
Alfa pernah beberapa kali bertemu dengan kedua orang tua itu. Selain menunjukkan betapa sayangnya mereka kepada anak-anak mereka, yang Alfa tau ayah Delta terkesan galak kalau sedang tidak bicara. Sebenarnya ia cukup gugup juga.
Meski kemarin-kemarin ia membantu mengembalikan harta milik orang tua Delta, tapi tak ada niat sedikitpun untuk Alfa mengatakan bahwa ialah yang telah membantu hal itu. Sekarang, setelah sampai di depan rumah Delta Alfa kembali gugup.
"Kenapa??, Mau mundur??." Sindir Delta ketika Alfa tiba-tiba menarik lengan bajunya.
"Apa nggak sebaiknya kita nginap di hotel aja." Saran pria itu.
Delta menggeleng. "Di rumah banyak kamar kosong. Lagipula ini pertama kalinya aku kembali setelah kabur dari rumah. Jadi…aku sekalian mau minta ma'af."
Alfa menarik nafas dalam. Ia akhirnya masuk dan tentu saja adegan mengharu biru terjadi di depan pintu rumah.
Ibu Delta menangis sedangkan ayah Delta memeluk cucu yang sangat ia rindukan yang selama ini hanya bisa ia tatap dan ajak bicara lewat ponsel.
"Wow😲, pohon duku!!."
"…….."😐 Dek kok kamu katrok sih!!!. Alfa kembali menarik nafas dalam. Nafta berada di belakang mereka sekarang sedang terkagum-kagum melihat 2 batang pohon duku yang sedang berbuah lebat.
"Biasa aja woii!!!, Segitunya nggak pernah lihat pohon duku, jangan bikin malu." Alfa menarik tangan Nafta keluarga Delta yang tadi lagi melow, mendadak bengong melihat anak laki-laki ganteng itu berniat memanjat pohon duku.
"Di Dubai mana ada pohon duku kak. Terakhir aku makan buah ini, itu juga waktu umurku 5 tahun. Dan kata temen-temen ku, duku itu enaknya kalau di ambil langsung dari pohonnya, makanya aku pengen manjat."
😑.Nyesel gue punya wajah mirip loe Dek!!. Malu-maluin aja.
Delta tersenyum, lalu memperkenalkan Alfa sebagai pacarnya dan Nafta adalah adik Alfa yang baru tinggal di Indonesia.
🌺🌺
Awalnya biasa saja. Pembicaraan mereka di mulai seputar kaburnya Delta dan kehidupannya selama di Jakarta. Nafta yang memang cepat akrab dengan yang lain membuat suasana jadi lebih ceria. Ditambah Dafa yang sangat menggemaskan ketika bicara.
Alfa lebih banyak di. Ia merindukan suasana hangat ini, ia kangen ibu dan ayahnya, juga kakek neneknya. Dulu sebelum kecelakaan, ada malam ceria penuh tawa yang menemani mereka, pembicaraan seputar tips trik pendekatan dengan calon mertua hingga tata cararmbuat lamaran di terima dengan lapang dada.
Tapi saat ini, Alfa bahkan tidak berani untuk membicarakan hal itu. Ayah Delta memang ramah, tapi kesan dingin masih bisa di rasakan Alfa lantaran tadi pria itu menatapnya tanpa tersenyum ketika Delta memperkenalkan Alfa sebagai pacarnya.
"Alfa dan Nafta baru mengalami kecelakaan 3 bulan yang lalu." Topik itu membuat Alfa menoleh ke arah Delta.
"Kakek dan neneknya meninggal dunia, sedangkan kedua orang tua mereka masih koma di Rumah Sakit. Itu sebabnya, mungkin Delta juga nggak bisa lama tinggal di sininya. Delta….mau bantu jagain…mereka."
Ayah dan ibu Delta tampak kecewa dan itu terlihat jelas membuat Alfa merasa bersalah. "O….om sama tante….kalau ada waktu dan pengen liburan, bisa tinggal dengan kami di Jakarta. Sekalian lihat tempat tinggalnya Dafa dan Delta di sana. Ajak keluarga yang lain juga nggak apa-apa sekalian jalan sama-sama."
