
"Dengar yang dia butuhkan besok adalah seseorang yang selalu ada di sampingnya untuk melindunginya. Dan itu adalah aku!" Ujar Daniel tegas sambil menatap Eddy serius.
Manajer Kerelyn itu terdiam beberapa saat, dia menatap kedua orang di hadapannya bergantian sampai akhirnya dia membuang napas berat.
"Baiklah, aku akan mencarikan satu tiket untukmu, tapi kalian tidak boleh datang bersamaan. Apa kalian paham?"
Daniel menaikkan alisnya sambil mengengguk, bibirnya menyunggingkan senyum miring tanda kemenangan yang membuat Eddy semakin terlihat putus asa.
Kerelyn kini bisa sedikit bernapas lega karena besok Daniel akan berada di sampingnya untuk melindunginya, ia mengambil undangan pesta amal itu lalu membacanya kembali.
"Ckk.. sepertinya kali ini dia ingin memamerkan istananya," ucapnya mengalihkan perhatian Daniel dan Eddy yang tengah menonton berita olah raga di layar kaca miliknya.
"Istana?" Tanya Eddy antusias, "Apa semewah itu?"
"Iya istana, percayalah karena untuk ukuran rumah itu terlalu berlebihan, halamannya sangat luas, aku tak tahu ada berapa kamar yang ada di dalam bangunan itu, ruangan di lantai dasarnya lebih mirip aula yang bisa menampung 200 orang tamu."
Eddy bersiul mendengar penjelasan Kerelyn tentang tempat yang akan mereka datangi besok.
"Bukan hanya itu, bangunan itu bahkan mempunyai ruang rahasia."
"Ruang rahasia?" Tanya Daniel dan Eddy berbarengan.
"Iya ruang rahasia, aku tak sengaja menemukannya... ketika itu aku mencari Simon yang tiba-tiba menghilang, aku pikir dia ada di garasi tapi ketika aku sampai di dalam garasi tidak ada seorangpun di dalam sana, tapi ketika aku mau keluar aku mendengar seperti suara pintu terbuka, aku berbalik untuk melihatnya dan kalian tak akan percaya kalau dindingnya itu bisa terbuka dan aku melihat dan beberapa orang keluar dari sana."
"Apa kau melihat apa isi ruangan itu? Apa dia menaruh harta karunya di sana? Atau itu garasi mobil-mobil antik dan mahalnya?" Cecar Eddy dengan antusias. Berbeda dengan Eddy yang terlihat penasaran, Daniel terdiam berpikir apa mungkin ruangan itu seperti apa yang dia pikirkan?
"Aku tak melihat apa-apa, Simon terlihat terkejut dan marah melihatku di sana, dia bertanya apa aku melihat sesuatu? Aku bilang padanya kalau aku tak melihat apapun selain dindin yang tiba-tiba terbuka seperti pintu dan dia membuatku berjanji untuk tak menceritakan tempat itu kepada siapapun."
"Sekarang aku yakin kalau itu adalah tempat harta karunnya," ujar Eddy dengan serius dan mata berbinar, "Tapi kenapa kau mengatakan kepada kami sekarang?"
Kerelyn mengangkat bahunya santai, "Aku sudah tak ada hubungan apapun dengannya.. dan, hei! Dia hampir membunuhku jadi aku tak bisa memegang janjiku lagi."
"Aaah, kau benar," ujar Eddy sambil tersenyum.
Di saat Kerelyn dan Eddy bercanda soal isi ruang rahasia dan rencana untuk merampoknya, Daniel terdiam kembali berpikir. Kerelyn mengatakan kalau Simon keluar dari ruangan itu bersama dengan teman-temannya, kalau itu ruang penyimpanan harta miliknya, pria itu tak akan mengajak siapapun ke sana, kalau itu tempat koleksi mobil mewahnya, Simon pasti sudah memamerkannya secara terbuka dan tak akan semarah itu melihat kekasihnya ada di sana.
Selama ini Daniel tidak pernah bertanya apapun tentang tempat yang disinyalir para polisi menjadi pabrik pembuatan narkoba kepada Kerelyn, ia berencana akan mencari tahu secara perlahan, tapi sekarang mungkin menjadi titik terang bagi dirinya dan Alex untuk mengakhiri sepak terjang Simon Javier sang bandar narkoba, sekaligus menjadi akhir dari bahaya yang mengancam Kerelyn.
Malam itu Daniel langsung menghubungi Alex dan memintanya untuk datang ke The Rock, ia tengah menikmati minumannya ketika Alex duduk disampingnya di meja bar.
"Apa kau sudah lama?" Tanyanya dengan punggung disandarkan di meja bar, matanya menyisir tempat itu dengan teliti, kebiasaannya yang sudah diketahui semua sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak, aku baru menghabiskan 2 gelas dan ini minumanku yang ketiga," jawab Daniel santai sambil meneguk minuman berwarna kuning itu. Mendengar ucapan mengejek sahabatnya Alex hanya tersenyum miring tak peduli.
"Jadi ada berita apa?" Tanya Alex sambil menatap Daniel serius, yang langsung menatapnya tak kalah serius.
Daniel melihat sekeliling sebelum ia memberitahu Alex tentang tempat rahasia yang diceritakan Kerelyn padanya tadi siang. Setelah selesai bercerita mereka terdiam beberapa saat larut dalam pikiran masing-masing.
"Apa kau besok akan datang?" Tanya Alex sambil meneguk minumannya yang baru saja diantarkan Max.
