
Waktu itu, hubungan Damar dan juga Anggi terlihat semakin baik. Damar yang semula selalu acuh tak acuh dengan semua perbuatan Anggi, kini mulai meresponsnya satu per satu. Bahkan, kalau wanita itu tidak melakukan apa pun, Damar pasti akan bersikap seperti anak kecil yang sibuk melakukan berbagai hal, agar bisa mendapatkan perhatian dari perempuan itu. Lalu, setelah dikomentari, dia pasti akan melakukan hal yang mampu membuat Anggi merasa jengkel dan memasang wajah masam.
Itu benar-benar sangat menyenangkan bagi Damar.
Pagi ini, seperti biasa, Damar bangun dari tidurnya tanpa ada Anggi di sebelahnya. Dia melihat ke arah kamar mandi yang dalam keadaan sepi, membuat dia menduga kalau perempuan hamil itu pasti sudah meluncur ke dapur lagi untuk membuatkan sarapan untuknya dan juga keluarganya.
Itu seperti sudah menjadi kebiasaan Anggi, meskipun mereka tahu kalau masakan perempuan itu nantinya akan langsung dihina oleh ibunya Damar, atau bahkan bisa saja langsung mendatar ke dalam tempat sampah.
Damar jadi merasa jengkel jika harus memikirkan hal ini setiap hari.
Prang!
Baru saja Damar menurunkan sebelah kakinya dari ranjang, suara keributan yang sejak tadi dia pikirkan kembali sudah kembali dia dengar.
Tanpa dijelaskan secara gamblang juga, Damar sudah bisa menduga kalau suara itu pasti berasal dari dapur seperti apa yang sudah terjadi hampir setiap harinya.
Tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk, Damar tampak keluar dari dalam kamar dan menuju dapur dengan terburu-buru. Dan sesampainya di sana, dia sudah melihat Ranti, ibunya, tengah berkacak pinggang di depan Anggi yang tengah memegang pergelangan tangannya sendiri sambil meringis.
"Lama-lama semua barang saya bisa habis gara-gara tangan kamu yang nggak berguna itu!" seru Ranti dengan napas memburu, menatap Anggi yang menundukkan kepalanya dalam.
"Harus berapa kali lagi saya bilang, saya itu nggak suka makan apa pun yang dibuat sama tangan kamu! Kamu itu penyihir! Bisa-bisa saya mati setelah makan masakan kamu! Kamu nggak ngerti juga?!" hardik Ranti kasar, pada Anggi yang hanya diam menerima cercaan itu.
"Ma,"
Saat Damar mendekat, dia bisa melihat kalau ada bekas memerah di pergelangan tangan Anggi yang wanita itu pegang.
"Tangan kamu kenapa?" tanya pria itu heran, karena Anggi justru semakin menutup pergelangannya menggunakan telapak tangan.
"Ngapain kamu nanya-nanya dia? Jelas itu semua karena kebodohan dia sendiri!" ujar Ranti melihat Anggi, yang masih saja diam menundukkan kepalanya.
"Anggi, tangan kamu kenapa?" ulang Damar bertanya, yang mana kali ini justru membuat Ranti merasa muak terhadap menantunya tersebut.
"Udahlah, Damar! Nggak usah kamu peduliin lagi perempuan ini. Tensi Mama benar-benar naik, karena ngeliat ulah dia setiap hari," kata Ranti menyentuh kepalanya, yang mungkin sudah kembali pusing.
Untuk beberapa saat, Damar masih menatap wajah Anggi yang sebenarnya sulit untuk dia lihat. Meskipun samar, Damar bisa mendengar desisan halus istrinya itu menahan sakit. Terlebih lagi, wanita itu juga terlihat menggigit bibir bawahnya sendiri seolah meringis dengan apa yang saat ini dia rasakan.
"Kamu ngapain lagi masih di sini? Mau bikin saya stroke, ya?! Pergi sana! Dasar menantu nggak tau diuntung!"
"Ma!"
Damar yang tiba-tiba saja menegur Ranti dengan suara sedikit keras, sukses membuat wanita paruh baya itu terbungkam.