Alfa tau, ayahnya Delta sudah pensiun dari kepala sekolah dan ibu hanyalah ibu rumah tangga. Mereka sekarang lebih banyak menghabiskan waktu mereka bersama cucu-cucu mereka. Namun kadang, mereka hanya tinggal berdua di rumah, karena anak-anak mereka sudah tinggal di rumah masing-masing.
"Iya Yah.😄 Tinggal di rumah kak Alfa aja, biar nanti sekalian ajarin Nafta mancing ikan. Ada danau di belakang rumah, katanya sih banyak ikannya, tapi kak Alfa nggak pernah punya waktu di ajakin mancing. Nafta bosan mancing sendirian."
"…...."Alfa menoleh takjub pada adiknya. Yah?!!!, Aku bahkan masih manggil om.
Ayah Delta tersenyum namun tidak mengatakan apapun.
"Nak Alfa kerja apa??, Apa nggak apa-apa ke sini??, Nggak ganggu kerjaannya??." Ibunda Delta bertanya pada Alfa.
"Alfa....kerja di perusahaan....stasiun TV dan..… udah cuti 3 hari, buat datang ke sini."
Delta menoleh ke Alfa yang tampak gugup. Sedikit heran dengan perubahan tingkah pria itu. 😌Dimana pria super pede kemarin, kenapa gemetaran kayak begini.🤭
"Ayah…bunda…sebenarnya tujuan Alfa datang ke sini....
Alfa memegang tangan Delta mencegah wanita itu bicara. "Biar aku yang bilang."
😏"Are you sure??. Ini udah setengah sembilan malam loh!!. Bapak emak gue biasa tidur dibawah jam 10.
__ADS_1
Nafta ikutan tersenyum. Tadi di dalam kamar kakaknya berkata padanya bahwa ia takut pada ayahnya Delta yang baik itu. Kakaknya bahkan meminta saran padanya bagaimana bicara yang baik dan benar agar nggak terkesan malu-maluin.
"Kak Alfa mau minta restu. Ngajakin kak Deta tunangan. Tapi dia takut di tolak.🤭."
"…….."😐😐😲
😑Mulut mu dek!!!😡
Senyum di wajah ayah Delta menghilang. Ia menatap Alfa tajam dan penuh intimidasi. "Saya tau. Delta menelepon dan mengatakan seseorang ingin minta izin untuk mengajaknya bertunangan."
"……."😐Alfa menoleh ke Deta yang tersenyum ke arahnya.
"Aku hanya membantu mu. Aku baik kan!!😊."
😣Apa-apaan ini.
"Delta udah pernah menikah, udah punya anak, bukan dari keluarga punya banyak harta. Apa yang kamu sukai dari dia??. Kenapa kamu bisa suka dia, kapan, dimana dan bagaimana?."
"……."Alfa menatap ayah Delta pembicaraan serius di mulai.
Ia menarik nafas sebelum menjelaskan. "Saya belum pernah menikah, saya menginginkan Dafa jadi anak saja dan meski keluarga saya terbilang berkecukupan, saya tidak mengandalkan harta keluarga saya untuk bertahan hidup. "Saya sudah…..menyukai Delta sejak SMP."
"APA!!!!!."
Delta jauh lebih terkejut dari keluarganya dan Nafta. Ia menatap pria di sampingnya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Tunggu sebentar." Alfa bergegas pergi ke dalam kamar, mengeluarkan 5 buah album foto dari dalam tasnya lalu membawanya ke ruang tamu.
"Mungkin om dan tante nggak tau, atau…..kalian bisa kembali mengingat, tentang anak kecil yang dulu selalu berdiri di samping Delta. Aku rasa kalian juga punya foto seperti ini."
Di album pertama, adalah foto-foto ketika Alfa dan Delta masih TK. Ada 1 foto yang menampilkan mereka hanya berdua saja. Berdiri canggung memakai pakaian Cinderella dan pangeran. "Kami pernah dipasangkan waktu ada acara 17san di TK. Ada banyak foto lainnya juga, kami dulu satu kelas."
Delta menatap Alfa seolah bertanya darimana ia mendapatkan foto-foto itu dan dengan santainya Alfa menjawab. "Sebelum Nafta lahir, aku selalu menjadi favorit di keluarga ku."
Album kedua berisi keluarga Alfa dan keluarga Delta berfoto bersama di depan kelas. Sepertinya itu hari pertama masuk SD. Di foto itu ayah dan ibu keduanya tampak tersenyum bahagia, sementara ke dua anak mereka menatap kamera dengan tampang datar."
