The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 8


__ADS_3

Seperti yang telah dia tebak Gerard datang dengan membawa makanan dari Ibunya, tapi bukan hanya pria berkaca mata itu saja yang datang melainkan Alexa dan Alex juga ikut yang langsung menerobos masuk ke dalam ketika pintu apartemen dibuka, melihat itu Daniel hanya bisa membuang napas panjang.


"Mom, sangat khawatir kau tidak makan karena terlalu sibuk," ujar Alexa sambil mencium pipi kakaknya sebelum ikut masuk bersama Gerard, Alex dan Daniel.


"Dimana yang lain?


"Mom, melarang Em ikut katanya dia tidak boleh tidur malam-malam supaya kulitnya tidak pucat pada hari pernikahannya nanti," ucap Alexa sambil mengeluarkan makanan dari dalam kantong dan menaruhnya ke dalam lemari es, "Calista seperti biasa, dia langsung mengantuk ketika selesai makan malam, jadi para pangeran kita tidak bisa ikut karena para putri langsung mengeluarkan tanduknya ketika melihat mereka bersiap-siap untuk pergi."


"Oh.. hai, Kerelyn... apa yang sedang kau lakukan di luar sana?"


Alexa yang masih sibuk di depan lemari pendingin kini menatap Daniel dengan penuh curiga ketika mendengar suara Gerard dari arah balkon, berbeda dengan Alex yang hanya tersenyum penuh misteri. Saat ini detektif yang masih dalam misi penyamarannya itu tengah duduk di atas sofa coklat yang berada di ruangan itu, kedua kakinya yang panjang dinaikkan ke atas meja, matanya terpejam tapi telinganya selalu waspada.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daniel setelah melihat tatapan Alexa yang penuh selidik.


"Jadi.. urusan yang kau bilang penting sampai tak bisa datang untuk makan malam keluarga itu adalah... Kerelyn? (Dengan suara berbisik)"


"Aku benar-benar ada rapat penting, Lexa."


"Dan rapat itu di balkon?"


Daniel bisa mendengar Alex mencoba menahan tawanya, walaupun matanya masih terpejam.


"Seharusnya tadi ada rapat penting, tapi batal."


"..."


"Lexa, jangan menatapku seperti itu! Aku bicara jujur," ujar Daniel setelah melihat pandangan tak percaya dari adiknya, ia kini berjalan ke arah sofa untuk bergabung dengan Alex.


"Hei, Man, kenapa kau tidak pulang, mandi kemudian tidur.. kau terlihat seperti zombie."


"Daniel, jangan mencoba mengalihkan pembicaraan," ujar Alexa sambil berjalan lalu duduk di samping Alex, "Hei, Daniel benar! Kau terlihat seperti Zombie yang baru bangkit dari kubur!"


"Zombie yang sangat seksi."


"Tidak ada Zombie yang seksi, Alex."


"Tentu saja ada."


"Tidak ada."


"Ada.


"Tidak ada!"


"Kau mau bukti?"


"Tentu saja, mana buktinya?"


"Aku buktinya," ucap Alex sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya Tuhan, kau Zombie paling narsis yang ku kenal, dan bagaimana bisa Emily memasangkanku dengan mahluk yang satu ini di pesta pernikahan nanti!"


"Mahluk?"


"Bukankah tadi kau bilang kau zombie?"


"Zambie paling seksi."


"Diamlah! Lebih baik kau tidur saja, Frankenstain!" Seru Alexa sambil melemparkan bantal sofa tepat ke wajah Alex yang tersenyum penuh kemenangan.


"Ngomong-ngomong soal pasangan nanti, Em, memintaku untuk menanyakan apa kau sudah mempunyai pasangan?"


Daniel menggelengkan kepalanya santai sebagai jawaban.


"Kau harus siap-siap menerima omelan dari Em... Hei, kenapa kau tidak meminta Kerelyn untuk menjadi pasanganmu?"


Daniel terdiam beberapa saat, "Dia pasti sibuk, kau tahu sendiri pekerjaan artis seperti apa, jadwalnya pasti sudah padat."

__ADS_1


"Apa kau sudah bertanya padanya?"


"Belum."


"Hei.. Kerelyn mengundang kita sekarang ke apartemennya, apa kalian mau ke sana?" Gerard melongokkan kepalanya dari pintu balkon. Alexa dan Daniel saling tatap beberapa saat, sebelum wanita berambut coklat itu berdiri dengan antusias.


