The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 39


__ADS_3

“Aku belum begitu yakin, tapi kita akan memikirkan semua kemungkinan... bisa jadi dia adalah salah satu penggemar rahasia Kerelyn yang tak menyukai hubungan kalian berdua atau bisa jadi orang yang memotong kabel rem dan juga pemilik bunga tulip itu adalah orang yang berbeda.” Daniel mengangguk mengerti semua penjelasan Alex, “Jadi... apa kau masih mengingatnya kapan kau menerima bunga-bunga itu?”


Kerleyn terdiam mencoba mengingat kapan saja dia menerima bunga itu, “Aku tak tahu kapan pastinya, tapi aku mulai menerima bunga-bunga itu setelah kejadian tiga tahun lalu...”


“Maksudmu ketika kejadian yang menyangkut Simon?” Alex bertanya untuk lebih memastikan jawaban gadis itu.


“Iya, kejadian itu... setelah itu aku selalu menerima bunga-bunga itu tapi aku tak ingat dengan pasti kapan saja... aku ingat akhir-akhir ini aku menerimanya pagi hari ketika aku baru saja mengalami kecelakaan di tempat shooting, aku menganggap itu sebagai bentuk perhatian dari penggemarku karena cedera yang ku terima, dan terakhir pada malam pesta pernikahan Emily.”


Alex mengangguk mencoba mengingat semua informasi yang ia terima, ia baru saja akan berdiri ketika Kerelyn kembali mengingat sesuatu.


“Malam sebelum aku melakukan pemotretan dengan Matt di tempatmu, Daniel, apa kau mengingatnya?”


“Iya aku mengingatnya.”


“Aku ingat malam sebelum pemotretan itu aku menerima bunga di antara tumpukan hadiah yang kuterima dari penggemarku.”


Alex kembali memasukan informasi itu untuk penyelidikan lebih lanjut. Mereka semua kembali larut dalam keheningan dan pikiran masing-masing sampai akhirnya bunyi ponsel Alex memecah keheningan, Daniel bisa melihat sahabatnya itu membuang napas berat ketika melihat nama yang tertulis di layar ponselnya.


“Kenapa kau tidak mengangkatnya?’ Daniel berkata karena Alex hanya membiarkan poselnya itu berbunyi dan mati dengan sendirinya.


“Man, seharusnya aku tak berkencan dengan rekan sekantorku,” ujar Alex dengan lemas membuat Daniel dan kerelyn saling pandang.


“Tadi itu Lucy?” kini Kerelyn yang bertanya dengan penasaran.


“Yeah... aku tak tahu kalau dia akan seposesif ini... kalian pasti tidak akan percaya, dia bahkan cemburu pada Lexi! Ya Tuhan, apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran perempuan itu,” ujar Alex sambil menggelengkan kepala putus asa.


“Bagaimana dia bisa cemburu pada Lexa?” Daniel bertanya sambil menatap sahabatnya santai.


“Itu yang membuatku bingung... kalian tahu, setelah perkenalan kalian dengannya di The Rock beberapa hari yang lalu, dia selalu marah tanpa alasan yang jelas kalau aku menyebut nama Lexi.”


“Dan kau sering menyebut nama Lexa?” Kerelyn manatap Alex dengan penasaran.

__ADS_1


Alex menatap Kerelyn sambil mengerutkan alisnya, “Demi tuhan, Kerelyn, Lexi sudah seperti adikku sendiri, jangan kau berpikiran macam-macam seperti Lucy.”


“Memangnya apa yang dipikirkannya?”


“Dia mengira kalau aku mencintai Lexi... ok! Kalian jangan tertawa, aku juga baru tahu kalau dia sebodoh itu.”


Alex kembali menggelengkan kepala mengingat bagaimana Lucy cemburu pada Alexa. Demi Tuhan, Kerleyn ingin sekali berteriak di depan wajah tampannya itu kalau sebenarnya dialah yang bodoh karena belum menyadari perasaannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, sampai dia berpikiran kalau kau mencintai adikku?”


Alex menarik napas panjang sebelum mulai bercerita, “Kami baru saja akan pergi ke bioskop ketika aku melihat sebuah boneka anjing Chihua-hua di salah satu toko yang mengingatkanku pada Lexi.”


“Dan kau membelikan Lexa boneka itu,” potong Kerelyn yang langsung dapat anggukan dari Alex.


“Iya, aku membelikannya hanya untuk menggoda Lexi dan itu berhasil.” Alex tertawa membuat Daniel dan Kerelyn hanya saling tatap melihat betapa bahagianya Alex karena bisa menjahili Alexa, “Kalian harus lihat bagaimana dia marah sampai memukuliku dengan bantal dan Raina harus turun tangan menenangkannya,” lanjut Alex yang kembali tertawa ketika mengingat hal itu.


