The Last Chance

The Last Chance
Bagian tiga puluh satu


__ADS_3

Suara petir yang menggelegar keras bagaikan membelah bumi mengagetkan Anggi yang tertidur pulas di dalam apartemennya. Keringat mengucur deras disertai darah yang mengalir cepat dalam tubuhnya membuat Anggi terengah-engah menatap sekitar. 


Jam dua dini hari. 


Anggi mendesahkan napas panjang melihat angka yang ditunjuk oleh jam di dinding kamarnya. Angin kencang yang berhasil menembus ventilasi kamar, serta udara yang mengalir dari mesin pendingin tidak membuat Anggi merasa nyaman untuk kembali merebahkan tubuhnya. Dia menyeka dahinya dengan punggung tangan, lantas meraih segelas air yang dia letakkan di atas nakas. 


Kosong. 


Ah…. Anggi merasa geram dengan gelas minumnya yang ada di samping nakas. Seharusnya, dia mengisi gelas itu lagi saat hendak tidur tadi. Tapi, karena malas, dia jadi urung dan merasa kehausan saat ini. 


Mau tidak mau, Anggi pun turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamar. Suara hujan yang begitu deras dan desau angin yang mampu menggoyangkan gorden ruang tamunya, membuat Anggi menatap sejenak ke arah jendela yang tertutup. 


"Kemarin gue ke rumah lo! Gue khawatir, karena kemarin gue pulang tanpa sempat ngantar lo ke apartemen. Tapi, bukannya ketemu, abang sepupu lo bilang, kalo lo nggak pulang kemarin malam. Lo kemana? Lo baik-baik aja, kan?"


Menghelakan napas panjang, Anggi mendekati jendela apartemennya dan menyingkap sedikit gorden abu-abu yang menutupinya. Saat ini, langit terlihat begitu mengerikan. Petir yang menyambar-nyambar dengan ganas, serta angin yang bertiup dengan kencang, membuat jantung Anggi berdegub tidak karuan. Dia merasa ngeri, dia takut, hingga langsung menutup gorden itu kembali dan membalikkan tubuhnya kencang. 


"Nggak…. Gue nggak ke mana-mana, kok. Gue cuma…."


"Kemarin, ada yang bilang kalo dia ngelihat lo dibawa sama Andi. Itu kemana? Dia nggak ngelakuin hal yang macam-macam sama lo, kan?"


Anggi menyandarkan tubuhnya pada gorden yang menutupi jendela di belakangnya. Pembicaraannya dengan Roni tadi siang entah kenapa membuat dia merasa pusing. Tatapan curiga pria itu terhadapnya, serta perhatian yang kini terasa begitu berlebihan membuat dia merasa kurang nyaman. Bagaimana jika nanti Roni tahu tentang hubungannya dengan Damar di masa lalu? Meskipun mereka itu berteman baik, Anggi tidak bisa menjamin juga, kalau Roni tidak akan mengumbarkannya kepada orang lain. 


Sumpah demi apa pun, Anggi sangat tidak sudi hubungannya dengan Damar terdengar oleh orang lagi. Bagaimanapun juga, meskipun sangat sulit untuk dilakukan, Anggi berusaha mengubur kisahnya dengan Damar seolah tidak pernah terjadi sebelumnya. Karena kalau sampai itu terjadi, maka semua orang akan tahu bagaimana bodohnya Anggi menjadi seorang manusia. Mungkin, keledai sekalipun bisa lebih cerdas dibandingkan Anggi di masa lalu. 


"Udah lo, tenang aja. Gue ini lebih bisa jaga diri dari yang lo pikirin. Kalo pun emang dia berniat macam-macam sama gue, gue duluan yang bikin perhitungan sama dia."


"Emang lo bisa?"


Anggi menundukkan kepalanya dan merosot duduk di atas lantai. Ucapan terakhir Roni yang begitu meremehkan Anggi kemarin, seolah menamparnya pada kenyataan yang sudah terjadi pada Anggi dan Damar sebelum itu. Kejadian yang mana Anggi tidak bisa berbuat apa-apa ketika Damar mulai berbuat yang macam-macam terhadapnya saat di kamar pria tersebut. 

__ADS_1


"Lo beruntung, karena kali ini gue nggak sampai melakukan hal itu sama lo. Tapi, berikutnya, gue nggak janji bisa biarin lo gitu aja apa enggak."