Mencoba untuk menahan emosi, Damar melayangkan pandangannya sekilas menyisir dapur tersebut.
"Papa mana? Udah berangkat kerja?" tanya Damar setelah menghembuskan napas panjang, tampak mengalihkan fokus ibunya yang mulai menatap heran kepadanya.
Kambali mendengus, Ranti melipat kedua tangannya di dada, sebelum menjawab, "Papa kamu nggak ada! Dari kemarin pergi ke luar kota. Ada urusan kerja!" dengan nada ketus dan membuang pandangannya ke arah lain.
Oh, pantas saja. Batin Damar mendesah, sekilas menundukkan kepalanya. Pikirnya, kenapa ayahnya tidak datang membela Anggi yang sedang dijahati oleh ibunya Damar? Biasanya kan, kalau memang ayahnya ada di rumah, yang berperan sebagai pahlawan bagi Anggi itu hanyalah ayahnya. Tapi, kenapa sekarang Anggi malah dicecar habis-habisan oleh ibunya Damar tanpa ada yang membela?
Ternyata ayahnya Damar sedang pergi ke luar kota, ya…?
Masih dalam keadaan berpikir, Damar melihat Anggi pergi tanpa suara. Dia lewat dari belakang Damar dengan posisi kepala yang masih menunduk dalam.
Ingin mengikuti, Ranti sudah lebih dulu menangkap lengannya seraya bertanya, "hei, mau ke mana kamu?"
Menoleh ke arah ibunya, Damar menjawab, "ke kamar."
__ADS_1
"Mau ngikuti perempuan itu?" tanya Ranti lagi curiga.
"Ya enggaklah! Kamar Damar sama dia kan emang sama. Gimana, sih?" sewot Damar menjawab, berhasil membuat ibunya percaya.
Jujur, Damar memang ingin mengikuti Anggi dan melihat bagaimana keadaannya. Kalau memang dia bisa membantu, dia ingin mengobati tangan wanita itu semampunya. Kasihan juga, kalau dibiarkan begitu saja. Apalagi kalau sampai membekas dan terlihat oleh ayahnya Damar. Bisa-bisa Damar kena ceramah lagi dan dibilang tidak becus sebagai laki-laki yang menyandang status suami Anggi.
❄
Sementara itu, Anggi di dalam kamar hanya bisa meringis memegang pergelangan tangannya yang terasa perih. Dia tidak habis pikir, lagi-lagi, niat baiknya yang hanya ingin memberikan masakan istimewa untuk ibu mertuanya berupa sup rumput laut, berbuah sebuah luka. Dia dituduh ingin meracuni wanita itu. Padahal, setitik niat untuk menyakitinya pun tidak ada. Dia benar-benar hanya ingin memasakkan makanan yang baru dia pelajari kemarin untuk Ranti, agar wanita itu bisa menghargai sedikit saja keberadaan Anggi di rumah itu. Dia hanya ingin dianggap sebagai keluarga. Karena, setelah menikah dengan Damar, dia sudah seperti manusia terlantar yang tidak punya siapa-siapa untuk kembali. Keluarganya seolah membuangnya, dan keluarga Damar tidak mau menerimanya. Meskipun masih ada Panji, ayahnya Damar, yang menyayangi Anggi seperti anaknya, tidak bisa dipungkiri, rasa ingin memiliki keluarga itu ada dalam hatinya. Dia juga ingin merasa senang, walaupun tidak bahagia. Karena dia sadar, mungkin orang sepertinya memang tidak pantas untuk bahagia.
"Gimana keadaan kamu? Kamu baik-baik aja?"
Sedang sibuk melamun, Anggi sedikit dikejutkan dengan kehadiran Damar di kamar tidur mereka.
"Hm," gumam Anggi tidak menoleh, memperhatikan tangannya yang merah dan bergetar.
Dalam posisi duduk membelakangi Damar, Anggi mendengar suara langkah yang mendekat ke arahnya. Saat tahu kalau Damar sedang berjalan ke arahnya, Anggi Buru-buru menutupi lagi tangannya yang tadi tersiram sup panas yang dilemparkan Ranti dengan sebelah tangannya yang lain.
