
Senyum mengembang dari bibir merah gadis berambut hitam panjang itu, tubuh tinggi semampainya berbalut skiny jeans biru tua dengan atasan kemeja putih yang lengan panjangnya digulung hingga di bawah sikut memerlihatkan pergelangan tangan kirinya yang dihiasi berbagai macam gelang yang terbuat dari perak, kulit dan anyaman tali kur yang biasa digunakan oleh anak-anak pencinta alam, sedangkan pergelangan kanannya dihiasi oleh jam tangan dengan tali yang terbuat dari kulit dan emas putih selebar 3cm.
“Selamat datang di New York, Raina Gunawan.” Ia berujar pada dirinya sendiri sambil tersenyum lalu membuka kaca mata hitamnya untuk melihat kemegahan bandara JFK. Matanya terlihat takjub melihat salah satu bandara tersibuk di dunia, “Wow...!” Ia memutar tubuhnya 180 derajat tak memedulikan pikiran orang-orang yang mungkin akan menganggapnya kampungan.
Hei...!!! siapa yang peduli, mereka tak akan bertemu lagi. Kecuali dengan seseorang yang kini tengah menunggunya sedari tadi sambil menikmati es americano-nya, pria berkacamata itu diberi tugas oleh Daniel untuk menjemput sepupunya yang baru pertama kali datang ke New York.
Awalnya Daniel yang memiliki tugas itu tapi tiba-tiba saja dia ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Emily yang notabanenya calon pengantin tidak diperbolehkan keluar rumah oleh ibunya, katanya itu salah satu adat kebiasaan orang Indonesia yang melarang calon pengantin keluar dari rumah menjelang hari pernikahan, bahkan ia dilarang untuk bertemu calon suaminya yang tentu saja membuat Dylan uring-uringan selama beberapa hari terakhir ini. Gerard berpikir apa mungkin hari ini hari sibuk sedunia, ketika tiba-tiba saja Alexa, Theo, Dylan bahkan Calista punya kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan untuk menjemput sepupu keluarga Winchester ini. Sialnya lagi, Alex yang biasanya akan dengan senang hati menjemput seorang gadis, juga tengah sibuk melakukan penyamarannya.
Jadi di sinilah ia berada saat ini dengan tangan kanan memegang gelas yang berisi es americano dan tangan kiri memegang kertas yang bertuliskan nama gadis itu. Alis matanya terangkat ketika seorang gadis yang mendorong troli berisi koper dan beberapa tas mendatanginya dengan senyum mengembang. Beberapa saat Gerard hanya diam mematung menatap gadis cantik dengan kulit kuning langsat, sampai akhirnya dia menyadari kalau gadis itu adalah sepupu Daniel dari Indonesia.
“Raina?” tanyanya untuk memastikan tebakannya benar.
“Iya,” jawabnya singkat sambil mengulurkan tangan mengajak Gerard untuk bersalaman.
“Oh, hei... Gerard,” balas Gerard sambil menerima uluran tangan gadis itu yang kembali tersenyum. Aah, keramah tamahan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, ucap Gerard dalam hati, “Apa-kabal?” tanyanya menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata hasil les singkat dengan Alexa tadi. Mau tidak mau Gerard menerima les singkat itu karena kembaran Emily itu mengatakan kalau sepupunya tidak bisa bahasa Inggris.
“Baik... kau bisa bahasa Indonesia?”
Gerard tersenyum bersyukur dalam hati karena tadi Alexa mengajarinya dengan pertanyaan yang sama, bahkan adik Daniel itu memberitahu apa yang harus diucapkan sebagai jawaban.
“Iya, tentu saja!” Gerard berkata dengan keyakinan penuh dan ternyata tidak sia-sia karena mata Raina kini terlihat berbinar bahagia yang membuatnya bangga karena pelatihan singkatnya tak sia-sia, dan itu membuktikan kalau dia benar-benar jenius.
