The Secret Admirer (#2 The Secret Series)

The Secret Admirer (#2 The Secret Series)
Bab 49


__ADS_3

“Tapi, kau tak perlu khawatir, Kerelyn, kami tak akan membiarkan hal itu terjadi padamu, benarkan, Maat?”


“Tentu saja... sekarang kau aman, karena kami telah meyingkirkan semua pria yang menyakitimu... oh tunggu, aku rasa bukan cuma pria tapi ada juga perempuan, benarkan?”


Harry menagguk memebenarkan, “Itu karena mereka iri padamu, Kerelyn, mereka bahkan menghina dan memakimu di internet, jadi kami harus menyingkirkannya.”


“Ya Tuhan!” suara Kerelyn tercekat mendengar itu semua, tubuhnya hampir terjatuh tapi untung saja ada Raina yang menahannya, walaupun Kerelyn juga merasakan tubuh Raina bergetar karena terkejut sekaligus takut setelah mendengarkan apa yang Matt katakan, tapi setidaknya sepupu Daniel itu lebih kuat dibanding dirinya.


“Kau tak apa-apa?” bisik Raina sambil menahannya, tanpa sengaja matanya menangkap seseorang tengah mengendap-endap di balik mobil milik Harry, Raina memicingkan matanya karena tak begitu jelas melihat di balik kaca jendela yang buram.


“Boleh aku membuka jendelanya? Dia memerlukan udara segar... sebelum kembali mendengarkan kisah heroik kalian, bukan begitu, Kerelyn?” tanya Raina berusaha untuk tidak membuat masalah dengan kedua orang itu mengingat melihat gelagat dari keduanya, mereka sepertinya tidak akan ragu untuk membunuh dirinya dan Kerelyn.


Harry dan Matt kini menatap Kerelyn yang terlihat bingung dengan apa yang Raina katakan sampai akhirnya ia melihat sepupu Daniel itu sedikit mengangguk memberi tanda dan akhirnya ia mengerti kalau mereka kini telah memiliki rencana, dan yang harus ia lakukan adalah mengikuti apapun rencana itu.


“I..iya, aku akan sangat senang kalau kalian membolehkan kami membuka jendelanya,” ucap Kerelyn dengan senormal mungkin, baiklah kalau Matt selama ini telah berakting di depannya maka ia-pun akan melakukan hal yang sama sekarang, jangan lupakan kalau dia juga seorang artis sama seperti Matt.


Harry dan Matt saling pandang dengan senyum mengembang di bibir masing-masing, “Tentu saja, kau boleh membukanya, Kerelyn pasti memerlukan udara segar untuk mendengarkan bagian terbaiknya,” ucap Harry sambil memandang Raina yang langsung membalikkan badan untuk membuka jendela.


“Lakukan apapun yang kau bisa untuk mengulur waktu, Alexa berada di luar, aku akan menyuruhnya mencari bantuan,” bisik Raina sambil berusaha membuka jendela yang sudah macet, dan Kerelyn-pun mengangguk pelan tanda kalau dia mengerti.


“Jadi apa bagian terbaiknya?” tanya Kerelyn membuat Harry tersenyum lebar, dia kini duduk di samping Matt di kursi kayu.


“Kerelyn, apa kau mau ikut duduk bergabung bersama kami di sini?” tanya Harry dengan sopan yang malah membuat Kerleyn merasa muak melihat topeng malaikat yang mereka berdua gunakan menutupi wajah iblis sesungguhnya.


“Tidak, aku lebih baik di sini sambil menikmati udara segar,” ucap Kerelyn berusaha tenang, dan hembusan angin sore yang segarpun berhembus masuk ke dalam rumah yang sumpek setelah Raina berhasil membuka jendelanya.

__ADS_1


“Waah... udaranya sangat segar,” teriak Raina dengan sengaja berharap Alexa mendengarnya dan ternyata berhasil, gadis berambut coklat itu mengintip dari balik mobil hitam Harry.


Raina memberi tanda dengan tangannya agar Alexa pergi dan mencari bantuan, tapi Alexa malah menggelengkan kepalanya membuat Raina membelalakan mata tak percaya. Raina melirik ke belakang dimana Harry dan Matt sudah mulai bercerita dengan semangat tentang pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan untuk Kerelyn, ia bisa melihat tangan Kerelyn mengepal sampai jari-jari tangannya memutih.


Dia kembali melihat keluar dan kini Alexa tengah mengendap-endap mendekati jendela, Raina kembali melirik ke belakang berusaha menutupi pandangan jendela, dan akhirnya Alexa sampai di bawah jendela.


“Apa yang kau lakukan?” bisik Raina tanpa suara dengan mata melotot menatap sepupunya yang berjongkok di bawah jendela.


“Alex dan yang lainnya sedang dalam perjalanan kemari,” bisik Alexa membuat Raina membuang napas lega, “Mereka berhasil menangkap Daniel, kita harus menyelamatkannya,” lanjut Alexa membuat Raina memekik kaget membuat semua orang menatapnya.


“Maafkan aku, seekor kucing mengagetkanku,” ucap Raina berusaha tenang.


Alexa mengeluarkan suara kucing yang membuat Kerelyn menatap ke arahnya dan matanya membelalak melihat adik Daniel itu tengah berjongkok di bawah jendela sambil membawa batang kayu yang entah dia dapatkan darimana.