"Kakak mau kuliah? Aku minta tolong Bi Suki untuk bikinin sarapan Kakak dulu, ya? Gara-gara aku, sarapan untuk Kakak dan Mama belum ada sampai sekarang,"
Anggi sudah berdiri. Dia berniat untuk kabur dari sekitar Damar yang sepertinya penasaran dengan kondisi tangan Anggi sejak masih di dapur tadi.
"Tunggu!"
Saat akan pergi, Damar menahan Anggi yang hendak melewatinya. Memperhatikan dengan intens tangan Anggi yang menutupi sebelah pergelangannya, kemudian menatap perempuan itu dengan serius.
"Tadi, aku lihat tangan kamu merah. Kenapa? Apa Mama nyakitin kamu?" tanya Damar pelan, yang bisa dikatakan tidak pernah sekalipun pria itu bersikap demikian terhadapnya.
Maksudnya, pertanyaan Damar kali ini terdengar seperti seseorang yang tengah mengkhawatirkan orang lain. Padahal sebelumnya, dia pasti akan bersikap masa bodoh, meskipun Anggi sudah terang-terangan mengatakan dia terluka di depan pria itu.
Apa Damar sudah salah posisi tidur?
Anggi belum selesai bicara, tapi Damar sudah lebih dulu menginterupsinya dengan cara meraih pergerangan tangan Anggi yang merah dengan cara sedikit kasar.
"Tangan kamu–"
"Akh! Sakit–"
Entah sengaja atau bagaimana, Damar malah menekan pergelangan tangan Anggi yang merah itu dengan tiba-tiba, hingga membuat Anggi terkejut dan meringis kesakitan.
"Ini kenapa?" tanya Damar akhirnya, menahan lengan Anggi untuk ditunjukkan ke depan wajah perempuan itu.
"Itu…. kesiram sup panas,"
"Kesiram sup panas?!"
Seakan lelah untuk menutupi, akhirnya Anggi pun berbicara jujur kepada Damar. Toh, memang kenyataannya begitu. Mungkin, ini adalah jawaban yang Damar tunggu untuk menjawab rasa penasarannya.
"Karena Mama?"
"Hm,"
"Sakit?"
Dari semua pertanyaan tidak berbobot yang mungkin bisa keluar, kenapa malah pertanyaan bodoh itu yang harus Damar tanyakan? Membuat Anggi ingin tertawa saja, mendengarnya.
"Kakak lucu. Gimana bisa ada orang yang kena siram sup panas rasanya nggak sakit?" kata Anggi tersenyum pahit, lantas menarik kembali lengannya dari cengkraman tangan Damar.
__ADS_1
Sedikit terlihat bodoh, Damar pun kembali berkata, "Itu karena kamu nggak bicara apa-apa. Jadi, aku kira…."
Damar tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya diam, saling pandang dengan Anggi yang menatap dirinya dalam-dalam.
"Emang, kalo aku bilang, Kakak bakal peduli?"
Anggi berbicara dengan seutas senyum di bibirnya. Tapi, sorot matanya yang sekarang, menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Maksud kamu?"
Jujur, sebenarnya hal ini sudah mulai menyadarkan Damar. Maksudnya, dia tahu arah pembicaraan Anggi saat ini. Bukan dia tidak sadar, kalau selama ini dia sering mengabaikan Anggi yang merasa terluka. Hanya saja, entah kenapa dia merasa tidak ingin mengakui dirinya yang seperti itu.
Setidaknya sekarang. Dia ingin menjadi orang yang peduli, meski nyatanya, Anggi tidak menunjukkan tanda-tanda ingin diperhatikan olehnya.
"Aku udah belajar untuk jadi orang yang mandiri. Kalau sakit, aku tinggal nangis. Kalo luka, aku tinggal obati. Kalo capek, aku tinggal tidur," Anggi masih mencoba untuk tersenyum. Tapi pandangannya, sudah dialihkan dari Damar sepenuhnya. "Setelah berapa bulan, akhirnya aku baru sadar sekarang, kalau dunia ini nggak berputar hanya untuk aku aja. Kakak, Papa dan juga Mama pasti punya waktu yang berharganya. Aku harusnya nggak boleh mengambil waktu kalian itu untuk mengurusi hal nggak berguna yang udah aku buat. Tapi, aku tetap aja nggak sadar dengan hal itu."
