The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 19


__ADS_3

“Apa kau masih kesal?” Saat ini mereka tengah berada di dalam lift apartemen, karena jadwal Kerelyn yang kosong hari ini maka mereka memutuskan untuk pergi berjalan-jalan keluar dan Kerelyn sangat membutuhkan itu saat ini. Ia masih diliputi perasaan kecewa terhadap adiknya, ia begitu memercayainya tapi ternyata adiknya bahkan tidak dapat menahan godaan dari seorang perempuan perayu.


“Aku, hanya merasa kecewa.. aku terlalu memercayainya kalau dia tidak akan menyakiti perempuan,” jawab kerelyn sambil menyandarkan tubuhnya di dinding lift, dan Daniel sangat paham dengan perasaannya.


“Kau tahu, aku rasa ini bukan salah Ethan sepenuhnya.”


Kerelyn menatap Daniel tak mengerti dengan apa yang pria itu ucapkan.


“Apa kau sekarang membelanya? Dasar pria sama saja,” ujar Kerelyn sambil menggelengkan kepala yang membuat Daniel tersenyum.


“Harus ku akui adikmu adalah seorang pria yang sangat tampan, jadi tidak heran kalau banyak wanita yang akan melakukan apa saja untuk dekat dengannya, dan setahuku Lexa pernah bercerita kalau perempuan itu.. ya sebut saja dia ahli dalam menaklukan para pria, sedangkan Lexa? Well, kadang dia kurang peka terhadap hal-hal seperti itu, dia malah sering tidak menyadari kalau ada pria yang menyukainya, dia menganggap semua pria hanya sebatas teman dan status kekasih hanya status saja, dan Ibu kami mendidik si kembar dengan adat ketimurannya, meraka harus menjaga kehormatannya hanya untuk suami mereka... sedangkan adikmu adalah seorang pria yang dibesarkan di dalam budaya bebas ala baratnya.”


Seharusnya Kerelyn tahu mengingat darah Asia dengan adat ketimuran yang kaut, si kembar tidak akan melakukan sex bebas sebelum pernikahan dan itu sudah jarang terjadi di negaranya dimana hidup gaya bebas sudah menjadi kebiasaan dan hal yang lumrah di kalangan anak muda di negara barat.


“Aku yakin Ethan adalah pria normal, dan dia hidup di dunia dimana banyak sekali godaan dengan wanita-wanita seksi dan cantik.”


“Tapi itu bukan suatu alasan, kalau memang dia tidak tahan dan ingin melakukannya, kenapa dia tak memutuskan Lexa terlebih dahulu lalu dia bisa berhubungan dengan wanita manapun yang dia mau.”


Daniel terdiam beberapa saat, “Kau benar, dia memang salah.. aah seharusnya tadi aku ikut memukulnya,” ujar Daniel sambil tersenyum yang lansung mendapat pelototan dari Kerelyn, dia lalu merangkul bahu gadis itu sambil berjalan keluar dari lift menuju tempat parkir.


“Kerelyn!” Seorang pria berumur awal tiga puluhan dengan seragam berwarna biru memanggil Kerelyn, wajahnya tersenyum menatap gadis berambut merah itu, tapi seketika ia terlihat gugup ketika menyadari kalau Kerelyn tengah bersama Daniel.


“Maafkan saya, maksud saya Miss. Howard,” ucapnya dengan nada gugup sambil menatap Daniel dengan takut.


“Tidak apa-apa dia tidak akan melaporkanmu,” ujar Kerelyn setelah menyadari kalau pria penggugup itu takut Daniel akan melaporkannya kepada pihak gedung karena telah berlaku tidak sopan.


“Martin, apa kau mengenalnya? Ini, Daniel Winchester, tetanggaku.”


“Tentu saja aku mengenalnya, semua orang mengenal Mr. Winchester,” ucap Martin sambil tersenyum ramah.


