ingat, Mbak…. Ingat, Gavin itu udah nikah! Dan istrinya lagi hamil! Mbak nggak usah kecentilan gitu, deh! Bikin orang kegerahan aja," sungut Aulia masam, berusaha mengalihkan perhatiannya pada beberapa kertas yang ada di hadapannya.
"Lah, apa lo bilang? Emang gue ngomong apaan, sampe bisa bikin lo kegerahan, hah? Perasaan lo sendiri deh, yang sewot gue gangguin Gavin kayak gini? Kenapa? Lo cemburu? Lo naksir sama gue?" balas Anggi tiba-tiba, sontak membuat kedua mata Aulia membola.
"What?! Apa!? Apa?! Mbak bilang apa?! Gue naksir sama Mbak?!" pekik Aulia panik, langsung memasang wajah terkejut yang begitu berlebihan.
"Nggak salah?!" serunya kemudian, layaknya orang terjepit yang mencoba untuk berteriak.
"Eh, Mbak! Dengar, ya! Mending gue itu naksir sama onta, daripada sama Mbak! Nggak ada faedahnya! Dan lagi nih, Mbak pikir, gue itu nggak normal, apa, sampai harus naksir sama cewek juga? Sembarangan aja, kalo ngomong!" sewot Aulia kesal bukan main, sampai harus berdiri dari tempat duduknya dan mengibaskan rambutnya merasa gerah.
"Lah, kan emang lo nggak normal. Buktinya, lo masih jomblo aja tuh, dari lahir. Apa namanya kalo nggak normal? Nggak mungkinkan, lo nggak pernah naksir sama cowok sama sekali?" ejek Anggi santai, tak ayal langsung membuat semua mata yang ada di ruangan itu tertuju kepada Aulia. Ya, kecuali Damar tentunya. Dia masih fokus pada Anggi, sambil menahan kesal karena semua tingkah laku wanita itu.
"What?" desis Aulia tertahan, sepertinya tidak tahan untuk tidak mengumpat. Enak saja wanita genit itu mengatainya tidak normal hanya karena pernah bilang belum pernah menyukai satu orang laki-laki pun dalam hidupnya.
Sembarangan!
Benar-benar menyebalkan.
"Tau, ah! Gue malas ngomong sama Mbak! Mending Mbak nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh, di depan gue! Gue risih tau, nggak!" ujar Aulia berikutnya, yang bukannya paham, malah ditertawai oleh Anggi.
"Lah, emang kenapa? Napsu lo naik, kalo gue bahas yang begituan? Iya? Emang, lo bisa napsuan juga?" ledek perempuan itu lagi, kali ini benar-benar membuat Aulia geram mendengarnya.
"Mbak! Iiiiiih!"
Tak tahan, Aulia akhirnya pergi meninggalkan meja kerjanya menuju luar ruangan. Meninggalkan Anggi yang terkekeh, serta beberapa teman mereka yang hanya menggelengkan kepala melihat ulah keduanya.
__ADS_1
Siapapun tahu, kalau berdebat dengan Anggi itu tidak ada gunanya. Ada saja jawaban aneh wanita itu untuk membuat lawannya kalah ataupun malu. Ibarat kata, berdebat dengan Anggi itu sama saja seperti melawan orang gila. Tidak akan ada habisnya dan terus berulang-ulang. Hanya akan membuat capek sendiri. Jadi, lebih baik diam, dan jangan cari perkara.
"Kayaknya, lo puas banget ya, udah ngeledekin dia sampai segitunya?"
Sedang ingin fokus mengganggu Gavin lagi, tiba-tiba keadaan ruangan mendadak sunyi seiring dengan perkataan Damar yang ditujukan kepada Anggi.
Sedikit menaikkan alis, Anggi menoleh dan tidak menjawab apapun dari ucapan pria tersebut.
"Gue tanya, emang lo pernah cinta sama cowok? Satu aja…. Pernah?" tanya Damar menyeringai, dengan tatapan matanya yang tajam menyorot Anggi.
Seakan mendengar itu seperti ejekan ataupun sindiran, wajah Anggi langsung terlihat tegang dengan pertanyaan tersebut.
"Lo sok-sokan ngatain Aulia nggak normal cuma karena belum pernah jatuh cinta sama cowok. Terus, gimana dengan lo sendiri? Yang lo lakuin cuma godain banyak laki-laki dengan tubuh lo yang bongsor itu. Lo pikir, itu cinta? Yang lo lakuin itu cuma pengen ditidurin doang. Jadi, nggak usah merasa bangga karena udah berhasil menggaet perhatian laki-laki cuma karena goyangan pinggul lo. Paham?"
Seperti tersiram air dingin, wajah Anggi terasa begitu dingin mendengar ucapan Damar. Dia tersinggung dengan perkataan pria itu. Meski sudah terbiasa mendengar hal serupa dan bahkan yang lebih kejam lagi, entah kenapa kali ini mental Anggi terasa jatuh karena kalimat tersebut. Dia merasa kalah, terlebih dengan banyak mata yang sekarang tertuju kepadanya.
Demi Tuhan, kenapa laki-laki ini selalu saja menyakiti perasaan Anggi? Bukankah harusnya dia diam saja dan berpura-pura tidak mengenal Anggi? Kenapa dia harus ikut campur seperti ini?
Jika biasanya Anggi akan bersikap masa bodoh dengan segala cemooh orang, kali ini dia pergi meninggalkan meja kerja Gavin dengan kepala yang sedikit tertunduk. Meski sakit hati, dia bahkan menunjukkan wajah tersinggungnya kepada Damar. Karena menurutnya, itu pasti hanya akan membuat Damar puas dan merasa menang atas dirinya.
"Mau kemana?"
Saat melewati meja Damar, Anggi mendengar pria itu bertanya kepadanya. Aneh, saat kaki Anggi malah berhenti tepat di sebelah pria itu berdiri saat ini.
Mencoba menarik napas panjang dan berusaha tenang, Anggi pun menoleh secara perlahan dan melemparkan senyum simpul.
Tanpa menjawab, dia hanya memandang Damar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti menilai, dia memberikan isyarat kepada Damar dan membuat pria itu terdiam dengan wajahnya yang begitu bersalah.
__ADS_1
"Lo bener. Gue emang nggak pernah mencintai siapapun selama ini,"
Bersambung