The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 9


__ADS_3

"Pria itu... adikmu?" Daniel bertanya dan kemudian mengumpat dalam hati setelah melihat Kerelyn menganggukan kepala lemah.


"Ah, si..." Alex hampir saja meneriakan umpatannya tapi Gerard segera menyikutnya dan melihat tatapan membunuh dari Alexa yang duduk di sampingnya.


"Anak nakal itu! Bagaimana bisa dia berselingkuh darimu? Dan kau bilang dia berselingkuh dengan temanmu? Demi Tuhan, apa yang dia pikirkan!" Seru Kerelyn dengan penuh emosi, dia kini berjalan mundar-mandir dengan kakinya yang masih sedikit pincang, dan amarahnya itu mengejutkan semua orang.


"Kalian bertiga jangan mencincangnya, tapi aku... aku yang akan menghabisinya apa kalian paham?"


Ketiga pria itu hanya bisa menatapnya bingung, bagaimana bisa kini Kerelyn lebih marah daripada mereka semua? Tapi kemudian mereka akhirnya mengangguk setuju, setelah melihat mata berapi-api milik perempuan berambut merah itu.


"Alexa, aku minta maaf karena adikku telah menyakitimu, tapi kau tidak usah khawatir aku benar-benar akan memberi pelajaran anak nakal itu," ucap Kerelyn dengan sungguh-sungguh yang membuat Alexa terlihat merasa tak enak hati padanya.


"Hmm.. Kerelyn, sebenarnya kau tidak perlu melakukan itu," ucap Alexa yang membuat Kerelyn menatapnya tak percaya.


"Aku tak tahu kalau dia adikmu, jadi aku telah memberi pelajaran kepadanya," lanjut Alexa dengan wajah menyesal.


"Bagus! Aku tahu kau tak akan membiarkannya begitu saja. Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Gerard dengan wajah penasaran dan senyum mengembang.


Alexa menatap Daniel yang terlihat sama penasarannya dengan Gerard, sedangkan Alex yang sudah mengetahui apa yang dilakukan dirinya hanya tersenyum sambil bersandar santai.


Alexa akhirnya menatap Kerelyn yang juga tengah menatapnya penasaran, dia membuang napas panjang sebelum berkata lemah, "Aku... aku... hmmm aku menendangnya."


"Kau menendangnya?" Daniel bertanya yang di jawab anggukan oleh Alexa, "Apa yang kau tendang?


"Itu."


"Itu?" Tanya Gerard penasaran


"Anu."


"Anu?" Sekarang Daniel yang semakin penasaran.


"Junior," jawab Alex santai sambil tersenyum bahagia.


"Apa? Benarkah?" Gerard dan Daniel meringis membayangkannya, karena mereka tahu seakurat apa tendangan Alexa yang merupakan hasil pelatihan dari mereka bertiga. Alexa mengangguk sambil menatap Kerelyn dengan rasa bersalah yang kini tengah terbelalak setelah menyadari apa yang ditendang Alexa.


"A..." Kerelyn membuka mulutnya tapi kemudian ditutupnya kembali, "A..pa.." Kerelyn kembali membuka mulutnya untuk bertanya tapi akhirnya ia kembali mengurungkannya, "Apa... itunya... masih berfungsi?" Akhirnya Kerelyn melengkapi kalimatnya walaupun dengan tergagap.


Alexa terlihat bingung dengan pertanyaan Kerelyn, "Berfungsi?" Tanyanya dengan wajah polos sambil menatap Kerelyn yang hanya menatapnya penuh harap. Alexa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.


"Ooh.. itu.. iya tentu saja, tidak usah khawatir aku tidak menendangnya dengan kencang."


Kerelyn kini bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban Alexa, sebagai seorang kakak tentu saja dia khawatir dengan masa depan adiknya sebagai seorang lelaki. Tapi sayang dia tidak melihat bagaimana ketiga lelaki di hadapannya meringis ketika mendengar Alexa berkata tidak begitu kencang.