“Waah, bagus... aku tidak menyangka kalau akan bertemu dengan orang yang bisa berbahasa Indonesa di sini... apa sepupu-sepupuku yang mengajarimu?” tanya Raina antusias sambil menatap Gerard dengan mata bulatnya yang berbinar.
“Oh sial!” Gerard mengutuk dalam hati... Alexa tak mengajarinya percakapan ini!
“Iya,” jawab Gerard sambil tersenyum berusaha bersikap normal, untung saja ia ingat saran Alexa.
“Ingat, G, kalau kau tidak mengerti apa yang dia ucapkan cukup tersenyum saja... atau kalau dia bertanya sesuatu yang kau tidak pahami cukup jawab iya atau tidak, apa kau paham?”
Dan lagi-lagi saran ‘guru’nya itu berhasil, kini mata Raina menatapnya takjub yang membuat Gerard tersenyum bangga.
“Ok.. kita pellgi sekallang.” Gerard telah menghapal kata-kata itu sebanyak ratusan kali selama di perjalanan menuju bandara, walaupun Alexa memarahinya karena dia tidak bisa menyebut huruf R tapi akhirnya ia mendapat pujian karena sudah berhasil mengatakannya dengan cukup lancar, dan seharusnya Alexa melihatnya bagaimana ia mengucapkannya dengan lancar dan percaya diri. Ah seharusnya ia merekamnya tadi dan menunjukannya pada Alexa karena ia yakin gadis itu tidak akan memercayainya.
Dengan percaya diri penuh Gerard mengambil alih mendorong troli Raina menuju tempat parkir lalu memasukkan barang bawaan gadis itu ke dalam bagasinya, bahkan ia membukakan pintu penumpang untuknya lalu berjalan memutar menuju kursinya di belakang kemudi. Kini mereka telah siap dalam mobil Ford hitam milik Gerard dan mulai membelah keramaian kota New York.
“Apa kau tahu kenapa New York dijuluki Big Apple?” Raina bertanya memecah keheningan dan rasa canggung yang mengisi udara di dalam kendaraan itu, tapi pertanyaan gadis itu membuat Gerard sedikit mengerutkan alis karena tidak mengerti apa pertanyaannya.
“Tidak,” jawab Gerard sambil tersenyum berusaha bersikap normal yang membuat Raina mengangguk mengerti.
Mereka berdua kembali terdiam dan suasana canggung kembali menyeruak. Dalam hati Gerard mengutuk semua orang dengan kesibukannya hingga ia terjebak di dalam situasi seperti ini. Gerard baru akan mencoba mengajak gadis itu berbicara dengan bahasa inggris sederhana ketika ia kembali mendengar suara lembut di sebelahnya mengajukan pertanyaan.
“Gerard, katakan padaku apa kau mengenal calon suami Emily?”
Gerard bahagia karena gadis itu kembali bersuara walaupun ia tak mengerti apa yang diucapkannya tapi minimal suasana tidak akan begitu canggung, seperti yang diajarkan Alexa ia hanya cukup menjawanb iya dan tidak.
“Iya,” jawab Gerard dengan wajah yakin.
“Apa dia tampan?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Maksudmu dia jelek?” Raina membelalakan matanya, yang membuat Gerard berpikir mungkin dia salah menjawab. Ok, sepertinya 'Tidak' adalah jawaban yang kurang baik dan akhirnya pria itu memutuskan hanya akan menjawab iya saja.
“Iya.”
“Apa, dia sangat... jelek?”
“Iya.”
Raina kembali membelalakan matanya tak percaya yang membuat Gerard putus asa karena dia yakin jawabannya kali ini-pun salah.
“Jangan katakan kalau dia sudah tua?”
Gerard terdiam beberapa saat, kali ini ia harus memikirkan jawaban terlebih dahulu.
“Ti-dak,” jawab Gerard ragu tapi akhirnya bisa bernapas setelah senyum kembali terbit di bibir merah perempuan dengan rambut indah itu.
