
Siang ini, Anggi berencana untuk pergi ke rumah orang tuanya. Sejak menikah dan pindah ke rumah keluarga Damar empat bulan lalu, tidak sekalipun Anggi datang dan menginjakkan kaki ke kediaman keluarganya. Jangankan untuk bertemu muka, saling berkomunikasi lewat ponsel saja, tidak pernah mereka lakukan. Seolah putus hubungan, Anggi merasa sebatang kara hidup di dunia ini tanpa ada yang menanyakan kabar tentang dirinya.
Sebenarnya, bukan tidak pernah Anggi mencoba menghubungi orang tuanya. Beberapa kali, Anggi berusaha menelepon ke ponsel ayah dan ibunya. Namun, keduanya kompak untuk tidak menjawab panggilan dari Anggi sama sekali. Menghubungi rumah, selalu asisten rumah tangga mereka yang menjawab dengan alasan kalau ayah dan ibunya Anggi baik-baik saja dan meminta Anggi untuk tidak khawatir.
Merasa kalau ini sudah di ambang batas, Anggi pun memutuskan untuk pergi sejenak ke rumah orang tuanya. Meskipun dia harus menerima cercaan lebih dulu dari ibu mertuanya saat meminta izin untuk keluar, dia tetap membulatkan tekad untuk pergi siang itu juga.
"Nggak bawa aja koper kamu sekalian? Barang-barang kamu juga, jangan ada yang ketinggalan. Karena, saya nggak suka ada alasan kamu balik ke rumah ini, biarpun sekedar mau ngambil botol parfum."
Hati Anggi terasa nyeri mengingat satu ucapan Ranti saat akan pergi tadi. Secara tidak langsung dan juga kasar, wanita itu menyuruh Anggi pergi dari rumah itu untuk selamanya. Padahal jelas sekali tadi Anggi bilang ingin mengunjungi keluarganya sejenak. Kenapa dia sangat semangat untuk mengusir Anggi, sih?
Turun dari taksi yang tadi dia hentikan saat di depan rumah, Anggi pun langsung bergegas masuk ke pekarangan rumah keluarga yang juga cukup besar. Di sana, dia melihat dua penjaga rumah yang sedang bercengkrama di pos mereka.
"Pak," tegur Anggi pelan, tak ayal langsung membuat dua orang pria di sana terkejut dan berdiri.
"Non Anggi?"
Keduanya saling melirik satu sama lain, dengan raut wajah yang sedikit cemas.
"Non… sama siapa ke mari?" tanya salah satu dari mereka, melihat Anggi yang sepertinya datang sendirian.
"Sendiri, Pak. Emh… Papa sama Mama ada? Anggi mau ketemu," tanya Anggi dengan suara khasnya yang begitu pelan, lagi-lagi membuat dua orang di sana itu saling memandang.
"Engh… Tu--Tuan dan Nyonya… ehm… itu… Tu--Tuan dan Nyonya…."
"Kak Anggi?"
Masih tergagap kebingungan menjawab pertanyaan Anggi, ketiganya menoleh, saat seseorang memanggil Anggi dari arah belakang.
Saat bercerita, ternyata ketiganya tidak sadar dengan sebuah mobil yang berhenti di dekat mereka.
"Bagas?"
Kening Anggi seketika mengenyit, melihat adiknya datang bersama Arkan, dengan membawa sebuah koper berukuran sedang di tangannya.
__ADS_1
"Kak Anggi? Kakak ngapain di sini? Kok--?"
Sama halnya dengan Anggi, Bagas --adik Anggi-- pun ikut mengernyit melihat keberadaan kakaknya di sana.
"Ah, Kakak mau ketemu sama Papa dan Mama. Kamu dari mana? Kok bawa koper? Abis liburan, ya?" tanya Anggi heran, sambil melirik koper yang dia kenal sebagai milik Bagas tengah dipegang oleh Arkan.
"Eh? Engh… enggak. Enggak dari liburan, kok! Liburan apa, coba? Orang bagi rapor masih lama lagi, juga…." Ujar Bagas jujur, lalu terlihat sedikit gugup menolehkan kepalanya ke arah Arkan.
"Hm… terus… kopernya buat apa? Kamu dari mana?"
Sadar dengan Anggi yang sepertinya penasaran dengan koper milik Bagas, membuat Arkan berdeham dan mengambil alih pembicaraan dengan perempuan itu.
"Lo nyari Om sama Tante?" tanya Arkan, berhasil menarik perhatian Anggi kepadanya.
"Iya,"
"Kalau gitu, masuk dulu. Ntar gue ceritain di dalam."