"Oh, syukurlah," ucap Kerelyn lega sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, bersamaan dengan itu Maria datang membawa cheesecake di atas piring-piring kecil lengkap dengan sendok perak kecil.


Alexa yang memang sangat menyukai cheesecake langsung saja memakan cake gurih itu, melihat bagaimana gadis itu menikmati makanannya membuat Kerelyn sangat iri, dia harus memikirkan berat badannya setiap melihat makanan lezat.

__ADS_1


"D, ceritakan padaku tentang sepupumu yang akan berpasangan denganku di pesta Emily nanti," ucap Gerard dengan mulut penuh, dan Kerelyn bersyukur karena sahabat Daniel itu telah mengalihkan pembicaraan mereka dari kasus adiknya.


"Raina, biasanya kita manggil dia Rain. Kau akan menyukainya, dia gadis yang menyenangkan walau sedikit tomboy dan selalu membuat Ibunya pusing." Daniel berkata sambil tersenyum mengingat sepupunya.


"Kalian semua menjadi pengiring pengantin?" Kerelyn bertanya sambil menatap Gerard yang telah menghabiskan cakenya.


"Iya, Theo tentu saja telah memiliki Calista sebagai pasangannya, Gerard akan berpasangan dengan sepupu kami dari Indonesia, Raina, dan aku akan menjadi babysiter Zombie mesum itu." Alex mengedipkan sebelah matanya yang membuat Alexa menggeleng cemberut.


"Dan... Daniel?" Kerelyn bertanya sambil menatap Daniel yang hanya mengangkat bahunya.


"Itu dia masalahnya, sampai sekarang dia belum memutuskan siapa yang akan menjadi pasangannya nanti," jawab Alexa sambil menyendok cheesecake terakhir milik Alex, yang membuat pria itu protes tapi tak dihiraukan gadis itu.


"Kerelyn, apa kau ada acara sabtu depan?" Alexa bertanya dengan mulut penuh dengan cake hasil rampasannya.


"Tidak! Jadwalku kosong untuk sabtu depan," Jawab Kerelyn dengan semangat.


"Bagus, kau harus datang ke pesta Emily minggu depan. Aku akan memastikan kau menerima undangannya nanti." Alexa berkata sambil tersenyum.


"Iya... tentu saja aku akan datang," ucap Kerelyn tak percaya kalau itu yang akan di dengarnya, ia menatap Daniel berharap pria itu akan meminta dirinya untuk jadi pendampingnya, tapi pria bermata hitam itu hanya memerlihatkan senyum miringnya dengan santai.


"D, bagaimana kalau kau berpasangan dengan Olivia?" Alex bertanya yang membuat Kerelyn langsung menatapnya dengan mata terbelalak.


"Dia benar, bukankah Olivia sangat menyukaimu?" Kerelyn kini menatap Gerard tak percaya.


"Olivia yang tak pernah berhenti kalau berbicara? Oh tidak-tidak, telinga kita semua akan sakit mendengar ocehannya sepanjang pesta," ucap Alexa sambil menggelengkan kepala membuat Kerelyn bisa membuang napas lega.


"Bagaimana dengan Julie?" Kerelyn kembali menatap Alex cemas.


"Tidak, dia akan menangis meraung-raung melebihi pengantinnya.. ya Tuhan, Alex, dia bahkan menangis ketika anjingnya menikah."


"Aah maksudmu ketika Lexi menikah?" Ucap Alex sambil tersenyum miring yang langsung mendapat lemparan bantal sofa (lagi) dari Alexa. Kerelyn tersenyum bahagia.


"Jesica?" Senyum Kerelyn kembali hilang bersamaan dengan ucapan Gerard.


"Dia akan sibuk merayu Theo, dan kita harus menenangkan Sang Putri kalau tidak mau pesta Emily hancur," ucap Alexa yang membuat senyum Kerelyn kembali terbit dan demi Tuhan, Daniel sudah tak kuasa untuk menahan tawanya setiap melihat reaksi berubah-ubah dari gadis itu.