"Tentu saja, bilang Kerelyn kita akan ke sana sekarang... ayo, sekarang waktunya mencari tahu apa dia sibuk apa tidak... Frankenstain, apa kau ikut?"


Alex berdiri dengan malas, lalu meregangkan badannya, "Tentu saja, aku tak akan melewatkan kesempatan masuk ke dalam apartemen wanita cantik."


"Dasar Zombie mesum," ujar Alexa sambil memutar bola matanya dan berjalan ke arah lemari pendingin.


"Lexa, apa lagi yang kau lakukan? Ayo cepat!" Gerard sudah siap dengan membawa jaketnya.


"Kita tak mungkin datang dengan tangan kosong, aku akan mencari sesuatu untuk dibawa... Daniel kenapa kulkasmu hanya berisi kaleng minuman saja? Besok kau harus belanja, sebelum Mom datang ke sini dan memeriksanya," omel Alexa dengan wajah masih di dalam lemari pendingin, sebelum akhirnya dia keluar membawa dus berwarna merah bertuliskan salah satu nama toko kue terkenal di daerah Broadway.


Alexa membukanya dan matanya seketika berbinar ketika melihat cheescake yang sangat menggugah selera, "Wow, ini terlihat sangat lezat... Daniel, bolehkah kita memakan ini di tempat Kerelyn?"


Daniel melihat sekilas ke arah dapur, "Ya, tentu saja... seseorang mengirim itu untukku tadi, aku tak tahu siapa."


"Kau punya penggemar rahasia, D," ucap Gerard dengan senyum menggoda, yang dibalas Daniel dengan mengangkat bahunya.


"Dia pasti jelek," ujar Alex santai.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Gerard penasaran.


"Kalau dia cantik, dia pasti sudah menemuinya langsung tanpa harus diam-diam."


"Ah... kau benar."


"Kalian semua, ayo cepat!" Seru Alexa sambil berjalan keluar, ketiga pria bertubuh tinggi itu hanya bisa mengekor di belakang wanita mungil berambut coklat yang tak pernah bisa diam itu.


Mereka berempat kini telah berada di dalam apartemen Kerelyn yang penuh dengan buket bunga dari rekan-rekannya yang mendoakan kesembuhan wanita berambut merah itu.


"Wow.. kau hanya keseleo tapi mendapatkan bunga sebanyak ini," ucap Alexa takjub, "Sedangkan aku ketika tertembak hanya mendapatkan satu bunga saja," lanjut Alexa sambil menyerahkan dus kue kepada Kerelyn yang terlihat terkejut melihat dus itu.


Kerelyn hanya bisa tersenyum hambar mendengar celotehan Alexa sambil menerima dus berukuran 30cm itu.


"Aku akan meminta Maria untuk menyiapkannya," ucap Kerelyn sambil berjalan menuju dapur dimana Maria tengah menyiapkan minuman.


"Jelek?.. seharusnya aku tak menyuruh kurir untuk mengirimkan cake ini ke kantor Daniel tadi sore," gumam Kerelyn sambil meringis.


"Lexa, siapa yang mengirimkan bunga waktu itu?" Gerard bertanya penasaran tentang identitas si pengirim bunga


"Penggemar rahasia," jawab Alexa sambil tersenyum.


"Aku yakin kalau dia pria buruk rupa atau Kakek-Kakek genit berumur 80 tahun," ucap Alex santai yang membuat Daniel dan Gerard tertawa.


"Dad, pasti pingsan mengetahui menantunya lebih tua daripada dia."


"Hei! Kalian semua salah... dia sangat muda dan tampan, dia seorang model," ucap Alexa penuh kemenangan.


"Apa kau sedang berkencan dengannya?" Tanya Kerelyn santai yang baru saja ikut bergabung dengan mereka semua di ruang tengah.


"Kau berkencan?" Tanya Daniel


"Siapa pria itu?" Alex bertanya serius, rasa lelahnya karena belum tidur selama dua hari telah menguap begitu saja ketika menyadari kemungkinan perempuan bermata amber itu tengah berpacaran.


"Kau pasti mengancamnya untuk berkencan denganmu... pria malang," ucap Gerard yang langsung mendapat protes dari Alexa.


"Tidak... aku tidak berkencan dengannya, apa kalian semua puas?"


Ketiga pria itu menganggukkan kepala serempak dan bisa bernapas dengan lega.


"Kenapa kau tidak berkencan dengannya? Apa kau tidak menyukainya?" Kerelyn bertanya tanpa menghiraukan reaksi berlebihan dari para pria, sebagai sesama wanita dia bisa memahami Alexa lebih baik daripada para pria posesif itu.


