The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 15


__ADS_3

Gerard berlari menuju lapangan parkir, sudah lama ia tak berolah raga oleh sebab itu ia merasa sedikit kesulitan ketika harus berlari dengan jarak yang lumayan menurutnya. Dia berdoa semoga belum terlambat walaupun dia tahu Daniel bisa di bilang ‘bisa’ bertarung tapi bukan petarung handal apalagi harus melawan beberapa orang sekaligus.


“Kenapa kau sangat lambat! Ayo cepat!” Teriak seorang perempuan berambut hitam sebahu yang berlari mendahuluinya.


“OOH.. Sial, apa yang dia lakukan!”


Gerard mempercepat larinya berusaha menyusul Raina yang berlari di depannya, mereka telah sampai ke tempat parkir dan seperti yang telah ia bayangkan Daniel sedikit kewalahan untuk menghadapi beberapa anak buah Simon.


“Hei! Apa yang kau lakukan kepada Kakakku!” Raina berteriak menarik perhatian beberapa orang yang akan menyerang Daniel.


Tanpa menunggu lagi ia kembali berlari ke arah Daniel yang terlihat berantakan dan terengah-engah kehabisan napas karena harus menghadapi lima orang sekaligus. Salah seorang dari mereka yang berkulit hitam terlihat mengejek meremehkan gadis berkulit kuning langsat yang menatapnya tajam. Tapi penilaiannya harus diubah ketika hanya dengan beberapa detik ia telah membanting pria itu yang kini tergeletak sambil membelalakan mata terlihat bingung kenapa ia bisa tergeletak di sana? Bukan hanya pria berkulit hitam itu saja yang terlihat bingung, semua orang terlihat menganga tak percaya kalau gadis dengan berat badan hanya 52kg bisa membanting pria dengan berat dua kali lipatnya.


“Wow.. apa kau Karate Girl?” Gerard bertanya dengan mata terlihat takjub menatap Raina yang kini tengah bersiap menghadapi dua orang pria sekaligus.


“Silat bukan Karate!” Seru Raina sambil menangkis pukulan dengan tangan kiri kemudian berputar lalu tangan kanannya menyikut ulu hati pria berambut gondrong itu hingga membungkuk dan dengan sekuat tenaga ia memukul tengkuk pria itu hingga tersungkur di atas beton parkiran.


“Awas, di belakangmu!” Gerard berteriak mengingatkan ketika ia melihat seorang pria mengayunkan tongkat baseball ke arah Raina yang langsung meghindar lalu menendang pria itu dengan sekuat tenaga, dan masih menggunakan kakinya ia memukul tengkuk pria itu seperti rekannya tadi yang langsung tak sadarkan diri.


Daniel sendiri terlihat kembali melakukan perlawanan membantu Raina yang tengah bertarung dengan pria berkulit hitam yang telah kembali bangkit.


“Sebelah kiri!... Belakangmu!.. bukan belakangmu, D! Belakang Rain!.. Tendang dia! Bagus! D, menunduk! Aww, itu pasti sangat sakit.. Banting dia, Rain!”


“Hei, bisakah kau diam dan bantu kami!” Seru Raina yang kini tengah menahan pria berkulit hitam itu dengan dengkulnya. Menekan tengkuknya dan tangannya dipelintir ke belakang, membuat pria itu mengeluarkan sumpah serapah seperti raper sejati.


“Oh.. iya, kau benar.” Gerard baru saja ikut menahan pria yang sebelumnya telah dijatuhkan Daniel ketika terdengar suara sirine polisi.


“Kalian dengar itu! Bantuan sudah datang!” Seru Gerard dengan bahagia.


“Sudah waktunya,” ucap Daniel sambil duduk dengan napas terengah-engah menyaksikan tiga pria yang dua di antaranya telah dibuat pingsan oleh sepupunya dengan tendangan dan pukulannya yang mematikan, sedangkan dia sendiri berhasil membuat pingsan satu orang.. ya itu lumayankan?


“Apa Kerelyn baik-baik saja?” Daniel bertanya dengan nada khawatir.


“Tidak usah khawatir, dia di tempat yang aman. Alex tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya, dan Max... dia tak akan membiarkan sesuatu terjadi di tempatnya.”


Daniel mengangguk dan bisa sedikit merasa tenang setelah mendengar ucapan Gerard yang kini telah menyerahkan tahanannya kepada para polisi yang langsung saja memborgol dan menggiring mereka menaiki mobil polisi.

__ADS_1


“Dan kau Rain, kenapa kau kemari?” Daniel menatap Raina dengan galak.


“Kau lupa? Aku membantu tadi.”


“Hmm.. kau benar... terimakasih telah membantuku.”


“Hei! Aku juga membantumu!”


“Yeah, tentu saja, G,” ucap Daniel sambil berdiri lalu merangkul bahu sepupunya dan mulai berjalan menuju The Rock.


“Temanmu itu membuktikan kalau tidak ada manusia yang sempurna,” ujar Raina menggunakan bahasa Indonesia yang langsung membuat Daniel tertawa.


“Kau harus melihat kehebatannya di depan komputer,” ucap Daniel berusaha membela temannya yang memang paling tidak bisa berkelahi diantara mereka bertiga.


“Aku tahu, dia bahkan bilang kalau meretas Pentagon lebih mudah daripada menghadapiku.”


“Dia mengatakan itu?” Daniel bertanya tak percaya, kemudian tertawa ketika melihat Raina menganggukan kepala.


“Apa yang kalian tertawakan?” Gerard yang berjalan di samping mereka merasa penasaran tentang apa yang menjadi bahan tertawaan mereka.


“Apa? Apa yang terjadi?” Tanya Gerard dengan penasaran, tapi sayang lagi-lagi ia di acuhkan keduanya.