“Jadi apa bagian terbaiknya?” Raina mengalihkan perhatian Harry dan Matt yang sudah akan berdiri melihat ke arah jendela, dan saat itu juga telepon Raina kembali berbunyi membuat kedua pria itu menatapnya dengan marah, Raina melihat nama Gerard di layar ponselnya, diam-diam ia memijit tombol hijau berharap Gerard akan mendengar semua pembicaraan mereka dan datang secepatnya.


“Maafkan aku... aku sudah mematikan teleponnya, kalian bisa melanjutkan ceritanya,” lanjut Raina sambil menaruh ponsel di belakang tubuhnya berusaha menyembunyikannya dari pandangan kedua pria itu.


“Kau benar, Harry belum menceritakan bagian terbaiknya.” Kerelyn cepat-cepat ikut bergabung dengan pembicaraan itu membuat mereka berdua kembali duduk.


“Simon Javier,” ucap Harry sambil tersenyum penuh kemenangan, “Apa kau tahu Simon telah berulang kali berusaha membunuhmu?”


Kerelyn menatap Raina sesaat lalu dia menggelengkan kepala.


“Harry, jangan membuatnya takut... Kerelyn, sayang jangan takut, kami telah membereskan mereka untukmu dan kau aman sekarang,” ucap Matt sambil menatap Kerelyn yang berusaha tersenyum padanya.

__ADS_1


“Tentu saja, kami telah membereskannya... kau ingat ketika kau mau tertabrak? Itu bukan kecelakan, begitu juga saat kalian shooting, aku hampir saja tak berhasil menyelamatkanmu tapi untung saja, Matt berada di dekatmu dan bisa menyelamatkanmu, walaupun dia harus terluka dan terbaring di rumah sakit untuk beberapa hari.”


Matt mengangguk sambil berkata, “Tapi Harry telah membereskannya untukmu dan untukku malam itu juga, Kerelyn, jadi jangan takut lagi.”


Kerelyn dan Raina menatap mereka dengan tak percaya, “Bagaimana kalian yakin kalau mereka melakukan itu dengan sengaja? Siapa tahu itu benar-benar kecelakaan dan tak disengaja?” Raina tanpa sengaja meninggikan suaranya membuat kedua orang itu menatapnya dengan pandangan dingin dan itu benar-benar membuatnya takut. Raina bisa melihat Harry akan berdiri mendekatinya tapi Matt menahan tangannya, membuat pria berkacamata tebal itu kembali terduduk dengan mata tajam menatapnya.


“Kalian tidak memercayai kami?” tanya Matt dengan senyum penuh misteri menatap Raina.


“Ti-tidak, tentu saja kami memercayai kalian benarkan, Rain?” ujar Kerelyn cepat-cepat setelah menyadari situasinya mulai berubah, “Kami hanya merasa penasaran bagaimana kalian tahu kalau Simon yang menyuruh mereka.” Kerelyn menyenggol tangan Raina dan membuatnya mengangguk.


“Kerelyn, sayang, apa kau lupa siapa yang mengenalkanmu kepada Simon?”


Kerelyn terbelalak mendengar ucapan Harry, dia baru ingat kalau pria itulah yang dulu mengenalkannya kepada Simon Javier.


“Iya, aku mengenal Simon cukup baik... Well, sebut saja aku bekerja sama dengannya dibagian keuangan,” ucapan Harry itu membuat Raina teringat tentang buku keuangan yang ia dan Gerard temukan di kantor Simon waktu itu.


“Aku pernah melihat mereka beberapa kali di tempat Simon, dan ketika aku melihatnya di lokasi shooting aku sudah curiga dan meminta Matt untuk waspada, dan kecurigaanku terbukti. Dan apa kau tahu, Kerelyn, kalau pria itu sudah mengawasimu sejak lama? Dia bahkan bekerja di tempatmu tinggal hanya untuk mengawasimu.” Harry tersenyum bahagia setelah melihat Kerelyn terbelalak sambil menatapnya, yang menandakan kalau gadis itu baru mengetahui informasi itu darinya.


“Kau tahu apa yang Harry lakukan padanya? Dia menghajar kepalanya dengan tongkat baseball hingga tak berbentuk,” ujar Matt sambil tertawa bangga menatap Harry yang hanya tersenyum.


“Dan kau harus tahu bagaimana orang yang akan menabrakmu harus lari terpontang panting menghindari kejaran mobil Matt, tapi tentu saja dia tak berhasil lolos karena Matt menggilasnya sampai mati.”


Mereka berdua tertawa bahagia tanpa menyadari betapa pucat kedua perempuan di hadapan mereka ketika mendengar aksi pembunuhan yang mereka lakukan. Kerelyn mencengkram tangan Raina dengan sangat kencang, sedangkan sepupu Daniel itu terlihat menahan emosi, dia sudah tak bisa menahan diri lagi tapi dia juga tak mengetahui seberapa hebat kemampuan bela diri kedua orang gila di hadapnnya, belum lagi dia tidak mengetahui kondisi ataupun keberadaan Daniel. Ia tak boleh sembarangan bertindak, yang harus dilakukannya saat ini adalah mengulur waktu sampai bantuan datang dan menyelamatkan Kerelyn.


****

__ADS_1


__ADS_2