The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 46


__ADS_3

Gerard berusaha mengimbangi kecepatan mobil Daniel yang melesat di depannya, beberapa kali ia memaki dan membunyikan klakson dengan sangat kencang ketika kendaraan di depan menghalangi jalannya, dia kembali memaki ketika melihat lampu lalulintas berubah merah. Badannya dicondongkan ke depan, matanya menatap lampu lalulintas serius menunggu lampu itu berubah kembali menjadi hijau, jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk kemudi dengan tidak sadar. Dan kakinya langsung menginjak gas dalam-dalam setelah lampu hijau menyala.


Daniel sudah tak terlihat, ia yakin sahabatnya itu telah sampai di apartemennya dan berharap menemukan Kerelyn di sana. Akhirnya ia sampai di gedung apartemen Daniel, ia berbelok menuju tempat parkir bawah tanah apartemen dan pada saat itulah ia melihat sebuah mobil hitam dari arah berlawanan hendak keluar dari apartemen mendekatinya, ia mengerutkan keningnya merasa mengenali kendaraan itu dan semakin dekat ia semain yakin setelah melihat plat mobitnya, dan saat berpapasan dengannya ia bisa melihat Harry Robert duduk di dalam mobil itu dengan seseorang yang duduk di kursi supir yang membuat Gerarld membelalakan mata tak percaya.


Ia mengerem mobilnya dengan tiba-tiba hingga terdengar bunyi decitan ban, ia membalikan tubuhnya untuk memastikannya penglihatannya tak salah,


“Sial!” serunya sambil mengambil teleponnya untuk menghubungi Daniel, tapi ponselnya mati membuatnya kembali memaki dan menginjak gas lalu berhenti di depan pintu menuju lift.


“Sial, D! Ayolah, Man!” Seru Gerard masih berusaha menghubungi Daniel, matanya melihat mobil Daniel terparkir tak jauh darinya, ia berlari untuk melihat keadaan di dalam kendaraan itu tapi tak ada apapun yang mencurigakan, ia masih bisa merasakan panas dari kendaraan itu yang menandakan kalau mobil itu belum lama sampai di sana.


“A! Baj*ngan itu ada di sini, dan dia tak sendiri,” ucap Gerard yang akhirnya memutuskan untuk menghubungi Alex dan memberi tahu tentang kondisi saat ini.


“Sial! Dan apa maksudmu dia tak sendirian?”


“Matt Foster.” Gerard mendengar Alex mengumpat, “Aku tak tahu hubungan dari keduanya, tapi ada yang lebih penting, aku tak bisa menghubungi Daniel.”


Alex terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bisa berkata dengan suara gemetar, rasa takut kini menguasai mereka berdua, “G, Apa maksudmu dengan tak bisa menghungi Daniel, bukankah kalian pergi bersama-sama?”


“Aku tertinggal karena terjebak lampu merah. Aku sedang menuju apartemenya sekarang, semoga mereka berdua ada di sana,” ucap Gerard sambil berjalan dengan cepat di lorong apartemen Daniel.


Dia memijit bel berulang-ulang tapi tak ada jawaban, sampai akhirnya ia menggedor pintunya sambil memanggil nama Daniel dan Kerelyn tapi tak ada jawaban dari keduanya membuat jantung Gerard berdetak dengan kencan, tubuhnya kembali gemetar, rasa cemas dan takut membuat tubuhnya merasakan sensi dingin yang menjalari tubuhnya dari kaki sampai dengan tulang belakang dan terus naik hingga kekepalanya.


“Mereka, tidak ada di sini,” ujar Gerard dengan suara gemetar membuat Alex memaki dan menyuruhnya pergi ke kantor NYPD, yang langsung membuatnya berlari kembali ke dalam lift dan secepatnya menuju kantor NYPD.


***


“Apa ini tempatnya?” tanya Raina ketika mobil Kerelyn kini telah memasuki daerah yang terlihat sepi dan tak terawat dengan lapangan yang ditumbuhi ilalang tinggi di kanan kiri jalannya, dan hanya ada beberapa rumah-rumah kayu yang bercat putih dengan jarak yang berjauhan.


“Iya, ini memang alamatnya,” jawab Alexa sambil menatap keluar seperti yang dilakukan Raina, “Apa yang Bos-mu lakukan di tempat seperti ini?”