Memang, saat itu Damar hanya mencium Anggi saja tanpa melakukan hal yang lebih buruk dari itu. Hanya saja, mencium dilakukan Damar kemarin, bukannya tidak melukai harga diri Anggi sebagai seorang wanita. Memangnya, dia menganggap Anggi apa, sampai harus memperlakukannya seperti itu? Wanita murahan? Hah! Itu sama saja dengan dia memperkosa Anggi secara tidak langsung. 


Ting! Tung! 


Suara bel apartemen yang berbunyi secara tiba-tiba mengagetkan Anggi yang sedang merenung di atas lantai. Kedua matanya menatap horor ke arah pintu apartemennya yang terlihat gelap --karena pencahayaan minim yang memang selalu Anggi buat kalau ingin tidur--, lalu melihat ke arah jam dinding besar yang terpajang di ruang tamu apartemennya. 


Masih jam dua lewat beberapa menit dini hari. 


Dalam hati, Anggi bertanya. Siapa gerangan yang tiba-tiba memencet bel apartemennya malam-malam begini? Manusia, atau bukan? 


Saat bel apartemennya kembali ditekan, dan disusul oleh suara ketukan di pintu yang beruntun, Anggi kembali tersentak di tempatnya. Dengan cepat dia meraih gelas yang tadi dia bawa, dan menggenggamnya dengan erat. Tak lupa, dia juga mengambil vas bunga kecil yang ada di meja hiasnya dan berjalan pelan ke arah pintu apartemennya. 


Sedikit ragu-ragu dan penuh ketakutan, Anggi membuka pintu apartemennya yang masih digedor dengan cara yang begitu terburu-buru. 


Dan begitu pintu terbuka, kedua tangan Anggi yang siap melayang tadi, turun seketika dengan raut wajah heran luar biasa. 


"Lo?"


"Nggi!"



"Lo ngapain sih, datang kemari malam-malam? Nggak punya kerjaan banget apa gimana?!"


Saat ini, Damar sedang duduk termenung di atas sofa panjang apartemen Anggi. Setelah beberapa waktu lalu dia mengagetkan Anggi dengan datang dan memeluk wanita itu tepat di depan pintu, kini dia harus siap menghadapi kekesalan wanita itu yang malamnya merasa terganggu oleh kehadiran Damar di sana. 


"Heh, gue nanya sama lo! Kenapa nggak jawab?! Kalau lo cuma mau numpang duduk aja di sini, mending nggak usah! Pulang aja sana, atau duduk di tengah jalan!" tegur Anggi jengkel, karena Damar hanya diam saja sambil menatap wajahnya dengan sayu. 

__ADS_1


"Nggi,"


"Apa?!"


Tidak peduli dengan Anggi yang bicara penuh emosi, Damar hanya tersenyum kecil melihat kekesalan wanita itu terhadapnya. Yah, mau bagaimana pun juga, sepertinya dia harus sadar diri kalau siapapun pasti akan marah jika diganggu tengah malam seperti ini. 


"Gue… kangen sama lo," ucap Damar begitu halus, hampir tersamarkan oleh suara petir yang berkejaran di luar sana. 


"Hah?"


Sedikit menipiskan bibir, Damar menundukkan kepalanya dan diam. Sedangkan Anggi, memperhatikan wajah sendu pria itu dengan seksama. 


Apa ini? Tidak biasanya Damar bersikap tenang seperti ini. Apa dia sedang sakit? Wajahnya terlihat pucat dan seperti mayat hidup. Meskipun sudah diomeli panjang lebar oleh Anggi, dia tetap diam, mengadakan seperti bukan Damar yang aktif seperti biasanya. 


Tunggu! Dia ini bukan setan, kan? 


"Ehm… itu…. Lo…"


Agak takut mengganggu, Anggi tampak resah duduk di sofa yang berseberangan dengan Damar. Bagaimana jika yang di depannya ini bukan Damar? Bagaimana jika yang ada di depannya ini adalah hantu, yang suka mengganggu wanita single seperti dirinya? 


Apakah itu masuk akal? 


"Akh! Apaan sih, gue! Hantu apaan, coba! Yang bener aja…." Decak Anggi sendiri, menggelengkan kepalanya sebal dan mencebik. 


Sesaat, dia melihat Damar seperti mengkhayal. Lalu, perlahan pria itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lirih kepada Anggi. 


"Nggi…, gue takut."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2