“Daniel, kenalkan dia adalah pria yang paling bisa aku andalkan di gedung ini, Martin Louis,” ucap Kerelyn yang membuat Martin memerah karena malu.


“Aku beberapa kali pernah melihatnya, maafkan aku karena tidak mengenalimu,” ujar Daniel ramah sambil menjabat pria yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di gedung mereka tinggal, “Dan kau boleh memanggilku Daniel,” lanjutnya yang membuat Martin terlihat bahagia.

__ADS_1


“Apa kalian akan pergi?”


“Iya, aku sangat membutuhkan udara segar hari ini,” jawab Kerelyn sambil tersenyum, “Oh iya, Martin, aku lihat kau telah mengganti lampu dapurku, terimakasih banyak aku sangat menghargai itu.”


“Tidak masalah itu sudah menjadi tugasku, kalau kau perlu bantuanku kau hanya tinggal menghubungiku.”


“Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti kalau begitu.”


Kerelyn dan Daniel baru saja berjalan ketika Martin kembali memanggil mereka.


“Maafkan aku tak bermaksud menakut-nakuti hanya saja kalian perlu berhati-hati, kau tahu salah seorang petugas kebersihan di sini baru saja di bunuh.”


Kerelyn dan Daniel terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan Martin, tapi pria itu terlihat sangat serius.


“Apa itu benar?” Daniel bertanya sambil menatap Martin dengan penasaran.


“Iya, apa kalian mengenal Tobi?”


“Tentu saja kalian tidak mengenalnya, dia petugas baru di sini dan beberapa hari lalu beberapa orang polisi mendatangi kami untuk bertanya soal Tobi, dia ditemukan tewas di salah satu tempat parkir daerah Brooklyn, kepalanya hancur hingga para polisi sedikit kesulitan mengidentifikasinya.”


“Ya Tuhan.” Kerelyn menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, dia tak percaya kalau ada orang yang tega membunuh orang lain dengan sadisnya.


“Dan aku mengetahuinya dari salah satu rekan kami kalau Tobi ternyata bekerja paruh waktu di tempat biasa kau shooting, Kerelyn.”


Kerleyn lagi-lagi membelalakan matanya terkejut, begitu juga dengan Daniel yang memiliki insting cukup kuat dan entah kenapa dia merasa kalau ini ada kaitannya dengan Kerelyn.


“Apa kau tahu kapan dia di bunuh?” Daniel bertanya dengan penasaran.


“Aku tak begitu yakin, tapi polisi mengatakan kalau dia di bunuh pada malam hari di bawah guyuran hujan deras jadi mereka kesulitan untuk menemukan bukti.”


Daniel mengerutkan keningnya berpikir, hujan deras? Bukankah itu kejadian dimana Kerelyn mengalami cedera? Tidak, dia tidak boleh berpikir yang tidak-tidak mungkin saja ini semua hanya sebuah kebetulan yang tidak berkaitan sama sekali, tapi ia akan mengingatnya untuk membicarakan ini dengan Alex.


“Baiklah, Martin, terimakasih untuk peringatannya, kami akan sangat berhati-hati,” ucap Daniel yang mendapat anggukan semangat dan sebuah senyuman dari Martin.

__ADS_1


Mereka kini berjalan menuju mobil Mustang milik Daniel dan tak lama kemudian mulai memecah kepadatan jalanan kota New York, sepanjang perjalanan mereka diisi oleh percakapan tentang betapa bahayanya keadaan saat ini dimana kejahatan mulai merajalela, tak mengenal tempat dan waktu.


Mereka kini telah sampai di Times Square yang berada di persimpangan Broadway dan Seventh Avenue yang merupakan persimpangan pejalan kaki tersibuk di dunia dengan julukan “Crossroads of the world”, seperti halnya pengunjung yang lain Daniel dan Karelyn pun memarkirkan kendaran mereka di salah satu tempat parkir yang tersedia di sana dan mulai berjalan kaki.