“Oh syukurlah... sebanarnya tidak apa-apa kalau tidak tampan yang penting dia baik dan sayang sama Emily.” Raina tersenyum sambil menatap Gerard yang juga ikut tersenyum dan bernapas lega karena kali ini tidak ada pertanyaan yang membuat pria itu putus asa.
“Dia menyayangi Emily kan?” Raina kembali bertanya yang membuat Gerard membuang napas berat.
“Tidak.” Dan Gerard kembali putus asa ketika ia melihat Raina membelalakan mata bulatnya menandakan kalau jawabannya salah.
“Maksudmu, pria itu tidak menyayangi, Em?”
“Iya,” jawab Gerard lemah yang membuat Alexa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Gerard hanya bisa menganga bingung mendengar ucapan gadis itu yang berapi-api tanpa sepatah katapun yang dia mengerti.
“Ya Tuhan, kenapa gadis ini tak berhenti bicara?” Suara Gerard terdengar putus asa yang membuat Raina mengalihkan pandangan ke arahnya sambil mengangkat alis matanya yang hitam.
“Seharusnya ini tugas yang mudah hanya menjemput seorang gadis, tapi ternyata ini lebih sulit daripada meretas keamanan Phentagon.” Raina mengenyit ketika mendengar kalau dia lebih menyusahkan daripada merentas keamanan Amerika? Dia sudah membuka mulutnya untuk membantah ucapannya ketika ia kembali mendengar pria itu mengeluh.
“Dan, hei! Ini tahun 2015, semua orang di dunia bisa bahasa Inggris... ok tidak semuanya, tapi minimal mereka mengerti ‘How are you’, apa sekolah di Indonesia tidak mengajarkan bahasa Inggris? Lexa bilang sederhana cukup jawab iya atau tidak, dan sial! Ini tidak semudah itu... aku putus asa setiap melihat matanya yang bulat, hitam dan indah itu terbelalak karena jawabanku salah.”
Diam-diam Raina menahan senyumnya mendengar pria yang terlihat tampan dengan kacamatanya itu mendumel dengan putus asa. Sekarang dia mengerti mengapa Gerard hanya menjawab iya dan tidak saja, dan rupanya sepupunyalah di balik semua ini. Ok dia akan ikut dalam permainan Alexa.
“Jadi sebenarnya kau tidak bisa bahasa Indonesia? Hmmm baiklah... kau tahu, Gerard, kau terlihat tampan dengan kacamatamu itu... kau terlihat seperti Clark Kent, apa kau Superman yang sedang menyamar?”
“Clark Kent? Superman? Iya, Clark Kent... Superman,” jawab Gerard sambil mengerutkan kening berpikir kenapa gadis itu tiba-tiba membahas Superman? apa mungkin dia menyukai super hero itu?
“Oh, jadi kau Superman... kalau begitu apa aku Louis Lane?”
“Tidak.”
“Tidak? Hei aku tak kalah cantik dari Louis Lane.” Raina protes sambil tersenyum mendengar jawaban asal dari Gerard yang kini terlihat semakin bingung, “Kau terlihat menggemaskan kalau sedang bingung begitu... jadi, Superman, apa kau sudah punya pacar?”
“Iya.”
__ADS_1
“Ckk... kau mengecewakanku, tapi tentu saja pria sepertimu akan aneh kalau tidak memiliki kekasih... apa kekasihmu cantik?”
“Tidak.”
“Hei, kalau dia jelek sebaiknya kau putus dengannya dan.. berpacaran denganku, apa kau mau?” Reina menatap Gerard dengan antusias.
“Iya.” Gerard sudah tak perduli lagi dengan jawaban yang ia berikan, ia hanya akan mengikuti sesuai interksi ‘guru’ bahasanya, ia hanya akan menjawab iya dan tidak saja.
“Iya?” Reina tertawa sambil bertepuk tangan yang membuat Gerard terkejut melihat aksinya itu, “Oh bagus, aku baru sampai ke New York satu jam lalu dan sekarang sudah memiliki kekasih yang sangat keren seperti Superman,” lanjutnya sambil tertawa.
