
Daniel dan Gerard langsung berlari ke arah dimana Raina terbaring dengan tangan dan kaki terikat dan bom aktif terpasang di atas tubuhnya. Untung saja bom ini berbeda dengan bom yang tadi terpasang di gudang. Bom ini memiliki timer yang berbentuk seperti jam yang berhitung mundur, Daniel dan Gerard memaki ketika melihat waktu yang mereka miliki hanya tiga puluh menit.
“Semua akan baik-baik saja, Rain,” ucap Daniel menenangkan Raina yang mulai berurai airmata walau tanpa suara, “Tunggu di sini dengannya!” Lanjutnya sambil menatap Gerard yang sedang berusaha melepaskan ikatan kaki Raina. Daniel berlari keluar untuk memanggil Alex dan tim penjinak bom dan meninggalkan Gerard dan Raina.
“Aku mohon jangan tinggalkan aku sampai polisi datang untuk menolongku,” ucap Raina dengan suara parau karena berusaha menahan tangisnya.
“Tidak, aku tak akan pergi meninggalkanmu,” ujar Gerard sambil tersenyum lalu berusaha membuka ikatan tangan gadis itu, “Maafkan aku datang terlambat,” lanjutnya sambil mengelus wajah Raina lembut.
“Kau sangat terlambat... kami begitu ketakutan tadi.” Airmata tak henti-hentinya keluar dari mata hitam gadis itu.
“Sstt... sekarang aku ada di sini, kau akan baik-baik saja.” Gerard berusaha menenangkan Raina sambil melap airmatanya.
“Aku.. tidak mau mati sekarang!” teriak Raina dalam tangisnya, “Aku belum menikah, dan orangtuaku pasti sedih kalau aku meninggal di sini dengan cara seperti ini, aku bahkan belum mengatakan padamu kalau aku mencintaimu,” lanjut Raina sambil menangis histeris membuat Gerard terdiam beberapa saat lalu kembali menenangkannya.
Tim penjinak bom datang dengan pakaian khususnya dan meminta Gerard untuk menjauh, walaupun berat tapi dia harus melakukannya.
“Aku di sini, Rain! Aku tak akan kemana-mana!” Teriak Gerard sambil berjalan mundur meninggalakan Raina yang kini telah ditangani tim penjinak bom.
Gerard kini bergabung dengan Daniel, Alex dan Kerelyn di luar menunggu dengan cemas, sedangkan Alexa tengah ditangani oleh para medis, lehernya kini memakai alat penyangga. Waktu berlalu dengan lambat, lima menit berlalu tapi belum ada kabar dari dalam rumah dimana Raina berada, semua yang di luar menunggu seperti sama-sama duduk di atas tumpukan bom.
Semburat jingga kini telah menghiasi langit sore, Harry telah diamankan oleh polisi, begitu juga dengan mayat Matt, kerumunan mobil wartawan telah datang, dan para polisi telah memasang garis kuning dimana para pencari berita dan warga yang berdatangan berkerumun di belakang garis kuning itu.
Sebuah berita besar kembali akan menjadi santapan para pencari berita dan lagi-lagi kali ini melibatkan Kerleyn dan Daniel di dalamnya, dimana kedua orang itu kini terlihat saling berangkulan menunggu dengan tak sabar kabar dari Raina yang masih dalam bahaya. Gerard terlihat berjalan mundar mandir, dan beberapa kali dia terlihat mengacak-acak rambutnya putus asa, sedangkan Alex terlihat sedang berdiskusi dengan beberapa rekan kerja mengenai kejadian ini.
__ADS_1
Dan akhirnya pintu rumah tua itupun terbuka, memerlihatkan Raina yang berjalan di bantu oleh salah seorang anggota tim penjinak bom, tapi setelah melihat orang-orang yang ia cintai berdiri di sana menungunggunya membuat Raina berlari dengan terhuyung-huyung ke dalam pelukan Gerard yang juga berlari ke arahnya. Gerard mencium bibir, pipi, hidung dan seluruh wajah Raina yang tengah menangis tapi juga tersenyum bahagia karena berhasil selamat, disusul oleh Daniel, Kerelyn dan Alex yang memeluk gadis pemberani itu secara bergantian. Mereka kini membawanya ke dalam mobil ambulan untuk di periksa dimana Alexa tengah berbaring di sana dan langsung menangis histeris setelah melihat sepupunya berhasil selamat.
“Kau membuatku takut!” Seru Alexa di antara tangisnya sambil memeluk Raina yang juga menangis membuat ketiga orang lainnya yang berdiri di luar ambulan tersenyum melihatnya.
*****
“Jadi, kalian sebenarnya tidak berpisah?” tanya Alexa sambil menatap Daniel dan Kerelyn yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka sedang berada di Rumah sakit karena Alexa memerlukan perawatan dengan lehernya yang mengalami cedera cukup serius.
Orangtua mereka begitu terkejut mendengar kabar yang menimpa anak-anak mereka, belum lama ini Alexa terkena tembak dan sekarang hampir meninggal karena seseorang mencekiknya sedangkan Raina hampir meledak karena bom. Dan itu membuat orangtua mereka menjadi sangat posesif, bahkan Emily dan Dylan yang sekarang sudah tinggal di Inggris tak henti-hentinya menghubungi Alexa untuk menanyakan kabarnya.
“Tidak... itu hanya rencana Daniel, dia pikir dengan membuat aku seolah-olah terluka karena putus darinya itu akan membuat si pelaku menjadikannya sebagai target dan ternyata memang benar... percayalah aku sudah menolak ide itu berulang-ulang, tapi Kakakmu terlalu keras kepala.”