“Entahlah, aku tak tahu.” Jujur saja Kerelyn juga sedikit heran apa yang membuat Harry Robert memanggilnya ke tempat kumuh seperti ini.


“Apa mungkin dia ingin menunjukan lokasi shooting film terbarumu?” tanya Alexa menebak alasan dibalik ini semua.


“Ah.. kau benar!” seru Raina dengan mata berbinar.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mereka terus masuk di jalanan itu hingga akhirnya mereka melewati sebuah gereja tua yang terbuat dari kayu tapi terlihat bersih dan juga cantik, di sebelahnya ada sebuah lapangan sepak bola dimana beberapa anak tengah bermain di sana, rumah-rumah mungil yang terawat dengan baik dengan pekarangan yang dihiasi bunga-bunga cantik berjejer di kanan-kiri jalan. Pemandangan berbeda yang diperlihatkan di awal tadi membuat ketiga gadis itu tersenyum menikmati pemandangan itu.

__ADS_1


Mereka harus kembali melewati lapangan ilalang sampai akhirnya berhenti di sebuah rumah kayu yang terlihat kurang terawat, cat putihnya mengelupas di beberapa tempat, halamannya ditumbuhi rumput yang sudah mulai tinggi, kacanya jendelanya terlihat kusam, dan rumah itu terpencil jauh dari mana-mana dan tak memiliki tetangga dekat di kanan-kirinya.


“Apa kau mau shooting film horor?” tanya Alexa, mereka masih duduk di dalam mobil, sambil melihat kondisi sekitar.


“Setahuku sampai hari ini aku belum menandatangani kontrak untuk film horor,” jawab Kerelyn sambil melihat keluar dengan badan dimajukan hingga bersandar di kemudi mobilnya.


“Kalian tahu apa judul film horor Indonesia seandainya shooting di sini?” tanya Raina sambil menatap ke arah rumah tua itu.


“Apa?” tanya Alexa penasaran.


“Kuntilanak kesasar,” jawab Raina sambil tertawa terbahak-bahak membuat Alexa dan Kerelyn mengerutkan keningnya tak mengerti, dan Raina baru sadar kalau kedua perempuan dihadapannya tak mengenal siapa itu kuntilanak, “Ok, lupakan saja... apa kita akan keluar atau tetap duduk di sini?” tanya Raina sambil keluar dari mobil meninggalkan Kerelyn dan Alexa yang saling pandang.


“Apa kau tahu siapa itu kuntil...?”


“Tidak, aku belum berkenalan dengannya,” jawaban Alexa sambil menggeleng lalu merekapun keluar dari mobil yang terparkir di pinggir jalan di bawah pohon rindang sedikit menyembunyikannya.


Mereka baru saja akan berjalan memasuki pekarangan yang ditumbuhi rumput liar dimana sebuah mobil sedan hitam terparkir di sana ketika ponsel Alexa berbunyi, membuatnya berhenti dan melihat nama Alex di layar ponselnya.


“Alex, aku akan mengangkatnya dulu,” ujar Alexa yang dapat anggukan dari Kerelyn dan Raina yang melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan Alexa yang kembali ke tempat mobil mereka di parkirkan.


“Lexi, kau ada dimana sekarang?” Alexa memutar bola matanya setelah mendengar panggilan Alex untuknya.


“Aku sedang bersama Raina dan juga Kerelyn di daerah Bronx,” ucap Alexa sambil bersandar di kap mobil Kerelyn yang masih panas.


“Kau bersama Kerelyn dan Raina?”


“Iya, kami tadi makan siang bersama, tapi Bos Kerelyn menyuruhnya datang ke sini jadi aku dan Raina menemaninya.”


“Sial! Jangan pergi ke sana, kembali ke sini secepatnya, apa kau dengar?”


Alexa mengangkat alisnya bingung, tapi dia merasakan kalau ada sesuatu yang salah tengah terjadi.


“Alex, apa yang terjadi?”


“Aku akan menceritakannya nanti, sekarang cepat kembali ke sini.”


“Tapi Kerelyn dan Raina sudah masuk ke dalam.”

__ADS_1


“Oh, sial! Lexi berikan alamatnya kepadaku sekarang, dan kau diam di dalam mobil jangan kemana-mana sampai kami datang, apa kau paham? Lexi kau dengar aku?!”


“I.. iya aku dengar... Sial Alex, ada apa sebenarnya?” tanya Alexa dengan gugup sekaligus bingung ketika mendengar suara Alex yang sarat akan amarah juga kekhawatiran.