"Alison?"


"Dia sudah menikah."


"Eve?"


"Dia jadi Suster."


"Luna?"


"Mantan, Dylan? Yang benar saja Gerard, kau mau terjadi pertumpahan darah di pesta besok?"

__ADS_1


"Camila?"


"Mantanmu? Alex, apa kau cari mati sekarang?" Tanya Alexa dengan sorot mata mengancam yang membuat Alex menggelengkan kepala.


"Ok, sepertinya kita sudah kehabisan stok nama perempuan yang sesuai untuk jadi pasanganku," ucap Daniel berusaha bersikap normal, dia merasa kasihan melihat Kerelyn dipermainkan sahabat dan adiknya yang sepertinya sangat menikmati momen itu.


"Man, sepertinya kau harus menerima dipasangkan dengan teman kantornya Em," ucap Alex sambil menatap Daniel prihatin.


"Apa kau mau aku kenalkan dengan temanku? Dia hacker hebat."


"Kau mau menjodohkan Kakakku dengan seorang hacker? Oh, yang benar saja, G!"


"Kalian bertiga cukup, aku sudah punya pasangan untuk pesta Em."


"Benarkah? Siapa? Kenapa kau tidak mengatakan daritadi," ucap Alexa dengan semangat.


Daniel melihat Kerelyn yang kini terdiam dengan wajah di tekuk, dan demi Tuhan, Kerelyn sangat menggemaskan ketika cemberut seperti itu, Daniel mengerutkan keningnya ketika merasakan perasaan aneh di dadanya, kenapa dia tiba-tiba ingin mencium gadis itu hanya untuk menenangkannya?


Ketiga pengacau Alexa, Alex dan Gerard sibuk dengan menebak-nebak siapa yang akan jadi pasangan Daniel, yang tentu saja semua di sangkal pria itu. Dan bagaimana mungkin ia mengakuinya ketika semua perempuan yang mereka sebutkan hanya hasil imaginasi mereka saja karena ingin menggoda Kerelyn yang kini semakin terlihat cemberut. Dan demi Tuhan, Daniel ingin sekali menjejali mulut mereka bertiga dengan bantal sofa supaya diam, tapi melihat wajah cantik itu cemberut dan terlihat lucu, ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih bersekongkol dengan ketiga makhluk jail itu.


"Baiklah sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo, Lexi, aku akan mengantarmu pulang," ucap Alex sambil berdiri dari duduknya di susul oleh Gerard dan Alexa.


"Tidak perlu, kau sekarang sudah seperti Zombie sekarat, aku akan naik taxi saja."


"Aku akan mengantarmu," ujar Alex tak menerima penolakan.


"Ooh tidak, kau sudah sangat mengantuk bagaimana kau bisa menyetir? Aku belum menikah, Alex, aku tak mau mati malam ini."


"Bukan aku yang akan menyetir."


"G?"


"Dia bawa mobil sendiri."


"Ah, kau benar... jadi siapa yang menyetir?"


"Tentu saja kau."


"Aku?"


"Iya, jadi aku bisa tidur sepanjang jalan," ucap Alex sambil meregangkan badannya yang lelah, "Ayo, supir!" Lanjut Alex sambil merangkul pundak Alexa, lalu berjalan kearah pintu.


"Sampai jumpa nanti Kerelyn," ujar Alexa dari balik pundak Alex, "Kalau begini aku yang mengantarmu pulang bukan kau yang mengantarku," keluh Alexa yang hanya dapat anggukan dari Alex, "Ya Tuhan, sekarang aku seorang babysiter dan juga supir, aku harus menerima bayaran mahal untuk kerjaan ini," lanjutnya dengan suara pasrah.


Gerard ikut pamit bersama double A yang masih berdebat tentang bayaran yang akan diterima Alexa, kini Kerelyn dan Daniel berdiri di ambang pintu apartemennya menatap ketiganya.


*****

__ADS_1


__ADS_2