
Kerelyn dan Raina tengah berjalan di pekarangan rumah tua itu ketika ponsel Raina berbunyi dan ia melihat nama Gerard di sana,. “Apa kau tak mengangkatnya?” tanya Kerleyn karena ia melihat Raina hanya menatap layar ponsel itu tak melakukan apapun.
“Tidak, aku akan menghubunginya lagi nanti,” jawab Raina sambil tersenyum.
“Ponselku mati kehabisan batrai, aku harap Daniel mengetahui aku tengah berada bersama kalian jadi dia bisa menghubungimu atau Lexa kalau ada sesuatu yang penting,” ujar Kerelyn yang mendapatan anggukan dari Raina.
Mereka baru saja menginjakan kakinya di atas teras kayu yang berderit ketika pintu rumah tua itu tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok pria tinggi tampan yang sudah Kerelyn sangat kenal.
“Matt, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kerelyn dengan mata berbinar.
“Tentu saja menunggumu, Sayang,” jawab Matt dengan senyum ramahnya, ia lalu mengalihkan pandangannya kearah Raina yang berdiri di samping Kerelyn, “Well, lihat siapa ini yang datang bersamamu.” Matt mencium tangan Raina membuat gadis itu tersipu, “Masuklah, Harry, sudah menunggumu daritadi, kami punya kejutan untukmu.”
“Kejutan?” Kerelyn bertanya sambil masuk ke dalam rumah disusul oleh Raina dan Matt di belakang mereka yang menutup pintunya setelah sebelumnya dia memastikan tak ada seorangpun yang melihat mereka.
“Harry, mereka sudah datang!” Matt berteriak memanggil Harry.
“Matt, aku tak tahu kau mengenal Mr. Robert dengan sangat baik,” ucap Kerelyn sambil menatap Matt yang tersenyum lebar.
“Kau akan sangat terkejut ketika mengetahui seberapa dekat kami selama ini.” Ucapan Matt itu membuat Kerely mengangkat alis matanya, lalu dia memutuskan untuk melupakanya dan menatap sekeliling rumah yang sangat sederhana itu.
Hanya ada satu ruangan keluarga yang merangkap menjadi ruang tamu dimana sebuah televisi yang sepertinya sudah tak lagi menyala berada di atas sebuah meja tua yang menempel pada dinding kayu yang catnya sudah berwarna putih kecoklatan, di sisi lain satu set kursi kayu dengan bantalan berwarna hijau kusam yang busanya sudah menipis dengan motif bunga-bunga yang sudah memudar. Raina terlihat tertarik dengan foto tua yang ada di atas nakas sebelah kursi tersebut.
__ADS_1
“Jadi dimana Mr. Robert?” tanya Kerelyn penasaran karena dia tak melihat bosnya itu ada di sana.
“Sepertinya dia sedang berada di taman... nah itu dia,” ujar Matt sambil menatap ke arah dapur dimana terhubung dengan pintu menuju luar. Harry masuk ke dalam dengan beberapa tangkai bunga tulip putih bercak merah ditangannya, senyumnya langsung merekah ketika melihat Kerelyn berdiri ditengah ruangan itu.
“Kerelyn, akhirnya kau datang juga,” ucapnya dengan mata berbinar di balik kacamata tebalnya, “Wah, kau membawa dia bersamamu?” tanyanya sambil menatap Raina yang sedang meletakkan pigura di atas nakas, “Bagus, dia akan melengkapi kejutan kita, benarkan, Matt?”
“Tentu saja, Harry,” jawab Matt dengan senyum lebarnya, tapi Kerelyn terlihat mematung matanya fokus menatap bunga yang ada di tangan Harry.
“Bunga itu...”
“Ini? Kau menyukainya?” tanya Harry sambil mencium bunga di tangannya dan membuat bulu kuduk Kerelyn mulai meremang, begitupun Raina yang sudah merasakan ada yang salah ketika melihat Kerelyn yang memucat.
“Apa selama ini kau yang mengirimnya?” Kerelyn bertanya dengan jantung berdetak hebat, kecurigaan mulai menguar kepermukaan, dia mengingat tentang pembunuh berantai yang Daniel ceritakan kepadanya, tapi apa mungkin kalau pria di hadapannya adalah pelakunya?