Mereka menikmati perjalanan mereka sambil menikmati es krim Turki yang dibeli Daniel di salah satu kios es krim yang ada di sana, untuk pertama kalinya setelah terjun ke dunia keartisan Kerelyn bisa dengan santai menikmati hari liburnya, dengan mengenakan celana jeans, sepatu kets dan kaos tidak ketinggalan topi baseball berwarna biru dengan tulisan I Love NY, seperti halnya para wisatawan lainnya ia berjalan berbaur dengan santai menanggalkan statusnya sebagai publik pigur, walaupun sepertinya beberapa orang sempat mengenali mereka tapi tak ada yang berani mengganggunya, begitu pula dengan Daniel yang terlihat sangat santai dengan celana jeans lusuh miliknya dipadukan dengan kaos hitam berlengan panjang yang ia tarik hingga tiga perempat.


Mereka berjalan di antara gedung-gedung theater Broadway yang terkanal dengan pertunjukannya, papan rekalame dan juga lampu-lampunya yang spektakuler dan berwarna warni menjadi daya tarik sendiri tempat itu, jujur saja Kerelyn sangat ingin masuk ke dalam museum Repley’s Believe It or Not yang berada di daerah itu tapi sayang melihat padatnya pengunjung yang mengular menunggu giliran masuk membuatnya mengurungkan niat tersebut, dan akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di daerah plaza yang ramai dan ikonik. Plaza ini merupakan area terbuka di tengah jalan Broadway yang bebas kendaraan dan terdapat kursi dan meja yang dipasang untuk sekedar duduk atau menikmati hidangan yang telah dipesan di restoran yang berada disekelilingnya, semacam outdoor cafe.


“Apa kau ingin makan sesuatu?” Daniel bertanya setelah mereka duduk di salah satu kursi plastik berwarna putih.


Kerelyn menatap berkeliling mencari sesuatu yang menggugah seleranya dan matanya berbinar ketika melihat stand hotdog tak jauh dari mereka, seketika Daniel tersenyum menyadari apa yang menjadi keinginan perempuan itu.


“Ah, aku yakin besok fotomu yang sedang memakan hotdog dengan rakus akan menjadi headline di beberapa majalah,” ucap Daniel yang membuat Kerelyn tertawa.


“Kau benar, aku harus menjaga imageku.”


“Hei, tidak ada yang salah dengan itu, sekali-kali kau harus tunjukan sisi liarmu kepada mereka,” ujar Daniel sambil menatap Kerelyn lembut.


“Kau benar, tapi tidak sekarang... aku belum siap menerima ceramahan Eddy yang panjang.”


Daniel mengangguk mengerti dan akhirnya mereka memutuskan hanya memesan minuman untuk keduanya, mereka sedang berbincang ringan dan tertawa ketika Daniel menangkap sosok yang dia kenal, dia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas, merasa penasaran dengan apa yang tengah diperhatikan Daniel, Kerelyn memutar tubuhnya untuk melihat apa yang membuat Daniel terlihat begitu serius.


“Bukankah itu Lexa dan Alex?” Kerelyn bertanya setelah melihat adik Daniel itu terlihat sedang adu argumen dengan Alex yang terlihat sangar dengar rambut gondrong dan janggut yang menutupi rahangnya.


“Apa yang sedang mereka lakukan?”


Daniel baru saja melambaikan tangannya untuk memanggil keduanya ketika beberapa orang ikut bergabung bersama keduanya, mereka membelalakan mata ketika menyadari siapa yang baru saja datang lalu bergabung dengan meraka berdua, dan terlihat Alex yang langsung merangkul Alexa dengan posesif.


“Ya Tuhan, bukankah itu...” kerelyn tak berani melanjutlkan ucapannya, wajahnya kembali memucat, kedua tangannya langsung menutup mulutnya.


“Simon Javier.”


*****

__ADS_1


__ADS_2