“Harry Robert adalah seorang psikopat gila yang berbahaya... Kerelyn dan juga Daniel dalam bahaya dan sepertinya Raina juga kini dalam bahaya.”


“Ya Tuhan.” Alexa menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya, tubuhnya tiba-tiba merasa lemas, udara dingin mulai merambati tubuhnya karena rasa takut.


“Lexi, apa kau baik-baik saja? ...Lexi, apa kau mendengarkanku? Sial, Lexi katakan sesuatu!”


Teriakan Alex itu membuat Alexa kembali tersadar, dengan tubuh gemetar ketakutan dia berusaha memeringati Kerelyn dan Raina tapi dia terlambat mereka berdua sudah masuk dan Matt Foster tengah memerhatikan keadaan sekitar membuat Alexa bersembunyi di balik pohon dan setelah melihat pria itu menutup pintu, ia-pun masuk ke dalam mobil lalu menguncinya.


“A-aku mendengarkanmu, aku melihat Matt Foster ada di dalam juga,” ucap Alexa dengan gugup, dan ia bisa mendengar Alex membuang napas lega.


“Mereka berkomplot, tapi jangan khawatir kami dalam perjalanan menuju ke sana sekarang, kau bersembunyilah di tempat yang aman. Lexi, jangan berani untuk bertindak bodoh apa kau paham?”


“Aku sudah berada di dalam mobil dan menguncinya.”


“Bagus, sekarang nyalakan mesinnya dan pergi dari sana.”


Alexa melihat kunci mobilnya masih tergantung, dengan tangan gemetar ia menyalakan mesin mobilnya, lalu menginjak gasnya dalam-dalam dan mulai melaju meninggalkan rumah horor itu.


“Aku sudah pergi dari sana.” Alexa kembali berbicara dengan Alex di telepon.


“Bagus, bersembunyilah di tempat yang aman. Semua akan baik-baik saja, Lexi, aku berjanji akan menyelamatkan mereka semua.”


Alexa mengangguk memercayai ucapan Alex, dia lalu memutuskan sambungan telepon itu dan terus melaju tapi ada yang mengganjal dalam hatinya sehingga ia kembali melihat ke arah spion dimana rumah itu terlihat semakin kecil dan lama-lama tak terlihat, dan pada saat itulah Alexa menginjak remnya dalam-dalam hingga ia terantuk ke depan.


“Ini salah,” ucapnya kepada dirinya sediri sambil memejamkan mata, ia membalikan badannya ke belakang tapi rumah itu sudah tak terlihat, “Ini salah... aku tak boleh meninggalkan mereka begitu saja.”


Alexa mengatur napasnya terlihat dilema antara menyelamatkan dirinya sendiri atau kembali untuk menolong saudara dan temannya, sampai akhirnya ia membuang napas penuh semangat lalu memutar mobilnya kembali.


“Raina dan Daniel, pandai berkelahi mereka pasti tidak akan kesulitan untuk melawan dua orang gila... dan aku akan menyelamatkan Kerelyn.” Alexa berkata dengan semangat menggebu menuju rumah dimana ketiga orang yang ia sayangi disekap.


***


Haiiii... Nah yg kemarin pada nebak Eddy kaki tangannya, maaf kalian salah HAHAHAHA, (maaf @mazaya tapi kali ini kamu salah, hahahaha) saya sdh kasih clue kalau bab 41-42 itu bertebaran clue-clue, dan hampir semua clue ada di bab itu. Nah, di bab 41-42 kan Matt ngasih tau kalau dia baru pulang dari Vancouver, dan Vancouver ada dimana? Ya Kanada, dan ada kejadian apa di Kanada? Yap, Simon terbunuh di sana 😁. Nah, ada yg nanya ko bisa Harry? Di bab 41-42 juga dikasih tau kalau waktu kejadian Kerelyn ketiban papan di lokasi shooting, ternyata Harry ada di sana, sedangkan Matt dan Eddy ke RS, nah jd si eksekutornya Harry... 😁😁😁 kalau Martin sang security itu hanya sebagai pengalih perhatian saja 🤣🤣🤣. Ok, bab selanjutnya tambah menegangkan... apa Alexa akan diam saja nurut perkataan Alex? kita lihat di bab selanjutnya 🤭

__ADS_1


__ADS_2