Banyak juga foto lainnya, tapi sebagian besar adalah foto ketika Alfa memenangkan kejuaraan sedangkan Delta sebagai pemandu sorak.
Delta ingin sekali mencubit Alfa karena mamajang foto memalukannya itu.
Di album ketiga, itu adalah foto ketika Alfa masuk SMP dan lagi-lagi ada Delta di sana. Memakai seragam yang sama sepertinya mereka baru saja berlari.
"Waktu itu kita terlambat datang 2 menit dan kakak kelas menghukum kamu untuk lari. Aku merasa itu nggak adil karena aku juga telat, jadi aku lari lebih dulu dan kamu lari di belakang ku."
Delta bertanya heran. "Bagaimana kamu bisa punya foto seperti ini??."
"Bodyguard suruan ayahku, selalu mengikuti gerak-gerik ku dan beginilah cara dia melapor ke ayah."
"Oh."
"……."Ayah Delta tiba-tiba mendongkak menatap Alfa membuatnya kaget. "Punya bodyguard??."
"Iya Yah!!. Nafta juga di ikutin kemana-mana, sampai bosan karena nggak bisa ngapa-ngapain, atau main yang aneh dikit aja. Pasti pulang di omelin terus uang jajan juga di potong."
Penjelasan yang makin membuat kening pria itu berkerut.
"Keluarga saya….sibuk bekerja dan jarang ada di rumah…saya dan Nafta nggak ada yang jagain dari kecil, kami biasanya di kawal bodyguard. Sebenarnya kalau…Bapak tau stasiun TV yang sering menayangkan berita olahraga yang nggak pernah di sensor penayangannya dan selalu tayang siaran langsung itu….salah satu stasiun TV punya keluarga saya."
"Benarkah??." Wajah ayah Delta tiba-tiba senang.
__ADS_1
Alfa tersenyum. Ia tau salah satu favorit ayah Delta adalah menonton acara olahraga.
"Wow😲, apa kalian memang sudah berjodoh sejak awal. Kalian bahkan masuk SMA yang sama. Dan lihat foto ini, hahahaha, kak Delta sepertinya menyadari siapa kakak. Lihat tatapan ini, seperti bilang 'kamu lagi….kamu lagi'😄." Nafta membuka album ke empat, berisikan momen mereka waktu SMA.
Delta menatap foto di gerbang sekolah itu. Ia menoleh dan terkejut mendapati Alfa juga berusaha membuka gerbang sekolah di hari pertama mereka masuk SMA. "Aku memang berpikir begitu." Delta membenarkan perkataan Nafta. "Aku pikir, kenapa dia lagi."
"Itu SMA favorit waktu itu dan aku dapat beasiswa, tentu aku akan masuk sana." Sebenarnya Alfa berniat mengejek Delta karena gadis itu lulus dengan nilai nomor 2 terendah dan akhirnya juga bisa masuk SMA itu, tapi pria itu berpikir ulang. Ia saat ini tidak boleh merusak image anak baiknya.
"Itu….foto terakhir di SMA, dan kamu….sepertinya ingin memberikan surat cinta padaku."
Ha'???😕Tunggu dulu….itu nggak benar!.
"Seperti yang ku bilang sebelumnya, kamu juga sudah suka pada ku sejak awal."
"……"Delta ingin mengumpat, tapi ia menelan kalimat itu bulat-bulat karena ada ayah dan ibunya di samping mereka, dan mereka juga menatap Delta, penasaran. Delta ingat kejadian itu dan itu tidak seperti yang dikatakan Alfa.
"Kami memang sempat berpisah lama ketika saya kuliah dan mulai bekerja. Tapi saat kami bertemu kembali, saya langsung mengingat Delta dan…kami sama-sama saling jatuh cinta."
Heii😕Tunggu dulu….sepertinya penjelasan itu nggak benar.
Alfa menyerahkan album terakhir. "Saya selalu memperhatikan Delta dan Dafa, saya terutama selalu menghawatirkan kesehatan Dafa karena sebelum-sebeumnya mereka hidup tidak layak di Jakarta."
Kamprett!!!!, Apa maksudmu tidak layak??. Apa-apaan foto itu.😖
Foto yang di tunjuk Alfa adalah foto ketika Delta sedang belanja di mini market, itu foto ketika pria menyebalkan itu mengakui Dafa sebagai anaknya. Keranjang belanjaan Delta sebagian besar berisi mie instan dan itu membuat ayah Delta langsung mendelik ke arahnya.