“Apa dia sudah gila? Kenapa dia tertawa sambil tepuk tangan seperti itu?” Gerard meringis sambil menggelengkan kepala.
“Oh tenang saja Kang mas, aku tidak gila... Mamah pasti syukuran sekarang kalau aku bilang aku sudah mempunyai kekasih.” Raina kembali tertawa mengingat ibunya yang giat mencari jodoh untuknya, tapi selalu berakhir dengan kegagalan.
“Mah, menantumu bule, Mah!” Seru Raina sambil tertawa yang membuat Gerard tersentak kaget.
Perjalanan dari JFK ke West Village dimana rumah keluarga Winchester berada terasa panjang dan berat bagi Gerard tapi tidak bagi gadis dengan senyum manis itu, ia begitu menikmati perjalananya dengan menggoda Gerard yang bahkan tidak tahu kalau dirinya tengah di goda.
Raina keluar dari mobil Ford hitam dengan segar dan senyum mengembang tak terlihat sisa jetlag akibat perjalanan jauh yang baru saja ditempuhnya, sedangkan Gerard berjalan dengan lesu seolah baru saja mengalami perjalanan jauh mengarungi Samudra tanpa batas.
“Raina!” Seru Mrs. Winchester sambil merentangkan tangan menyambut keponakannya di depan pintu rumah yang membuat gadis itu berlari ke dalam pelukannya.
“Tante, apa kabar?”
“Baik sayang.. bagaimana perjalananya? Menyenagkan?”
“Sangat menyenangkan,” jawab Raina sambil melirik Gerard yang tengah membawa tas dan kopernya.
“Rain!” Emily berlari dari dalam rumah setelah mendengar ibunya memanggil nama sepupunya, senyum mengembang dari bibirnya ketka ia melihat saudara yang sudah lama tak bertemu.
“Ya Tuhan, Rain, kau terlihat sangat cantik!” Emily memeluk sepupunya itu dengan hangat.
“Kau juga, kau semakin cantik... dan sebentar lagi kau akan menikah... aaaahhh!!!”
Mereka berdua berteriak bahagia sambil melompat-lompat dengan tubuh masih saling berpelukkan yang membuat Mrs. Winchester tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Gerard yang kini menganga tak percaya kalau gadis itu bicara bahasa inggris dengan fasih!
“K-kau?” Gerard menunjuk Raina dengan mata membelalak tak percaya.
“Gerard, ada apa?”
Gerard tak menghiraukan pertanyaan Emily, matanya masih fokus menatap Raina yang tersenyum manis kearahnya, “Kau... kau bisa bahasa inggris?”
“Gerard, apa yang kau bicarakan? Tentu saja dia bisa bahasa inggris, dia menyelesaikan kuliah S1-nya di Yale.”
Gerard kini menatap Emily tak percaya sambil menggelengkan kepala, dia kembali menatap Raina yang masih tersenyum bak malaikat tak berdosa.
“Tapi, tadi... Lexa...” Gerard tak meneruskan kalimatnya setelah menyadari kalau dia telah masuk kedalam permainan Alexa, “Ah, sial! Seharusnya aku tahu!” Gerard hanya bisa tersenyum kecut menyadari kebodohonnya. Dan Raina merasa kasiahan melihatnya, tapi juga menyenangkan.
”Sebaiknya kita masuk, kau pasti sangat lapar, Rain, Tante sudah menyiapkan makanan untukmu. Gerard, kau ikut makan dulu sebelum pulang!” Seru Mrs. Winchester sambil merangkul ponakannya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Gerard yang masih meratapi nasibnya.
__ADS_1
“Lexa... lihat saja aku akan membalasmu!” Geramnya sambil masuk ke dalam, karena bagaimanapun masakan ibu si kembar terlalu sayang untuk dilewatkan dalam kondisi apapun.
***