“Dan... apa kau membelikan Lucy boneka juga?”


“Tunggu dulu, maksudmu... dia cemburu karena sebuah boneka? Yang benar saja,” ujar Alex tak percaya.


“Alex, kadang perempuan cemburu pada hal-hal kecil... percayalah,” ucap Kerelyn dengan penuh simpati menyadari betapa para pria sangat tidak peka dan bodoh ketika menyangkut perempuan.


“Kenapa dia tak mengatakan padaku kalau dia menginginkan aku membelikanya boneka.”


“Karena kaulah yang seharusnya menyadari itu.”


“Bagaimana aku tahu kalau dia tak mengatakannya? Aku bukan cenayang, Kerelyn.”


“Ya Tuhan, apa kau selalu sebodoh ini kalau menyangkut perempuan? Aku tak percaya kalau kau adalah Don Juan NYPD.”


“Itulah mengapa aku tak menyukai berhubungan lama dengan perempuan, karena mereka selalu penuh misteri dan membuat kepalaku pusing dengan tingkah posesifnya, mereka selalu bertanya sedang apa? Dimana? Bersama siapa? Bahkan mereka marah ketika kita telat membalas pesan atau mengangkat teleponnya,” ujar Alex sambil menggelengkan kepala membuat Kerleyn kembali membuang napas berat, sedangkan Daniel hanya bisa tersenyum melihat keduanya.

__ADS_1


Tapi yang pasti sekarang dia menyadari kalau apa yang dipikirkan Kerelyn tentang Alex yang mencintai adiknya itu ada kemungkinan benar adanya tapi dia tak akan mencampuri urusan itu, dia akan membiarkan keduanya menyadari perasaan masing-masing dengan sendirinya.


“Baiklah, aku pulang sekarang,” Alex berkata sambil berdiri, “Aku akan menghubungi kalian lagi nanti... tenang saja, bukan malam ini... jadi kalian bisa melanjutkan apapun yang sedang kalian lakukan tadi,” lanjut Alex sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Kerelyn membelalakan mata dengan pipi memerah.


Daniel berjalan di belakang Alex untuk mengantarnya ke luar dan dia baru akan menutup pintu ketika Alex memanggil namanya kemudian berbisik, “Aku tak ingin menakutimu, tapi ku rasa seseorang menginginkan salah satu dari kalian berdua terluka.”


“Maksudmu dia juga ingin melukai Kerelyn?” Daniel bertanya sambil berbisik dengan nada tak percaya.


“Dengar, yang ada di dalam mobil itu bukan cuma kau saja tapi Kerelyn juga, dan aku yakin pelakunya mengetahui itu... jadi kita belum bisa memastikan siapa sebenarnya yang menjadi target baj*ngan itu.”


Daniel terdiam beberapa saat sambil menatap Alex dan memikirkan ucapannya tadi, dan itu memang benar saat ini mereka belum mengetahui dengan pasti siapa yang menjadi target dari perusakan rem mobilnya.


“Sial! Kau benar,” bisik Daniel sambil menggeram.


“Jadi kalian berhati-hatilah ok?”


Daniel mengangguk mengerti sebelum akhirnya Alex pergi meninggalkannya yang masih terlihat berpikir dan mencoba mengatur emosi sebelum masuk ke dalam apartemen.


“Jadi... sampai dimana kita tadi?” tanya Daniel sambil kembali duduk di samping kekasihnya yang menyambutnya dengan senyum bahagia.


***


Pria itu berjalan mundar- mundar di dalam rumah sempit yang hanya diisi oleh kursi kayu, dia terlihat berbicara pada dirinya sendiri, sesekali ia akan memaki dan mengutuk seolah-olah seseorang tengah berada bersamanya.


“Gagal... bagaimana bisa gagal!” serunya dengan wajah nyalang menatap sekeliling rumah.


“Tidak.. tidak... aku telah mengaturnya dengan sangat baik, tapi pencuri sialan itu mengacaukannya!” ia kembali berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.


“Ya, pencuri itu penyebabnya.. bukan aku..” ujarnya dengan seringai mengerikan, ia kini berjalan mendekati sebuah pigura kecil yang berada di atas nakas tua berwarna hitam yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat.


Dia mengambil bingkai itu lalu mengelusnya lembut, “Tentu saja ini bukan salahku. Ini salah pencuri itu, aku tak mungkin melakukan kesalahan... karena aku akan selalu melindungimu,” bisiknya sambil menatap sebuah foto yang sudah menguning... sebuah foto seorang perempuan berambut merah bersama dengan anak laki-laki yang sedang tersenyum ke arah kamera.

__ADS_1


*****


__ADS_2