Kemudian, Anggi menundukkan kepalanya, menatap bekas luka bakar yang ada di sebelah pergelangannya.
"Pantas aja Mama selalu marah sama aku. Emang dasar aku aja yang nggak tau diri dengan terus gangguin Mama," keluhnya begitu pelan, seolah luka itu sudah menyadarkan dia kalau meraih perhatian Ranti adalah sesuatu hal yang paling tidak boleh dilakukan.
"Mulai besok aku nggak akan balik ke dapur lagi. Kalaupun aku mau masak, paling cuma buat aku sendiri. Aku nggak boleh buat Mama kesal lagi," gumamnya begitu pelan, seakan tengah berbicara pada dirinya.
Anggi sepertinya lupa, kalau sejak tadi Damar terus saja mendengar ucapannya. Tidak sekalipun kalimat yang keluar dari mulut Anggi lolos dari pendengaran Damar. Setiap kata yang menyakitkan itu, mengusik perasaan Damar dan menyadarkan pria itu betapa kejam sikapnya selama ini terhadap Anggi.
Tidak tahan melihat Anggi yang terus menatap luka di tangannya, Damar pun berinisiatif untuk mengobati wanita itu.
"Kamu tunggu di sini! Jangan kemana-mana!" ujar Damar memerintah Anggi, yang hanya memasang tampang bingung menatapnya.
Mengabaikan itu, Damar pun segera bergegas mencari kotak P3K yang setahunya selalu di simpan di dapur. Setelah itu, dia kembali dengan membawa kotak itu duduk di dengan Anggi.
"Kakak mau ngapain?" tanya Anggi heran, melihat Damar yang diam saja sibuk membuka kotak P3K.
"Sini, tangan kamu!" pinta Damar, mengulurkan tangannya ke arah Anggi, yang malah dibalas dengan tatapan bingung oleh perempuan itu.
"Kamu nggak dengar, aku bilang apa?" tanya Damar sedikit ketus, membuat Anggi –masih dengan raut kebingungan– menyerahkan pergelangan tangannya ke arah Damar.
"Jangan ditekan lagi, Kak…. Sakit,"
Damar pun hanya menarik napas panjang dan membuangnya. Iya, kali, dia ingin menekan tangan perempuan itu lagi. Memangnya, dia sekejam itu, apa?
"Iya tau, sakit…. Makanya kan, ini lagi diobati!" ketus Damar seperti jengkel, yang mana sontak membuat Anggi menarik tangannya lagi dari Damar.
"Aku bisa obati sendiri kok, Kak! Mending sekarang Kakak mandi aja. Kakak mau ke kampus, kan? Ini udah mau setengah delapan loh, Kak! Nanti Kakak terlambat," ujar Anggi panik, melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar mereka.
Melihat Damar menatapnya dengan sorot mata malas, Anggi buru-buru ingin merampas sebuah salap yang sudah Damar pegang.
Saat akan meraihnya, Damar justru menjauhkan salap itu dengan cepat ke arah belakang dan membuat wajahnya dan juga Anggi menjadi begitu dekat.
Dalam beberapa detik, keduanya saling memandang. Anggi tampak terkejut, sementara Damar seperti tengah menyelami perasaan Anggi yang menatapnya.
"Ba–bawa sini salapnya, Kak! Biar aku–"
Entah ada angin apa, tiba-tiba Damar menarik tengkuk Anggi dan mencium bibir perempuan itu. Tanpa aba-aba, tanpa kata peringatan, pria itu mencium istrinya untuk beberapa saat.
"Kalau aku bilang aku aja, kamu nggak boleh melawan. Ngerti?" ucap Damar seperti berbisik, sesaat setelah dia melepaskannya ciumannya dari Anggi.
Dan dengan raut wajah orang linglung, Anggi hanya bisa mengangguk, dan membiarkan Damar mulai mengobati tangannya yang terbakar.
__ADS_1
......TBC......
Udah agak lama vacum, aku bakal usahain buat update lanjutan cerita ini setiap hari....