“Harry selalu mencari bunga tercantik di kebunnya yang akan diberikan kepadamu, Kerelyn,” ujar Matt sambil duduk santai di atas kursi kayu.
Raina berjalan mendekati Kerelyn yang masih berdiri dengan wajah pucat pasi, “Kerelyn apa kau tak apa-apa? Sepertinya kau sakit, kita sebaiknya pergi sekarang,” ujar Raina sambil menatap Kerelyn serius, membuat perempuan berambut merah itu menatapnya dan saat itulah Raina memberi tanda agar Kerelyn tenang, dia menggenggam tangannya yang dingin. Kemudian meremasnya memberi semangat kalau semua akan baik-baik saja, walaupun dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau benar, aku merasa tidak enak badan... maafkan aku tapi sebaiknya kami pergi sekarang, aku harus pergi ke dokter,”
“Oh tidak-tidak, Kerelyn, yang kau perlukan saat ini bukan seorang dokter... tapi aku.” Harry berkata dengan senyum mengembang di wajahnya dengan Matt yang mengangguk-anggukan kepala setuju.
__ADS_1
“Kau mungkin tidak tahu, tapi selama ini aku selalu ada untuk menjaga dan merawatmu. Kau tidak memerlukan orang lain lagi selain aku,” lanjut Harry sambil mendekati Kerelyn dan Raina yang berpegangan tangan saling memberi dukungan.
Raina bisa merasakan tubuh Kerelyn bergetar hebat karena rasa takut yang menyelimuti tubuhnya.
“Jangan lupakan aku,” ucap Matt yang masih duduk di kursi dengan sangat nyamannya tak memedulikan kedua perempuan yang kini sudah seperti tikus yang terjebak di antara harimau.
“Ah iya, tentu saja Matt juga membantuku dalam menjagamu... kau mungkin tak menyadarinya kalau kami sudah mengenal selama ini bukan?” Tiba-tiba Harry tertawa dengan sangat kencang mengagetkan Kerelyn dan Raina yang hanya bisa saling pandang melihat pria itu tertawa tanpa sebab.
“Matt, bukankah kita aktor yang hebat? Tidak ada yang mengetahui kalau kita saling mengenal sejak lama,” ucap Harry di antara tawanya membuat Matt ikut tertawa.
“Kau benar, aku rasa kita berhak dapat piala oscar, Harry.”
“Kau benar... piala oscar.” Harry sudah akan berhenti tertawa ketika dia kembali menatap Kerelyn dan Raina yang masih berdiri mematung, mereka kini sudah bersandar pada bingkai jendela rumah tua yang kacanya sudah kusam.
“Oh tidak... kalian berdua berpikiran salah kalau mengira kami adalah sepasang kekasih,” lanjut Harry yang membuat Matt kembali tertawa.
“Kerelyn, kau percaya kalau aku seorang gay? Oh Tuhan, aku benar-benar aktor hebat.” Matt terus tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair, “Harry, aku benar-benar harus mendapatkan piala oscar itu,” lanjutnya di antara tawa yang membahana.
“Kerelyn... Matt, sangat membenci pria, jadi tak mungkin dia berhubungan dengan para pria menjijikan itu,” ujar Harry sambil menatap Kerelyn yang terlihat tak percaya kalau selama ini dia mengira telah mengenal siapa Matt Foster sebenarnya, tapi ternyata dia tak mengenalnya sama sekali.
“Begitu juga aku... apa kau tahu, Ibuku bahkan meninggal karena seorang pria yang dia kira mencintainya, tapi ternyata pria itu memukulinya sampai mati. Para pria itu sangat jahat, jangan sekali-kali kau memercayai mereka, Little star.”
__ADS_1
Kerelyn bisa melihat kemarahan dan rasa benci di mata Harry ketika berbicara dan itu membuatnya hampir terserang panik, tapi dia ingat psikolognya pernah memberi saran yang harus dilakukan ketika terserang panik, selain mengatur pernapasan dia berusaha berpikir posittif kalau seseorang di luar sana akan datang untuk menolongnya. Alexa! Iya Alexa masih ada di luar dan dia berharap kalau adik Daniel itu akan menyadari kalau ada sesuatu yang salah di dalam sini dan akan mencari bantuan secepatnya. Begitu juga dengan Raina yang diam-diam mencuri pandang ke luar berharap melihat sepupunya itu.
*****