Daniel hanya tersenyum santai sambil berkata, “Tapi sekarang semua sudah aman.”
“Aku tak menyangka Matt dan Harry pelakunya.” Theo berkata sambil menggelengkan kepala tak percaya setelah mendengar cerita selengkapnya dari Daniel, Alex dan Gerard.
“Dan melihat kejadian di lokasi shooting ketika si pelaku mengeksekusi pada saat itu juga, kami semakin yakin kalau pelakunya adalah orang-orang di sekitar Kerelyn, karena langsung mengetahui kejadian pada saat itu juga. Dan kami sempat mencurigai Eddy,” ujar Alex yang mendapat anggukan dari Daniel dan Gerard.
“Eddy? Kalian mencurigai Eddy?” tanya Kerelyn tak percaya.
“Kami akan mencurigai siapapun, Sweetheart.”
“Tapi Eddy... itu tidak mungkin, dia sudah seperti keluargaku sendiri.”
__ADS_1
“Begitu juga Matt dan Harry, yang sudah seperti temanmu sendiri, Kerelyn,” ujar Alex sambil meminun soda kaleng miliknya. Mereka tengah duduk di sofa yang ada di ruang rawat inap Alexa, sedangkan Calista dan Raina duduk di kasur bersama Alexa.
“Aku sempat bertanya kepadanya apa dia mengetahui tentang penggemar yang suka mengirimimu bunga tulip? Dia bilang tidak mengetahuinya, tapi beberapa hari kemudian dia mendatangi kantorku dan mengatakan kalau dia melihat bunga yang sama di kantor Harry, dia sempat mencurigainya karena sikapnya yang aneh, dia bilang kalau pria itu suka berbicara sendiri,” lanjut Alex menjelaskan tentang keterlibatan Eddy.
“Dan mengingat Harry ada di swalayan pada saat itu, maka kami juga sempat memasukkannya ke dalam tersangka, tapi kami tak mempunyai bukti keterlibatannya dalam kasus lain, dia mempunya alibi pada beberapa kejadian membuat kami ragu. Dan ternyata dia tak bekerja sendiri, dia bergantian dengan Matt melakukan kejahatannya, orang yang tidak kami duga sama sekali.”
“Itulah sebabnya Harry mempunyai alibi berada di tempat lain pada saat kejadian, karena pada saat itu Mattlah yang menggantikannya melakukan tugas mengeksekusi. Dan bukti kuat baru di dapat ketika dia tertangkap kamera tengah merusak rem mobil Daniel,” ujar Gerard yang membuat semua orang terdiam.
“Mereka berdua benar-benar gila,” ucap Gerard sambil mengambil minuman dan langsung meneguknya.
“Kami sempat terkecoh ketika dia mengatakan kalau dia datang setelah mobilku hilang, tapi ternyata ketika kami mengurut mundur dari setelah kecelakaan yang dialami mobilku, kami mengetahui kalau ternyata dia sudah berapa di swalayan itu sebelum kami datang,” ucap Daniel sambil membuang napas berat.
“Harry akan pulang ketika melihat Daniel dan Kerelyn datang, dan dia memutuskan untuk menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi Daniel, tapi ternyata pencuri menggagalkan rencananya. Dia mengikuti pencuri itu hanya untuk menghabisinya karena telah menggagalkan rencananya tapi kecelakan terjadi dan membuatnya tak harus turun tangan untuk menghabisi si pencuri yang tanpa sepengetahuannya telah menyelamatkan diri dan akhirnya Harry kembali lagi ke swalayan untuk mengantar Kerelyn pulang tapi untung saja Daniel menolak, dan itu membuatnya semakin marah.”
Semua orang kembali terdiam mengingat kegilaan yang telah merenggut nyawa banyak orang, dan membuat mereka dalam bahaya.
“Untung saja, bom yang terpasang padamu berbeda dengan yang terpasang pada Daniel,” ucap Calista sambil menggenggam tangan Raina membuat semua orang mengangguk setuju.
“Mereka mengaturnya selama itu supaya mereka memiliki waktu untuk pergi jauh dari sana ketika ledakan terjadi. Mereka telah merencanakannya dengan sangat matang, mereka tahu kalau polisi akan menyelidiki rumah itu setelah ledakan oleh sebab itu mereka membutuhkan alibi jauh dari TKP saat kejadian berlangsung.” Alex menjelaskan mengenai bom yang terpasang di badan Raina yang memiliki timer berbeda dengan yang ada di gudang yang langsung meledak karena berkekuatan kecil yang hanya direncankan untuk menghancurkan gudang saja.
“Ketika cinta menjadi obsesi, maka semua akan menjadi gila,” ucap Daniel sambil mengangkat alisnya.
“Kadang orang akan salah mengartikan antara cinta dan obsesi. Padahal itu sangat berbeda, cinta lahir dari hati dan kasih sayang yang murni, sedangkan obsesi terlahir dari sebuah nafsu yang membabi buta dan akhirnya akan merugikan orang lain,” ujar Kerelyn sambil bersandar pada bahu Daniel yang langsung merangkulnya.
__ADS_1
Semua orang mengangguk setuju karena mereka hampir saja kehilangan orang yang mereka sayangi gara-gara orang yang memiliki obsesi berlebihan terhadap orang lain tanpa memikirkan akibat yang mereka perbuat terhadap orang lain.
*****