"Kak!"
Sambil menghelakan napas, Arkan menyentuh sebelah bahu Bagas yang terbilang masih cukup kecil.
"Dia harus tau. Karena gimana pun juga… dia tetap anak dari Om dan Tante."
❄
Sepertinya, kaki Anggi sudah berubah menjadi jeli yang tidak sanggup lagi menopang tubuhnya untuk berdiri. Dia jatuh di atas tempat tidur, dan termenung mengingat apa yang terjadi di rumah keluarganya beberapa waktu yang lalu.
"Setelah kepergian lo, Om Rian jadi sakit-sakitan. Berulang kali dibawa berobat juga nggak menghasilkan apa-apa. Kemarin, Tante Mira bawa Om Rian ke Singapura, berharap dapat pengobatan yang lebih baik lagi di sana."
Mengerjapkan mata, Anggi menyentuh dadanya yang terasa begitu ngilu.
"Gimana keadaan Papa?"
__ADS_1
"Keadaannya… buruk."
Setetes air mata Anggi langsung terjatuh membasahi pipi. Dia menangis tanpa suara dan isakan yang begitu sedih. Demi apa pun, dia tidak menyangka kalau kesalahannya bisa membuat ayahnya yang terlihat kuat dan gagah jatuh sakit dan tidak berdaya.
"Semakin hari, kondisi Om Rian semakin buruk. Tekanan darahnya selalu tinggi dengan kondisi jantung yang kian melemah."
Anggi ingat, saat Arkan menyentuh bahunya saat menjelaskan hal itu tadi di rumah.
"Sebaiknya lo berdoa untuk kesehatan Om Rian kedepannya."
"Papa…."
Tidak bisa menahan tangis, Anggi menunduk menyentuh kepalanya yang terasa begitu penuh dengan tangannya yang bergetar. Saat merasa tertekan begini, dia tidak sadar sudah menekan perutnya yang sedikit buncit dalam posisi duduk di atas ranjang. Sepertinya, dia tidak terbiasa untuk menghadapi dua masalah dalam satu waktu yang sama.
"Papa…, maafin Anggi, Pa…. Maaf," racau Anggi pelan, kini sudah banjir dengan air mata. Wajahnya merah, dengan sedikit urat yang terlihat di dahinya.
"Kamu kenapa?"
Merasa menangis seorang diri di dalam kamar tidurnya yang sepi, Anggi dikagetkan dengan kehadiran Damar yang masuk ke dalam kamar tidur tersebut.
Heran, tidak biasanya pria itu pulang di sore hari seperti ini. Biasanya, dia pasti akan pulang larut, menunggu Anggi tertidur dulu baru masuk ke dalam kamar.
"Kak…."
Tidak peduli dengan alasan pria itu pulang cepat, Anggi justru menangis menatap pria itu dengan gaya yang sangat menyedihkan. Seolah minta belas kasih, dan berharap Damar datang untuk menggapai tangannya yang gemetar.
Lalu, seolah tahu dengan maksud tatapan wanita itu, Damar yang melihat Anggi terisak pilu itu pun mendekat, dan duduk di sebelahnya di atas ranjang.
"Papa… Papa sakit, Kak…. Mereka bilang… kondisi Papa semakin buruk…. Papa… dia… dia sakit, Kak…. Papa sakit…. Dan itu semua gara-gara aku. Gara-gara aku yang nggak berguna ini, Kak. Papa sakit, gara-gara aku…!"
Kaget mendengar racauan tidak jelas Anggi, Damar pun hanya mampu menangkap inti dari tangisan Anggi saat ini. Ayah mertuanya sedang sakit. Yah, hanya itu yang Damar tahu, dan membuatnya memeluk bahu Anggi sedikit canggung. Tanpa suara, tanpa bicara, dia mengusap bahu perempuan yang menangis di dadanya itu dengan pelan.
Beberapa menit Damar masih mendengar racauan wanita tersebut, sampai akhirnya Anggi tenang dan menandakan kalau dia sudah tertidur dalam posisi duduk di pelukan Damar.
__ADS_1
Tahu kalau itu bukanlah posisi yang nyaman, Damar --dengan kepeduliannya yang mendadak muncul-- segera membenarkan posisi tidur Anggi. Dia meletakkan wanita itu di atas ranjang dengan pelan, dan menyelimuti tubuh berisinya menggunakan selimut. Setelah itu, dia merapikan sedikit rambut Anggi yang berantakan, sambil menatap wajah perempuan itu lambat-lambat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Damar pun berdiri tegak, dan segera meninggalkan kamar tidurnya itu tanpa bicara.
Bersambung.