"Iya, kalau perlu aku akan menerobos masuk," jawab Daniel serius yang ditanggapi anggukan oleh Alex.
"Aku mendapat undangan dari baj*ngan itu dan telah memprediksi tentang hal ini, tadi kami mengadakan rapat untuk besok, kau tidak perlu khawatir akan ada beberapa polisi yang menyamar di sana, yang perlu kau lakukan hanya tetap berada di samping Kerelyn, dan serahkan baj*ngan itu padaku. Besok aku akan menangkapnya dan mengakhiri penyamaran ini."
Daniel mengangguk mengerti dan berharap semua ini akan segera berakhir. Telepon genggamnya berbunyi, ia segera mengangkatnya setelah melihat nama Eddy di layar teleponnya, tapi satu menit kemudian dia mulai memaki dan menutup benda itu dengan kasar.
"Ada apa?" Tanya Alex penasaran melihat perubahan sikap sahabatnya setelah mendapat telepon.
"Dia tidak berhasil mendapatkan undangan untukku," jawab Daniel dengan marah.
"Sial!" Umpat Alex tak kalah marah, "Kerelyn memerlukan pengawalan khusus, aku yakin ******** itu tak akan melewatkan kesempatan ini untuk mendapatkannya, sedangkan kami harus segera membereskan masalah pabrik narkoba ini."
"Aku akan mencari jalan agar bisa masuk ke sana, tenang saja."
"Dylan!" Seru Alex mengagetkan Daniel, "Kau coba hubungi, Dylan, aku yakin Royal dan Regan menerima undangannya," lanjut Alex yang memberikan sedikit harapan kepada keduanya. Daniel secepat kilat menghubungi calon adik iparnya itu, dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya teleponnya diangkat.
"Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa lama sekali mengangkat teleponnya."
"Aku baru selesai mandi."
"Kau mandi jam segini?"
"Percayalah aku sudah sering melakukannya akhir-akhir ini."
Daniel tertawa menyadari alasan di balik sahabat si kembar itu melakukan mandi pada jam 11 malam.
"Man, aku tak mengerti mengapa ibumu melarangku bertemu dengan calon istriku sendiri? Aku hampir mati karena merindukannya!"
Daniel tak bisa lagi menahan tawanya sekaligus dia merasa simpati kepada pria bermata hijau itu, Alex mengerutkan alisnya melihat Daniel kini tertawa kencang mengingat tadi dia begitu emosi.
"Itu salah satu adat dari Indonesia dan kau harus mentaatinya kalau ingin Ibuku merestuimu menjadi menantunya." Daniel kembali tertawa ketika mendengar Dylan mengumpat dan mengatakan kalau dia bisa terkena TBC karena hal itu.
"Ada apa kau menghubungiku, apa kau ingin mengejekku seperti yang dilakukan Theo?"
__ADS_1
"Oooh percayalah tawaran itu sangat menggoda untukku, tapi untuk sekarang ada yang lebih penting... Dylan apa kau menerima undangan pesta amal besok?"
"Pesta amal? Maksudmu pesta yang diselenggarakan oleh baj*ngan itu?"
"Iya itu, apa kau menerimanya?"
"Iya aku menerimanya, dan itu membuat adikmu sangat marah.. dia bilang akan membatalkan pernikahan ini kalau aku berani datang ke sana. Percayalah, D, adikmu bisa sangat mengerikan."
Daniel kembali tersenyum mendengar ucapan Dylan, "Jadi apa kau akan pergi ke pesta itu?"
"Dan membatalkan pernikahan kami? Yang benar saja, aku lebih baik dikurung di apartemen daripada harus pergi ke sana seorang diri dan menerima amukan adikmu."
"Bagus, bisa kau berikan undangan itu untukku?"
"Apa kau mau datang ke pesta itu?"
Daniel bisa mendengar nada tak percaya dari suara Dylan mengingat dia paling tidak menyukai acara pesta yang bersifat formal dimana ia diharuskan memakai pakaian resmi.
"Iya, aku membutuhkannya besok. Dengar, aku akan menjelaskannya nanti tapi aku benar-benar harus datang ke pesta itu."
"Hmmm... baiklah, aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan undangannya ketempatmu besok pagi."
"Bagus! Terimakasih banyak, aku berjanji akan menjelaskannya kepadamu nanti."
"Dylan, ini aku Alex, apa Theo mendapat undangan juga?"
Alex bertanya setelah sebelumnya dia meminta Daniel menyerahkan teleponnya.
"Iya, dia berencana pergi bersama Calista, ada apa? Apa kau perlu undangan juga?"
"Tidak, aku telah memilikinya.. Dylan, dengarkan aku, kau hubungi Theo sekarang dan katakan padanya untuk tidak datang ke pesta besok."
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
"Sepertinya besok akan terjadi hal besar di sana, dan bisa saja sangat berbahaya."
Dylan terdiam beberapa saat, dia mencoba mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Sial! Kalian harus menjelaskan ini semua padaku nanti!"
Alex menyetujui permintaan itu sebelum akhirnya dia memutuskan hubungan telepon itu.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kau memiliki tiket masuk ke sana. Ingat, kau jangan sampai pergi dari sisi Kerelyn dan bawa dia pergi secepat yang kau bisa tanpa menimbulkan kecurigaan. Apa kau paham?" Daniel mengangguk paham, tentu saja tanpa dipinta-pun ia tak akan meninggalkan Kerelyn seorang diri, besok ia akan menjadi bayangan gadis itu.
*****