“Seandainya Mamah tahu, dia pasti sudah mengancamnya untuk menikahiku.”


Daniel kini tertawa semakin kencang, “Kau dalam masalah besar, Man,” ujar Daniel sambil menatap Gerard dengan sorot mata prihatin.


“Masalah apa?... D, apa yang kau bicarakan! Man, katakan padaku, aku terkena masalah apa?” Daniel hanya tertawa sambil terus berjalan meninggalkan Gerard yang berteriak mengajukan pertanyaan karena merasa penasaran dengan masalah yang ia hadapi.


Kerelyn langsung menghambur ke arah Daniel ketika melihat mereka bertiga memasuki bar, melihat itu Daniel tersenyum mencoba memerlihatkan kalau ia baik-baik saja.


“Apa kau terluka?” Kerelyn bertanya dengan nada cemas.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Daniel kini menatap Alex yang berdiri di samping Kerelyn kemudian bertanya, “Apa kau menangkap b*j*ng*n itu?”


“Tidak, aku tak bisa menangkapnya saat ini,” jawab Alex dengan menyesal yang membuat Daniel mengumpat.

__ADS_1


“Tidak bisakah polisi menahannya karena penyerangan?”


“D, dia memiliki alibi yang kuat, dia ada di sini tadi dan kalaupun kau memberikan kesaksian aku yakin anak buahya akan mengatakan hal lain. Tapi tak usah khawatir, saat ini aku sedang mengumpulkan bukti yang bisa membuatnya mendekam di penjara seumur hidup.”


Daniel mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan teman polisinya itu, “Baiklah, katakan padaku jika memerlukan bantu apa saja untuk membuat b*j*ng*n itu mendekam di penjara.”


“Baiklah, tapi untuk saat ini yang harus kau lakukan hanya fokus untuk melindunginya,” ucap Alex sambil menatap Karelyn yang telah kembali dalam rangkulan Daniel, “Karena aku yakin dia akan kembali lagi untuknya.”


Daniel mengangguk sambil mengeratkan rangkulannya, “Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang.”


“Maafkan aku, tapi saat ini kalian tidak bisa pulang dulu.. kalian harus memberikan kesaksian tentang penyerangan tadi,” ucap Alex dengan menyesal dan mau tidak mau harus dilakukan Daniel walaupun dengan berat hati, karena ia sudah sangat lelah dan ingin segera berendam di dalam air panas.


Sudah lebih dari tengah malam ketika Kerelyn dan Daniel sampai di gedung apartemen mereka sepulang dari kantor NYPD untuk memberikan kesaksian, dan mengingat Kerelyn adalah seorang publik pigur maka Alex membawanya masuk melalui pintu belakang dan langsung menuju kantornya.


“Baiklah, sebaiknya kau segera beristirahat,” ujar Daniel ketika sudah sampai di depan pintu apartemen Kerelyn yang mengangguk sambil tersenyum hambar.


“Terima kasih karena telah menolongku, aku tak tahu apa yang terjadi seandainya tak ada dirimu tadi.”


Daniel tersenyum mendengar ucapan Kerelyn, mata hitamnya menatap gadis itu dengan lembut, “Semua orang akan melakukan hal yang sama, tapi Kerelyn sekarang waktunya kau memberitahu Eddy tentang masalah ini dan memintanya menyiapkan beberapa orang pengawal untukmu.”


Kerelyn mengangguk, “Kau benar, aku pikir dia sudah melupakanku tapi melihat reaksinya tadi...” Kerelyn bergidik mengingat bagaimana pria yang telah menghancurkan hidupnya itu menatapnya dengan tajam.


“Hei, Sweetheart, semua akan baik-baik saja aku akan melindungimu,” ujar Daniel sambil menarik Kerelyn ke dalam pelukannya yang menenangkan.


“Kau lihat bagaimana tadi dia menatapku? Itu mengingatku kepada kejadian tiga tahun lalu ketika.. ketika dia hampir membunuhku.” Suara Kerelyn gemetar karena rasa takut yang dapat di rasakan Daniel, hatinya langsung dikuasai amarah ketika mengetahui ******** itu telah memberikan trauma yang membekas kepada perempuan yang dia cintai.


“Sttt... jangan pikirkan itu lagi, hal itu tidak akan terjadi atau aku bersumpah akan membunuhnya kali ini.”


Kerelyn tersenyum di dalam pelukan Daniel yang hangat, ia merasa aman dan tenang karena tahu kalau Daniel adalah pria sejati yang akan memegang ucapannya, dia akan aman selama ada pria itu di sisinya walaupun Simon datang ke sini sekalipun, dia akan baik-baik saja karena tahu Daniel ada di sebelah apartemennya yang akan langsung datang ketika mendengar sesuatu yang aneh. Tapi bagaimana kalau baj*ngan itu datang pada malam hari di saat ia sedang terlelap tidur? Seketika ketakutan kembali merasuki tubuhnya.


“Apa menurutmu dia tidak akan datang ke sini? Kau tahu dia bisa saja datang kemari mengingat dia mengetahui tempat tinggalku,” ujar Kerelyn sambil menatap Daniel dengan sorot mata cemas dan takut yang bercampur menjadi satu.


Daniel seperti disadarkan tentang kondisi saat ini dimana Kerelyn belum memiliki pengawal yang akan melindunginya selama 24 jam, tapi ia sendiri tidak bisa melakukan itu, mengingat ia harus bekerja dan walaupun apartemen mereka bersebelahan ia tak bisa mengetahui apa yang tengah terjadi pada tetangganya itu. Daniel terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia mengambil sebuah keputusan besar.


“Kerelyn, mulai malam ini kita akan tinggal bersama.”

__ADS_1


****


__ADS_2