"Dafa ku kasih makanan sehat kok yah, beneran!!. Cuma…waktu itu….Delta belum gajian dan….oke!!!, Delta minta ma'af😣." Delta langsung menunduk, tidak berani memberi sanggahan.
"Karena itu lah saya nggak bisa membiarkan mereka seperti itu. Saya meski menurut Om dan Tante sikap saya ini salah. Saya berusaha menjaga mereka dengan memaksa Delta memasak dan akhirnya tinggal di Rumah saya. Mereka makan dan tidur dengan baik dan saya…hanya menjaga mereka karena saya benar-benar menyayangi mereka. Kami…tidak berbuat yang tidak senonoh."
"Saya sebenarnya berencana melamar Delta 3 bulan yang lalu, tapi…mendadak ada musibah dan….begitulah. Saya baru bisa silaturahmi ke sini sekarang."
Alfa menarik nafas dalam. "Saya tau latar belakang Delta, Delta sudah menceritakan semuanya dan saya menerima semua kekurangannya. Delta juga mengenal saya lebih dari siapapun, Om juga bisa mencari informasi tentang saya dan keluarga saya dari Delta atau melalui media sosial. Berita tentang keluarga saya….cukup sering di bahas di sana, meski sebagian besar banyak rumor tak benarnya."
"Saya berencana melamar Delta, atau mengikatnya sebagai tunangan dan minta restu pada Om dan Tante. Saya sangat menyayangi Delta dan Dafa, mereka sudah saya anggap sebagai bagian dari hidup saya. Terlepas dari musibah itu, terlepas dari semua masa lalu Delta. Saya ingin ia dan juga keluarganya menerima saya apa adanya."
"Sebelumnya, saya tidak pernah berkeinginan menjaga orang lain selain keluarga saya. Tapi Delta dan juga Alfa, saya tidak yakin bisa hidup tanpa mereka."
Alfa mengeluarkan proposal lamaran miliknya yang sudah di cetak rapi, berisikan latar belakang dirinya juga surat-surat perjanjian yang bisa meyakinkan keluarga Delta bahwa Alfa tidak akan pernah menyakiti anak mereka.
"Om dan Tante bisa baca ini dulu, boleh diskusi dengan Delta maupun keluarga besar. Saya nggak memaksa untuk di terima sebagai bagian dari keluarga Delta. Tapi satu hal yang saya ingin Om dan Tante tau, saya benar-benar mencintai Delta."
Pembicaraan malam itu berakhir. Alfa tersenyum ketika melihat Delta mengacungkan jempol padanya sebelum pria itu memasuki kamar.
"Untung aku merekam semuanya, nanti ketika ibu dan ayah sadar. Akan ku tunjukkan video keren ini pada mereka." Nafta menunjuk pada jam tangan yang ia pakai. Jam canggih itu merekam video pengakuan Alfa.
Alfa kembali tersenyum. "Do'akan kakak mu ini tidak di tolak ya.😊 Biar kakak juga bisa panggil Om dengan ayah."
Nafta mengacungkan jempol. "Biar ku beritahu sebuah rahasia.😄. Tadi siang aku sudah mempromosikan kakak dan Ayah bilang pada ku dia setuju kakak jadi calon mantunya😆✌️."
😲Ap…apa???!!🤬
"Aku bilang kalau kakak sudah menjadi penguntit kakak ipar sebelum berpacaran dengannya. Hahaha. Kakak yang jatuh cinta lebih dulu, kakak yang banyak cari perhatian, selalu sengaja numpang makan dan AUUuu😣😣. Kenapa aku di pukul😣aku kan hanya membantu kakak. Kak Zeno bilang kalau aku harus mengatakan yang sejujurnya pada ayah dan ibu."
Si kampret itu😡😡😡. Alfa langsung meraih ponselnya, berniat memarahi pria yang sedang sibuk di perusahaan. Tapi sepertinya pria itu sudah tau. Karena Zeno sengaja mengabaikan panggilan telepon itu.
Kamu membuat ku susah disini,😏 aku hanya akan sedikit mempermalukan wajahmu yang selalu percaya diri itu. Hahahaha….
🌸🌸🌸
__ADS_1