Alexa membuang napas berat, mata ambernya menatap mata coklat Kerelyn, "Aku melihatnya berciuman..."

__ADS_1


"Ya Tuhan! Ooh.. Lexa, aku sangat menyesal," Kerelyn berkata dengan penuh rasa simpati.


"********! Siapa pria itu? Katakan padaku, Lexi! Dia telah memiliki kekasih dan berani merayumu! Lihat saja aku akan menggantungnya di atas patung Liberty!" Seru Alex dengan emosi.


"Katakan siapa dia, Lexa? Aku akan membantu Alex untuk menggantungnya," ucap Daniel tak kalah emosi.


"Dan aku akan menyiapkan talinya," ujar Gerard serius yang membuat Alexa membuang napas panjang ketika mendengarnya.


"Kalian tidak mendengar ucapanku sampai selesai! Aku melihatnya berciuman dengan... pria lain."


Hening menyelimuti ruangan itu, semua orang ternganga mendengar ucapan Alexa.


Daniel : "Dengan..."


Alex : "Pria..."


Gerard : "Lain?"


Kerelyn : “.... ,” Dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


Seketika suara tawa pecah dari mulut Gerard diikuti dengan Alex dan Daniel, sedangkan Kerelyn berbaik hati dengan mencoba menahan tawanya dan berusaha menatap Alexa dengan sorot mata prihatin.


"Demi Tuhan, Lexa, kau bahkan kalah bersaing dengan seorang pria!" Seru Gerard di antara tawanya.


"Apa pria itu lebih seksi darimu?" Tanya Alex yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Alexa.


"Yang jelas dia tidak seperti Zombie!"


"Tapi Zombie yang ini masih normal... dia masih menyukai perempuan, walau yang rata sekalipun," ucap Alex langsung mendapat pukulan dari gadis itu.


"Dasar Zombie mesum!" Seru Alexa sambil cemberut yang membuat tawa Alex semakin kencang.


"Lexa, waktu itu kau mendapatkan dua buket bunga, siapa yang memberimu satu buket besar mawar merah? Apa itu dari pria itu?" Tanya Daniel penasaran setelah mengingat kalau ada dua buket bunga yang dikirimkan ke ruangan Alexa waktu itu.


"Bukan... itu dari... mantan kekasihku," jawab Alexa pelan.


"Mantan?" Tanya Gerard, semua orang kini kembali menatap Alexa serius.


"Dia pasti masih sangat mencintaimu," ucap Kerelyn sambil tersenyum, tapi Alexa hanya mengangkat bahunya saja.


"Itu yang dia katakan, tapi aku tak percaya padanya."


Kini semuanya saling tatap tak mengerti dengan ucapan Alexa.


"Kenapa kau tak memercayainya?" Tanya Daniel penasaran yang mendapat anggukan setuju dari Gerard.


Alexa menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan kakaknya itu, "Dia... dia berselingkuh dengan temanku."


"Baj*ngan!" Daniel langsung mengumpat, disusul oleh Gerard, sedangkan Alex hanya terdiam terlihat berpikir.


"Apa dia, pria yang waktu itu kau dan Emily bicarakan di dapur?" Tanya Alex yang langsung dapat anggukan dari Alexa.


"Man, kau mengetahuinya dan kau diam saja!" Seru Daniel tak percaya kalau Alex akan diam saja mengetahui seseorang telah menyakiti Alexa.


"Kalau di ada di sini, aku sudah mencincangnya, tapi ******** itu tidak tinggal di New York," ucap Alex serius.


"Jangan katakan kalau dia tinggal di Paris?" Tanya Gerard, dan akhirnya kembali mengumpat setelah melihat Alexa mengangguk.


"Dia model yang tinggal di sana," jawab Alexa.


"Jadi dia seorang model? Siapa namanya, aku mempunyai kenalan beberapa orang model yang tinggal di sana," Kerelyn terlihat penasaran dengan pria yang telah menyakiti Alexa itu.


"Ethan... Ethan Howard," jawab Alexa yang membuat Kerelyn terbelalak.


"Apa kau mengenalnya?" Tanya Daniel setelah melihat ekspresi Kerelyn, perlahan wanita berambut merah itu mengangguk dengan ragu.


"Dia... dia Adikku," jawab Kerelyn dan membuat semua orang menganga tak percaya.

__ADS_1


****


__ADS_2